Hidupkan Sunnah HANCURKAN BID'AH

Meniti Jalan Sunnah Rasulullah, Menepis Bid'ah

HAMAS Menipu Umat !!!

new1a


Oleh: Abu Shofiyah

Telah kita ketahui bersama bahwa akibat serangan brutal Israel Yahudi ke daerah Gaza pada awal Muharram 1430 atau akhir Desember 2008 selama 3 pekan itu telah merenggut lebih dari 1.300 jiwa korban meninggal -semoga Alloh merahmati dan mengampuni mereka semua- kaum muslimin baik dari kalangan anak-anak, wanita, para pemuda dan orang tua yang kebanyakan dari mereka adalah BUKAN anggota HAMAS!!!

Dan lebih dari 5000 orang mengalami luka serius dan bahkan banyak yang masih kritis -semoga Alloh segera memberikan kesehatan dan afiah serta kesabaran kepada mereka semua- dan tidak sedikit yang mengalami cacat seumur hidup, harus kehilangan sebagian anggota tubuhnya, akibat terkena serpihan ‘bom aneh’ Israel yang telah dilarang penggunaannya. Belum lagi ditambah trauma dan gangguan kejiwaan masyarakat Gaza akibat perang itu.
Tapi anehnya, setelah Israel menghentikan serangannya dan menarik pasukannya yang telah memporakporandakan ribuan bangunan bertingkat yang dihuni oleh beberapa keluarga itu, serta merta pihak HAMAS mengklaim bahwa mereka telah mendapatkan KEMENAGNGAN BESAR pada perang kali ini, SUBHAANALLOH!!! Kemenangan macam apa yang mereka ‘rayakan’ itu? Dan mengapa pernyataan ini dan kunjunngan Pimpinan HAMAS disambut dengan meriah di IRAN? Ada apa antara HAMAS dan Iran?(Bacalah) bahkan PM Ismail Haniyah mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada Pemimpin Syiah Iran? (Baca juga)
Hati-hatilah dari tipu daya Syiah!!!(Ini juga)
Coba perhatikan, bandingkanlah antara jumlah korban meninggal dan kerusakan dari kalangan kita kaum muslimin di Gaza dan berapa banyak korban dan kerugian dari pihak Israel baik tentaranya atau pun warga sipil yang terbunuh akibat “perlawanan” HAMAS dengan roket-roketnya yang tak terarah itu? Tidak sebanding.
Kemudian, tahukan Anda, dimana Pemimpin HAMAS dan wakilnya saat Israel menggempur Gaza? Apakah mereka berada di front terdepan membalas serangan Israel tersebut dengan melontarkan roket-roket ke arah pihak Israel ataukah dimana mereka saat itu?
Menurut informasi yang Ana dengar dari salah seorang ikhwan salafi di Kuwait yang mendapat informasi dari ikhwan salafi di Gaza, maka diberitakan bahwa jumlah korban dari pihak Israel tidak sampai 50 orang, yakni 49 orang dan dari anggota HAMAS hanya 48 orang meninggal (selisih 1 orang).

Inilah yang menjadi acuan “kemenangan” HAMAS itu karena jumlah anggota mereka yang terbunuh tidak melebihi jumlah dari pihak Israel.

Tapi, bagaimana dengan ribuan penduduk sipil yang jadi korban, apakah mereka tidak perhitungkan karena bukan anggota HAMAS?
Dan saat serangan Israel ke Gaza selam 3 pekan itu, ternyata pemimpin HAMAS malah bersembunyi di sirdab/ruangan bawah tanah di Gaza dan wakilnya berlindung di Syiria!!! Saat ada serangan Israel itu, Pimpinan HAMAS pun segera menyerukan kepada seluruh anggotanya agar BERSEMBUNYI dan jangan keluar rumah. Sementara sekitar 2,5 juta penduduk Gaza sangat ketakutan dengan situasi saat itu dan merekalah yang menjadi korban. Lihatlah!
Kemudian, kisah teman tadi melanjutkan, bahwa ada seorang salafi di Gaza yang menasehati salah satu dari kelompok HAMAS agar jangan menembakkan roket dari wilayah pemukiman penduduk yang sangat padat -bahkan terpadat di dunia itu- karena Israel dapat mendeteksi dari mana roket itu meluncur sehingga kemudian akan membalasnya dengan serangan udara yang membabi buta,…tapi apa jawaban dari salah satu anggota HAMAS itu? dia bilang: “Diam kamu!!! atau aku bunuh kamu!!!” sambil menodongkan pistol ke dada ikhwan salafi tadi. Begitukah sikap mereka kepada sesama muslim yang memberikan nasehat demi keselamatan orang banyak/masyarakat umum itu? Pantas saja mereka dapat dengan mudah membunuh sesama saudaranya muslim dari kelompok Fatah yang berseberangan faham dan berebut kekuasaan di Gaza seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu.
Dan ada satu hal yang mengejutkan lagi bahwa pada tanggal 4 Februari 2009 kemarin, sebagian Polisi HAMAS telah menyerang salah satu gudang PBB dan merampas paksa sebagian barang bantuan untuk rakyat Gaza yang sangat dibutuhkan seperti selimut yang sangat dibutuhkan karena sekarang ini masih musim dingin yang menyengat dan bahan makanan yang rencananya akan dibagikan kepada penduduk. Yang aneh beberapa hari setelah pasukan Israel menarik diri, HAMAS membagikan uang kepada korban akibat serangan Israel, tapi mengapa mereka sendiri malah merampok gudang PBB?
Benar-benar keberadaan HAMAS dengan model ‘perjuangannya’ ini telah menyengsarakan dan menyisakan kepedihan serta kesedihan ribuan masyarakat dan anak-anak walaupun mereka berusaha untuk menarik simpati dunia luar yang pada dasarnya mereka telah melakukan penipuan besar kepada umat Islam. Bukan maslahat yang diperoleh dengan tindakan HAMAS ini tapi bahkan sebaliknya, mafsadat dan kerusakan yang ditimbulkan.

Itulah salah satu akibatnya jika mereka tidak menerima nasehat para ulama, mereka bergerak sendiri sesuai dengan nafsu mereka yang kurang pertimbangan dan menentang pemerintahannya yang sah.
Semoga kaum muslimin di seluruh dunia bisa mengambil pelajaran dari peristiwa ini dan membuka mata hati untuk memposisikan diri sesuai dengan nasehat para ulama
, diantaranya nasehat Syekh Al Albani rahimahulloh(Apalagi ini disaat) kaum muslimin dalam keadaan lemah dan tidak tertipu dengan model gerakan seperti kelompok HAMAS ini.
Wallohul Musta’an.

CATATAN: Baca tulisan terkait yang berwarna biru

Sumber Tulisan:

http://sunnisalafi.blogspot.com/

http://aththaifah.wordpress.com/

abu salafy 01

About these ads

12/02/2009 - Posted by | abu-salafy-01, AGAMA, doa dan dzikir, Hamas, manhaj, nashihat, Yahudi | , , , , , , , , , ,

6 Komentar »

  1. perhatian perhatian, organisai fatah (terutama Mahamuod Abbeas) itu organisasi (delete)!!! Apakah manhaj nasionalis itu manhaj islam??? apakah menganggap tanah air lebih urgen daripada aqidah itu bagian dari islam??? Apakah membiarkan negara zionis membunuhi warga palestina (dengan alasan karena salah hamas) adalah masih islam? padahal mereka punya daulah yang sama, atau paling tidak seatap dengan hamas? (mereka jauh lebih jahat dari hamas dengan bersekutu secara terang2an dengan Zionis)

    Hamas (dengan dedengkot biro politiknya, khalid meeshal dan sejenisnya) pun hampir tidak jauh beda dengan fatah. Mereka hanya ingin mencari jalan instan saja. Biro politik hamas memilih jalan demokrasi dan menjauhkan diri dari jihad dan pemurnian aqidah. Semoga Allah menunjuki Brigade Al-Qassam agar menjauhi biro politik hamas dan memurnikan aqidah dari demokrasi dan parlementari.

    Komentar oleh abu az-zidan | 13/02/2009

  2. Jujurlah sama Allah SWT, apa anda tahu betul kondisi di gaza. Apa yang dilakuka oleh Hamas, Hizbullah, dan Iran dalam melawan Israil ? Kalau tidak tahu betul jangan berkomentarlah, kelak komentar anda akan dimintai pertanggungjawabab disisi Allah SWT. Mengapa anda membenci hamas ? Apa yang telah anda lakukan dalam melawan Israil dan amerika ? Tolong anda renungkan ?

    Komentar oleh ahmad | 16/02/2009

  3. Ana setuju dng antum Abu Az-zidan, memang Fatah lah yg harus dipersalahkan, sebab mereka yg mengadakan kerja sama denga para zionis yahudi. Bagi yg memiliki blog ini, berhati-hatilah antum dalam memuat suatu permasalahan. Karena ana melihat dari pembahasan antum, sepertinya antum tidak paham dengan perjuangan umat ini, (delete)
    Allahu ‘alam bis shawab…!
    Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,,,,!

    abu salafy 01->>

    Jadi pemahaman antum bagaimana?

    Kalau tulisan ini adalah pedoman cara kami berjihad..!!

    Jihad Harus Didasari Ilmu

    وَالَّذِيْنَ جاَهَدُوا فِيْناَ لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَناَ وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

    “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)

    Penjelasan ayat

    وَالَّذِيْنَ جاَهَدُوا فِيْناَ

    “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami”
    Ada beberapa penafsiran para ulama tentang ayat ini:
    1. Bahwa yang dimaksud adalah berjihad melawan kaum musyrikin untuk mencari keridhaan Kami (ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala), sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qurthubi, Al-Baghawi, dan Ath-Thabari rahimahumullah.
    2. Mereka adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabat, dan yang mengikutinya hingga hari kemudian, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa istiqamah berada di jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad dari Ahmad bin Abi Al-Hawari, ia berkata: ‘Abbas Al-Hamdani Abu Ahmad telah mengabari kami tentang firman Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, beliau mengatakan: “(Mereka adalah) orang-orang yang mengamalkan apa-apa yang mereka ketahui, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi bimbingan terhadap apa yang mereka belum ketahui.” Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata: Akupun memberitakannya kepada Abu Sulaiman Ad-Darani maka hal itu membuatnya takjub dan berkata: “Tidak sepantasnya bagi yang telah diilhami suatu kebaikan untuk mengamalkannya sampai ia mendengarnya dalam atsar (ada riwayatnya, pen). Apabila dia telah mendengarnya dalam atsar dia pun mengamalkannya dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala agar sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/423)
    3. Maknanya adalah bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata: “Orang-orang yang berjihad dalam melaksanakan ketaatan di jalan Kami (yakni jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala), akan Kami tunjukkan jalan-jalan untuk mendapatkan pahala.”
    Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Ini, dengan makna ketaatan secara umum berarti mencakup seluruh pendapat.”
    Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, akan Kami tunjukkan jalan-jalan untuk mengamalkannya.”
    Berkata pula Sahl bin Abdillah rahimahullah: “Yaitu orang-orang yang berjihad dalam menegakkan sunnah, akan kami tunjukkan jalan menuju jannah (surga).”
    Beberapa penafsiran di atas tidaklah saling bertentangan, bahkan saling menguatkan satu sama lain dan saling melengkapi. Mereka yang menyebutkan jihad dengan makna perang tidak mengkhususkan hanya dalam perkara perang, namun menyebutkan salah satu jenis dari amalan jihad tersebut. Sebab jihad meliputi keseluruhan kemampuan yang dikerahkan oleh seorang muslim dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baik itu berperang melawan kaum kuffar, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, menuntut ilmu syar’i, menegakkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang lainnya. Dengan syarat, dalam mengamalkan semua itu harus ditopang dengan ilmu yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Sebab barangsiapa yang berjihad dengan tidak mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (tindakannya itu) akan menjerumuskannya ke dalam kesesatan dan penyimpangan. Oleh karena itu, Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: “Bukanlah jihad di dalam ayat ini hanya terkhusus jihad melawan orang-orang kafir saja. Namun menolong agama, membantah orang yang berada di atas kebatilan, mencegah orang yang dzalim, dan yang mulia adalah beramar ma’ruf nahi mungkar. Dan di antaranya pula adalah berjihad melawan hawa nafsu dalam ketaatan kepada Allah yang merupakan jihad akbar.” (Tafsir Al-Qurthubi, 13/364-365)
    Abu Karimah (penulis, red) berkata: “Hadits yang berbunyi: ‘Kami telah kembali dari jihad kecil (yaitu berperang, pen) menuju jihad yang paling besar (yaitu melawan hawa nafsu, pen)’ adalah hadits mungkar, sebagaimana telah disebutkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Hadits Adh-Dha’ifah (5/2460).”
    Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam menjelaskan ayat ini berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berhijrah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, berjihad melawan musuh-musuh-Nya, dan mengerahkan segala kemampuannya dalam mencari keridhaan-Nya, maka akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami, yaitu jalan yang akan menyampaikan kepada Kami. Karena mereka adalah para muhsinin (orang yang senantiasa berbuat kebaikan). Dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’alabersama dengan para muhsinin dengan pertolongan, bantuan, dan hidayah-Nya. Ini menunjukkan bahwa orang yang paling layak dalam mencocoki kebenaran adalah orang yang berjihad. Dan barangsiapa berbuat kebaikan terhadap apa yang telah diperintahkan-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolongnya dan memudahkan baginya sebab-sebab hidayah. Barangsiapa yang berusaha dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu syar’i, maka dia akan mendapatkan hidayah dan pertolongan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya berupa perkara-perkara Ilahiyyah, di luar jangkauan ijtihadnya, dan dimudahkan baginya urusan ilmu. Karena menuntut ilmu syar’i termasuk jihad fi sabilillah, bahkan merupakan salah satu dari dua jenis jihad, yang tidak ada yang melakukannya kecuali hamba-hamba-Nya yang khusus. Yaitu berjihad dengan perkataan dan lisan, melawan kaum kuffar dan munafiqin, berjihad dalam mengajari (umat) perkara-perkara agamanya, dan membantah penyimpangan orang-orang yang menyelisihi kebenaran, walaupun mereka dari kalangan kaum muslimin.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, hal. 636)

    Beramal shalih sebelum berperang
    Demikianlah Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan salah satu judul bab dalam Kitabul Jihad dalam Shahih-nya, beliau berkata (menulis): Bab Beramal Shalih Sebelum Berperang. Lalu beliau menyebutkan atsar dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu secara mu’allaq, bahwa beliau berkata:

    إِنَّمَا تُقَاتِلُوْنَ بِأَعْمَالِكُمْ

    “Sesungguhnya kalian berperang dengan amalan-amalan kalian.” (Disebutkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah secara ta’liq, 6/29, bersama Al-Fath. Lihat pula penjelasan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah tentang hadits ini, 6/30)
    Lalu Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits Al-Bara’ bin Azib radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menutup wajahnya dengan topi baja lalu berkata: “Wahai Rasulullah, aku berperang atau aku masuk Islam?” Beliau menjawab: “Masuk Islamlah kemudian berperang.” Maka diapun masuk Islam lalu berperang hingga terbunuh. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia beramal sedikit dan diberi pahala yang banyak.” (HR. Al-Bukhari, Kitabul Jihad, 6/2808)
    Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ibnu Ishaq di dalam kitab Al-Maghazi meriwayatkan kisah ‘Amr bin Tsabit dengan sanad yang shahih dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata: Mereka mengabariku tentang seorang lelaki yang masuk jannah (surga) padahal tidak pernah shalat sekalipun!” Beliau berkata: “Dia adalah ‘Amr bin Tsabit.” Ibnu Ishaq berkata: Hushain bin Muhammad berkata: Aku bertanya kepada Mahmud bin Labid: “Bagaimana kisahnya?” Beliau menjawab: “Dahulu beliau enggan masuk ke dalam Islam. Maka tatkala (terjadi) Perang Uhud, dia pun berkeinginan (mengikutinya). Dia mengambil pedangnya, mendatangi kaumnya dan masuk ke kancah pertempuran lalu berperang hingga terluka. Kaumnya pun mendapatinya dalam peperangan lalu mereka bertanya: “Apa yang membuatmu ikut serta, rasa kasihan terhadap kaummu ataukah cinta kepada Islam?” Dia pun menjawab: “Cinta kepada Islam. Aku berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga aku terluka.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dia termasuk penduduk jannah.”
    Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Hakim dari jalan Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, ia berkata: Dahulu ‘Amr enggan masuk Islam disebabkan karena riba yang dimilikinya di zaman jahiliyyah. Tatkala tiba perang Uhud, dia bertanya: “Di manakah kaumku?” Mereka menjawab: “Di Uhud.” Lalu dia mengambil pedangnya dan menyusul mereka. Tatkala melihat ‘Amr, mereka berkata: “Jauhilah kami.” Dia menjawab: “Sesungguhnya aku telah masuk Islam.” Lalu dia pun berperang hingga terluka. Sa’ad bin Ubadah mendatanginya lalu berkata: “Engkau dalam keadaan marah karena Allah dan Rasul-Nya.” Lalu dia meninggal dan masuk jannah dalam keadaan tidak pernah mengerjakan satu pun shalat. (Al-Fath, Al-Hafidz, 6/30-31)
    Kisah di atas menjelaskan kepada kita pentingnya amalan shalih sebelum seseorang menuju ke medan peperangan. Hal ini disebabkan agar seorang mujahid senantiasa mendapatkan bimbingan dalam mengamalkan amalan yang mulia tersebut sehingga selalu istiqamah di atas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seseorang tidak mungkin membenarkan amalannya dan membedakan antara amalan shalih dengan yang buruk kecuali dengan ilmu syar’i, dengan bimbingan para ulama Rabbani yang senantiasa menuntun para mujahidin di atas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.
    Sebab, tanpa ilmu syar’i dan bimbingan para ulama Salaf, seorang yang berjihad akan terjatuh dalam berbagai kesalahan dan penyimpangan dalam keadaan dia merasa berada di atas kebenaran dan menganggap suatu amalan tersebut sebagai bagian dari jihad, meskipun sama sekali tidak termasuk ke dalamnya. Bahkan bukan termasuk perkara yang disyariatkan. Perkara inilah yang menyebabkan banyak kalangan hizbiyyin (orang-orang yang jatuh dalam fanatisme kelompok, ed) terjatuh dalam kesesatan dan menyelisihi kebenaran, dalam keadaan mereka masih saja meneriakkan bahwa amalan itu termasuk jihad, dan yang mati ketika mengamalkan amalan tersebut mati syahid.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra: 36)
    Jihad termasuk amalan mulia, bahkan merupakan semulia-mulia amalan. Namun dalam beramal harus mengikuti tuntunan syariat yang shahihah. Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kelompok yang sangat cinta dengan jihad. Mereka terkenal sebagai pemberani semenjak zaman para shahabat hingga zaman kita sekarang ini. Cukuplah beberapa negeri yang menjadi saksi akan kejantanan mereka, seperti Kunar yang merupakan salah satu daerah di Afghanistan, Chechnya, dan Bosnia. Bahkan mereka terus melangkah ke medan jihad walaupun orang-orang yang membenci mereka tetap benci.
    Maluku dan Poso pun turut menjadi saksi akan kesungguhan Ahlus Sunnah dalam menegakkan kalimat Allah. Seiring dengan bergulirnya waktu, aktivitas jihad di dua negeri ini yang tadinya berjalan mengikuti koridor As-Sunnah dengan tuntunan dan fatwa ulama, mulai disisipi kesalahan demi kesalahan.
    Namun, inilah Ahlus Sunnah yang menjadikan ilmu sebagai landasannya berpijak. Ketika disadari kesalahan-kesalahan tersebut dapat menjauhkannya dari tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat, dengan jantan mereka mengakui berbagai kesalahan tersebut dan bertaubat darinya. Dengan berbekal nasihat ulama (seperti Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali) pula, mereka dengan lapang dada menarik diri dari bumi Maluku dan Poso meski banyak masyarakat di sana menahan kepergiannya.
    Mereka kemudian kembali membuka ma’had-ma’had di berbagai daerah untuk mengkader para penuntut ilmu syar’i. Tapi sekali lagi, apabila Ahlus Sunnah telah meyakini suatu kebenaran, mereka tidaklah mempedulikan banyaknya orang-orang yang menyelisihinya dan membencinya. Ini semua menunjukkan bahwa dalam berjihad sangatlah membutuhkan ilmu yang mapan dan bimbingan para ulama dalam menghadapi berbagai problem yang mereka hadapi tersebut.
    Bandingkanlah dengan keadaan mereka yang tidak menjadikan ilmu sebagai landasan amal mereka dan tidak menjadikan para ulama sebagai penasehat. Mereka malah mengangkat para tokoh kejahilan sebagai “ulama” pembimbing mereka. Mereka menganggapnya sebagai orang yang mengerti al-waqi’ (problema kekinian). Sementara para ulama Rabbani seperti Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan yang lainnya, mereka anggap sebagai “ulama haidh dan nifas” atau “ulama wudhu’” atau “ulama yang tidak mengerti al-waqi’” atau “ulama yang tidak mengerti masalah jihad,” dan semisalnya. (seperti ucapan Imam Samudra dalam Aku Melawan Teroris, hal. 64)
    Dengan sebab inilah muncul berbagai fatwa menyesatkan dan menisbahkannya kepada amalan jihad. seperti ucapan “Jihad melalui parlemen,” “Bom bunuh diri termasuk amalan jihad,” “Kewajiban memerangi seluruh kaum kafir/ musyrik,” dan yang semisalnya, yang keluar dari orang-orang jahil tentang syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Na’udzu billahi minal khudzlan (kita berlindung kepada Allah dari kehinaan).

    Fatwa Ulama terkini tentang musibah di Negeri Palestina

    Penulis: Lajnah Da’imah Lil Buhuts Ilmiyah wal Ifta’ Saudi Arabia
    .: :.
    الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين ؛ نبينا محمد وعلى آله وصحبه ؛ ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين . وبعد

    Segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, nabi kita Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wassallam) dan kepada keluarga beliau beserta para shahabatnya dan ummatnya yang setia mengikutinya sampai akhir zaman. Wa ba’d :

    Sesungguhnya Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ (Dewan Tetap Untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia mengikuti (perkembangan yang terjadi) dengan penuh kegalauan dan kesedihan, akan musibah yang telah terjadi dan sedang terjadi yang menimpa saudara-saudara kita muslimin Palestina. Lebih khusus lagi di Jalur Gaza, yakni angkara murka dan terbunuhnya anak-anak, kaum wanita dan orang-orang yang sudah renta, dan pelanggaran-pelanggaran terhadap kehormatan, rumah-rumah serta bangunan-bangunan yang dihancurkan dan pengusiran penduduk. Tidak diragukan lagi ini adalah kejahatan dan kedzaliman terhadap penduduk Palestina.

    Dalam menghadapi peristiwa yang menyakitkan ini, ummat Islam wajib untuk berdiri satu barisan bersama saudara-saudara mereka di Palestina dan bahu-membahu dengan mereka, ikut membela dan membantu mereka serta bersungguh-sungguh dalam menepis kedzaliman yang menimpa mereka dengan sebab dan sarana apa pun yang mungkin dilakukan sebagai wujud dari persaudaraan seagama dan seikatan iman.

    Allah Ta’ala berfirman:
    ﴿ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ ﴾ . الحجرات : 10
    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. (Al Hujurat: 10)

    Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
    ﴿ وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ ﴾ . التوبة : 71
    “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain”. (At-Taubah: 71)

    Bersabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
    المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضًا ، وشبك بين أصابعه . متفق عليه
    “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang saling menopang, lalu beliau menautkan antar jari-jemari (kedua tangannya)”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Beliau (shallallahu ‘alaihi wassallam) juga bersabda:
    مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر . متفق عليه
    “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan sakit dan tidak bisa tidur”. (Muttafaqun ‘Alaihi)

    Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wassallam) juga bersabda:
    المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يسلمه ولا يحقره . رواه مسلم .
    “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak mendzalimi saudaranya, tidak menipunya, tidak memperdayanya dan tidak meremehkannya”. (HR. Muslim)

    Pembelaan bentuknya umum mencakup banyak aspek sesuai kemampuan sambil tetap memperhatikan keadaan, apakah dalam bentuk materiil atau moril. Apakah dari kaum muslimin berupa harta, bahan makanan, obat-obatan, pakaian, dan yang lain sebagainya, atau dari pihak negara-negara Arab dan Islam dengan mempermudah sampainya bantuan-bantuan kepada mereka, serta bersikap dengan sungguh-sungguh dalam urusan mereka dan membela kepentingan-kepentingan mereka di pertemuan-pertemuan, acara-acara, dan musyawarah-musyawarah antar negara dan dalam negeri. Semua itu termasuk ke dalam bekerjasama di atas kebajikan dan ketaqwaan yang diperintahkan di dalam firman-Nya:
    ﴿ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبَرِّ وَالتَّقْوَى ﴾ المائدة : 2
    “Dan bekerjasamalah kalian di atas kebajikan dan ketakwaan”. (Al Ma’idah: 2)

    Kemudian termasuk dalam hal ini juga, menyampaikan nasihat kepada mereka dan menunjuki mereka kepada setiap kebaikan bagi mereka, diantaranya yang paling besar, mendoakan mereka pada setiap waktu agar cobaan ini diangkat dari mereka dan agar bencana ini disingkap dari mereka, serta mendoakan mereka agar Allah memulihkan keadaan mereka dan membimbing amalan dan ucapan mereka.

    Sesungguhnya kami mewasiatkan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana kami mewasiatkan mereka agar bersatu di atas kebenaran dan meninggalkan perpecahan dan pertikaian, serta menutup celah bagi pihak musuh yang memanfaatkan kesempatan dan akan terus memanfaatkan (kondisi ini) dengan melakukan tindak kesewenang-wenangan dan pelecehan.

    Kami menganjurkan kepada semua saudara-saudara kami untuk menempuh sebab-sebab agar terangkatnya kesewenang-wenangan terhadap negeri mereka,sambil tetap menjaga keikhlasan dalam berbuat karena Allah Ta’ala dan mencari keridha’an-Nya. Juga meminta tolong dengan kesabaran dan shalat dan musyawarah dengan para ulama, orang-orang yang berakal dan bijak di setiap urusan mereka, karena semua itu berguna untuk mendapatkan taufiq dan tepatnya langkah.

    Sebagaimana kami juga mengajak kepada orang-orang yang berakal di setiap negeri dan masyarakat dunia seluruhnya, agar melihat kepada bencana ini dengan kacamata orang yang berakal dan sikap yang adil, untuk memberikan kepada masyarakat Palestina hak-hak mereka dan mengangkat kedzaliman dari mereka agar mereka hidup dengan kehidupan yang mulia. Sekaligus kami juga berterima kasih kepada setiap pihak yang berlomba-lomba dalam membela dan membantu mereka dari negara-negara dan individu.

    Kami mohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang Baik dan sifat-sifat-Nya yang Tinggi untuk menyingkap kesedihan dari ummat ini dan memuliakan agama-Nya, dan meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan para wali-Nya serta menghinakan musuh-musuh-Nya. Lantas menjadikan tipu daya mereka bumerang bagi mereka dan menjaga ummat Islam dari kejahatan-kejahatan mereka, sesungguhnya Dialah Penolong kita dalam hal ini dan Dzat Yang Maha Berkuasa.

    Dan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad (shallallahu ‘alaihi wassallam), kepada keluarga serta shahabatnya dan ummatnya yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari Kiamat.

    (Dikutip dari terjemahan fatwa Lajnah Da’imah Lil Buhuts Ilmiyah wal Ifta’ Saudi Arabia, judul asli “Fatwa Ulama Seputar Bencana di Palestina” di http://ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=282. Sumber fatwa dari alamat url http://www.sahab.net/home/index.php?threads_id=152)

    Teks asli :
    اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء : الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين ؛ نبينا محمد وعلى آله وصحبه ؛ ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين . وبعد : فإن ” اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء ” في المملكة العربية السعودية ؛ تابعت بكل أسى وحزن وألم ما جرى ويجري على إخواننا المسلمين في فلسطين وفي قطاع غزة على الخصوص ؛ من عدوان وقتل للأطفال والنساء والشيوخ ، وانتهاك للحرمات وتدمير للمنازل والمنشآت وترويع للآمنين ، ولا شك أن ذلك إجرام وظلم في حق الشعب الفلسطيني .
    وهذا الحدث الأليم يوجب على المسلمين الوقوف مع إخوانهم الفلسطينيين ، والتعاون معهم ونصرتهم ومساعدتهم ، والاجتهاد في رفع الظلم عنهم بما يمكن من الأسباب والوسائل تحقيقًا لإخوة الإسلام ورابطة الإيمان ، قال الله تعالى : ﴿ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ ﴾ . [ الحجرات : 10 ] . وقال – عز وجل – : ﴿ وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ ﴾ . [ التوبة : 71 ] . وقال النبي – صلى الله عليه وسلم – : ( المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضًا ، وشبك بين أصابعه ) . [ متفق عليه ] . وقال أيضًا – عليه الصلاة والسلام – : ( مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر ) . [ متفق عليه ] . وقال – عليه الصلاة والسلام – : ( المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يسلمه ولا يحقره ) . [ رواه مسلم ] .
    والنصرة شاملة لأمور عديدة حسب الاستطاعة ومراعاة الأحوال سواء كانت مادية أو معنوية ، وسواء كانت من عموم المسلمين بالمال ، والغذاء ، والدواء ، والكساء ، وغيرها ، أو من جهة الدول العربية والإسلامية بتسهيل وصول المساعدات لهم ، وصدق المواقف تجاههم ، ونصرة قضاياهم في المحافل ، والجمعيات ، والمؤتمرات الدولية والشعبية ، وكل ذلك من التعاون على البر والتقوى المأمور به في قوله – سبحانه وتعالى – : ﴿ وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبَرِّ وَالتَّقْوَى ﴾ . [ المائدة : 2 ] .
    ومن ذلك – أيضًا – بذل النصيحة لهم ، ودلالتهم على ما فيه خيرهم وصلاحهم ، ومن أعظم ذلك – أيضًا – الدعاء لهم في جميع الأوقات برفع محنتهم ، وكشف شدتهم ، وصلاح أحوالهم ، وسداد أعمالهم وأقوالهم .
    هذا وإننا نوصي إخواننا المسلمين في فلسطين بتقوى الله – تعالى – والرجوع إليه – سبحانه – ، كما نوصيهم بالوحدة على الحق ، وترك الفرقة والتنازع ، وتفويت الفرصة على العدو التي استغلها وسيستغلها بمزيد من الاعتداء والتوهين .
    ونحث إخواننا على فعل الأسباب لرفع العدوان على أرضهم مع الإخلاص في الأعمال لله – تعالى – ، وابتغاء مرضاته ، والاستعانة بالصبر والصلاة ، ومشاورة أهل العلم والعقل والحكمة في جميع أمورهم ، فإن ذلك أمارة على التوفيق والتسديد .
    كما أننا ندعو عقلاء العالم والمجتمع الدولي بعامة للنظر في هذه الكارثة بعين العقل والإنصاف لإعطاء الشعب الفلسطيني حقوقه ، ورفع الظلم عنه حتى يعيش حياة كريمة ، وفي الوقت نفسه نشكر كل من أسهم في نصرتهم ومساعدتهم من الدول والأفراد .
    نسأل الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلا : أن يكشف الغمة عن هذه الأمة ، وأن يعز دينه ، ويعلي كلمته وأن ينصر أولياءه ، وأن يخذل أعداءه ، وأن يجعل كيدهم في نحورهم ، وأن يكفي المسلمين شرهم ، إنه ولي ذلك والقادر عليه .
    وصلى الله وسلم على نبينا محمد ، وعلى آله وصحبه ، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

    .

    Komentar oleh Zainn | 21/02/2009

  4. السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
    boleh minta alamat e-mail atau chat?
    ana mau tanya-tanya..
    boleh akh..??

    abu salafy 01->>

    وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

    تَفَضَّلُ

    antum baca KAMI, disitu lengkap data-data ana

    بارك الله فيكم

    Komentar oleh yudha | 11/03/2009

  5. Assalamu’alaikum..

    sy setuju ilmu yg pertama dan utama,,bukan hny semangat dan emosional..
    krn dengan ilmu qt jd lbh selamat,lbh terarah dan lbh bnr dlm bertindak ssuai yg diperintahkan Alloh jg yg dicontohkan Rasululloh..
    Wallahu a’lam..

    Komentar oleh newbie | 05/03/2011

  6. Ha…..ha……ha…….ha……lucu aja org indonesia bicara jihad.sok suci,baru lahir aja bayar persalinan hsil korupsi,kkn.mau nyalahin perjuangan suci negara lain.ha…ha…ha….ha……diam jgn byk bacot.kita indo diam dan doa in mereka bukannya mengkritik mereka.dasar sok suci…..

    Komentar oleh Asad haidar | 08/03/2011


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.