Hidupkan Sunnah HANCURKAN BID'AH

Meniti Jalan Sunnah Rasulullah, Menepis Bid'ah

Akhir Kehidupan yang Menghinakan

Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA
Ajaran Ahmadiyah banyak mendapat penentangan dari para ulama di India. Di antara ulama yang terdepan menentangnya adalah Asy-Syaikh Tsana`ullah Al-Amru Tasri. Karena geram, Ghulam Ahmad akhirnya mengeluarkan pernyataan pada tanggal 15 April 1907 yang ditujukan kepada Asy-Syaikh Tsana`ullah. Di antara bunyinya:


“…Engkau selalu menyebutku di majalahmu (‘Ahlu Hadits’) ini sebagai orang terlaknat, pendusta, pembohong, perusak… Maka aku banyak tersakiti olehmu… Maka aku berdoa, jika aku memang pendusta dan pembohong sebagaimana engkau sebutkan tentang aku di majalahmu, maka aku akan binasa di masa hidupmu. Karena aku tahu bahwa umur pendusta dan perusak itu tidak akan panjang… Tapi bila aku bukan pendusta dan pembohong bahkan aku mendapat kemuliaan dalam bentuk bercakap dengan Allah, serta aku adalah Al-Masih yang dijanjikan maka aku berdoa agar kamu tidak selamat dari akibat orang-orang pendusta sesuai dengan sunnatullah.
Aku umumkan bahwa jika engkau tidak mati semasa aku hidup dengan hukuman Allah yang tidak terjadi kecuali benar-benar dari Allah seperti mati dengan sakit tha’un, atau kolera berarti AKU BUKAN RASUL DARI ALLAH…
Aku berdoa kepada Allah, wahai penolongku Yang Maha Melihat, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berilmu, Yang mengetahui rahasia qalbu, bila aku ini adalah pendusta dan perusak dalam pandangan-Mu dan aku berdusta atas diri-Mu malam dan siang hari, ya Allah, maka matikan aku di masa hidup Ustadz Tsana`ullah. Bahagiakan jamaahnya dengan kematianku –Amin–.
Wahai Allah, jika aku benar dan Tsana`ullah di atas kesalahan serta berdusta dalam tuduhannya terhadapku, maka matikan dia di masa hidupku dengan penyakit-penyakit yang membinasakan seperti tha’un dan kolera atau penyakit-penyakit selainnya….


Akhirnya, aku berharap dari Ustadz Tsana`ullah untuk menyebarkan pernyataan ini di majalahnya. Kemudian berilah catatan kaki sekehendaknya. Keputusannya sekarang di tangan Allah.
Penulis, hamba Allah Ash-Shamad, Ghulam Ahmad, Al-Masih Al-Mau’ud. Semoga Allah memberinya afiat dan bantuan. (Tabligh Risalat juz 10 hal. 120)


Apa yang terjadi? Setelah berlalu 13 bulan 10 hari dari waktu itu, justru Ghulam Ahmad yang diserang ajal. Doanya menimpa dirinya sendiri.
Putranya Basyir Ahmad menceritakan: Ibuku mengabarkan kepadaku bahwa Hadrat (Ghulam Ahmad) butuh ke WC langsung setelah makan, lalu tidur sejenak. Setelah itu butuh ke WC lagi. Maka dia pergi ke sana 2 atau 3 kali tanpa memberitahu aku. Kemudian dia bangunkan aku, maka aku melihatnya lemah sekali dan tidak mampu untuk pergi ke ranjangnya. Oleh karenanya, dia duduk di tempat tidurku. Mulailah aku mengusapnya dan memijatnya. Tak lama kemudian, ia butuh ke WC lagi. Tetapi sekarang ia tidak dapat pergi ke WC, karena itu dia buang hajat di sisi tempat tidur dan ia berbaring sejenak setelah buang hajat. Kelemahan sudah mencapai puncaknya, tapi masih saja hendak buang air besar. Diapun buang hajatnya, lalu dia muntah. Setelah muntah, dia terlentang di atas punggungnya, dan kepalanya menimpa kayu dipan, maka berubahlah keadaannya.” (Siratul Mahdi hal. 109 karya Basyir Ahmad)


Mertuanya juga menerangkan: “Malam ketika sakitnya Hadhrat (Ghulam Ahmad), aku tidur di kamarku. Ketika sakitnya semakin parah, mereka membangunkan aku dan aku melihat rasa sakit yang dia derita. Dia katakan kepadaku, ‘Aku terkena kolera.’ Kemudian tidak bicara lagi setelah itu dengan kata yang jelas, sampai mati pada hari berikutnya setelah jam 10 pagi.” (Hayat Nashir Rahim Ghulam Al-Qadiyani hal. 14)
Pada akhirnya dia mati tanggal 26 Mei 1908.
Sementara Asy-Syaikh Tsana`ullah tetap hidup setelah kematiannya selama hampir 40 tahun. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala singkap tabir kepalsuannya dengan akhir kehidupan yang menghinakan, sebagaimana dia sendiri memohonkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kini siapa yang sadar dan bertobat setelah tersingkap kedustaannya?
Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber:

http://asysyariah.com/

05/01/2009 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, firqah, nabipalsu | , , , | Tinggalkan komentar

Hukum Seseorang yang Mengaku Nabi atau Rasul.

Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA
Hukum bagi seseorang yang mengaku-ngaku Nabi atau Rasul adalah kafir, keluar dari Islam. Atau dengan kata lain murtad bila sebelumnya dia muslim, dan harus dibunuh oleh penguasa bila ia tidak bertobat sebagaimana dibunuhnya Musailamah Al-Kadzdzab dan Al-Aswad Al-’Anasi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
“Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Dengan perbuatannya, ia telah mengganti agamanya walaupun tetap berbaju Islam.
Dia dihukumi kafir, karena dengan pengakuannya sebagai Nabi berarti ia telah mendustakan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih bahkan mutawatir dalam hal tertutupnya kenabian dan kerasulan dengan Nabi Muhammad bin Abdillah Al-Qurasyi. Pada kesempatan sebelum ini, telah kami nukilkan ucapan sejumlah ulama yang menghukuminya sebagai kafir, semacam ucapan Abu Hanifah, Al-Qadhi ‘Iyadh, dan ulama-ulama India.
Orang yang meyakini kenabian nabi-nabi palsu tersebut juga kafir, dengan alasan yang sama.
Adapun orang yang sekadar mendukung atau melindungi mereka atau ridha tehadap bid’ah mereka, maka mereka mendapat laknat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hadits disebutkan:
لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا
“Allah melaknati orang yang melindungi orang jahat.” (Shahih, HR. Muslim dari Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu)
Dia harus dihukum dengan hukuman yang setimpal agar jera dari perbuatannya tersebut.
Oleh karena itu, kami mengingatkan setiap muslim bahwa dirinya bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengingkari segala kesesatan. Di antara kesesatan terbesar adalah semacam kesesatan Ahmadiyah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لـَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat sebuah kemungkaran maka hendaklah dia ubah dengan tangannya. Bila tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan bila tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Sebab-sebab Pengakuan Kenabian
Munculnya pengakuan kenabian dilatarbelakangi oleh banyak sebab. Di antaranya:
 upaya jahat terhadap agama Islam
 upaya memperoleh kekayaan
mencari kepemimpinan atau popularitas
 unsur fanatik terhadap golongan atau suku
atau sebab-sebab lain. Bisa jadi, seseorang mengaku nabi karena sebab itu semua.

Sumber:

http://asysyariah.com/

05/01/2009 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, firqah, nabipalsu | , , , | Tinggalkan komentar

AGAMA AHMADIYAH

Akidah Ahmadiyah
Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA

Firqah Ahmadiyah memiliki aqidah yang sangat bertolak belakang dengan aqidah kaum muslimin pada umumnya, sehingga mestinya mereka tidak boleh menamakan diri mereka dengan muslimin. Semestinya juga mereka tidak menamakan tempat ibadah mereka dengan masjid. Kami akan sebutkan beberapa contoh aqidah yang sangat menonjol pada mereka diantaranya:
1. Meyakini bahwa mereka memiliki sesembahan yang memiliki sifat-sifat manusia, seperti puasa, shalat, tidur, bangun, salah, benar, menulis, menandatangani, bahkan bersenggama dan melahirkan. Seorang pemeluk Ahmadiyah bernama Yar Muhammad mengatakan: “Bahwa Al-Masih Al-Mau’ud (yakni Ghulam Ahmad) suatu saat pernah menerangkan tentang keadaannya: ‘Bahwa dia melihat dirinya seolah-olah seorang wanita, dan bahwa Allah memperlihatkan kepada dirinya kekuatan kejantanannya’.” (Dhahiyyatul Islam karya Yar Muhammad hal. 34)
Na’udzubillah (kita berlindung kepada Allah). Maha Suci sesembahan kaum muslimin dari sifat semacam itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Asy-Syura ayat 11:


لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Tidaklah serupa dengan-Nya sesuatupun dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Yang mereka sifati itu adalah sesembahan mereka, bukan sesembahan muslimin.
2. Bahwa para Nabi dan para Rasul tetap diutus sampai hari kiamat, tidak tertutup dengan kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tentu hal ini menyelisihi Al-Qur`an, hadits yang mutawatir, dan ijma’ muslimin.
3. Bahwa Ghulam Ahmad adalah Nabi dan Rasul.
Hal ini telah terbukti kepalsuannya.
4. Bahwa Ghulam Ahmad lebih utama dari seluruh Nabi dan Rasul, termasuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
5. Bahwa wahyu turun kepada Ghulam Ahmad.
Wahyu hanyalah turun kepada Nabi yang sesungguhnya, dan itu telah terputus dengan Nabi Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihat kembali penjelasan Ibnu Hazm rahimahullahu yang telah lewat.
6. Bahwa yang membawa wahyu kepadanya adalah malaikat Jibril ‘alaihissalam.
7. Bahwa dia memiliki agama yang terpisah dari seluruh agama, dan bahwa mereka memiliki syariat yang tersendiri. Umat mereka adalah umat yang baru, umat Ghulam Ahmad.
Atas dasar hal ini, semestinya mereka tidak menyandarkan diri mereka kepada Islam dan hendaknya dengan terang-terangan mereka memproklamirkan antipati mereka kepada Islam, serta tidak menyebut tempat ibadah mereka sebagai masjid.
8. Bahwa mereka memiliki kitab tersendiri yang kedudukannya menyerupai Al-Qur`an. Terdiri dari 20 juz, namanya adalah Al-Kitabul Mubin.
9. Bahwa Qadiyan seperti Makkah dan Madinah, bahkan lebih utama dari keduanya.
10. Bahwa haji mereka adalah dengan menghadiri muktamar tahunan di Qadiyan.
11. Menghapuskan syariat jihad fi sabilillah melawan orang-orang kafir.
Demi kelanggengan Tuhan mereka yang sesungguhnya yaitu para penjajah.
12. Menganggap kafir seluruh umat Islam, yakni selain mereka.
13. Mencela Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi Isa ‘alaihissalam.
Di antara yang dia ucapkan tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Nabi (Muhammad) memiliki 3.000 mukjizat, namun mukjizatku melebihi 1.000.000 mukjizat.” (تحفة كولره:40 وتذكرة الشهادتين:41 karya Ghulam Ahmad)
Di antara ucapannya tentang Nabi Isa ‘alaihissalam adalah: “Sesungguhnya Isa adalah seorang pecandu khamr dan perilakunya jelek.” (حاشية ست بجن:172 karya Ghulam Ahmad)
Dia katakan juga: “Sesungguhnya Isa cenderung kepada para pelacur, karena nenek-neneknya dahulu adalah para pelacur.” (ضميمة انجام آثم، حاشية ص 7 karya Ghulam Ahmad)
Semua itu adalah tuduhan yang sama sekali tiada berbukti. Bahkan, siapa yang sesungguhnya pencandu khamr? Lihatlah kisah berikut ini. Ghulam menulis surat kepada salah seorang muridnya di Lahore agar mengirimkan kepadanya wine dan membelinya dari toko seseorang yang bernama Belowmer. Ketika Belowmer ditanya wine itu apa, ia menjawab: “Salah satu jenis yang sangat memabukkan dari jenis-jenis khamr yang diimpor dari Inggris dalam kemasan tertutup.”1)
Persaksian semacam ini banyak dari pengikutnya, mereka sadari atau tidak. Majalah Ahmadiyah Al-Fadhl juga menyebutkan: “Sesungguhnya Al-Masih Al-Mau’ud Ghulam Ahmad adalah seorang nabi. Sehingga tidak mengapa baginya bila bercampur baur dengan wanita-wanita, menjamah mereka, memerintahkan mereka untuk memijit-mijit kedua tangan dan kakinya. Bahkan yang semacam ini menyebabkan pahala, rahmat, dan berkah.” (edisi 20 Maret 1928 M)
Adapun tentang Nabi ‘Isa ‘alaihissalam cukup bagi kaum muslimin firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَ إِنَّمَا أَنَاْ رَسُوْلُ رَبِّكِ لأَهَبَ لَكِ غُلاَمًا زَكِيًّا
“Ia (Jibril) berkata (kepada Maryam): ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Rabbmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci’.” (Maryam: 19)
14. Mencela para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
15. Bahwa dia adalah Al-Masih Al-Mau’ud.
16. Bahwa dia adalah Al-Imam Mahdi.
Tentang dua hal terakhir, telah kami bantah dalam majalah Asy-Syari’ah edisi 33 tentang Imam Mahdi dan edisi 35 tentang Turunnya Nabi Isa.

Ahmadiyah Lahore
Sebagaimana diketahui, muncul perpecahan di tubuh Ahmadiyah, khususnya setelah kematian “Nabi” mereka Mirza Ghulam Ahmad. Muncul sebagai pecahan Ahmadiyah Qadiyan apa yang kemudian dikenal dengan Ahmadiyah Lahore.
Di Indonesia pun demikian. Ada yang mengikuti asalnya, sehingga di Indonesia ada yang disebut Jemaat Ahmadiyah Indonesia disingkat JAI yang berpusat di antaranya di Parung, Bogor, sebagai wujud dari Ahmadiyah Qadiyan. Ada juga Gerakan Ahmadiyah Indonesia disingkat GAI yang berpusat di Yogyakarta sebagai wujud dari Ahmadiyah Lahore.
Sengaja kami membahas secara khusus Ahmadiyah Lahore ini walaupun dengan ringkas, karena gerakan ini menampakkan penampilan yang lebih ‘bersahabat’ dengan umumnya muslimin, yaitu dengan menampilkan bahwa mereka tidak meyakini Ghulam Ahmad sebagai Nabi, namun sekadar pembaru.
Untuk diketahui, pimpinan Ahmadiyah Lahore ini adalah Muhammad Ali. Dia belajar ilmu-ilmu sains dan memperoleh gelar magister, namun tidak mendapatkan pekerjaan. Akhirnya ia direkrut untuk menjadi pendamping Nabi palsu Ghulam Ahmad, sehingga dapat memperkokoh kenabiannya dengan adanya potensi menyebarkan kesesatan mereka di kalangan terpelajar. Untuk itu ia digaji oleh penjajah Inggris dengan gaji yang sangat tinggi ketika itu, lebih dari 200 Rupee. Padahal para petinggi negara saja kala itu gajinya tidak lebih dari 50 Rupee.
Mulailah ia bekerja dengan menjabat sebagai pemimpin redaksi salah satu majalah bulanan Ahmadiyah. Sepeninggal Ghulam Ahmad ia menjadi musyrif (direktur) majalah tersebut dan diserahkan kepadanya tugas penerjemahan makna Al-Qur`an ke bahasa Inggris, yang tentu disisipkan padanya penyelewengan-penyelewengan ala Ahmadiyah. Awalnya terjemahan ini dipimpin oleh khalifah Ghulam yang pertama yaitu Nuruddin. Disebutkan dalam majalah mereka Al-Fadhl, 2 Juni 1931 M, “Sesungguhnya hadhrat khalifah yang pertama bagi Al-Masih Al-Mau’ud (Ghulam Ahmad) dahulu mendiktekan penerjemahan makna-makna Al-Qur’an kepada Ustadz Muhammad Ali. Beliau (Muhammad Ali) mengemban pekerjaan tersebut dan mengambil gaji sebesar 200 Rupee perbulan.”
Dengan berjalannya waktu dan perkenalan yang semakin mendalam, terjadilah ketidakcocokan antara dia dengan Ghulam Ahmad, karena apa yang dia ketahui bahwa Ghulam Ahmad menumpuk harta umat untuk kepentingan pribadi dan tidak mengikutsertakannya dalam kekayaan tersebut. Sehingga Ghulam mengatakan: “Mereka menuduh kita makan harta haram. Apa hubungan mereka dengan harta ini? 2)  Seandainya kita berpisah dengan mereka, mereka tidak akan mendapatkan harta walaupun satu qirsy.” 3)
Sepeninggal Ghulam Ahmad serta perebutan warisan berupa harta pemberian dari Inggris dan perolehan dari pengikutnya, penjajah Inggris hendak menciptakan trik baru untuk menjaring komunitas muslimin dalam jaring kesesatan. Mereka melihat jurus yang lalu kurang ampuh. Terlebih dengan tersingkapnya kenabian palsu Ghulam Ahmad oleh para ulama Islam, sehingga kaum muslimin pun waspada dari segala penipuannya. Penjajah Inggris pun khawatir bila usahanya lenyap bersama kelompok yang murtad ini. Sehingga mereka menunjuk pembantu kecilnya, Muhammad Ali, yang memimpin kelompok yang beroposisi dengan pewaris tahta Ghulam Ahmad demi kepentingan penjajah untuk membuat jamaah baru dan memproklamirkan bahwa Ghulam Ahmad tidak menyerukan kenabian dirinya, bahkan ia hanya menyerukan bahwa dirinya adalah pembaru agama Islam. Tujuan proklamasi ini adalah untuk menjerat muslimin yang belum terjerat dalam jaring Ghulam Ahmad karena menyadari kepalsuannya, agar dapat masuk dalam jaringnya secara perlahan. Atau paling tidaknya akan menjauh dari agama Islam dan ajaran-ajarannya, termasuk berjihad melawan penjajah.
Demikian proses kelahiran kelompok ini, yang pada hakikatnya bukan karena perbedaan aqidah dengan Ahmadiyah Qadiyan sebagaimana kesan yang terpublikasi. Semua itu terbukti dengan pernyataan-pernyataan yang termuat dalam surat kabar Ahmadiyah Lahore. Di antaranya: “Kami adalah pelayan-pelayan pertama untuk hadhrat Al-Masih Al-Mau’ud (Ghulam Ahmad). Dan kami beriman bahwa beliau adalah Rasulullah yang jujur yang benar, dan bahwa ia diutus untuk membimbing orang-orang di zaman ini serta memberikan hidayah kepada mereka, sebagaimana kami beriman bahwa tiada keselamatan kecuali dengan mengikutinya.” 4)
Bahkan Muhammad Ali sendiri menuliskan: “Kami meyakini bahwa Ghulam Ahmad adalah Al-Masih Al-Mau’ud dan Mahdi yang dijanjikan. Dia adalah Rasulullah dan Nabi-Nya. Allah tempatkan dia pada sebuah tempat dan kedudukan, sebagaimana ia terangkan sendiri (yakni lebih utama dari seluruh para Rasul, ed.), sebagaimana kami mengimani bahwa tiada keselamatan bagi yang tidak beriman.” 5)
Adapun ucapannya: “Sesungguhnya kami tidak meyakini bahwa Ghulam Ahmad itu Nabi Allah dan Rasul-Nya, bahkan kami meyakininya sebagai mujaddid (pembaru) dan muslih,” 6)  maka Asy-Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir berkomentar: “Tidak sesuai dengan kenyataan dan tidak sesuai dengan pernyataan-pernyataannya yang lalu dan yang sesungguhnya.”
Kesimpulannya bahwa Ahmadiyah Lahore menampakkan keyakinan bahwa Ghulam Ahmad hanya sebatas pembaru. Namun pada hakikatnya sama dengan Ahmadiyah Qadiyan dalam hal keyakinan, walaupun para pengikutnya mungkin ada yang mengetahui hakikat ini dan ada yang tidak.
Yang jelas, keyakinan Ahmadiyah bahwa Ghulam Ahmad adalah pembaru pun sangat keliru dan salah parah. Karena tanpa tedeng aling-aling dengan tegas, yang bersangkutan Ghulam Ahmad menyatakan dirinya sebagi Nabi dan Rasul. Ini merupakan kekafiran. Ditambah lagi berbagai penyimpangan yang ada, seperti yang telah dijelaskan.
Nah, apakah orang semacam ini pantas disebut sebagai pembaru agama Islam? Atau justru pembaru ajaran Musailamah Al-Kadzdzab dan yang mengikuti jalannya? Sadarlah wahai ulul albab.

1) Keterangan dari Nur Ahmad Al-Qadiyani dalam majalah Al-Fadhl, 20 Agustus 1946 M, dinukil dari makalah Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, Al-Mutanabbi Al-Qadiyani wa Ihanatuhu Ash-Shahabah hal. 300.
2) Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir mengomentari: Bagaimana mereka tidak ada hubungan, sementara mereka berserikat dalam memperkokoh kenabian?!
3) Surat putra Ghulam kepada Nuruddin, terdapat dalam Haqiqat Al-Ikhtilaf karya Muhammad Ali, Aisar Al-Qadyaniyyah Fi Laahur, hal. 50.
4) صلح بيغام surat kabar Ahmadiyah Lahore edisi 7 September 1913 M.
5) Review of Religions juz 3 no. 11 hal. 411.
6) Review of Religions juz 9 no. 7 hal. 248.

Sumber:

http://asysyariah.com/

04/01/2009 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, firqah, manhaj, nabipalsu | , , , | 1 Komentar

KHAWARIJ Firqah Sesat Pertama dalam Islam

Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari, Lc.

[Print View] [kirim ke Teman]
Laa hukma illa lillah (tiada hukum kecuali untuk Allah ). Kata-kata ini haq adanya, karena merupakan kandungan ayat yang mulia. Namun jika kemudian ditafsirkan menyimpang dari pemahaman salafush shalih, kebatilanlah yang kemudian muncul. Bertamengkan kata-kata inilah, Khawarij, kelompok sempalan pertama dalam Islam, dengan mudahnya mengkafirkan bahkan menumpahkan darah kaum muslimin.

Siapakah Khawarij?


Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Mereka adalah orang-orang yang memberontak terhadap pemerintah di akhir masa kepemimpinan ‘Utsman bin ‘Affan z yang mengakibatkan terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan z. Kemudian di masa kepemimpinan ‘Ali bin Abu Thalib z, keadaan mereka semakin buruk. Mereka keluar dari ketaatan terhadap ‘Ali bin Abu Thalib z, mengkafirkannya, dan mengkafirkan para shahabat. Ini disebabkan para shahabat tidak menyetujui madzhab mereka. Dan mereka menghukumi siapa saja yang menyelisihi madzhab mereka dengan hukuman kafir. Akhirnya mereka pun mengkafirkan makhluk-makhluk pilihan yaitu para shahabat Rasulullah .” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, hal. 31)


Cikal bakal mereka telah ada sejak jaman Rasulullah . Diriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z, ia berkata: Ketika kami berada di sisi Rasulullah  dan beliau sedang membagi-bagi (harta), datanglah Dzul Khuwaisirah dari Bani Tamim, kepada beliau. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, berbuat adillah!” Rasulullah pun bersabda:
“Celakalah engkau! Siapa lagi yang berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Benar-benar merugi jika aku tidak berbuat adil.”
Maka ‘Umar bin Al-Khaththab z berkata: “Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku untuk memenggal lehernya!” Rasulullah  berkata: “Biarkanlah ia, sesungguhnya ia akan mempunyai pengikut yang salah seorang dari kalian merasa bahwa shalat dan puasanya tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan puasa mereka, mereka selalu membaca Al Qur’an namun tidaklah melewati kerongkongan mereka1, mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari ar-ramiyyah2, dilihat nashl-nya (besi pada ujung anak panah) maka tidak didapati bekasnya. Kemudian dilihat rishaf-nya (tempat masuknya nashl pada anak panah) maka tidak didapati bekasnya, kemudian dilihat nadhiy-nya (batang anak panah) maka tidak didapati bekasnya, kemudian dilihat qudzadz-nya (bulu-bulu yang ada pada anak panah) maka tidak didapati pula bekasnya. Anak panah itu benar-benar dengan cepat melewati lambung dan darah (hewan buruan itu). Ciri-cirinya, (di tengah-tengah mereka) ada seorang laki-laki hitam, salah satu lengannya seperti payudara wanita atau seperti potongan daging yang bergoyang-goyang, mereka akan muncul di saat terjadi perpecahan di antara kaum muslimin.”

Abu Sa’id Al-Khudri zberkata: “Aku bersaksi bahwa aku mendengarnya dari Rasulullah  dan aku bersaksi pula bahwa ‘Ali bin Abu Thalib z yang memerangi mereka dan aku bersamanya. Maka ‘Ali z memerintahkan untuk mencari seorang laki-laki (yang disifati oleh Rasulullah , di antara mayat-mayat mereka) dan ditemukanlah ia lalu dibawa (ke hadapan ‘Ali), dan aku benar-benar melihatnya sesuai dengan ciri-ciri yang disifati oleh Rasulullah .” (Shahih, HR. Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitabuz Zakat, bab Dzikrul Khawarij wa Shifaatihim, 2/744)
Asy-Syihristani t berkata: “Siapa saja yang keluar dari ketaatan terhadap pemimpin yang sah, yang telah disepakati, maka ia dinamakan Khariji (seorang Khawarij), baik keluarnya di masa shahabat terhadap Al-Khulafa Ar-Rasyidin atau terhadap pemimpin setelah mereka di masa tabi’in, dan juga terhadap pemimpin kaum muslimin di setiap masa.” (Al-Milal wan Nihal, hal. 114)

Mengapa Disebut Khawarij?


Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Dinamakan Khawarij dikarenakan keluarnya mereka dari jamaah kaum muslimin. Dikatakan pula karena keluarnya mereka dari jalan (manhaj) jamaah kaum muslimin, dan dikatakan pula karena sabda Rasulullah :

“Akan keluar dari diri orang ini…” (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, 7/145)
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani t berkata: “Dinamakan dengan itu (Khawarij) dikarenakan keluarnya mereka dari din (agama) dan keluarnya mereka dari ketaatan terhadap orang-orang terbaik dari kaum muslimin.” (Fathul Bari Bisyarhi Shahihil Bukhari, 12/296)
Mereka juga biasa disebut dengan Al-Haruriyyah karena mereka (dahulu) tinggal di Harura yaitu sebuah daerah di Iraq dekat kota Kufah, dan menjadikannya sebagai markas dalam memerangi Ahlul ‘Adl (para shahabat Rasulullah ). (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, 7/145)
Disebut pula dengan Al-Maariqah (yang keluar), karena banyaknya hadits-hadits yang menjelaskan tentang muruq-nya (keluarnya) mereka dari din (agama). Disebut pula dengan Al-Muhakkimah, karena mereka selalu mengulang kata-kata Laa Hukma Illa Lillah (tiada hukum kecuali untuk Allah ), suatu kalimat yang haq namun dimaukan dengannya kebatilan. Disebut pula dengan An-Nawashib, dikarenakan berlebihannya mereka dalam menyatakan permusuhan terhadap ‘Ali bin Abu Thalib z. (Firaq Mu’ashirah, 1/68-69, Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji, secara ringkas)

Bagaimanakah Madzhab Mereka?


Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata, madzhab mereka adalah tidak berpegang dengan As Sunnah wal Jamaah, tidak mentaati pemimpin (pemerintah kaum muslimin, pen), berkeyakinan bahwa memberontak terhadap pemerintah dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin merupakan bagian dari agama. Hal ini menyelisihi apa yang diwasiatkan oleh Rasulullah  agar senantiasa mentaati pemerintah (dalam hal yang ma’ruf/ yang tidak bertentangan dengan syariat), dan menyelisihi apa yang telah diperintahkan oleh Allah  dalam firman-Nya:

“Taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri (pemimpin) di antara kalian.” (An-Nisa: 59)
Allah  dan Nabi-Nya  menjadikan ketaatan kepada pemimpin sebagai bagian dari agama… Mereka (Khawarij) menyatakan bahwa pelaku dosa besar (di bawah dosa syirik) telah kafir, tidak diampuni dosa-dosanya, kekal di neraka. Dan ini bertentangan dengan apa yang terdapat di dalam Kitabullah (Al Qur’an). (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, hal. 31-33)
Al-Hafidz Ibnu Hajar tberkata: “Mereka berkeyakinan atas kafirnya ‘Utsman bin ‘Affan z dan orang-orang yang bersamanya. Mereka juga berkeyakinan sahnya kepemimpinan ‘Ali z(sebelum kemudian dikafirkan oleh mereka, pen) dan kafirnya orang-orang yang memerangi ‘Ali  dari Ahlul Jamal.”4 (Fathul Bari, 12/296)
Al-Hafidz t juga berkata: “Kemudian mereka berpendapat bahwa siapa saja yang tidak berkeyakinan dengan aqidah mereka, maka ia kafir, halal darah, harta dan keluarganya.” (Fathul Bari, 12/297)

Peperangan antara Khawarij dan Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib
Setelah Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan terbunuh, maka orang-orang Khawarij ini bergabung dengan pasukan Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib. Dalam setiap pertempuran pun mereka selalu bersamanya. Ketika terjadi pertempuran Shiffin (tahun 38 H) antara pasukan Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib dengan pasukan shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan dari penduduk Syam yang terjadi selama berbulan-bulan -dikarenakan ijtihad mereka masing-masing-, ditempuhlah proses tahkim (pengiriman seorang utusan dari kedua pihak guna membicarakan solusi terbaik bagi masalah yang sedang mereka alami).
Orang-orang Khawarij tidak menyetujuinya, dengan alasan bahwa hukum itu hanya milik Allah dan tidak boleh berhukum kepada manusia. Demikian pula tatkala dalam naskah ajakan tahkim dari ‘Ali bin Abu Thalib termaktub: “Inilah yang diputuskan oleh Amirul Mukminin ‘Ali atas Mu’awiyah…” lalu penduduk Syam tidak setuju dengan mengatakan, “Tulislah namanya dan nama ayahnya,” (tanpa ada penyebutan Amirul Mukminin). ‘Ali pun menyetujuinya, namun orang-orang Khawarij pun mengingkari persetujuan itu.
Setelah disepakati utusan masing-masing pihak yaitu Abu Musa Al-Asy’ari dari pihak ‘Ali dan ‘Amr bin Al-‘Ash dari pihak Mu’awiyah, dan disepakati pula waktu dan tempatnya (Dumatul Jandal), maka berpisahlah dua pasukan tersebut. Mu’awiyah kembali ke Syam dan ‘Ali kembali ke Kufah, sedangkan kelompok Khawarij dengan jumlah 8.000 orang atau lebih dari 10.000 orang, atau 6.000 orang, memisahkan diri dari ‘Ali dan bermarkas di daerah Harura yang tidak jauh dari Kufah.
Pimpinan mereka saat itu adalah Abdullah bin Kawwa’ Al-Yasykuri dan Syabats At-Tamimi. Maka ‘Ali  mengutus shahabat Abdullah bin ‘Abbas c untuk berdialog dengan mereka dan banyak dari mereka yang rujuk. Lalu ‘Ali keluar menemui mereka, maka mereka pun akhirnya menaati ‘Ali , dan ikut bersamanya ke Kufah, bersama dua orang pimpinan mereka. Kemudian mereka membuat isu bahwa ‘Ali telah bertaubat dari masalah tahkim, karena itulah mereka kembali bersamanya. Sampailah isu ini kepada ‘Ali , lalu ia berkhutbah dan mengingkarinya. Maka mereka pun saling berteriak dari bagian samping masjid (dengan mengatakan): “Tiada hukum kecuali untuk Allah.” ‘Ali pun menjawab: “Kalimat yang haq (benar) namun yang dimaukan dengannya adalah kebatilan!”
Kemudian ‘Ali berkata kepada mereka: “Hak kalian yang harus kami penuhi ada tiga: Kami tidak akan melarang kalian masuk masjid, tidak akan melarang kalian dari rizki fai’, dan tidak akan pula memulai penyerangan selama kalian tidak berbuat kerusakan.”
Secara berangsur-angsur pengikut Khawarij akhirnya keluar dari Kufah dan berkumpul di daerah Al-Madain. ‘Ali  senantiasa mengirim utusan agar mereka rujuk. Namun mereka tetap bersikeras menolaknya hingga ‘Ali mau bersaksi atas kekafiran dirinya dikarenakan masalah tahkim atau bertaubat. Lalu ‘Ali mengirim utusan lagi (untuk mengingatkan mereka) namun justru utusan tersebut hendak mereka bunuh dan mereka bersepakat bahwa yang tidak berkeyakinan dengan aqidah mereka maka dia kafir, halal darah dan keluarganya.
Aksi mereka kemudian berlanjut dalam bentuk fisik, yaitu menghadang dan membunuh siapa saja dari kaum muslimin yang melewati daerah mereka. Ketika Abdullah bin Khabbab bin Al-Art -yang saat itu menjabat sebagai salah seorang gubernur ‘Ali bin Abu Thalib - berjalan melewati daerah kekuasaan Khawarij bersama budak wanitanya yang tengah hamil, maka mereka membunuhnya dan merobek perut budak wanitanya untuk mengeluarkan anak dari perutnya.
Sampailah berita ini kepada ‘Ali , maka ia pun keluar untuk memerangi mereka bersama pasukan yang sebelumnya dipersiapkan ke Syam. Dan akhirnya mereka berhasil ditumpas di daerah Nahrawan beserta para gembong mereka seperti Abdullah bin Wahb Ar-Rasibi, Zaid bin Hishn At-Tha’i, dan Harqush bin Zuhair As-Sa’di. Tidak selamat dari mereka kecuali kurang dari 10 orang dan tidaklah terbunuh dari pasukan ‘Ali kecuali sekitar 10 orang.
Sisa-sisa Khawarij ini akhirnya bergabung dengan simpatisan madzhab mereka dan sembunyi-sembunyi semasa kepemimpinan ‘Ali , hingga salah seorang dari mereka yang bernama Abdurrahman bin Muljim berhasil membunuh ‘Ali yang saat itu sedang melakukan shalat Shubuh. (diringkas dari Fathul Bari karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani t, 12/296-298, dengan beberapa tambahan dari Al-Bidayah wan Nihayah, karya Al-Hafidz Ibnu Katsir, 7/281)

Kafirkah Khawarij?


Kafirnya Khawarij masih diperselisihkan di kalangan ulama. Al-Hafidz Ibnu Hajar t berkata: “Sebagian besar ahli ushul dari Ahlus Sunnah berpendapat bahwasanya Khawarij adalah orang-orang fasiq, dan hukum Islam berlaku bagi mereka. Hal ini dikarenakan mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan selalu melaksanakan rukun-rukun Islam. Mereka dihukumi fasiq, karena pengkafiran mereka terhadap kaum muslimin berdasarkan takwil (penafsiran) yang salah, yang akhirnya menjerumuskan mereka kepada keyakinan akan halalnya darah, dan harta orang-orang yang bertentangan dengan mereka, serta persaksian atas mereka dengan kekufuran dan kesyirikan.” (Fathul Bari, 12/314)
Al-Imam Al-Khaththabi t berkata: “Ulama kaum muslimin telah bersepakat bahwasanya Khawarij dengan segala kesesatannya tergolong firqah dari firqah-firqah muslimin, boleh menikahi mereka, dan memakan sembelihan mereka, dan mereka tidak dikafirkan selama masih berpegang dengan pokok keislaman.” (Fathul Bari, 12/314)
Al-Imam Ibnu Baththal t berkata: “Jumhur ulama berpendapat bahwasanya Khawarij tidak keluar dari kumpulan kaum muslimin.” (Fathul Bari, 12/314)

Sebab-sebab yang Mengantarkan Khawarij kepada Kesesatan
Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Yang demikian itu disebabkan kebodohan mereka tentang agama Islam, bersamaan dengan wara’, ibadah dan kesungguhan mereka. Namun tatkala semua itu (wara’, ibadah, dan kesungguhan) tidak berdasarkan ilmu yang benar, akhirnya menjadi bencana bagi mereka.” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, hal. 35)
Demikan pula, mereka enggan untuk mengambil pemahaman para shahabat (As-Salafush Shalih) dalam memahami masalah-masalah din ini, sehingga terjerumuslah mereka ke dalam kesesatan.

Anjuran Memerangi Mereka.

Rasulullah  bersabda:

“Maka jika kalian mendapati mereka (Khawarij-pen), perangilah mereka! Karena sesunggguhnya orang-orang yang memerangi mereka akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat.” (Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 2/747, dari shahabat ‘Ali bin Abu Thalib z).
Beliau  juga bersabda:

“Jika aku mendapati mereka (Khawarij), benar-benar aku akan perangi seperti memerangi kaum ‘Aad.” (Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 2/742, dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z)
Dalam lafadz yang lain beliau  bersabda:

“Jika aku mendapati mereka, benar-benar aku akan perangi seperti memerangi kaum Tsamud.” (Shahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya, 2/742, dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z)
Al-Imam Ibnu Hubairah berkata: “Memerangi Khawarij lebih utama dari memerangi orang-orang musyrikin. Hikmahnya, memerangi mereka merupakan penjagaan terhadap ‘modal’ Islam (kemurnian Islam -pen), sedangkan memerangi orang-orang musyrikin merupakan ‘pencarian laba’, dan penjagaan modal tentu lebih utama.” (Fathul Bari, 12/315)

Samakah Musuh-musuh ‘Ali bin Abu Thalib dalam Perang Jamal dan Shiffin dengan Khawarij?
Pendapat yang menyatakan bahwa musuh-musuh ‘Ali bin Abu Thalib z sama dengan Khawarij ini tentunya tidak benar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t berkata: “Adapun jumhur ahli ilmu, mereka membedakan antara orang-orang Khawarij dengan Ahlul Jamal dan Shiffin, serta selain mereka yang terhitung sebagai penentang dengan berdasarkan ijtihad. Inilah yang ma’ruf dari para shahabat, keseluruhan ahlul hadits, fuqaha, dan mutakallimin. Di atas pemahaman inilah, nash-nash mayoritas para imam dan pengikut mereka dari murid-murid Malik, Asy-Syafi’i, dan selain mereka.” (Majmu’ Fatawa, 35/54)

Nasehat dan Peringatan
Madzhab Khawarij ini sesungguhnya terus berkembang (di dalam merusak aqidah umat) seiring dengan bergulirnya waktu. Oleh karena itu Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah menasehatkan: “Wajib bagi kaum muslimin di setiap masa, jika terbukti telah mendapati madzhab yang jahat ini untuk mengatasinya dengan dakwah dan penjelasan kepada umat tentangnya. Jika mereka (Khawarij) tidak mengindahkannya, hendaknya kaum muslimin memerangi mereka dalam rangka membentengi umat dari kesesatan mereka.” (Lamhatun ‘Anil Firaqidh Dhallah, hal. 37)
Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber:

http://asysyriah.com/


04/01/2009 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, firqah, manhaj | , , , | Tinggalkan komentar

ANTARA DAKWAH dan HARTA

Dakwah, antara Jamarto, Yazid Jawaz dan Aunur Rofiq

Nukilan
“…Seperti yang antum ketahui dan antum dengar bahwasanya di negeri kami Indonesia telah terjadi fitnah antara da’i-da’i salafiyyin dan penyebabnya sangat banyak sekali. Sebab terpenting adalah kedatangan Syarif bin Muhammad Fu’ad Hazza’ ke Indonesia dan dia mengajak ustadz Ja’far untuk mubahalah, kemudian dia menulis kitab “Kasyifuz Zuur wal Buhtan fi jawab Hizb Degolan”. Kandungan kitab tersebut adalah cercaan dan cacian terhadap saudara kita Ja’far Umar Thalib dan Muhammad Umar As-Sewed.
Lalu tersebarlah  fitnah ini di kalangan du’at salafiyyin dan terjadilah tuduhan-tuduhan besar diantara mereka dengan perantaraan murid-murid Syarif Hazza’ serta dengan bantuan Yusuf Utsman Ba’isa, dia (Yusuf Ba’isa) membela pemikiran-pemikirannya (Syarif-pent.). Dan Yusuf ini terpengaruh dengan fikrah Ikhwaniyyah dan fikrah Syarif Hazza’!


Cukuplah bagi antum (dalam hal ini-pent.) bukti-bukti dan persaksian-persaksian dari surat/tulisan Al-Akh Ja’far.
Akhirnya kami mengharapkan nasehat dan kedatangan antum ke Indonesia. Jazakumullahu khairan.
(tanda tangan)
Yazid Abdul Qadir Jawaz”

Lalu di mana KLIKnya antara FAKTA surat BERHARGA di atas dengan permasalahan yang akan kita bahas?

Selengkapnya
Hari masih pagi ketika dari kejauhan terdengar serentetan bunyi “tek dhung” berkali-kali, matahari belumlah menampakkan diri. Sesekali pula dentuman menggelegar “buum”, takbir yang dikumandangkan dengan pengeras suara masjid terus terdengar membahana semakin menambah “meriahnya” suasana. Suara itu bukanlah suara mercon dan petasan dan takbir itu bukanlah takbir hari raya Ied ketika umat Islam merayakannya. Itu adalah gambaran yang paling sederhana ketika peperangan pecah di kota Ambon! Takbir itu terus dikumandangkan dari masjid Al-Fatah Ambon dan seolah tidak mau kalah, gereja Maranatha terus membunyikan lonceng dan lagu-lagu gerejawi “Hosana” untuk menyemangati Laskar Kristusnya.  Sementara di beberapa tempat di ketinggian bukit, balon-balon udara semakin membubung ke angkasa, dibawahnya bendera RMS berkibar dengan angkuhnya. Peperangan terus berlangsung. Semakin malam, semakin tampak di langit yang gelap kilatan-kilatan cahaya berhamburan di angkasa, benar kilatan amunisi beterbangan bagaikan pesta kembang api si durjana.
Nun jauh di sana, di seberang lautan para pengamat sibuk berbuih-buih meramaikan koran dan TVnya agar laris terjual dengan berbagai prediksi murahan dan analisa rekaan. Memamerkan kebodohannya, sibuk berkelit dan menipu diri, ini adalah konflik horozontal antara pendatang dengan penduduk asli, permasalahan ketimpangan sosial yang menjadi penyebabnya, bukan perang agama tetapi tawuran antar geng!
Tanyakan kepada bapak-bapak kita yang memang bertugas menjaga kedaulatan negeri ini. Jika bendera RMS sudah berkibar, adakah ini merupakan tanda-tanda tawuran antar geng? Lagu-lagu gereja terus berkumandang dan takbir masjid Al-Fatah yang bersahutan dan mereka (para pengamat dari kejauhan) mengatakannya sebagai tawuran antar “kelompok”? Konflik antara pendatang dan penduduk asli? Hanya orang bodoh yang akan menjawab demikian.
Berapa banyak tentara TNI yang meninggal karena menjadi sasaran para “sniper’ (penembak jitu) ketika “konflik” ini terjadi? Adakah yang percaya bahwa para “sniper’ tersebut adalah para anggota geng yang sedang tawuran? Para sniper bersenjata khusus tersebut adalah orang-orang sipil? Tidak bisa dipungkiri, memang ada elemen-elemen pengkhianat negara yang menjadi agen RMS dalam permasalahan ini. Jelas bahwa RMS punya simpatisan dan kader. Tetapi demikianlah, sekian tahun para pengamat politik itu meninabobokkan masyarakat dengan analisa sok tahu dan dusta mereka sampai akhirnya rakyat Indonesia tidak mampu lagi didustai kenyataan (yang sebenarnya sudah sekian tahun terhidang) di layar kaca ketika menyaksikan atraksi para pemberontak RMS (Republik Maluku Sarani) itu yang dengan angkuhnya menari-nari di depan bapak SBY –semoga Allah merahmati dan melindungi beliau- !!
Masyarakat “baru sadar”, ternyata pemberontak RMS itu bukanlah isu “isapan jempol” yang dilemparkan oleh LJ!! Para pengamat politik itu yang sekarang giliran “mengisap jempolnya” karena tidak mampu lagi menahan lebih lama kebohongan analisa ngawurnya!
Jika bendera sudah berkibar, makar pemberontak tlah menunjukkan taringnya! Benar, RMS telah lama mengibarkan benderanya berupaya mendirikan Republik Maluku Sarani (baca:Nasrani)!! Dalam situasi seperti itulah hadir Ja’far Umar Thalib beserta segenap teman-temannya. Tetapi tulisan ini bukanlah untuk menceritakan kisah “perjuangannya’. Artikel ini adalah sisi lain dari “perubahan” sikap, tingkah laku dan pemikirannya” pasca pembubaran LJ. Benar, LJ hanyalah bagian dari sejarah dan tidak ada niat sekecil apapun untuk membangunkannya kembali. Jazahumullahu khairan atas sikap dan ketegasan pemerintah dalam menghadapi para pemberontak.
Sangat mungkin banyak diantara pembaca yang tidak memahami siapa sosok Jamarto seperti judul di atas. Tetapi kalau sosok Ja’far Umar Tholib tentulah sudah banyak yang mengetahuinya. Padahal kedua nama tersebut dimiliki oleh orang yang sama walaupun nama Jamarto lebih “berbau” Jawa yang sebenarnya hanyalah panggilan singkat yang praktis (JA’far uMAR ThOlib alias JUT) sepraktis jalan hidup yang saat ini dipilihnya. Tidak jelas kapan tepatnya nama ini diresmikan penggunaannya di bumi pertiwi ini,  hanya saja barometer sederhana yang bisa kita pegang bahwa nama tersebut muncul seiring dengan sikap keras kepalanya yang “ogah” membubarkan Laskar Jihad untuk mematuhi nasehat para ulama.
Artikel yang kami hadirkan ini terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama adalah file lama (dengan sedikit perubahan dan tambahan footnote) yang dulunya adalah “surat elektronik” tulisan akh Abdul Ghafur Malang yang dikirimkan via email ke redaksi majalah Salafy pada tahun 2003 yang lumayan membikin marah dan merah “telinga” ex Panglima LJ dan bagian kedua adalah bukti data mutakhir metamorfosis dakwah Jamarto yang dikumpulkan oleh akh Ibrahim dimana pada akhirnya ex Panglima LJ berubah profesi menjadi “centeng” dzikir rame-rame Arifin Iham As-Sufi, semoga Allah mengembalikan mereka ke jalan yang lurus, amin.
Bukti tersebut kami nukil dari CD Badai Fitnah Dakwah Ihya’ At-Turots di Indonesia.

Bagian Pertama—————–
MENGEMBALIKAN TUDUHAN,
MEMBUNGKAM PENANTANG[1]
(BERBUAT ADILLAH WAHAI PAK JA’FAR!)

(Tanggapan Terhadap Tulisan “Berbuat Adillah Wahai Salafiyyin!!)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Hanya satu kata yang pantas kami ucapkan kepada antum:”Allahu yahdik!”. Berat rasanya bibir ini untuk mengucap, kelu dan pahit lidah ini melafadzkan “ustadz” kepada antum. Rasanya lebih pas jika sekarang kami menyebut antum dengan pak Ja’far. Lebih lancar bagi kami dan tentunya lebih sesuai sebutan tersebut untuk antum. Sekian hari ini ada dorongan yang sangat kuat untuk memegang pena menggerakkan tangan menuliskan kegundahan hati dan kecemburuan jiwa. Maka ketika bapak membaca tulisan ini, berarti dorongan tersebut telah membuncah dan tidak lagi dapat dibendung.
- Ingatkah ketika bapak (ditantang) bermubahalah dengan Syarif cs (geng Ihya’ut Turots-pen), kami berada di belakang bapak karena kami yakin bapak berada di pihak kebenaran.
- Sebelumnya, bukankah bapak pernah menulis tentang Alwi Al-Maliki di majalah As-Sunnah yang menimbulkan polemik sangat keras dan kami masih kagum dengan keberanian bapak menyampaikan Al-Haq.
- Bapak juga tahu persis ketika terjadi fitnah Abu Nida’ cs, Cahyo “katsirul lisan” Qolbun Salim Malang[2], kami sebagai bagian Salafiyyin di Malang tetap bangkit bersama bapak melawan pemikiran Sururi di Indonesia.
- Bahkan terakhir ketika Ustadz Yazid terbawa dalam fitnah itu, kamipun tetap bersama bapak.
- Puncaknya ketika terjadi pembantaian kaum Muslimin di Ambon, kami tetap bersama bapak berangkat ke medan jihad dengan bekal fatwa ulama Ahlussunnah. Kita berkeringat dan berdarah-darah bersama bahu membahu membantu kaum Muslimin Ambon.
Seiring dengan lamanya derap langkah dalam berjihad, karena adanya kelemahan dan keterbatasan ilmu yang kita miliki (terutama amirul jihadnya) sedikit demi sedikit mulai bergeser dari jihad Salafi ke jihadnya Hizbi. Dan ini merupakan konsekwensi jika jihad dipimpin oleh selain ulama! (sebagaimana bapak pernah berkata bahwa di Indonesia tidak ada ulama). Maka datanglah fatwa masyayikh (karena penyimpangan yang nyata-nyata kita lakukan) agar kita kembali belajar dan menuntut ilmu.
Apa reaksi bapak?
Jihad jalan terus, walaupun dengan itu bapak berangkat sendirian! yang bubar khan FKAWJnya.
Kenyataannya: Bapak sampai sekarang masih di Yogja berkumpul bersama keluarga, bahkan meneruskan penerbitan majalah KHOLAFY sebagai majalah dari bapak Ja’far, untuk pak Ja’far dan oleh pak Ja’far.
Pertanyaannya: Lalu kapan berangkat berjihadnya pak? Ternyata jawabannya ada di majalah KHOLAFY no.1/th.5 dengan terbitnya istilah “jihad bil lisan”. Jadi jihadnya jalan terus dengan kafilah jihad bil lisan –made in- pak Ja’far. Yang lainnya? Ya DO (Drop Out).
Jika demikian kenyataannya, maka kami memang pantas di DO dari madrasah Al-Jihad karena kebodohan dan keterbatasan ilmu yang kami miliki serta kami bertaubat kepada Allah Ta’ala dari segala kesalahan dan penyimpangan ketika melaksanakan jihad. Ini merupakan kenyataan! Sungguh kami merasa bersyukur atas turunnya nasehat dari para Masyayikh tersebut. Kami tidak malu untuk di DO karena kami memang tidak pantas untuk terus mengemban amanat jihad yang mulia ini! Dan syukur kami yang tiada tara atas rujuknya para Asatidz salafiyyin kepada Al-Haq sehingga dapat meneruskan kembali dakwah Salafiyyah dalam membimbing kami yang awam ini. Walhamdulillah.
Sebenarnya sejak pembubaran FKAWJ sampai dengan bulan Mei ini (2003), di Malang relatif sangat hati-hati dalam menyikapi persoalan bapak, bahkan sangat hati-hati. Hanya saja tulisan bapak di majalah KHOLAFY itu membuat kami tidak mampu lagi menahan gejolak amarah dan kecemburuan ini! Tantangan bapak mesti dibungkam! Tuduhan bapak kami kembalikan lagi karena “tidak pantas” rasanya menerima gelar kehormatan itu, terima kasih!

#Duhai orang yang menyamakan dirinya dengan Imam Bukhari Rahimahullah!!
Sungguh analogimu itu adalah qiyas yang bathil dan rusak! Bagaimana tidak, Imam Bukhari Rahimahullah menyampaikan pembelaannya secara ilmiyyah baik dari diri beliau sendiri maupun dari para A’immah lainnya dari fitnah dan kedustaan tersebut. Sementara bapak? Apa pembelaan ilmiyyah anda?! Bukankah bapak “menduga” bahwa para ustadz kami memisahkan bapak dengan ikhwan-ikhwan Salafiyyin?! Dan justru ustadz-ustadz kami yang dengan jujur mengakui ketergelinciran kita semua dalam tandzim hizbiyyah dengan bapak sebagai amirnya justru bapak katakan sebagai pengkhianat dan kedustaan, pencoleng fatwa ulama!
“Tetapi Allah Maha Tahu dan Dia membongkar segala kejahatan di balik alas an-alasan yang memakai atribut agama itu…Dan bukan kesan buruk yang dibikin-bikin oleh para pencoleng fatwa ulama itu. Camkanlah! Pengkhianatan dan kedustaan itu berulang-ulang terus dari masa ke masa. Hanya saja pemainnya yang berganti-ganti”(KHOLAFY I/5, hal.52).
Maka kami katakan:
Kami sebagai bagian dari Salafiyyin merasa marah dan tidak terima jika ustadz-ustadz kami dihina dan direndahkan, dikatakan sebagai “gerombolan orang berbuat hura-hura”(KHOLAFY I/5, HAL.46) dan para ulama kami dihina, kami akan bangkit membela mereka!! Lupakah bapak bahwa ketika dulu bapak makan dengan enak dan tidur di kasur yang empuk, saat yang bersamaan saudara-saudara kami ada yang makan hanya dengan ikan asin bahkan rumput! Bapaklah yang hura-hura! Dan Subhanallah, ketika jari telunjuk bapak diarahkan kepada ustadz-ustadz kami, justru  pada saat itu tiga jari lainnya menunjuk kepada bapak sendiri!!!
Bapaklah yang mengemudikan bus yang kami tumpangi dan membelokkan arahnya dari jihad Salafi ke jihad Hizbi! Bukankah dari lisan bapak keluar “titah-titah” yang telah mengarah kepada pemahaman bid’ah?! Betapa mudahnya bapak…..bapak tidak dapat menyangkal dan berkelit dari penyimpangan ini!! Kamilah saksinya! Bahkan seluruh Salafiyyin dari Sabang sampai Merauke akan dengan mudah menjelaskan penyimpangan bapak!! Ini adalah kenyataan, perkara ini bukanlah fitnah, pengkhianatan ataupun kedustaan. Suara-suara bapak masih terekam di kaset-kaset, ucapan-ucapan bapak masih terngiang-ngiang di telinga-telingan kami! Janganlah memutarbalikkan fakta ini, bapak bisa pusing jadinya.
“Semua kedustaan dan kepalsuan yang meliputi kehidupan di dunia ini akan terbongkar dan terbukti kekejiannya…Oleh sebab itu biarlah kedustaan dan kepalsan itu berhasil ditutup-tutupi oleh pelakunya dan serahkan semua itu kepada Allah Ta’ala yang akan membongkarnya dengan cara-Nya sendiri…..Perjuangan di jalan Allah haruslah dilakukan dengan ta’awun (tolong-menolong) menurut tuntunan syaria’h Islamiyah. Dan untuk itu masing-masing kita mencari teman yang tidak pernah mengkhianati kita dan tidak pernah mempernmainkan kita dengan kedustaannya. Agar perjuangan dapat dilaksanakan dengan aman, tanpa ada kekuatiran untuk ditikam dari belakang”(KHOLAFY, I/5, hal.07).
Camkanlah! Bapaklah yang telah mengkhianati amanat kami! Bapaklah yang mengkhianati para Masyayikh! Bapaklah yang berbuat kedustaan!! Bapaklah yang menikam kami semua dari belakang dan bahkan menjerumuskan kami semua ke dalam hizbiyyah!! Bapaklah yang menyalahgunakan kekuasaan dan kewenangan atas nama “komando yang tak terbantahkan” bahkan dosa jika tidak mentaatinya!! Komando bapak sungguh merupakan komando yang membinasakan diri dan agama kami!!
Sekian bulan ini kami diam dan bukan karena para ustadz kami menyampaikan berita fitnah dan dusta tentang bapak. Tetapi kami menunggu dan menunggu rujuknya bapak kepada Al-Haq, mengakui dengan jujur atas kesalahan yang telah kita dan bapak lakukan, memohon ampun kepada Allah Ta’ala dan permohonan ma’af bapak kepada seluruh Salafiyyin di Indonesia. Kami semuanya berhak mengetahui sikap rujuknya bapak karena bapak pernah memimpin kami!! Tetapi apa yang kami dapati?!
Di majalah bapak tidak ada satu kalimatpun bahkan satu hurufpun rasa penyesalan mulai dari awalnya sampai akhirnya. Justru yang ada malah tuduhan-tuduhan keji dan kotor terhadap ustadz-ustadz kami!!! Jelas-jelas bapak tidak rela terhadap pembubaran FKAWJ dan menggelarinya dengan istilah orang-orang yang DO dari madrasah al-jihad, bahkan menyuruh bertaubat?!
“Beruntunglah orang-orang yang berhasil lulus dari madrasah al-jihad dan menjadi alumninya, dan rugilah orang-orang yang DO dari madrasah ini…Bertaubatlah wahai orang-orang yang DO, selama hayat masih dikandung badan, dan berusahalah kembali menjalani pendidikan di madrasah al-jihad dan berusahalah sungguh-sungguh, jangan sampai gagal lagi. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang”(KHOLAFY I/5, hal.31).
Sungguh pola fikir bapak telah terjungkir balik! Kalau memang ilmiyyah, tentunya bapak akan dengan rinci menjelaskan kedustaan, fitnah, kepalsuan dan pengkhianatan tersebut (dan inilah gaya Sururiyyin ketika “membantah secara ilmiyyah” bukti-bukti Hizbiyyah mereka yang diajukan oleh Salafiyyin-pen)!! Apakah bapak benar-benar telah pikun bahwa kami (walaupun bukan bagian dari Asatidz) juga terlibat langsung dalam amalan jihad ini?! Kami mayoritasnya memang masih awam dalam dien ini, tetapi kami bukanlah orang-orang dungu yang pengecut sehingga tidak mau mengakui penyimpangan yang telah kami lakukan!!
Benar-benar kami bersyukur atas turunnya fatwa para Masyayikh tersebut, entah selangkah lagi jadi apa dakwah salafiyyah di Indonesia ini!! Kami mengakui kesalahan-kesalahan yang kami lakukan!! Dan kesalahan ini bukanlah kedustaan atau cerita yang mengada-ada. Kami rujuk kepada kebenaran. Betul-betul kami mencintai Syaikh Rabi’ dan Masyayikh lainnya yang memiliki kepedulian dan kasih sayangnya kepada kami!! Jangan rendahkan mereka!! Jangan hinakan mereka!! Kami semua akan marah dan bangkit membelanya!!
Entah setan mana yang telah membisiki bapak sehingga rujuknya kami semua (walhamdulillah) diterjemahkan oleh bapak sebagai pengkhianatan, kedustaan dan kepalsuan serta kesan buruk yang dibikin-bikin oleh para pencoleng fatwa ulama!!
Sekali lagi, bapaklah yang telah mengkhianati amanah kami, bapaklah yang selama ini imendustai kami dengan menyembunyikan hizbi dibalik baju salafi!! Memang, kelebihan bapak dalam berorasi hampir kami semua mengakuinya, kelebihan ini juga bapak akui sendiri (satu-satunya pengakuan jujur yang masih tersisa dari diri bapak!):
“Kita di dunia ini bisa saja bersilat lidah dalam segala perkara. Perbuatan dusta dan khianat dianggap enteng karena dilakukan dengan alasan takut sesat dan menyimpang dari jalan Allah. Padahal yang didustai dan dikhianati adalah para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dan para Salafiyyin”(KHOLAFY I/5, hal.06). Bukankah ini pengakuan yang paling jujur?! Nah.
Kami teringat ketika bapak berceramah di Malang, bapak menyampaikan singkatan dari salah satu lembaga dengan sebutan “pol-polane ngapusi”-jawa, begitu mendengar istilah singkatan itu maka kami semua tertawa. Setelah turunnya fatwa Syaikh Rabi’ Hafidhahullah, barulah kami tersadar dari mimpi buruk bahwa bapak memang benar-benar memiliki “Sihrul bayan”. Ternyata, tertawanya kami tersebut hakekatnya tidak lain adalah kami sedang menertawakan diri-diri kami sendiri yang sedang dibodohi oleh orang yang pandai bersilat lidah!! Bukankah guyonan semacam itu dan bahasa lainnya yang sejenis sering bapak ucapkan di mimbar-mimbar telah menyimpang dari pemahaman salafush shalih?! Apakah bapak juga akan mengatakan bahwa ini semua adalah dusta?! Fitnah?! Kepalsuan?!
Jika semua ini adalah kenyataannya, maka dari sudut mana bapak menyamakan kejadian memilukan dan memalukan yang bapak alami sama dengan kejadian yang dialami oleh Imam Bukhari Rahimahullah??! Tentunya katakpun akan tertawa jika saja ada yang bisa menceritakan perilaku bapak ini kepadanya!!

#Duhai bapak yang sedang mabuk kepayang!!
Ingatlah bahwa bapak pernah menulis simpati dan pengakuan bapak terhadap ustadz-ustadz kami yang saat itu masih menuntut ilmu di Universitas Islam Madinah maupun di Yaman sebagai oleh-oleh bagi kami Salafiyyin di Indonesia setelah (bapak-pen) berkunjung ke Saudi dan Yaman, setelah bapak menerangkan tentang penyimpangan ulama:”Bukanlah berita yang baru kalau ada orang yang sampai ilmunya ke derajat ulama itu menyimpang dari manhaj yang benar kepada yang bathil”(komentar:apalagi seperti kita ya pak?! Wal’iyadzubillah), maka bapak melanjutkan di bawah sub judul:BEBERAPA NASEHAT DARI PARA MURIDKU:”Kesan yang paling mendalam dari perjalanan saya di Saudi Arabia dan yaman adalah perjumpaan saya dengan para mantan muridku. Saya katakan mantan murid, karena mereka adalah orang-orang yang pernah mengenal ilmu Salafus Shalih dari saya. Dan sekarang tidak pantas lagi mereka sebagai muridku, karena rata-rata ilmu mereka jauh di atas ilmu yang saya pahami, sehingga sayapun sempat belajar dengan mereka dan menimba ilmu dari mereka. Maka sekarang saya adalah murid mereka dan sangat perlu bimbingan dari mereka. Di saat yang demikian inilah saya merasa sebagai orang yang paling bahagia di dunia, karena melihat keberhasilan mantan muridku mencapai jenjang keilmuan yang mantap jauh melampaui apa yang pernah saya capai. Semoga Allah menganugerahkan kepada mereka keikhlasan niat karena Allah dan semoga mengokohkan istiqamahnya mereka di atas jalan yang benar dan melindungi mereka dari fitnahnya dunia dan fitnahnya kelemahan pribadi dan kebodohan. Amin ya Robbal ‘Alamin”(SALAFY ED.V/1416/1996, HAL.63).
Kami kagum dengan ketawadhu’an dan kejujurannya sehingga hormat kami bertambah. Sekarang (ternyata) bapak telah menjilat kembali ludah bapak sendiri dengan perkataan:”Melalui tulisan ini, saya sebagai guru terhadap murid-murid saya, sebagai da’i (juru dakwah) kepada para mad’u (pihak yang didakwahi), atau kepada bekas murid saya yang merasa lebih pintar dari saya…[3] (KHOLAFY I/5, hal.06). Bukankah bapak sendiri yang mengakui kedalaman ilmu mantan murid-murid bapak dulu, mengakui ilmu mereka yang jauh di atas ilmu bapak!!? Dan mengaku sebagai murid mereka!!?
Kasihan, bapak telah memasuki masa-masa kritis ingatan!! Sungguh bapak telah dipermainkan dan diombang-ambingkan oleh PERASAAN bapak sendiri!! (Ingatlah do’a anda sendiri –wahai pak Ja’far- fitnahnya dunia…fitnahnya dunia dan fitnahnya harta!!-pen)

#Duhai pemilik majalah KHOLAFY yang sedang meniti jejak generasi “saafu olie”(saafu:alat pembersih)!!
Anda akan tergelincir dan terpeleset jika bermain-main dengan olie!! Justru majalah anda sendiri yang akan menjadi senjata balik menembak diri anda sendiri, membongkar dan menyingkap kepalsuan anda terhadap Salafus Shalih!! Bukti??!
Tidaklah pantas bagi seorang Salafi yang dididik untuk memiliki tanggung jawab ilmiyyah, menulis artikel tanpa keberanian untuk mencantumkan namanya!? Ini adalah kebiasaan buruk yang mulai biasa bapaka lakukan bukan?? Apakah ini majalah “ilmiyyah” ataukah majalah “oliemiyyah”?! Sekali lagi anda bisa terpeleset jika terus menerus bermain dengan olie!!

#Duhai pemilik tulisan “Sayyidul Istighfar” (KHOLAFY I/5)!!
Kami katakan: Judul itu tidak cocok dan tidak pantas!! Lihat sebelah kiri judul anda!! Ada tasbih bukan?! Jadi seharusnya berjudul “Sayyidul Bid’ah”!!

#Duhai pemilik kolom redaksi!!
Di akhir tulisan anda :”Ketika majalah ini naik cetak, Dunia Islam sedang dirundung malang dengan serangan mambabi buta para perampok dan teroris Amerika Serikat dan sekutunya ke Iraq. Kami tentu prihatin bersama kaum Muslimin seluruh dunia dengan kebiadaban pasukan perampok dan teroris terhadap rakyat Iraq. dan juga kami ikut mendo’akan semoga allah menolong rakyat Iraq melawan kebiadaban tersebut….”(KHOLAFY I/5, hal.02)
Lagi-lagi bapak telah lupa (atau pura-pura) tidak tahu), yang bapak do’akan itu rakyat Iraq yang mana?! Bukankah mereka mayoritasnya adalah Ba’athy (sosialis-komunis) dan mayoritas lainnya adalah Rafidhah sedangkan Muslimin Ahlussunnah sangatlah sedikit karena selama ini digencet habis-habisan. Bagaimana bapak bisa mengatakan SEMOGA ALLAH MENOLONG RAKYAT IRAQ? Yang benar saja Bung!! Tulisan anda ini semakin menunjukkan bahwa anda hanyalah memiliki modal emosi dan semangat saja dan bukan ilmu, apalagi bimbingan ulama Ahlussunnah. Kesombongan itu hanya akan membinasakan dan menghinakan diri saja. Bapak mesti “disekolahkan lagi” dan belajar lebih tekun agar tidak sampai di-DO, tetapi bukan model sekolahan Hizbiyyah 100% bahkan lebih, yang pernah dicicipi oleh salah satu Ustadz kami!! Sekarang coba lihat perbedaan anda dengan ulama Ahlussunnah:
Dalam situs www.salafipublication.com, Syaikh Ubaid Al-Jabiri ketika ditanya tentang sikap kaum Muslimin berkaitan peristiwa yang sedang terjadi di Iraq (31/3/2003) beliau menjelaskan, sebagian nukilannya:”So I say:Firstly, not all of the Iraaqy society is Muslim. Rather, amongst them is the Marxist, amon gst them is the Ba’athst Heretic, and amongst them are numerous orientation. And there are Muslims amongst them…And amongst them are Raafidhah. And the position of the scholars towards the Raafidhah is well known, amongst them are rhose who declared them Disbelievers…
Secondly,…
Thirdly, the banner of fighting in Iraaq who is carrying it? It is carried by Saddam Husayn At-Takreetee, and he is leader of the Ba’athy Party in his land…and the Ba’athy Party is secularist, disbelieving, heretical. Its foundation is upon mixing and not differentiating between a Sunni Muslim, and between the Jew, Christians, Communist, and others. There are all the same, equal…”Berbeda bukan antara ucapan yang asmuni (asal muni-Jawa) dengan penjelasan yang disampaikan oleh ulama yang mengerti betul permasalahan yang dibicarakan?!
Bagaimana hukum orang yang berdo’a:”Semoga Allah menolong rakyat Iraq”? Jawabannya kita serahkan kepada Syaikh:”So it is obligatory upon us, the community of Muslims that we ask Allaah in our supplication that he dilevers the Muslims among the people of Iraaq. So whoever said O Allaah save the (Iraaqy society), THEM HE HAS ERRED. This supplication of this reaches even the Marxist and the Communist. And the Ba’athy Party at the front of the (supplication of the) one supplicates for the Iraaqy society (in general). No, but supplicate to Allah that he delivers the Muslims amongst the people of Iraaq. And that He relieves  them of their distress”…
(“Jadi, merupakan kewajiban bagi kita sebagai kaum Muslimin untuk memohon kepada Allah dalam do’a kita agar Alah menyampaikan (mengabulkan do’a kita) kepada kaum Muslimin yang ada diantara rakyat Iraq. Jadi siapapun yang berkata (dalam do’anya):” Ya Allah, selamatkanlah (rakyat Iraq), maka dia telah menyimpang. (Karena) permohonannya ini mencakup orang-orang Marxist dan Komunis. Partai Ba’ath juga termasuk dalam permohonan orang yang berdo’a untuk rakyat Iraq (secara umum) tersebut. Tidak, namun permohonan (do’a) kepada Allah hanyalah diperuntukkan bagi kaum Muslimin yang ada diantara rakyat Iraq. Dan Dia membebaskan dari kesulitan. Inilah yang dapat saya tambahkan sekarang ini”).
Mengenai Saddam Husayn (termasuk rakyat Iraq juga kan?) lebih jelasnya dapat dilihat di www.troid.org, tentang:The Cataclysmic Tragedy of Saddam Husayn, ditulis oleh Syaikh Bin Bazz dan Syaikh Muqbil, di alamat yang sama dapat ditemui juga penjelasan Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily. Tulisan Syaikh Rabi’ bin Hadi tentang Iraq dapat dibaca di www.salafipublication.com.
Bukankah ini menjadi bukti bahwa pemilik majalah ini sudah tidak lagi butuh bimbingan dan merujuk kepada ulama Ahlussunnah?! Oleh karena itu, dengan (tanpa-dicoret) mengurangi rasa hormat kami kepada bapak maka yang lebih pantas untuk menerima kehormatan/gelar dusta-khianat-dsb tersebut bukanlah ustadz-ustadz kami, tetapi bapak sendiri dengan majalah yang bapak pimpin sebagai:Majalah KHOLAFY, dengan pemilik pak Ja’far yang merangkap penasehat, merangkap penulis sekaligus pengetik (sebagian), merangkap penanggung jawab semua rubrik (yang tidak bertanggung jawab), merangkap editor, merangkap bendahara, merangkap redaksi, merangkap pemasaran (karena Salafiyyin tidak ada yang layak memasarkannya), merangkap iklan dan promosi, merangkap…, merangkap… akhirnya terperangkap!! Inilah satu-satunya majalah di Indonesia dan bahkan (mungkin) di dunia yang memiliki gelar sedemikian panjangnya, unik-aneh namun sayangnya tidak menarik sama sekali!! Rangkap jabatan nih yee!! Point terpentingnya: bapak sebagai penasehat majalah ini, nasehatilah penulis dan penanggung jawab semua rubrik agar memiliki tanggung jawab secara ilmiyyah!!
Umumnya ketergelinciran seorang ustadz hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh ustadz lainnya. Bagaimana jika ketergelinciran dan penentangannya kepada Al-Haq tersebut sampai diketahui dan dirasakan oleh kami yang awam-awam ini?!
Seorang awam pernah berusaha menghibur dirinya sendiri dengan mengatakan:
Alangkah bahagianya orang bodoh yang menyadari kelemahannya…
Sehingga dia dapat berhati-hati dengannya…
Daripada….
Orang pandai yang tidak mau menyadari kelemahannnya,
Sehingga dia terpeleset olie berkali-kali!

Inilah waktu yang ditunggu-tunggu oleh kaum Hizby maupun Sururi, mereka tertawa melihat kondisi yang terjadi pada kita!! Kondisi ini (mereka anggap) menjadi suatu pembenaran (atas) dakwah Hizbiyyah mereka!! Tidak, sekali-kali tidak!! Dakwah Salafiyyah akan terus berjalan dan berkibar sampai dengan waktu yang Allah tentukan. Adapun orang-orang yang berdakwah di jalan yang mulia ini, ada diantara mereka yang tetap istoqamah, ada pula yang terjatuh kemudian bangkit kembali, di sana ada juga yang terkapar dan tidak mampu lagi meneruskan perjalanan dakwah yang penuh rintang ini. Justru sikap kami terhadap bapak ini merupakan hujjah atas kaum Hizbi-Sururi (bukan hujjah mereka atas kami!) yang menuduh kami hanya taqlid dan membebek pada pak Ja’far.
Sesungguhnya selama ini kami bersama-sama bapak semata-mata karena kami yakin benar (secara ilmiyyah) bahwa bapak berada di posisi yang benar. Sehingga ketika bapak belum (mau) rujuk kepada Al-Haq dari penyimpangan yang ada serta menerima dengan lapang dada terhadap fatwa dan nasehat Masyayikh Salafiyyin, kamipun berlepas diri dari penyimpangan dan perbuatan yang bapak lakukan!! Ini sebagai bukti nyata bahwa kami mau dibimbing dan dinasehati oleh para ulama Ahlussunnah[4]!! Jika demikian keadaannya, maka apa alasan mereka menertawakan kami?! Padahal kita dalam keadaan rujuk kepada Al-Haq dengan bimbingan para ulama. Sungguh, sebenarnya, merekalah yang sedang menertawakan kebodohan dan kejahilan mereka sendiri!!

#Duhai bapak yang sedang lupa daratan!!
Tidaklah pernah diantara ustadz-ustadz kami termasuk antum (qaul qadim) yang mengajarkan kepada kami istilah dan tuntunan tentang pengkhianatan, kedustaan, kepalsuan dus apalagi membikin-bikin kesan buruk dengan mencoleng fatwa ulama!! Ketika kami bersama bapak menentang pemikiran (Dajjal) Syarif Hazza cs (geng Ihya’ut Turots), apakah kami disebut mengkhianati Syarif cs?? Ketika kami bersama bapak melawan dan menerangkan kerusakan manhaj IM, Sururiyyin, apakah kami juga mengkhianati IM dan Sururi?? Ketika kami di belakang bapak yang berseberangan dengan ustadz Yazid[5], apakah juga bisa diartikan kami menikam dari belakang terhadapnya?? Sadarlah duhai bapak, istilah khianat, dusta kepalsuan, menikam dari belakang itu tidak lain hanyalah bapak pungut dari sampah-sampah di panggung politik!! Ya benar, pergaulan bapak (walaupun sebentar) dengan para poly tikus (istilah bapak sendiri) telah menjadikan bapak digerogoti oleh tikus-tikus yang poly (banyak) tersebut!!
Tidaklah pernah di Madrasah salafiyyah, kami diajari oleh ustadz kami mata kuliah berkhianat, berdusta, apalagi menikam dari belakang. Kami yang paling awampun dari ikhwah Salafiyyin tidak ada yang mempunyai pemahaman bahwa rujuknya kita kepada Al-Haq dari penyimpangan yang kita lakukan didefinisikan sebagai pengkhianatan. Tidak ada istilah khianat terhadap kesesatan!! Tidak dikenal definisi mengkhianati Syaitan dan bala tentaranya!! Sungguh sebenarnya bapak telah mengalami krisis identitas yang akut, kata pak dokter mengalami “the post power syndrome” suatu kondisi yang umum terjadi terhadap orang yang sebelumnya “memiliki segalanya” kemudian tiba-tiba menghadapi kenyataan bahwa segala yang dia miliki tersebut tidak ada lagi, terbiasa setiap berucap selalu terkabul keinginannya, namun tiba-tiba ucapannya itu tidak mempunyai nilai dan harga sama sekali. Bapak sombong terhadap kebenaran!! Bapak tidak mau mengakui kesalahan dan penyimpangannya secara “gentleman”!! Bapak tidak mau memina ma’af kepada seluruh ikhwan salafiyyin Indonesia terutama tentang tandzim Hizbiyyah dan titah-titah menyimpang yang bapak sampaikan!! Kalaulah bapak mau rujuk kepada Al-Haq (dan itu yang sangat kami harapkan) tentunya kami menaruh simpati kepada bapak, namun sayang disayang…
Bapak justru berusaha menipu kami semua bahwa perkara-perkara manhaj ini bapak sederhanakan dan kecilkan hanya sebagai perkara pribadi antara bapak dengan beberapa ustadz kami dan tidak ada sama sekali kaitannya dengan dien ini, sebagaimana tertulis:”Tetapi Allah Maha Tahu dan Dia membongkar segala kejahatan di balik alasan-alasan yang memakai atribut agama itu” (KHOLAFY, I/5, hal.52). Ini adalah penipuan dan kedustaan yang nyata!!

#Duhai orang yang mengangkat dirinya sebagai amir “kafilah jihad bil lisan”!!
Apa yang bapak dapatkan sesaat setelah selesainya sidang pembacaan vonis bebas ketika meninggalkan pengadilan??
Bukankah sambutan yang meriah?! Ya, benar derap langkah bapak diiringi oleh para penyanyi Shalawat Badr. Apakah para penyanyi tersebut bagian dari ikhwan-ikhwan Salafiyyin?? Bukan!! Tidak mungkin Salafiyyin menyanyikan shalawat Bid’ah! Merekalah kafilah jihad –made in- bapak sekarang!! Bagaimana bisa bapak mendengung-dengungkan jihad bil lisan sementara lisan bapak tidak bergerak untuk menghentikan kemungkaran itu, padahal kami sangat yakin bapak sangat mampu menghentikannya?!! Ridhakah? Berutang budi? Orang-orang seperti inilah yang sekarang berada di sekitar bapak! Berbuat Adillah Wahai Pak Ja’far!!

#Duhai orang yang mulai berani terang-terangan merendahkan Salafiyyin dan ulama Ahlussunnah serta menghina majelis ilmu mereka!!!
Sungguh ucapan anda adalah perkataan yang buruk dan keji!! Apa sambutan anda terhadap undangan Syaikh Muhammad bin Hadi hafidhahullah untuk mendengarkan tausyiah beliau bersama para ustadz lainnya?? Bapak katakan:”Janganlah saling mengganggu dengan undangan menghadiri acara baca puisi persatuan atau drama persaudaraan. Masa bersantai-santai sudah lewat,…”(KHOLAFY I/5, hal.07).
Bagaimana mungkin seorang salafi mampu berucap sedemikian jelek, buruk, jahat dan kotor? Sekali lagi inilah dampak buruk pergaulan bapak dengan para poly tikus. Bapak tidak mampu lagi membedakan antara majelis ilmu yang mulia dan diberkahi dengan berkumpulnya massa partai politik yang berhura-hura ketika mendeklarasikan partainya/kampanye!! Itulah hura-hura!! Itulah acara baca puisi persatuan!! Itulah drama persaudaraan!! Otak politik yang keji dan kotor telah mencengkeram anda!! Sungguh keji ucapan bapak!! Berkumpulnya para ustadz untuk mendengarkan bimbingan dan nasehat Syaikh Muhammad, anda katakan sebagai undangan yang mengganggu, masa bersantai-santai!! Ya, benar, undangan tersebut memang sangat mengganggu hawa nafsu bapak!! Keinginan untuk bertemu dan mempererat silatirrahim diantara ustadz, anda katakan sebagai drama persaudaraan!! Apakah bapak diciptakan Allah untuk mengetahui dan menghukumi hati setiap hamba?? Ucapan bapak itu tidak lebih baik dan bahkan jauuh lebih buruk daripada ucapan para dukun yang menebak-nebak nasib dan isi hati para korbannya!! Bagaimana tidak, dukun mengucapan sesuatu yang bathil untuk perkara kebathilan, sementara bapak mengucapkan kebathilan untuk suatu perkara yang mulia dari majelis ilmu!! Alangkah bedanya keadaan hari  kemarin dengan hari ini.
Siapakah yang membaca puisi persatuan yang bapak maksud?? Bukankah Syaikh Muhammad yang mengisi tausyiah terhadap ustadz-ustadz kami?! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

#Duhai pemilik “kafilah jihad bil lisan”!!
Jihad apa yang sedang anda lakukan?? Itu hanya akan mengotori wajah Islam yang mulia ini. Dengan tingkah laku dan perbuatan anda yang keji ini, sekarang anda telah meletakkan diri anda sendiri di barisan gembel-gembel hina dengan baju compang-camping mengemis kehinaan!! Bau busuk-menyengat menyebar dari mulut anda, dan…lihat… dari balik baju compang-camping tersebut terdapat huruf-huruf yang jika dirangkai akan terbaca: K-I-B-I-R-! Allahul Musta’an.
DUHAI
Duhai…duhai… dan duhai…
Janganlah mendekat kepada kami (Salafiyyin)
Dengan bau busukmu yang menyengat
Kecuali…
Dirimu telah mandi, berkeramas, menggosok gigi, berpakaian bersih serta memakai wewangian (baca:bertaubat)
Itupun….
Engkau harus tahu diri…
Tempatmu di Shof paling belakang…
Siapapun dirimu!

Wassalamu ‘alaikum Warahmatulahi Wabarakaatuh.
12-5-2003
Tertanda,
Hamba Allah yang awam
Yang cinta kepada Syaikh dan Ustadznya
Abdul Ghafur-Malang

Footnote:
[1] Tema ini kami pilih untuk mengingatkan bapak terhadap buku:MEMBANTAH TUDUHAN, MENJAWAB TANTANGAN (-pen)
[2] Sebagaimana Al-Irsyad Tengaran, kami juga memegang bukti bahwa Qolbun Sakim Malang adalah anggota jaringan Sururi internasional. Secara berkala “iman” mereka dipelihara oleh Majalah Al-Bayan yang langsung dikendalikan oleh gembong-gembong Sururi Internasional lapis pertama. Salah seorang ikhwah yang pernah sekian lama aktif di yayasan Sururi ini –walhamdulillah- telah menyodorkan kepada penulis majalah Al-Bayan edisi 2003 sebagai bukti bahwa yayasan tersebut benar-benar memiliki kaitan dengan jaringan Sururi internasional. Ikhwah lainnya yang sekian lama pernah aktif juga di yayasan ini bahkan pernah tinggal di Masjid Qalbun Sakim juga bersaksi bahwa ada kegiatan yayasan ini yang memiliki kaitan dengan Jumi’yyah Hizbiyyah Al-Haramain dan Al-Sofwa yang telah ditahdzir oleh Masyayikh Salafiyyin(-pen)
[3] Dan lihatlah jika ucapan pak Ja’far yang sombong ini berhadapan dengan ustadz Ja’far Umar Thalib yang tawadhu’ dan berwibawa:”Alhamdulillah saya juga tidak terikat dalam keilmuan itu oleh ijazah manapun. Saya merasa bodoh dalam Islam ini. Karena itu haram atas siapapun mengikuti pendapat saya bila saya tidak menyandarkannya kepada para ulama. Saya menulis permasalahan agama dengan merujuk kepada para ulama. Saya tidak pernah berijtihad dalam permasalahan agama, karena saya merasa bodoh. Saya mengajarkan kepada umat bukan dengan pidato-pidato semata, kosong dari nukilan keterangan para ulama. Dan saya terus berkonsultasi kepada para ulama Ahlussunnah dalam berbagai masalah. Allah Subhanahu wa Ta’ala terus memberi kesempatan kepada saya untuk dapat berkunjung kepada para ulama guna menanyakan berbagai masalah, ini karena kenikmatanNya dan RahmatNya. Semoga hal ini terus terlimpah kepada saya dan segenap du’at Salafiyyin. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. Katakan:Masya Allah!! Tetapi kenapa sekarang berubah menjadi Na’udzubillah?! (-pen)
[4] Patut bagi kita untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala karena benar-benar telah memudahkan dalam menyusun bukti-bukti Makar dan Pengkhianatan Hizbiyyin-Sururiyyin terhadap Masyayikh Yordan dan kaum Muslimin secara ilmiyyah. Telah kita ketahui bersama bahwa mereka sampai tahun 2004 telah mendatangkan Masyayikh Yordan sebanyak 4 kali!! Dalam kurun waktu itu ternyata mereka telah sukses melakukan tipu daya Hizbiyyah dan kebohongan Ikhwaniyyah terhadap Masyayikh Yordan dan kaum Muslimin (berkali-kali), Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.(-pen)
[5] [red]:Benar-benar kita telah memegang bukti bahwa orang ini adalah Hizby Tulen yang sangat berbahaya!! Jangan ada yang menyangka bahwa ketika da’i ini yang PADA AKHIRNYA memilih untuk bergabung bersama barisan Yusuf Ba’isa,Syarif Hazza’-Abu Nida cs (Turatsiyyin) dan barisan Al-Sofwa dirinya dalam keadaan tidak mengetahui akar permasalahan dari peperangan ini! Tidak, sekali-kali tidak!! Bukti surat tulisan tangan dibawah ini adalah hujjah untuk membungkam Firanda beserta orang-orang “intelektual” penipu dan pentalbis umat bahwa fitnah dakwah Ihya’ut Turaots di Indonesia bukanlah khilafiyyah Ijtihadiyah! Surat yang (sekali lagi) membungkam tuduhan keji Firanda yang diaminkan (baca: direkomendasikan) oleh Abdurrahman Tamimi, Ahmas Faiz, Abu Ihsan bahwa perpecahan ini disebabkan sikap “keras” salafiyyin dan bukan karena dakwah pecah belah dana Ihya’ut Turots!! Yazid dan Aunur Rafiq Ghufron bahkan termasuk orang-orang yang tahu persis persoalannya (baca:sumber penyakitnya!). Berikut bukti FAKTA surat tulisan tangan mereka yang dikirimkan kepada Syaikh Rabi’ hafidhahullah:
1. FAKTA Surat Yazid Jawaz. Lihatlah bahwa Yazid Jawaz benar-benar mengetahui bahwa semua penyakit dakwah ini ada di kelompok Ihya’ut Turots yang sekarang ini dikumpuli dan dibelanya! Maka jangan ada lagi yang mengatakan bahwa kami terlalu berlebihan ketika menyatakan bahwa orang ini (Yazid Jawaz) adalah Hizbi Tulen yang sangat berbahaya!!
http://img183.imageshack.us/img183/1478/suratyazid1hl7.jpg
terjemah:
Bismillahirrahmanirrahim
Fadhilatusy Syaikh Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkhali hafidhahullah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah, shlawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Keluarganya, shahabatnya dan orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari pembalasan.
Seperti yang antum ketahui dan antum dengar bahwasanya di negeri kami Indonesia telah terjadi fitnah antara da’i-da’i salafiyyin dan penyebabnya sangat banyak sekali. Sebab terpenting adalah kedatangan Syarif bin Muhammad Fu’ad Hazza’ ke Indonesia dan dia mengajak ustadz Ja’far untuk mubahalah, kemudian dia menulis kitab “Kasyifuz Zuur wal Buhtan fi jawab Hizb Degolan”. Kandungan kitab tersebut adalah cercaan dan cacian terhadap saudara kita Ja’far Umar Thalib dan Muhammad Umar As-Sewed.
Lalu tersebarlah  fitnah ini di kalangan du’at salafiyyin dan terjadilah tuduhan-tuduhan besar diantara mereka dengan perantaraan murid-murid Syarif Hazza’ serta dengan bantuan Yusuf Utsman Ba’isa, dia (Yusuf Ba’isa) membela pemikiran-pemikirannya (Syarif-pent.). Dan Yusuf ini terpengaruh dengan fikrah Ikhwaniyyah dan fikrah Syarif Hazza’!

Cukuplah bagi antum (dalam hal ini-pent.) bukti-bukti dan persaksian-persaksian dari surat/tulisan Al-Akh ja’far.
Akhirnya kami mengharapkan nasehat dan kedatangan antum ke Indonesia. Jazakumullahu khairan.
(tanda tangan)
Yazid Abdul Qadir Jawaz

2. FAKTA Surat Aunur Rafiq Ghufron Gresik
http://img237.imageshack.us/img237/7627/surataunurrofiqqy8.jpg
terjemah:
Bismillahirrahmanirrahim
Fadhilatusl Ustadz Ja’far Umar Thalib Hafidhahullah
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul Allah, keluarganya, shahabatnya dan orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat. Wa ba’du.
Berdasarkan permintaanmu kepadaku untuk membubuhkan tanda tangan pada surat yang kamu tujukan ke hadirat Syaikh Al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al-Madkhali Hafidhahullah, maka saya berpendapat –wallahu a’lam bishshawab – bahwa orang yang lebih pantas dan lebih berhak menandatangani surat tersebut adalah kamu (ustadz Ja’far-pent.) beserta ustadz Muhammad Umar As-Sewed, ustadz Yazid Abdul Qadir Jawaz, Usamah Mahri dan Al-Akh Bilal Ashri karena kamu dan mereka telah mengenal dua orang tersebut (Syarif Hazza’ dan Yusuf ba’isa-pent.) dengan detail dan jelas dan kamu juga telah bergaul dengannya pada waktu yang lama.
Adapun saya, saya tidak mengenal mereka berdua kecuali darimu dari segi manhaj dakwahnya. Dan saya tidak mendengar ucapan Al-Akh Yusuf Ba’isa yang berbicara tentang dakwah kecuali di Tawangmangu, Jawa Tengah yang kita dulu berkumpul di situ dan saya telah mengetahui kesalahannya dalam masalah ini [Coba pembaca perhatikan pengakuannya tentang kesalahan pada paham Yusuf Ba’isa yang menunjukkan bahwa sebenarnya dia mengetahui letak penyimpangan manhaj Yusuf Ba’isa. Dan dari data nama-nama para da’i peserta daurah masyayikh yang dibocorkan pada kita jelas menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Yusuf Ba’isa dan Chalid Bawazeer, beberapa nama para da’i hadir atas rekomendasi mereka berdua!-red) . –wallahu a’lam bishshawab. Adapun tentang Al-Akh Syarif, maka saya tidak bertemu dia kecuali di Semarang/Ponpes Al-Irsyad dan di Jakarta. Saya belum pernah mendengar ucapannya dan belum pernah membaca tulisan-tulisannya padahal dalam menghukumi seseorang kita harus mengenalnya dengan detail.
Ini secara ringkas yang bisa saya berikan kepadamu dan saya mohon ma’af, kita memohon kepada Allah untuk saya dan kamu taufiq dan kebenaran serta mengumpulkan kita semua kepada amalan yang diridhai Allah. Wallahul Musta’an.
Sedayu, 24 Dzulqa’dah 1417H
Saudaramu
(tanda tangan)
‘Aunur Rafiq Ghufron Hamdani

Maka kedua surat tulisan tangan tersebut adalah bukti FAKTA tak terbantahkan bahwa kedua da’i kondang ini memang dalam keadaan SADAR 100% ketika kemudian lebih memilih untuk  bergabung ke dalam barisan musuh-musuh dakwah salafiyyah!
Segala puji bagi Allah bahwa bukti-bukti tersebut masih terdokumentasikan dengan rapi sebagai harta “warisan” bagi Salafiyyin kelak agar tidak terkecoh jika mereka melemparkan talbis dan syubhat “murahan”, walhamdulillah.

Bagian Kedua———
TULISAN/UCAPAN JAFAR UMAR THALIB DALAM SOROTAN
(Ibrahim)

Betapa indahnya nikah sejenis di sisi Jamarto:
http://img64.imageshack.us/img64/8573/jafarnikahsejenisuw9.jpg
Sang da’i gaul yang “kendor” pergaulannya:
http://img237.imageshack.us/img237/7749/jafarvsfilsafat2bs8.jpg

1. Menyatakan bahwa dakwah JUT adalah dakwah Salafiyyah dan diperbarui pada th 2003. Simak acara-acara yang diikutinya pada tahun 2003-2006 .
Yakni menghadiri acara milad negeri ini dan tahun baru hijriyah beberapa kali dengan dzikir dipimpin Muhammad Arifin Ilham, tgl 18 Agustus 2003 (hadir juga Hamzah Haz, Amien Rais, Hidayat Nurwahid dari PKS, Aa Gym), 15 Agustus 2004 (sekaligus HUT BNI ke 48, lihat file gambar CD, cd.jpg, cd_2.jpg, cd_3.jpg promotor Bank BNI), 6 Februari 2005 (Tahun Baru Hijriyah 1426 H, hadir juga Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Husein Umar, Salim Segaf Al Jufri Dewan Syuro PKS), 15 September 2005 (Menjelang Ramadhan 1426 H bersama Bupati Kampar Jefri Noer, Ketua DPRD Mahnuh),  20 Agustus 2006 (hadir juga Salim Segaf Al Jufri) bersama-sama politikus hizbi dst.
http://img490.imageshack.us/img490/8853/cdqp2.jpg
http://img234.imageshack.us/img234/7242/cd2om7.jpg
http://img237.imageshack.us/img237/5579/cd3se0.jpg
VCD Majlis Adz Dzikra edisi 15 Agustus 2004, tertulis jelas “BNI … mempersembahkan acara “Indonesia Berdzikir”, di label VCD tersebut tertulis “Zikir Akbar Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan RI ke 59 dan HUT BNI ke 48, Ahad 15 Agustus 2004, 28 Jumadits Tsani 1425 H, Masjid Istiqlal Jakarta.” Produksi Majelis Az Zikra. Pusat Masjid Al Amru Bittaqwa, Perum Mampang Indah Dua Depok, Depok, 16435. Telp (021) 77882187, 77882188. Sekretariat : Jl. Slamet Riyadi 5 Jaktim, DKI Jaya. (021) 8567636,85910717,8567630. (lihat file gambar CD, cd.jpg, cd_2.jpg, cd_3.jpg promotor Bank BNI)

Inilah hasil pemikiran JUT dan pembaharuan JUT dengan ucapannya sbb :
“Kami perlu menjelaskan prinsip kami ini karena memang edisi ke 42 ini adalah era baru bagi perjuangan dakwah Salafiyah di Indonesia. Era baru ini dimulai dari hitungan nol dengan koreksi total terhadap tiga belas tahun masa perjuangan kita di masa lalu, tepatnya sejak bulan Januari tahun 1990 M hingga Januari 2003 M . Kami mencanangkan era baru dengan semangat baru. Oleh karena itu kami bertekad untuk terbit kembali dengan tepat di tiap awal bulan. Tapi jangan percaya dulu dengan tekad kami ini karena memang tekad demikian ini perlu pembuktian di masa yang agak lama.” (Majalah Salafy, Dari Redaksi, Edisi 42 Tahun ke IV/1423 H/2003 M)

2. Siapa saja teman Jafar di selain majlis dzikirnya Az Zikra ?
Jafar juga tercatat hadir dalam acara Rapat Akbar Solidaritas Falllujah tgl 26 November 2004 bersama Ketua Umum KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam), Abdul Rasyid Abdullah Syafi’I, ZA Maulani, Taufiq Ismail, ZA Maulani, Hussein Umar, Tifatul Sembiring, Ismail Yusanto, Habib M Rizieq Syihab, Munarman, KH Syukron Makmun, Ahmad Sumargono, KH Kholil Ridwan, Ust Ja’far Umar Thalib, Ust Arifin Ilham, Abu Jibril, Muzakkir, MUI, Muhammadiyah, NU, DDII, PKS, HTI, MMI, Daarut-Tauhid, FPI, GPMI, Hidayatullah, Al-Irsyad, Asy-Syafi’iyah dan MER-C. (Harian Terbit, www.harianterbit.com, nama file Konsep demokrasi bukan lewat saling membunuh.htm, dikopi tgl 25 Desember 2005)

3.JUT juga nara sumber acara “Refleksi Satu Hati, Sebuah Gugatan Ummat terhadap nasib Bangsa” tanggal 18 November 2003 (malam ke 23, bulan Ramadhan 1424 H) di Gelanggang UGM yang dimoderatori Emha Ainun Najib dihadiri para pendeta kafir (Hindu, A.A.N Ari Dwipayana S.I.P MSi, Prof. Dr. Humphrey S. Kariodimejo Kristen, Katolik Alfred Benedictus, Banthe Bodhi Budha) yang memberikan ceramah bersama-sama JUT penuh dengan ajaran sinkretisme, keakraban, saling ucapkan salam, dst. (Sumber CD Refleksi Satu Hati, dokumentasi panitia dari Unggul 08124952208)

4. Siapa saja teman dan guru Arifin Ilham ?
Siapa Arifin Ilham ? Muhammad Arifin Ilham bicara sendiri di Sabili dan direkam oleh rantaunet. “Kalau sudah kepegang Allah Ghoyatuna (tujuan kita), maka tidak akan ini-itu. Saya bisa ngomong tegas saja. Saya sayang dengan Ayahanda Hamzah Haz tapi lebih sayang Ba’asyir, lebih sayang Habib Rizieq, lebih sayang Ja’far Umar.” (Wawancara dengan Muhammad Arifin Ilham, judul Syariat Tak Akan Tegak Dengan Caci Maki, dikopi dari www.rantaunet.com 25 Desember 2005, nama file Syariat Tak Akan Tegak Dengan Caci Maki.htm)

5. Siapa saja teman berdakwah Ja’far ?
Aris Munandar da’i lintas manhaj adalah teman berdakwah Jafar Umar Thalib, yakni pada Daurah Ramadhan 1425 H di PP Ihya us Sunnah, Degolan, Sleman. Kaset/CD ada di Tasjilat Ad-Da’wah PP Ihya us Sunnah, membahas kitab Al Adabul Mufrad karya Al Imam Al Bukhari shohih Al Imam Al Albani. Aris Munandar adalah aktifis dakwah di PP Taruna AL Quran dengan Umar Budiargonya, Ahmad Khudlori ikhwani, Ldata Ikhwani cabang Jakarta (pusatnya dipimpin Muhammad Yusuf Harun, MA), FSRMY Masjid Jogokariyan, LBI Al Atsary pimpinan Abu Saad Muhammad Nur Huda. (Mediasalafy.com, pamflet-pamflet LBIA, L-DATA, berbagai sumber)

6. Siapa saja teman Arifin Ilham dalam Majlis Az Zikra ? Jawabnya Hizbi, JIL, dkk
Dewan Syariah Majlis Az-Zikra, sumber majalah Az Zikra : Dr. Muslih Abdul Karim (PKS), Abu Bakar Baasyir (MMI), Dr. Salim Segaf Al-Jufri (PKS), KH Dr. Didin Hafiduddin (PKS), Ja’far Umar Thalib, Habib Rizieq Syihab (FPI), Toto Tasmara , dan sebagainya.
(Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini ke 118, “Infeksi ‘Sipilis’ di Majalah Azzikra” , Minggu, 09 Oktober 2005 – 14:43:46 WIB, berita tersebut dipublikasikan oleh situs hizbi: Hidayatullah.com)

Simak tulisan Adian Husaini yang membikin artikel pada file Infeksi ‘Sipilis’ di Majalah Azzikra.html yang dimaksud adalah terinfeksi JIL. Simak contoh tulisan orang liberal JIL di majalah Az Zikra file Dialog dan Kerjasama dengan Barat.htm, file resensi buku karya Tariq Ali, di majalah Azzikra edisi Juni 2006.htm.

7. Perluasan acara Dzikir, selain dalam rangka milad RI, juga tahun baru Hijriyah dan untuk menyambut Ramadhan 1426 H
“ANTARA. Bupati Kampar Jefri Noer (tengah), Ustadz H Arifin Ilham (kiri), serta Panglima Laskar Jihad H Jafar Umar Thalib (kanan) berbicara sebelum dzikir bersama masyarakat Kampar, di stadion Tambusai, Bangkinang, Kampar, Riau, Kamis (15/9). Dzikir yang diikuti sekitar 20 ribu warga Kampar itu dilaksanakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1426 H”. (http://www.mediaindo.co.id/mediagaleri/view.asp?id=1356&page=6)

8. JUT kumpul dengan Hizbiyyun
Tercatat tokoh Islam yang hadir di antaranya, Taufiq Ismail, ZA Maulani, Hussein Umar, Tifatul Sembiring, Ismail Yusanto, Habib M Rizieq Syihab, Munarman, KH Syukron Makmun, Ahmad Sumargono, KH Kholil Ridwan, Ust Ja’far Umar Thalib, Ust Arifin Ilham, Ust Abu Jibril dan Ust Muzakkir. Selepas shalat jum’at, acara dimulai dengan memberikan orasi selama sepuluh menit secara bergantian. Sementara Ormas Islam yang turut mendukung acara ini, MUI, Muhammadiyah, NU, DDII, PKS, HTI, MMI, Daarut-Tauhid, FPI, GPMI, Hidayatullah, Al-Irsyad, Asy-Syafi’iyah dan MER-C . (27 November 2004, http://www.harianterbit.com/artikel.php?kategori=SYIAR&id=13916&start=70 )

9. Acara Dzikir JUT bersama Politikus
” Puluhan ribu umat Islam, Ahad (6/2) memenuhi Masjid Istiqlal mengikuti acara zikir akbar dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1426 H. Awan hitam yang menyelimuti langit Jakarta sejak pagi hari tak mampu menghentikan langkah mereka untuk mengikuti acara tersebut. Selain zikir yang dipimpin oleh pimpinan Majelis Zikir Az Zikra, Ustadz Arifin Ilham, acara bertema Menyongsong Negeri Bebas Korupsi itu juga diisi tausiyah dari Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Husein Umar, Anggota Dewan Syuro PKS, Salim Segaf Al Jufri, dan mantan Panglima Laskar Jihad, Jafar Umar Thalib .” (Tgl 6/2/2005, situs aqlani menyebarkan beritanya: http://www.icmi.or.id/ind/content/view/109/60)

10. Acara Dzikir JUT memperingati HUT RI 18 Agustus 2003
Sementara itu, hari Senin, untuk melakukan refleksi dalam peringatan HUT Ke-58 RI, ribuan umat Islam menghadiri tabligh akbar “Indonesia Berzikir”. Banyak hadirin yang memenuhi seluruh lantai ruangan Masjid Istiqlal, Jakarta, menangis terharu. Tetesan air mata ribuan jemaah masjid itu mengiringi zikir dan doa yang dilantunkan dai kondang Ustadz KH Arifin Ilham yang sebelumnya juga memberikan siraman rohani untuk mengingatkan umat agar lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Tampak hadir pada tablig akbar itu Wapres Hamzah Haz, Ketua MPR Amien Rais, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat R Hartono, Ketua Umum Partai Keadilan Hidayat Nurwahid, dai kondang KH Abdullah Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym, serta Ja’far Umar Thalib .

11. Memuji dan membela Arifin Ilham
“Semua pengingkaran para ulama’ sebagaimana tersebut, telah saya pelajari dan ketika semua itu saya teliti pada majlis dzikir yang dipandu oleh saudara Muhammad Arifin Ilham, hal-hal kemungkaran tersebut tidak saya dapati dan bila kadang-kadang terdapat pada sebagian yang hadir , maka pemandu segera menegurnya dan melarangnya. Ini yang saya saksikan pada mereka. Adapun berkenaan dengan dzikir yang disuarakan bersama dan dikomandoi dengan satu komando, hal ini ada catatan tersendiri berkenaan pengingkaran kepadanya oleh Al-Imam Asy-Syathibi rohimahulloh untuk kita telaah secara ilmiah. ” (paragraf terakhir dari tulisan dengan judul artikel:”Kontroversi Seputar Dzikir Bersama” majalah Salafy edisi 02/TH V/1424 H/2003 M hal:67-70)

12. Menghina pemerintah dengan menyatakan pemerintah tidak berdaya, pemerintah tidak mampu dst.
“Karena kenyataan yang ada pada kami ialah :
1. …
2. Kami berjihad di Maluku adalah dalam rangka memerangi pemberontak Kristen ketika kami melihat pemerintah mendapat tekanan dari salibis dan zionis internasional sehingga pemerintah tidak berdaya menghadapi para pemberontak itu. Maka sangat aneh bila jihad kami ini dianggap memberontak kepada pemerintah. Padahal kami adalah mitra pemerintah untuk memberangus pemberontakan tersebut.”
(Majalah Salafy, Menepis Rekayasa Fatwa Seputar Jihad di Maluku, paragraf ke 6, hal 10, edisi 34/1421 H/2000 M)

13. Lagi, mengecam dan mengolok-olok pemerintah
“Disaat yang demikian itulah meletus kerusuhan di Poso – Sulawesi Tengah, dan di Ambon – Maluku. Dari hari ke hari keadaan semakin memiilukan di dua daerah tersebut. Korban di pihak kaum Muslimin semakin banyak dan keresahanpun meledak pada kaum Muslimin di seluruh Indonesia. Namun mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat dalam membela saudaranya di Poso dan Ambon itu. Pemerintah tambah linglung seakan tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi para perusuh yang dengan leluasa terus-menerus membantai kaum Muslimin disana. Saya sedih dan sedih melihat kenyataan pahit ini…”
(Paragraf 4, hal 10-11, Salafy Edisi 05 tahun ke V/1426 H/2005 M)

14. Menganggap semua orang adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah?
“Sedangkan mayoritas ummat Islam itu adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, karena mereka berbuat bid’ah hanyalah karena ikut-ikutan dan tidak tahu bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu adalah bid’ah.”
(Paragraf 3, hal 10, Salafy Edisi 05 tahun ke V/1426 H/2005 M)

15. Mendustai publik menyatakan murid-muridnya salah dengan istilah kerusakan akhlaq shg membikin Laskar Jihad dia bubarkan (padahal Salafiyyin yang secara sepihak membubarkan diri-walhamdulillah)
“Saya memimpin operasi perjuangan Laskar Jihad selama dua tahun dengan cerita suka dukanya. Dalam maas dua tahun itu saya dapati kenyataan berbagai kekurangan pada murid-muridku dalam berhadapan dengan problem-problem masyarakat Muslimin disana. Kekurangan itu meliputi kekurangan dalam perkara akhlaq dan hikmah dakwah. Tentu kekurangan demikian amat berbahaya dalam perjalanan dakwah dan perjuangan ini. Kekurangan tersebut menciptakan jarak yang berbahaya antara masyarakat Muslimin dengan kami . Saya sedih dan sedih melihat kenyataan pahit demikian. Dan akhirnya saya putuskan pada tgl 7 Oktober 2002 untuk bubarnya Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah.Dan dengan keputusan saya untuk membubarkan dan menghentikan aktifitas jihad secara fisik ini, maka sayapun membikin langkah-langkah fundamental demi masa depan perjuangan dakwah Salafiyah di Indonesia. Saya persilakan segenap murid-muridku untuk pergi ke medan perjuangan masing-masing dan sayapun segera berkemas untuk menyongsong program-program perjuangan yang terbentang di depan langkah-langkah perjuanganku.
(Paragraf 3, hal 13, Salafy Edisi 05 tahun ke V/1426 H/2005 M)

16. Mendustai publik dengan mengistilahkan uzlah disaat ditinggalkan/dihajr karena penyimpangannya yakni tidak mau membubarkan Laskar Jihad sesuai nasihat Ulama
“Dalam masa uzlah yang saya lakukan antara bulan Oktober – Desember 2002, saya terus mempelajari kebijakan dakwah Salafiyyah yang saya lakukan sejak Januari 1990 s/d Oktober 2002 dan saya pelajari semua kekurangannya melalui kitab-kitab para Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah..”
(Paragraf 2, hal 14, Salafy Edisi 05 tahun ke V/1426 H/2005 M)

17. Kembali menegaskan bahwa era baru dakwahnya dimulai Januari 2003 dan menunjukkan sakit hatinya pada siapa ?
“Demikianlah suka-duka perjalanan Dakwah Salafiyah yang saya jalani di Indonesia dan setelah saya melakukan upaya koreksi kembali terhadap perjalanan dakwah di masa lalu, sayapun mulai menjalankan kembali perjuangan dakwah salafiyah ini pada bulan Januari th 2003 dengan semangat baru dan suasana trauma berbagai kekecewaan akibat kepedihan luka-luka lama. “
(Paragraf 3, hal 23, Salafy Edisi 05 tahun ke V/1426 H/2005 M)

18. Mengecam dai-dai mantan muridnya dengan istilah kerusakan akhlaq, tukang gosip, berebut pengikut
“Banyak para dai lulusan Universitas Islam Al Madinah an Nabawiyah dan lulusan Yaman menjadi tukang gosip dan tidak mempunyai wara’ (yakni kehati-hatian) dalam menyampaikan berita. Berita-berita dusta gampang sekali dilontarkan di majlis-majlis ‘ilmu’ mereka tanpa takut ancaman dosa besar akibat perbuatan dusta itu. Semua ini tentu adalah penyimpangan yang nyata dari manhaj Salafus Shalih. Manhaj Salaf dilecehkan oleh para perusak dakwah Salafiyah ini sebagai akibat kerusakan akhlaq mereka. Akibatnya atribut-atribut Manhaj Dakwah Salafiyah seperti Tahdzir dan Hajr tampak sedemikian buruknya dihadapan ummat Islam. Hal ini karena dua syi’ar Manhaj Salaf ini sering dijadikan alat kepentingan sang da’i untuk berebut pengikut.”
(Paragraf 2, hal 17, Salafy Edisi 05 tahun ke V/1426 H/2005 M)

19. Menyikapi situs salafy.or.id yang memuat artikel tentangnya
“Sebuah lembaga penelitian di Brussel menurunkan sebuah artikel di salah satu websitenya yang menyoroti berbagai isyu perpecahan yang ada di kalangan orang-orang yang mengaku sebagai pengikut manhaj Salafus Shalih. Namun sayang artikel itu bersandarkan kepada sampah data yang terus-menerus dilansir bau busuknya oleh sebuah website Ahlul Fitnah wal Khiyanah. Sehingga kesan perpecahan yang sangat menonjol di kalangan Salafiyyin. Penulis artikel itu tidak mengerti bahwa sesungguhnya yang sedang ribut-ribut itu tidak semuanya sebagai Salafiyyin. Penulis artikel itu tidak memahami latar belakang berbagai pemikiran orang-orang yang mengaku Salafy. Yang notabene berbagai pemikiran itu bukan dari pemahaman Salafus Shalih. “
(Majalah Salafy, Dari Redaksi, Edisi 04/TH V/1426 H/2005 M)

20. Dustanya JUT dan ancamannya kepada pemerintah
“TEMPO Interaktif, Jakarta:Mantan Panglima Laskar Jihad, Ja’far Umar Thalib menemui Menteri Koordinator Politik dan Keamanan ad interim Hari Sabarno di Departemen Dalam Negeri, Rabu (26/5), untuk membahas kondisi di Ambon.

Ja’far mengatakan, dirinya belum bisa memutuskan kapan akan mengirimkan pasukan ke daerah konflik tersebut. Dia menambahkan, pihaknya masih melihat perkembangan situasi di daerah tersebut.

Laskar Jihad sendiri telah mengirimkan lima orang intelijen untuk memantau perkembangan situasi di Ambon. Mereka terdiri dari ahli senjata, intelijen, komunikasi massa, kedokteran dan sosial politik. Hasil pekerjaan mereka dilaporkan langsung kepada Ja’far Umar Thalib.”
(Rabu, 26 Mei 2004, http://www.tempo.co.id/hg/nasional/2004/05/26/brk,20040526-23,id.html )
“Jakarta :Laskar Jihad mengirim lima orang tim intelijen ke Ambon, Maluku, untuk memantau perkembangan situasi di daerah itu. “Tim yang terdiri dari ahli senjata, kedokteran, hukum, komunikasi dan sosial politik, dikirim Senin (3/5),” kata Panglima Laskar Jihad, Ja’far Umar Thalib kepada TNR lewat sambungan telepon, Kamis (6/5) sore. “
Dirilis berita dusta di atas oleh Situs Takfiri-Ba’asyiri: (http://annisa.majelis.mujahidin.or.id/berita/islam/laskar_jihad_kirim_tim_intelijen_ke_ambon.xhtml_1 )
“detikcom – Jakarta, Setelah dua tahun dibubarkan, Laskar Jihad siap dikirim kembali ke Ambon jika pemerintah tidak dapat mengatasi keadaan disana. Menurut Jafar, anggotanya setiap saat siap dikirim. “Tidak perlu dipersiapkan. Mereka sudah siap,” ujarnya. Berapa orang yang akan dikirim?”Kemarin sebelum dibubarkan kira-kira 10 ribu orang. Yang akan dikirimkan bisa lebih dari itu,” kata dia.”
(27/4/2004, http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2004/bulan/04/tgl/27/time/153647/idnews/129284/idkanal/10 )
“Laskar jihad akan diterjunkan kembali ke Ambon jika dinilai pemerintah tidak bisa mengatasi keadaan. Saya sedang mempelajari kondisi di lapangan menit per menit,” kata Panglima Laskar Jihad Jafar Umar Thalib dalam jumpa pers di kantor MER-C, Jalan Keramat II, Jakarta Pusat, Selasa (27/4/2004). “

21. Lagi, mengancam pemerintah
“Mantan Panglima Laskar Jihad, Ustadz Ja’far Umar Thalib akan mengirim kembali Laskar Jihad ke Ambon guna menumpas gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS) Hidayatullah.com—Ustadz Ja’far Umar Thalib, mantan Panglima Laskar Jihad dalam konflik Ambon, berencana akan mengirim pasukan dari Laskar Jihad nya guna menumpas gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS) jika pemerintah dan aparat tidak mampu dan mencegah meluasnya konflik yang terjadi beberapa hari ini.
“Kalau pemerintah memang tidak mampu mengatasi problem di sana, saya akan terjun kembali, ” ujar Ja’far dalam wawancaranya dalam acara Jurnal Pagi, ANTV, Rabu (28/4) pagi tadi.”
(28 April 2005, berita tersebut dipublikasikan oleh situs hizbi: http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1115&Itemid=0 )

(Ditulis tgl 25 Desember 2005, diperbarui kembali 25 Agustus 2006)

(Catatan redaksi: kami menerima saran dan sumbangan data informasi dari pembaca sekalian khususnya mengenai sepak terjang Jamarto, Yazid Jawaz dan Aunur Rofiq  agar umat lebih mengenal secara utuh sosok terakhir beliau-beliau di atas setelah mengalami metamorphosis dakwah)
Jika tak kenal maka…tak waspada!

31/12/2008 Posted by | abu-salafy-01, firqah, manhaj | , , | Tinggalkan komentar

Salafiyyin Kuwait Bangkit.

بسم الله الرحمن الرحيم

SALAFIYYIN KUWAIT BANGKIT MEMBONGKAR
KESESATAN IHYA’ AT-TURATS KUWAIT

Pengantar
Bila al-Akh Firanda enggan melepaskan Topeng Emas Ihya’nya
Wajah-wajah bopeng kesesatan Ihya’pun kan dihiasinya dengan rekomendasi para ulama kita Gambaran indah Sinterklas Dakwah
adalah bukti arogansi harta pecahbelah umatnya
dengan mengabaikan dan mengacuhkan kerusakan manhajnya
“Bahkan sebaliknya, justru banyak kemaslahatan yang di dapat dengan mu’amalah dengan yayasan ini” adalah Propaganda Emasnya!!
Khilafiyah Ijtihadiyah adalah Syubhat Emasnya!!
Tetapi, mampukah dia trus menyembunyikan bopeng-bopeng kesesatan Ihya’nya?
Sampai kapan dia mampu bertahan dengan membohongi nuraninya?
Akankah Salafiyyin berdiam diri ???
Sementara Ihya’ at-Turats masih trus menyebarkan perpecahan …
ke seluruh penjuru dunia dengan Dinar Emasnya?
Alangkah “indahnya” kalimat al-Akh Abu Sufyan Utsman Bisyir ketika berkata:
“Dan tentunya mereka melakukan kegiatan di Saudi Arabia, seperti menyediakan sejumlah $$$ (Fulus) untuk pelajar-pelajar yang miskin dan tidak mampu di Jam’iyyah di Madinah, tentunya anda akan mendapati beberapa diantara mereka tidak akan menentang Jam’iyyah ini dan tentunya tidak mau “merusak dan menentang darah daging sendiri“. Inilah cara mereka dalam menggunakan shadaqah yang mereka kumpulkan dari umat. Kami juga sudah mendengar dari beberapa pelajar Kuwait yang menuntut ilmu di al-Madinah, bahkan lebih dari ini.”

Tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran “amunisi baru” semacam da’i senior Abdullah Taslim dan Firanda As-Soronji telah membikin komunitas Ihya’ at-Turats di Indonesia semakin percaya diri dengan status dinar dan dakwahnya. Kami cukupkan sebagai bukti adalah pernyataan di bawah ini yang menanggapi tulisan Abdullah Taslim di situs Mu$$$$.$$.id yang berjudul “Menjawab Tudingan Pada Dakwah Salafiyah”, komentar nomor 38: Andi Muhammad Arief
April 12th, 2006 10:31
38
“Ba’da Tahmid, Tsana’ wa Sholah, saya adalah muwadhof di Jam’iyah Ihya Turats Islamy (JITI) Maktab Indonesia dan silahkan anda-anda semua membaca AD/ART nya sehingga akan tahu bagaimana itu JITI. Jazakumullah ya Ustadz Abdullah Taslim atas perjuangan menegakkan islam diatas manhaj yang benar. Saya berani bersumpah atas nama Allah bahwa Manhaj SALAF / Ahlussunnah adalah manhaj yang benar dan selamat”
Demikianlah, betapa Abdullah Taslim dan Firanda merupakan panglima-panglima baru yang berada di garda terdepan dalam melindungi dakwah Ihya’ at-Turats al-Hizbiyyah di bumi Indonesia mengikuti para pendahulunya semacam Yusuf Ba’isa, Abu Nida’, Ahmas Faiz, Yazid Jawaz dan yang lainnya. Syubhat-syubhat baru senantiasa mereka produksi untuk menghiasi Kesalafiyyahan Ihya’ at-Turats dan betapa besarnya jasa mereka terhadap dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah. Berikut ini adalah satu dari sekian banyak artikel yang disusun untuk memberikan informasi betapa rusak dan jahatnya manhaj Ihya’ at-Turats!! Dan betapa palsu dan dustanya keindahan-keindahan yang digambarkan oleh jaringan para da’inya di negeri ini. Telah berkata al-Akh Firanda –semoga Allah mengembalikannya kepada al-Haq- di dalam Buku Emas Ihya’-nya:“Kalau benar yang anda katakan, maka PERKARANYA BUKAN PADA PUSAT YAYASAN TERSEBUT, namun masalahnya kembali ke cabang yayasan tersebut”(Lerai…, hal.236-237) Benarkah ucapannya ini bahwa permasalahan tentang penyimpangan Ihya’ at Turats tidaklah terjadi di pusatnya yang ada di Kuwait sana?Maka simaklah kesaksian saudara kita -Salafiyyin Kuwait- mengenai sepak terjang Ihya’ at-Turats yang diterjemahkan oleh al-Akh Ugik dari artikel berbahasa Inggris di situs Salafitalk.net Affairs of Manhaj Sumber Artikel : http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=5220
Nama Pengirim :
Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher (warga Amerika tinggal di Kuwait)
*** Situs Salafitalk.net adalah situs khusus forum dari Salafipublications.com. Lokasi di Birmingham, United Kingdom/Inggris. Nomor telpon Tel:+44 121 773-0003. Situs ini dikelola oleh ikhwah alumnus Jamiah Islamiyyah Madinah KSA yang mendapatkan rekomendasi dari masyayikh, salah satunya Syaikh Muhammad ibn Haadi (19 Juni 2005), Syaikh Muhammad Al Anjari (tanggal 29 Juli 2006), Syaikh Dr. Falaah Ismail, Kuwait (tanggal 20 Juni 2006) ***

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
12-07-2006 @ 6:38 AM


Nama Pengirim : Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

(Topic: Shaykh Rabee’ on cooperating with Jam’iyah Ihyaa’ at-Turaath) berikut ini

الشيخ العلامة ربيع المدخلي يقول ان التعاون مع جمعية احياء التراث تعاون ضد المنهج السلفي

Asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali: “Sebenarnya kerjasama dengan Jam’iyah Ihya’ at-Turats (yang berbasis di Kuwait) adalah merupakan bentuk kerjasama yang bertentangan dengan manhaj Salaf.“Jawaban Syaikh via telepon dalam format Audio bisa didownload disini: http://www.sahab.net/sahab/showthread.php?s=8af563bae9913025daa38bb6e6edf61c&threadid=331708(Suara Syaikh Rabi’ Ibn Haadi sudah kami sertakan dalam CD, direktori kelompok – ihyaturots -  fatwa_ttg_ihyaturath – ulama_menentang_ihyautturath, redaksi)Abu Sufyan Utsman Bisyir Al Amriki
Kuwait
أبوسفيان عثمان بيشر الأمريكي ___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
12-07-2006 @ 6:38 AM
Nama Pengirim : Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

CONTOH-CONTOH MANHAJ JAM’iYYAH IHYA’ AT-TURATS
DARI PERNYATAAN-PERNYATAAN MEREKA SENDIRI!

Dibawah ini hanyalah beberapa contoh dari banyak bukti yang jelas-jelas menunjukkan kesalahan dan kesimpangsiuran metodologi Jam’iyah Ihya’ at-Turats, yang dipimpin oleh ‘Abdur-Rahman ‘Abdul-Khaliq. Sayangnya, banyak sekali saudara-saudara Salafy kita – bahkan mereka yang menimba ilmu di Kuwait dan di daerah lainnya, yang jelas-jelas tahu tentang kenyataan ini – sekarang mereka malah menolak untuk memperbincangkannya, bahkan mereka berbalik arah membela mereka, dan dalam banyak hal (mereka) berani menyerang siapa saja – dari para Masyayikh Salafy kita – yang mencoba menyangkal dan berselisih dengan mereka. Jadi, untuk lebih mendapatkan pemahaman betapa berbahayanya golongan ini dan antek-anteknya yang sudah tersebar di berbagai negara (seperti Daar of Islamic Heritage di Florida, dan Turats yang berpusat di Qatar, Bahrain, dll), maka kami akan menceritakan – tentunya dengan izin Allah – dari perkataan-perkataan para pemimpin Jam’iyah ini, dan juga dari para Ulama Salaf yang sangat perhatian dengan hal ini, seperti halnya Syaikh Rabi’ di atas.

AT-TURATS DAN PARA PENGUASA MUSLIM

Kutipan:

“dua Thaghut telah runtuh dalam kurun waktu empat bulan, dan sisanya tiada henti-hentinya berkubang madu (bergelimang kemewahan-pent)!!… Sehingga orang-orang Amerika menjawab dengan mengatakan bahwasanya semua rezim kepemimpinan bangsa Arab bukanlah (berlandaskan-pent) Syari’ah, DAN KITA MERASA PUAS DENGAN APA YANG MEREKA KATAKAN [dengan kata lain, rezim bangsa Arab yang sekarang bukanlah (berlandaskan-pent) Syari'ah].”

Pembicara: Wa’il al-Hasawi
Sumber: Koran Ar-Ra’iyy al-’Aam
Nomor: 13203
Tanggal: 14/8/2003

Kutipan:
“Tetapi pertanyaan – yang kita tidak bisa mencari jawabannya – yakni berkenaan dengan alasan lemahnya bangsa Arab dan orang-orang Islam dan ketidaksanggupan mereka untuk mengubah keadaaan mereka saat sekarang ini, serta ketidakberdayaan mereka untuk menyingkirkan penguasa-penguasa yang masih berkuasa itu …”

Pembicara: Wa’il al-Hasawi
Sumber: Majalah Al-Furqan (Majalah Jam’iyyah Ihya’ at-Turats)
Nomor: 235, hal. 40
Tanggal: 24/3/2003

Kutipan:
“Kami berkata: Hal ini keliru, Wahai semua penduduk Tunisia dan siapa saja yang melewati jalan mereka! Janganlah pergi ke Kedubes Amerika (untuk memprotes)! Tapi datangilah istana-istana para presiden dan pemimpin-pemimpin muslim …”

Pembicara: Nadhim Sultan al-Misbah
Sumber: Kaset Syaikh Ahmad as-Subay’i “Untuk Saudara-Saudara Kita Di at-Turats: Apakah Al-Qa’idah Lelaki Sejati?”, yang mana Syaikh Ahmad As Subay’i memutar kutipan ini dari tape (rekaman suara-pent) milik Nadhim sendiri!

Kutipan:
“Dan bahwasanya umat Muslim sejak jaman dahulu sudah terbiasa menikmati adanya kebebasan untuk berekspresi dan meminta pertanggung jawaban pemimpin-pemimpin mereka, jadi tidaklah heran di saat…”

Pembicara: Ahmad Baqir
Sumber: Al-Furqan
Nomor: 28
Tahun: 1992

Kutipan:  "Aku bermaksud menasehati para penguasa untuk menyelesaikan apa yang  wajib atas mereka dalam urusan memerintahkan kebenaran dan melarang yang bathil, sebab kealpaan mereka dalam menjalankan kewajiban ini bisa melengkapi efek negatif yang luar biasa.  Pembicara: Naadhim Sultaan al-Misbaah  Sumber: Koran Al-Qabas  Nomor: 9628, hal 35  Tanggal: 11/4/2000

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan pernah ditanya:
“Bolehkah kita mengkritisi para penguasa Muslim di depan dan di depan majelis secara terang-terangan?”

Syaikh menjawab:
Kutipan:
“Kita sudah sering membicarakan hal ini sebelumnya! Tidaklah diperbolehkan membicarakan penguasa-penguasa itu, karena hal ini mengundang setan dan perdebatan dalam masyarakat, yang juga akan mencerai-beraikan kesatuan umat Muslim dan menimbulkan kebencian diantara penguasa/pemimpin dengan yang dikuasai/dipimpin. Perpecahan dan setan ini akan menimbulkan pemberontakan terhadap penguasa dan pertumpahan darah serta banyaknya masalah yang tak kunjung hilang. Jadi, jika anda menginginkan untuk mengomentari mereka, temuilah mereka secara rahasia, jika memungkinkan, tulislah surat untuknya atau carilah seseorang yang bisa menyampaikan kepada penguasa sebagai nasehat tulus untuknya, dan haruslah dilakukan secara rahasia tidak secara terbuka atau terang-terangan dan hal ini sudah disebutkan dalam al-hadits, “Siapa saja yang ingin menasehati penguasa, janganlah anda lakukan di depan umum, tapi biarkanlah dia si penguasa menasehati dirinya sendiri…..” Dan hal ini sudah disabdakan dari baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.

Dan beliau juga berkata:
Kutipan:
“Tidak ragu lagi bahwa mereka para penguasa, seperti halnya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, jadi menasehati mereka adalah kewajiban. Bagaimanapun juga mencoba untuk menegur mereka dari majelis taklim merupakan sebuah perbuatan dengki terhadap orang lain yang dianggap lebih buruk terhadap para pemimpin/penguasa, dan hal ini bisa menyebarkan fitnah, merusak martabat dan mempengaruhi penyebaran dakwah.”

Syaikh juga ditanya :
Bagaimana hukum mengenai seseorang yang membangkang pada para penguasa atau  mengkritik mereka ? “Jawab : “Siapapun yang memberontak perintah penguasa maka ia telah membangkang pada Rasulullah (Shallalla ‘ahualaihi Wasallam). Sepanjang penguasa tidak menyuruh dia pada perbuatan dosa, maka penentangan dia identik penentangan atas Rasulullah ( Shallallaahualaihi Wasallam). Maka jika dia mengkritik penguasa, inilah madzhab Khawaarij yang gandrung dalam mengkritik para penguasa, membicarakan (kejelekannya) dan menghasut orang-orang untuk melawan mereka. Pemuda belia yang bangkit menghadapi khalifah ‘ Utsman tidaklah melakukannya kecuali terkait dengan Ibn Saba’ yang hina. Ia memulai berbicara pada sekumpulan masa dan menghasut orang-orang sampailah orang-orang yang bodoh mulai emosi, sehingga hal ini berakhir dengan pembunuhan Utsmaan ( Radiallaahu Anhu). Dan kesengsaraan apa  yang Muslimin terima terkait dengan pembunuhan beliau ? Berbagai hal yang akan membuat rambut menjadi kelabu, akibat pembunuhan khalifah dan memberontak melawan terhadapnya.”

Mengacu pada pertanyaan no. 9 & 10 dalam “Ijaabatul-Muhimmah fii Masyaakilil-Mudlahimmah” yang sudah diterjemahkan oleh saudara kita Abul-’irbad disini. http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=3678&CFID=6878480&CFTOKEN=88496162

Contoh :

Berikut ini contoh dari Turats dan bagaimana bermuamalah dengan penguasa dari majalah mereka Al-Furqaan. Simak apa yang ‘Abdul-’Aziz al-Hiddah katakan!

Turaath and Rulers – Exhibit  A (http://www.geocities.com/uthmaanb/furqaan_v286_p9)

Disini mereka mengkritik secara terbuka atas pemerintah Kuwaiti dalam hal penghalalan mengambil keuntungan dari Ribaa di sampul depan dari majalah mereka!!

Turaath and Rulers – Exhibit  B (http://www.geocities.com/uthmaanb/furqaan_v268_cover)

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
15-07-2006 @ 7:11 AM
Nama Pengirim : Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

AT-TURATS DAN SYI’AH RAFIDHAH

Kutipan:

“Sesungguhnya keyakinan terhadap Ahlus-Sunnah dan aqidah yang dianut Sunni tidaklah bertentangan dengan aqidah Syi’ah. Tetapi kita bisa mengatakan bahwa aqidah Khawarij adalah aqidah yang bertentangan dengan aqidah Syi’ah menurut pandangan Imam ‘Ali (semoga Allah memberkati dan memuliakan wajahnya”)

Pembicara: Wa’il al-Hasawi
Sumber: Majalah Al-Furqan (Majalah Jam’iyyah Ihya’ at-Turats)
Nomor: 95, hal.21
Tahun: 1995

Maksudnya : “Tidaklah bertentangan atau berlawanan antara aqidah Ahlus-Sunnah dengan Syi’ah. Namun, Khawarij-lah yang sebenarnya menentang Syi’ah “menurut pandangan Imam ‘Ali (Semoga Allah memberkati dan memuliakan wajahnya).”

Kutipan:
“Tidaklah boleh bagi setiap anak dari sebuah bangsa untuk bercerai-berai di atas dasar madzhab. Namun, kita semua adalah anak-anak dari bangsa ini…”
Pertanyaan: “Apakah anda (Ahmad Baqir) memiliki dasar-dasar yang kuat dari Syi’ah?”

Jawaban: “Saya mempunyai hubungan yang erat yang mengikatkanku terhadap semua dasar-dasar pokok dari semua mazhab…”Pembicara: Ahmad Baaqir
Sumber: Koran Ar-Ra’i Al-’Aam
Nomor: 13114, hal. 7
Tanggal: 17/5/2003

(Keterangan dari Akh Abu Sufyan, red) *Ahmad Baqir adalah ketua dari “Aliansi Salafy Islam”, anggota parlemen sejak 1985, dan mantan menteri Auqaaf dan menteri Keadilan. Demikianlah jawaban politisnya !

LAGI, AT-TURATS DAN SYI’AH RAFIDHAH

Kutipan:
“Mungkin ini pertama kalinya melalui “As-Siyasah”, aku bertanya:
“Apa yang membuat golongan Sunnah (Sunni) dan Syi’ah tidak sholat dalam satu masjid?”
Dia (’Adil al Mu’awwadah, red) melanjutkan: “Sungguh Dia Allah, Yang Maha Tinggi berfirman:
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah anda menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.”
[72:18]
Dan masjid-masjid ini, semuanya adalah rumah Allah (’Azza wa Jalla). Dan jika memungkinkan adanya kesatuan dari beberapa masjid bagi orang Muslim dalam satu tempat untuk menghindari banyaknya pembuatan masjid, dengan ini saya mengatakan bahwa sangatlah mungkin bagi Sunnah untuk masuk pertama kali ke dalam masjid itu karena waktu sholat mereka lebih awal dari pada golongan Syi’ah, dan mereka sholat berjama’ah, kemudian datanglah Syi’ah lalu mereka sholat. Hal ini jika seandainya mereka (Syi’ah) tidak ingin sholat dengan golongan Sunnah (Sunni).
Dan adapun di Bahrain banyak musalliyaat, dimana mereka yang dari Sunnah sholat di suatu tempat dan yang dari Syi’ah di suatu tempat yang tidaklah sama namun dalam satu musholla. Kemudian mereka semua keluar dari pintu yang sama bersama-sama.”

Pembicara: ‘Adil al-Mu’awwadah
Sumber: Koran As-Siyasah
Nomor: 12590
Tanggal: 9/12/2003

(Berkata Al akh Abu Sufyan Becher, red) : *Masya Allah! Anda semua pasti merasa bingung dan pusing, bukan?! Dan bayangkan saja berapa banyak uang yang bisa dihemat kaum Muslim jika mereka sholat bersama atau di tempat yang sama seperti halnya mereka al-Hussein dan melakukan Thawaf mengelilingi kuburan Khabits (si Busuk, red) al-Khomeini! Kalian bisa melakukan sholat seperti yang diajarkan oleh Rasul Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kepada para sahabatnya dan setan di sebelah anda mengutuk mereka (Shahabat, red) dalam (sholatnya).

Kemudian dia menyelesaikannya dengan berkata:
“Apakah ada masalah jika Sunni sholat di belakang Syi’ah atau Syi’ah (sholat-pent) di belakang Sunni? (Hukum) asal yang berkenaan dengan Muslim yakni as-Salaamah, dan tak ada yang bisa mencegah…..”

Contoh :
File bukti yang menunjukkan bahwa Fahad al-Khannah (doktor Syari’ah dan anggota parpol Salafi Islamic Alliance, Kuwait) dan Walidat-Tabtabaa’i (doktor Syari’ah dari parpol Salafi Movement), keduanya anggota Jam’iyyah Ihyaa’ at-Turaats, tampak diskusi bersama Syi’i Rafidli parpol at-Tahaluf al-Islami dalam kliping koran

Turaath and Raafidah – exhibit A
http://www.geocities.com/uthmaanb/turaath_raafidah4

File bukti yang menunjukkan bahwa Fahd al-Khannah dari Jam’iyyah Ihya’ at-Turats bersama Syi’i Rafidli ‘Adnan Sayyid ‘Abdus-Samad! Pertemuan ini diadakan oleh Dr. Nasir as-Sani’ dari Ikhwanul-Muslimin.

Turaath and Raafidah – exhibit B http://www.geocities.com/uthmaanb/turaath_raafidah_ikhwaan3

AT-TURATS DAN IKHWANUL-MUSLIMINKutipan:

“Dan di Kuwait terjadi kerjasama antara dua golongan Islam yang paling dikenal, dan mereka itu adalah Ikhwanul Muslimun dan Salafy [Dengan kata lain, Jam'iyah Ihya' at-Turats], dalam banyak hal, seperti dalam bidang Relief dan usaha bersama, bahkan jika diperlukan lebih dari sekedar itu…”

Pembicara: Wa’il al-Hasawi
Sumber: Koran Al-Anba’
Nomor: 6159, hal.7
Tanggal: 2/7/1993

(Berkata Al akh Abu Sufyan Becher, red) : “Sekarang orang mungkin akan berkata bahwa pernyataan ini adalah usang dan pandangannya mungkin saja sudah berbeda sekarang ini. Marilah kita perhatikan orang yang sama, yaitu Wa’il al-Hasawi, Mantan Editor yang mengetuai Al Furqan (majalah Ihya’ at-Turats dan badan keanggotaan at-Turats, harus mengatakan 10 tahun kemudian… ” :

Kutipan:”… lebih dari 30 tahun yang lalu, ada dua kelompok Islam terbesar. Mereka adalah golongan Gerakan Konstitusional Islam (Islamic Constitutional Movement- ICM) [atau dikenal Ikhwanul-Mujrimin] dan kaum Salaf [atau At-Turats] dan mereka mampu, dengan ijin Allah, untuk mewujudkan banyak prestasi yang tidak ada tandingannya di Kuwait, dan mereka bisa menarik minat dan simpati semua orang. Dan kedua golongan ini mampu saling berkoordinasi satu sama lain, dan melakukan kerjasama dalam banyak urusan kenegaraan, kemanusiaan dan urusan-urusan politik…dan bekerja sama mewujudkan pemilihan dan fungsi parlemen, serta kerjasama dalam pemilihan Komite Guru dan Persatuan Murid (Teachers Committee and the Students Union ) juga koordinasi yang berhubungan dengan komunikasi dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan tidak perlu diragukan lagi bahwa jumlah aspirasi dari dua golongan ini [Ikhwan dan Turats] dan siapa saja yang mengidolakannya lebih banyak dari pada golongan mereka sendiri. Kami mohon agar Allah melebihkannya.”

Pembicara: Wa’il al-Hasawi
Sumber: Koran Ar-Ra’i
Nomor: 13123
Tanggal: 26/5/2003

(Berkata Al akh Abu Sufyan Becher, red) : “Jika dikembalikan lagi pada persoalan pertama dari sepuluh yang ada di Al-Furqan, dan kita ambil sepuluh yang terakhir dan kita bandingkan, dia tidak akan menemukan perbedaan. Namun jikalau dia mengambil sepuluh terakhir dari salinan Al-Mujtama’, majalah dari Jam’iyyah al-Islah (Ikhwanul Muslimin) dan membandingkannya dengan sepuluh persoalan terakhir dari Al-Furqan, dia tidak akan menemukan perbedaan! Inilah manhaj Jam’iyah Ihya’ at-Turats.

Insya Allah, kita akan lanjutkan untuk menambah ungkapan dari “Masyaikh” dan pemimpin-pemimpin mereka (dalam urusan Takfir, Hizbiyyah, persoalan Palestina, dan posisinya terhadap Ahlul-Bid’ah) juga ungkapan dari para Salafy mengenai itu semua, jadi tunggu saja! Dan semoga Allah melimpahkan Taufiq-Nya!”

Contoh:
File bukti yang menunjukkan bahwa pimpinan Ihya Turats seperti Khalid Sultan al-’Isa, ‘Adil as-Sar’awi, Salim an-Nasyi dan lainnya duduk bersama dengan parpol ICM (parpol Ikhwanul-Muslimin di Kuwait)

Turaath and Ikhwaan exhibit Ahttp://www.geocities.com/uthmaanb/8_turaath_ikhwaan

Turaath and Ikhwaan exhibit B

http://www.salafitalk.net/st/go.cfm?theurl=M%3FYB8C2%2F1%5D%2BJYB%5C4%3EG%29%2E1FAUWPA%5E%5D%5E%29V%220%2BF%275%5BN8Q%3F%2A%3ER%3CRFK4%21%2F5KAB%5EJ%28%26%26S%2A%3EH%25IZS

File bukti yang menunjukkan bahwa Jam’iyyah Bid’iyyah ini mempromosikan buku Ahmad Mansur, Pimpinan Redaksi dari Al-Mujtama’ Ikhwanul-Muslimin dimuat dalam majalah at-Turats, Al-Furqan.

Turaath and Ikhwaan exhibit C
http://www.geocities.com/uthmaanb/furqaan_v72_p53
Turaath and Ikhwaan exhibit D

http://www.geocities.com/uthmaanb/furqaan_v74_p49

File bukti yang menunjukkan bahwa presiden Jam’iyyah Ihya’at-Turats, Tariq al-’isa terkait erat dengan Ikhwan.

Turaatha and ikhwaan exhibit E
http://www.geocities.com/uthmaanb/syasah125

Abu Sufyaan ‘Utsmaan Bisyir Al Amriki
Kuwait
أبو سفيان عثمان بيشر الأمريكي

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
16-07-2006 @ 8:25 AM
Nama Pengirim : Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

AT-TURATS MENGKLAIM BAHWA MEREKALAH SALAFIYYIN KUWAITKutipan:

“Sebenarnya Dakwah Salafy di Kuwait dan siapapun yang membawa benderanya adalah Jam’iyah Ihya’ at-Turats al-Islami, ia adalah dakwah yang telah diberkahi…”

Pembicara: Pernyataan dari Majalah Al-Furqan
Sumber: Majalah Al-Furqan
Nomor: 92, hal.6
Tahun:1997

Kutipan:
“Pada awalnya, asal usul dari adanya dakwah Salafy di Kuwait adalah berkaitan erat dengan Jam’iyah Ihya’ at-Turats.”

Pembicara: Khalid as-Sultan
Sumber: Koran Al-Anba’
Nomor: 9507
Tanggal: 26/10/2002

(Berkata Al akh Abu Sufyan Becher, red) : *Ini merupakan penyimpangan! Jika kita mau melihat apa yang sudah ada [Turats dan para Penguasa, Rafidah dan Ikhwanul-Muslimin]- dan Insya Allah apa saja setelahnya – kita akan melihat bahwa Jam’iyah ini tidaklah didirikan berdasarkan dakwah Salafy!

Asy-Syaikh al-Walid ‘Ubayd bin ‘Abdillah al-Jabiri berkata mengenai Jam’iyah Ihya’ at-Turats:

Kutipan:”…dan Jam’iyah Ihya’ at-Turats adalah sesat. Dan banyak orang yang akan disesatkan olehnya [at-Turats], juga menerbitkan buku-buku Salaf, dan menerbitkan buku-buku usang itu sepanjang perjalanannya, seperti halnya Sayyid Quthb.” (Berkata Al akh Abu Sufyan Becher, red) : “Dan ketahuilah wahai pembaca, bahwasanya at-Turats belum pernah menerbitkan buku karangan Sayyid Qutb, ataupun berhenti menyebarluaskan buku-buku dari para pendiri ideologinya ‘Abdur-Rahman ‘Abdul-Khaliq secara tahunan dalam konferensi mereka, ataupun sudah menyadari bahwa merekalah yang Bid’ah!

Namun mereka berkata, seperti yang kami dengar sendiri: “Ya, Syaikh ‘Abdur-Rahman memiliki beberapa kesalahan” – seperti Takfir, yang membolehkan banyaknya golongan dan partai, membagi Tauhidul-Hakimiyyah menjadi empat kategori yang terpisah dan mengutuk kesalahan-kesalahan ulama!

Tapi, dia tidak berhenti menjadi panutan dan guru, seperti yang anda tahu Turatsy, Salim an-Nashi mengatakan:“… dan saya kutipkan disini beberapa pidato yang tak ternilai harganya dari Syaikh kita ‘Abdur-Rahman ‘Abdul-Khaliq dari kitabnya yang ternama ( Al-Haddul-Faasil baiynal-Imaani wal-Kufr)…“.”

[Koran Al-Anba', Nomor: 13393, Tanggal: 20/2/2004]

Syaikh ‘Ubayd melanjutkan:

Kutipan:
Untuk beberapa tujuan mereka mengirimkan utusan dari Salafy dan juga dari Quthby atau dari yang lain. Jadi itulah Jama’ah yang mempunyai peran ganda dan juga bisa bermuka dua tentunya. Inilah taktik mereka untuk mencari kader dan pengikut.

Tetapi Jama’ah yang benar yang mengharuskan setiap muslim berada di jalan ini meskipun berada di daerah yang berlainan, adalah Jama’ah Salafy.
Jadi, Jama’ah Salafy, wahai anak-anakku, tidaklah didirikan oleh seseorang. Tidaklah juga didirikan oleh Muhammad Ibn ‘Abdul-Wahhab di Najd, atau sebelum dia Ibnul-Qoyyim, bahkan tidak pula Ibn Taimiyyah yang sebelum mereka, tidak juga Ahmad Ibn Hanbal, bukanlah Safi’iy, atau Malik ataupun Abu Hanifah, bahkan pengikutnya, tidak juga para Tabi’in dan mereka yang setelahnya, atau sebelum Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun ini dari Allah. Jadi Salafiyyah adalah agama (Islam, red) yang benar-benar murni, agama murni yang tidak mengambil dasar-dasarnya kecuali dari Kitab, Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan bersama) dari para Salafush-Shalih: pengikutnya, para Imam Tabi’in dan sesudahnya, seperti keempat imam tersebut, dan al-Auza’i juga dua Sufyan serta dua Hammad, dan yang lainnya. “

Sumber: TROID
Tanggal: Dzul-Qa’dah 1417 H

Aboo Sufyaan ‘Uthmaan Beecher
Kuwait
أبو سفيان عثمان بيشر الأمريكي

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
18-07-2006 @ 12:51 PM
Nama Pengirim : Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

SYAIKH MUHAMMAD BIN HADI AL-MADKHALI TENTANG MANHAJ AT-TURATS

Syaikh (DR.) Muhammad bin Hadi berkata:

Kutipan:
“Dan pertanyaannya demikian: Jam’iyyah Ihya’ at-Turats mempunyai upaya-upaya dalam hal dakwah di Mamlakah (Kerajaan Saudi, red) dan apakah yang anda ketahui tentang Jam’iyyah ini? Apakah Jam’iyyah ini dibangun atas dasar manhaj Salaf?” (Jawaban:) “Tidak, demi Allah! Jam’iyyah ini tidaklah berdasarkan atas manhaj Salaf! Demi Allah Jam’iyyah ini jelas-jelas dibangun berdasarkan manhaj Ikhwani. Dan para pengikutnya bermacam-macam. Dan mereka yang kami tahu berasal dari (at-Turats), tidaklah kami diperbolehkan untuk meninggalkan mereka (tanpa kecaman), disebabkan karena kondisi dari mereka yang memuji mereka (yang berprofesi sebagai murid), dari mereka terhadap mereka (at-Turats) yang telah memperindah diri mereka sendiri, sedangkan mereka (yang telah memujinya) tidak mengenali siapa mereka itu.
Sesungguhnya, Allah tidaklah memberikan beban/cobaan yang kita tidak tahu sedikitpun tentangnya dan Jam’iyyah ini adalah hizbi.
Dan mereka mempunyai Bai’at (sumpah setia) yang mereka beri nama “al-’Ahd” (sumpah) atau “Taa’tul Mas’ul” (kepatuhan terhadap pemimpin). Dan memperhatikan apa saja pendirian mereka (apa yang mereka ambil).
Kemanapun mereka pergi, di Negara Barat ataupun Timur yang merupakan dunia Islam bahkan di negara yang bukan Islam sekalipun, anda tidak akan menemukan kecuali mereka terpisah dengan para pengikut Salaf. Mereka tidaklah bergabung (dengan banyak orang) dan mereka sebenarnya hanya mendatangi majelis Salaf dan setelah itu terpisah darinya. Hal semacam ini (dapat terjadi) karena kekayaan yang ada pada diri mereka itu. Dan marilah kita memohon pada Allah untuk kebaikan mahluk-Nya dan perlindungan-Nya.
Dan sebenarnya sudah sering saya berbicara banyak tentang hal ini dalam setiap rekaman, saya sudah mengomentari mereka dalam dua rekaman saat di Kuwait. Jadi yang terpenting, ‘Abdur-Rahman ‘Abdul-Khaliq, dia itu tidaklah dikenal oleh kita bahkan oleh anda semua, dan dia adalah Syaikh mereka hingga saat ini bahkan mereka ingin memisahkannya dari kelompok mereka. Jadi marilah kita memohon pada Allah agar diberi kesempurnaan dan perlindungan. Dan perbincangan mengenai dia cukup lama tapi saya akan mencukupinya. Amin!”
Semoga Allah membalas Syaikh sesuai dengan amalnya.

Klik disini untuk mendengarkan suaranya :
http://www.sahab.net/sahab/showthread.php?s=1e1ae9dc45077abed7c6013a3e3cc7c0&threadid=327080
Aboo Sufyaan ‘Uthmaan Beecher
Kuwait
أبو سفيان عثمان بيشر الأمريكي

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
07-18-2006 @ 2:20 PM
Nama Pengirim : Abdulilah Rabah Lahmami (Al Madinah, S. Arabia)

Jazakallaahu khairan(Berkata Abdulilah Rabah Lahmami) : “Aku teringat akan Syaikh Muhammad al-Banna yang mengatakan bahwa kemanapun Jama’ah ini pergi, mereka memisahkan diri dengan Salafy. Dan pemimpin mereka, Abdurrahman Abdul Khaliq pergi menemui Muhammad al-Banna tapi Syaikh tidak mengizinkan dia untuk masuk ke dalam rumahnya hingga dia memperbaiki kesalahannya yang telah bekerjasama dengan kelompok yang salah dan berbicara yang tidak enak tentang Mashayikh seperti halnya Syaikh Rabi’ . Namun hingga saat ini dia belum juga memperbaiki kesalahannya.Kamu akan mendapati kalau dakwah Ihya’ at-Turats, Ahlul Hadits UK, dan Ikhwani itu semua bekerjasama satu sama lain atas dasar Ishlah yang dapat membawa kemashalatan. Meskipun diantara mereka sendiri banyak sekali ditemukan beragam kesalahan. Masing-masing dari mereka berkecimpung dalam dunia politik yang sudah menjerumuskan banyak anak muda seperti apa yang telah dikatakan oleh Syaikh Ubayd. Mengenai Ihya’ Turats, kami sudah dinasehati oleh Syaikh Ubayd al-Jabiri, Syaikh Rabi’, Syaikh Muhammad al-Banna, Syaikh Muhammad ibn Hadi (dan) dari para Masyayikh di Kuwait yang sudah mengenali mereka dari pertama kalinya, seperti Syaikh Falah Islail, Syaikh Muhammad al-Anjari dan Masyayikh lainnya untuk meninggalkan mereka dan tidak bekerjasama dengan mereka. Mereka telah membawa yang Haq beserta bukti-bukti yang jelas mengenai kelompok yang berdasar atas pemahaman yang salah ini. Semoga Allah menunjukkan kita semua kepada jalan yang lurus, amin.قال تعالى:{إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون}
قال الشيخ السعدي - رحمه الله - في تفسيره (3/31): ” فلا يحرف محرف معنى من معانيه( القرآن ) إلا وقيض  الله له من يبين الحق المبين وهذا من أعظم آيات الله ونعمه على عباده المؤمنين“.___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
18-07-2006 @ 10:59 PM
Nama Pengirim : spubs.com Salafi Publications Birmingham (UK)

MARKAS PUSAT JAMIAT AHLI-HADITS UK DENGAN JELAS MENYATAKAN BAHWA MEREKA BERSAMA DENGAN JAM’IYYAH IHYA TURATS AL-ISLAMI KUWAIT DALAM HAL MANHAJ DAN AQIDAH

Dalam sebuah wawancara dengan Majalah al-Furqan dalam bahasa Arab, Syuaib Ahmad dari ‘Jamiat Ahl-i-Hadits’ mengatakan bahwasanya merupakan sebuah keharusan untuk bekerjasama dengan Jam’iyyah Ihya Turats Al-Islami dan bahwa manhaj dan aqidah keduanya itu sama! Ihya’ Turats’ dan Abdur-Rahman Abdul-Khaliq sudah ditentang oleh banyak penuntut ilmu dan para Syaikh seperti halnya Syaikh Muqbil bin Hadi, Syaikh ‘Ubayd Al-Jabiri, Syaikh Ahmad Subaa’i, Syaikh Muhammad bin Hadi, Syaikh Falah bin Isma’il, Syaikh Yahya Al-Hajuri, Syaikh Muhammad al-Anjari, Syaikh Muhammad al-Wasabi, dan yang lainnya. Beberapa dari rekaman dan artikelnya tersedia di penerbit Salafi. Dan bukti-bukti tentang kesalahan mereka itu sangatlah banyak seperti yang sudah disebutkan oleh saudara-saudara kita diatas dan memang benar kalau para Salafy itu mempunyai bukti dan kebenaran yang jelas.Seseorang menemui Syaikh Falah bin Isma’il di Birmingham mengenai kelompok tersebut dan berkata:”Kelompok ini (seperti Ihya’ at-Turats, Ahli-Hadits UK) tidaklah menyimpang karena mereka mempunyai link (hubungan-pent.) dengan banyak penuntut ilmu Salaf!” Syaikh (Falah bin Isma’il) menjawab (dengan singkat): “Mengapa anda tidak juga mengatakan bahwasanya kelompok ini juga mempunyai link, konferensi, kuliah-kuliah, diskusi panel dan masih banyak lagi dengan para ahlul-bid’ah, dengan Syi’ah, dengan Rafidhah, dengan para pemuja golongan Sufi, dengan Ikhwanul Muslimin, dengan Quthbiyyun, dan dengan orang-orang dari ideologi politik yang menyimpang, serta para penganut Marxisme dan penganut aliran yang lainnya?! Mengapa anda mengelak untuk menyatakan hal itu? Apakah mereka salah jika mereka itu berbuat seperti itu juga?” Saudara kita menjawab: “Ya tentunya begitu” Sehingga Syaikh-pun menanggapi dengan mengatakan, “Jadi, dimanakah keinginan mereka untuk mengikuti Sunnah dan kecintaan mereka terhadapnya serta kesetiaan mereka?!”Bukti kesamaaan Manhaj antara ‘Jamiat Ahli-Hadits’ dengan Jam’iyyah Ihya Turats Al-Islami yang tercantum di Majalah Al Furqan Kuwait (Lihat ‘Deviation’ Penyimpangan No.6), klik:http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=9&Topic=3384___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
22-07-2006 @ 10:31 AM
Nama Pengirim : Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

JAM’IYYAH IHYA’ AT-TURATS & AHLUL-BID’AH
AT-TURATS TENTANG SYAIKH MEREKA, ‘ABDUR-RAHMAN ‘ABDUL KHALIQ

Syaikh Muhammad bin Hadi menyebutkan tentang apa yang kami cantumkan sebelumnya:Kutipan:
“Jadi pada intinya, ‘Abdur-Rahman ‘Abdul-Khaliq, dia itu tidaklah dikenal oleh kita bahkan oleh anda semua. Dan dia adalah Syaikh mereka hingga saat ini bahkan mereka mencoba untuk menjauhkannya dari golongan mereka sendiri.” (Abu Sufyan Utsman Becher berkata) : “Jika kita amati tindakan dan perkataan mereka yang memegang teguh golongan Jam’iyyah ini, kita akan menemukan bahwa apa yang disebutkan oleh Syaikh di atas sudahlah jelas, seperti yang bisa diamati dari perkataan mereka sendiri…” : “…dan saya kutipkan disini beberapa perkataan penting dari Syaikh kita ‘Abdur-Rahman ‘Abdul-Khaliq dari bukunya yang terkenal Al-Haddul-faasil bainal-imaani wal-kufr…”
Pembicara: Salim an-Nasyi
Sumber: Koran Al-Anba’

Nomor
: 13393
Tanggal: 20/2/2004

Kutipan:
“… dan kami belum menyaksikan permintaan maaf dari Dr. Muhammad Sulaiman al-Ashqar berkenaan dengan apa yang tidak sengaja dia ungkapkan mengenai rekannya yang terhormat Abu Bakrah ats-Tsaqqafi, seorang budak yang dimerdekakan oleh Rasul Allah, walaupun dari apa yang sudah tersebar luas dari penyangkalan Syaikh ‘Abdur-Rahman ‘Abdul-Khaliq dan saudara Ahmad al-Fahd [seorang Sururi di Kuwait]….”

Pembicara : Dr. Mubarak Saif al-Hajiri (Syari’ah, Universitas Kuwait)
Sumber: Koran Al-Watan
Nomor: 10180/4626
Tanggal: 8/6/2004

Catatan * diambil dari Talkhisul-Fikrah bi-Takhlisi-Sahabi-jalili Abi Bakrah karangan ‘Ali Hasan ‘Abdul-Hamid (halaman 83) dan kutipannya bisa dilihat dari apa yang sudah dia cantumkan di footnote.

AT-TURATS TENTANG MUHAMMAD SURURKutipan:

“Syaikh Muhammad Zainul-’Abidin adalah salah seorang yang berasal dari da’I yang telah membuat perjanjian mereka diantara mereka sendiri untuk mengadopsi urusan-urusan Ummat beserta pembelaannya…”

Pembicara : Majalah Al-Furqan – sebuah diskusi dengan “Syaikh” Muhammad Surur
Sumber: Al-Furqan
Nomor: 29, hal 8
Tanggal: 1992

(Abu Sufyan Utsman Becher berkata) : *Muhammad Surur adalah orang yang sama yang mengatakan bahwa “Buku-buku Salaf itu tidak berarti apa-apa karena memang tidak lebih dari sekedar nusuus (teks dari Al-Qur’an dan Sunnah)…”. Syaikh Muhammad Aman sudah terbiasa menyangkal pendapatnya di dalam darusnya mengenai pernyataan ini. Dan dengan ini dia sudah mengadopsi “urusan-urusan Ummah beserta pertahanannya”!?

AT-TURATS MENGENAI SANG AHLI BID’AH YANG MENYIMPANG, AHMAD YASIN

Kutipan:

“Sebenarnya Syaikh Ahmad Yasin, pendiri pergerakan Hamas, adalah seorang pemberani, sosok pemimpin dari kalangan muslim. Dia mampu mengobarkan semangat jihad diantara warga Palestina.”

Pembicara:  Muhammad ad-Du’aij
Sumber: Majalah Al-Furqan
Nomor: 288
Tanggal: 12/4/2004

Kutipan:

“Jadi keberanian dari Sharon si kriminal itu dalam kasus pembunuhan Syaikh dari mujahidin Ahmad Yasin

Pembicara :  Wa’il al-Hasawi
Sumber: Ar-Ra’iyy al-’Aam
Nomor: 13427
Tanggal: 25/2/2004

AT-TURATS MENGENAI SAYYID QUTHB

Kutipan:

“Hingga saat sekarang ini Sayyid Qutb, dia itu benar-benar mempunyai semangat yang besar untuk menyampaikan tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dasarnya dari setiap surat sebelum memulainya dalam tafsir yang ada dalam kitabnya Fi Zhilaalil-Qur’an”

Pembicara : Adnan ‘Abdul-Qadir
Sumber: Mukhtasar min nathril-maasi wad-darari fi Turuqil-bahthi ‘an muqaasidis-Suwar
Halaman: 6-7
Tahun: 2004

(Abu Sufyan Utsman Becher berkata) : *Asy-Syaikh, al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin berkata:  “Saya membaca tafsirnya dari kitab Fi Zhilaalil-Qur’an karangan Sayyid Qutb tentang Surat Al-Ikhlas, dan sebenarnya dia itu memiliki pernyataan yang bagus tentangnya, namun sangatlah bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Sesungguhnya tafsirnya tentang hal tersebut membuktikan bahwa dia berbicara dengan Wahdatul-Wujud.” [Majalah Ad-Da'wah, #1591, Muharram 1418. Kemudian Syaikh menandatanganinya dengan tanggal 24/2/1421H]

AT-TURATS TENTANG YUSUF AL-QARADHAWI

Kutipan:

“Kami sangatlah berterima kasih atas surat yang anda kirimkan dan kami berharap komunikasi kita akan terus berlanjut mengenai perjanjian dengan bangsa Yahudi yang sudah diterbitkan dalam majalah Al-Muslimun dan tanggapan dari Syaikh Yusuf al-Qaradhawi yang sudah diterbitkan dalam majalah Al-Mujtama’. Sehingga kami berharap anda merujuk padanya…”

Pembicara :Majalah Al-Furqan
Sumber: Al-Furqan
Halaman: 59 dan 65
Tahun: 1995

(Abu Sufyan Utsman Becher berkata) : *Kedua majalah tersebut sebenarnya adalah majalah milik Ikhwani yang mana Turats menyarankan agar kita merujuk padanya!

Abu Sufyan Utsman Bisyir
Kuwait

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
23-07-2006 @ 10:53 AM
Nama Pengirim : Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

Kami sudah menambahkan beberapa pernyataan dan gambar-gambar yang berhubungan dengan Jam’iyyah ini tentang beberapa bagian yang sudah dimuat sebelumnya (seperti Turats dan Rafidah serta Turats dan Ikhwan) untuk keterangan lebih lanjut. Link gambar di cetak warna biru.

بارك الله فيكم

Abu Sufyan Utsman Bisyir
Kuwait

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
07-25-2006 @ 12:52 PM
Nama Pengirim : Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

Ada sebuah point penting yang perlu diklarifikasi, seperti apa yang sudah ditunjukkan oleh saudara-saudara kita mengenai apa yang telah di ebutkan oleh saudara kita Abdulilah yang mengatakan bahwasanya: Kutipan:

“Mengenai Ihya’ Turats, kami sudah pernah dinasehati oleh Syaikh Ubaid al-Jabiri, Syaikh Rabi’, Syaikh Muhammad al-Banna, Syaikh Muhammad ibn Hadi (dan) Masyayikh Kuwait yang sudah tahu tentang mereka dari pertama kalinya, seperti Syaikh Falah Ismail, Syaikh Muhammad al-Anjari dan Masyayikh lainnya agar meninggalkan mereka dan tidak boleh bekerjasama dengan mereka. Mereka telah membawa yang haq beserta bukti-bukti yang jelas mengenai kelompok yang berdasar atas pemahaman yang salah ini. “

Sekarang ini banyak sekali orang yang mungkin salah paham tentang apa yang diungkapkan oleh Abdulilah di atas dan menganggap bahwa “Masyayikh telah berbicara tentang Ihya’ at-Turats dan membawa bukti-bukti yang jelas untuk menentang mereka, jadi tidaklah perlu membicarakan mereka lagi.” Inilah diantara syubhat yang sudah ada dan tersebar luas, yang diantaranya (disini di Kuwait) sudah banyak tentang syubhat ini dan akhirnya tersebar begitu pesat dan mengatakan bahwa penyelisihan at-Turats hanyalah merupakan kesalahan dan bukanlah Bid’ah!!?? Dapatkah anda bayangkan bahkan dalam sekejap bahwa semua yang telah kita muat selama ini, Ihya’ at-Turats secara terang terangan mengkritik para pemimpin, mereka berpihak pada Syi’ah Rafidhah dan Ikhwanul-Mujrimin dan bekerja sama dengan mereka, mereka memuji para pemimpin bid’ah terbaik mereka saat sekarang ini (seperti Sayyid Qutb, Muhammad Surur, Ibn Laden dan al-Qaradhawi) dan mereka melanjutkan hubungan mereka dengan ‘Abdur-Rahman ‘Abdul-Khaliq (yang mana Syaikh Muqbil dan Syaikh Falah Isma’il menyatakannya sebagai mubtadi’), apakah semuanya ini merupakan kesalahan biasa??

Lalu, bagaimana tentang (tindakan Ihya’ at-Turats) memecah belah para pengikutnya dan mengambil alih pusat-pusat kegiatan mereka dengan metodologi “membagi dan menaklukkan” dan mengejar kekayaan?? Dan permintaan mereka untuk melakukan petisi dan protes? Apakah semua ini hanyalah kesalahan kecil semata ataukah pembaharuan-pembaharuan (bid’ah-bid’ah) mereka dimana Ulama yang mulia kita telah mengungkapkan dan memperingatkannya?! Bagaimana tentang perbuatan takfirnya terhadap para pemimpin, pembicaraan mereka yang kotor mengenai para Ulama Salaf dan keputusan mereka bahwa Syura merupakan bagian dari Islam? Semua itu kesalahan juga kan??

Begitu juga dengan banyaknya umat yang mengatakan bahwa “Masyayikh telah banyak berbicara tentang Ihya’ at-Turats dan telah membawa bukti-bukti yang jelas untuk menentang mereka, jadi tidak perlu lagi membicarakan mereka” dan syubhat ini dijawab sebagai berikut:

- Jam’iyyah Ihya’ at-Turats belum juga menghentikan kegiatan-kegiatannya hingga hari ini. Mereka terus menyebarluaskan buku-buku ‘Abdur-Rahman ‘Abdul-Khaliq keluar dari Kuwait, seperti di Sudan dimana Syaikh Muhammad al-’Anjari melihatnya sendiri kalau buku-buku itu mencapai setengah trailer banyaknya yang siap untuk didistribusikan! Lihat sajalah dari 10 berita terakhir di majalah Al-Furqan mereka dan anda akan tahu dengan jelas kalau tak satupun yang berubah dengan diri mereka!

- Jam’iyyah Ihya’ at-Turats sekarang ini membuka pusat-pusat kegiatan baru dan mengumpulkan anak-anak muda yang mereka incar di Qatar dan Oman. Baru-baru ini kami memberangkatkan saudara-saudara kami dari Oman ke Kuwait untuk meminta nasehat Syaikh al-’Anjari dan meminta klarifikasi mengenai Turats. Syaikh juga tidak lama kemudian pergi ke Qatar untuk mendatangi salah satu pusat-pusat mereka di sana dan mengklarifikasi tentang kabar tersebut. Jadi, Turats itu belumlah lenyap, begitupun dengan gerakan da’wah mereka! Melainkan mereka masih terus berusaha untuk menyebar ke daerah-daerah yang masih baru! Janganlah anda tertipu dengan orang-orang yang mengaku mengenali mereka. Tetapi, Turats juga masih mencari jalan bersusah payah untuk mengelak dari bukti-bukti yang sudah jelas menentang mereka dan berpura-pura kalau mereka memiliki pemahaman baru (seperti yang sekarang ini mereka menjauhkan diri dari ‘Abdur-Rahman ‘Abdul-Khaliq). Dan Turats masih rela menghabiskan jutaan uangnya tiap tahun untuk mengirimkan “du’at” mereka untuk melakukan dakwah .

- Kemudian, mereka memiliki Lajnah al-Khairiyyah yang berada di tempat-tempat yang berbeda. Contohnya saja Lajnah mereka untuk India yang mencakup India, Pakistan dan Bangladesh. Melalui Lajnah ini, Jam’iyyah Ihya’ at-Turats mendukung Ahlul-Hadits di India dan membangun pusat kegiatan mereka dan masjid-masjid serta menyokong banyak siswa, seperti yang pernah mereka lakukan di kota Malegaon. Seperti halnya tahun lalu, Tariq al-Esa, presiden Ihya’ at-Turats, pergi sendiri kesana guna menghadiri sebuah konferensi.

Mereka juga memiliki banyak hubungan di Sri Lanka yang sudah pernah kita ketahui sebelumnya. http://www.salafitalk.net/st/uploads/AH_FurqanIhyaTurath.jpg

- At-Turats juga memiliki Lajnah-lajnah untuk negara Australia, Amerika dan Eropa dan menyebarluaskan buku-buku mereka di beberapa negara ini. Mereka memiliki lebih dari 20 buku yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan (kebanyakan oleh Abdur Rahman ‘Abdul-Khaliq), dan lebih dari 50.000 yang sudah terjual dan didistribusikan. Dua tahun lalu, lajnah ini membawa Abu Muslimah ke Kuwait (Ya, Abu Muslimah dari East Orange, NJ, yang mana Syaikh Rabi’ menyebutnya sebagai pembohong dan hizbi!!)

- Dan tentunya mereka melakukan kegiatannya di Saudi Arabia, seperti menyediakan sejumlah $$$ (Fulus) untuk pelajar-pelajar yang miskin dan tidak mampu di Jam’iyyah di Madinah, tentunya anda akan mendapati beberapa diantara mereka yang tidak akan menentang Jam’iyyah ini dan tentunya tidak mau “merusak dan menentang darah daging sendiri”. Inilah cara mereka dalam menggunakan shadaqah yang mereka kumpulkan dari umat. Kami juga sudah mendengar dari beberapa pelajar Kuwait yang menuntut ilmu di al-Madinah bahkan lebih dari ini.

Dan masih banyak lagi yang bisa disebutkan.

Demikian juga, untuk menolak syubhat ini, kita perhatikan sikap Masyayikh Salafy kita yang tidak henti-hentinya menentang Jam’iyyah Ihya’ at Turats hingga hari ini!! Pembicaraan Syaikh Rabi’ yang memulainya sudah sejak lebih dari 6 bulan yang lalu. Syaikh ‘Ubaid dan Syaikh Muhammad bin Hadi melanjutkannya untuk menentang mereka. Syaikh Thariq as-Subay’i, Syaikh Falah Isma’il, Syaikh Ahmad as-Subay’i dan Syaikh al-’Anjari disini, di Kuwait meneruskan dakwah kepada para umat dan menegaskan tentang isu Turats terhadap pemuda Salafy bahwa kita (telah) menyaksikan betapa banyak dari saudara-saudara kita yang sudah meninggalkan mereka – semoga Allah melindungi mereka dan membalasnya dengan kebaikan. Namun, perlu diketahui bahwa peperangan antara yang Haq dan yang Batil belumlah berhenti sampai disini.

Yang mulia asy-Syaikh ‘Al-Allamah, al-Walid, Syaikh Rabi’ bin Hadi Hafidhahullah menyatakan dengan indah dalam kitabnya Raddu kullil-munkaraat wal-ahwaa’ wal-akhtaa’i manhajun shariih bahwasanya:

Kutipan:
“Sesungguhnya, perjuangan antara Al-Haq melawan kebatilan, juga kebenaran menghadapi kesesatan merupakan sesuatu yang sudah ada dan mengakar sejak zaman dulu dan tidak akan pernah bisa berakhir. Hal itu tidak akan pernah berhenti hingga detik ini dan tidak akan pernah berhenti sampai akhir masa!”

Kemudian, Syaikh melanjutkan bahwa menentang golongan dari orang-orang yang melakukan kebid’ahan (penambahan hal baru –pent.) adalah sebuah kewajiban, pernyataan dari para Salaf mengenai hal itu dan bagaimana orang-orang yang berjuang untuk menentangnya adalah seorang mujahid.

Syaikh Rabi’ berkata:

Kutipan:

“Dan merupakan sebuah kewajiban bagi umat untuk memukul dengan kepalan tangan yang keras terhadap orang-orang yang memiliki pemahaman yang baru dan kejahatan, mereka yang berjalan atas dasar sebuah kesesatan dan kejahatan, merekalah menyebabkan kehancuran umat dalam hal Dien (agama) dan dunia.”

Sesungguhnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengajari kita bagaimana memimpin dengan benar dan melarang cara jihad yang keliru. Sehingga Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Tak seorangpun dari kalangan Rasul yang diutus oleh Allah untuk suatu kaum sebelum aku kecuali dia mempunyai seseorang yang dijadikan sebagai tuntunan yang berpegang teguh terhadap Sunnah dan melakukan segala apa yang diperintahkannya. Kemudian, datanglah setelah mereka penerus yang mengatakan apa yang sebenarnya tidak pernah dilakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan (untuk dilakukan). Jadi, siapapun yang berusaha untuk menentang mereka dengan tangan mereka, merekalah golonganku dan siapa saja yang berusaha menentang mereka dengan lisan mereka, mereka termasuk golonganku dan tidaklah lebih baik dari itu meskipun hanya sekecil biji dari iman.” (HR
Muslim. Hal 80)

Dan dari Imam Yahya bin Yahya berkata: “Mempertahankan Sunnah itu lebih baik dari pada membunuh (musuh) dengan pedang.”

Dan Syaikhul-Islam Ibn Taimiyyah berkata: “Siapa saja yang menentang orang-orang yang mempunyai pemahaman yang baru (bid’ah), dia adalah seorang mujahid.”

Dan pemahaman yang sesat itu sudah ada di saat Rasulullah mengatakan bahwa: “Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan dan Nasrani akan terpecah menjadi 72 golongan dan golongan umat (Islam – pent.) akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu.” Mereka mengatakan: Siapakah itu wahai Rasulullah? Beliau berkata: “al-Jama’ah!”

Dan di lain riwayat yang tercantum dalam hadits: “Siapa saja yang mengikuti jalanku dan para shahabatku.”

Dan seperti yang beliau katakan:
“Kalian akan mengikuti jalan-jalan mereka yang datang sebelummu seperti halnya anak panah yang mengikuti anak panah yang lain, seandainya mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya anda akan memasukinya juga.” Kemudian:
Apakah mereka dari golongan Yahudi dan Nasrani, wahai Rasulullah? Beliau menjawah: “Ya.”
(Syaikh Rabi ) :  Begitu banyak yang berkonfrontasi dan menentang golongan-golongan mereka – individu dan jama’ah– para imam yang mempunyai petunjuk ke jalan yang lurus (jauh) dari kegelapan banyaknya pilihan dari Ummah ini. Sehingga mereka menentang kesesatan dan kesalahan pemahaman mereka. Jadi mereka (orang yang memiliki pemahaman bid’ah) tidaklah berasal dari kesalahpahaman ataupun dari keragu-raguan kecuali mereka menolaknya dan menegaskan kesalahannya, dan menegaskan apa yang Haq dengan sebuah klarifikasi yang sudah jelas dan mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah untuk menentukan kesalahan dari kesesatan dan kehancurannya serta menunjukkan yang Haq.

Dan sesungguhnya sikap dan jihad mereka dalam menolak penyimpangan dan menjelaskan kondisi orang-orangnya, dan penjelasan (betapa) jauhnya jarak penyelisihan ini dari tuntunan al-Kitab dan as-Sunnah, serta klarifikasi kepemimpinan dari penyelisihan ini serta kepemimpinan orang-orangnya yang menyatakan bahwa merekalah yang mempunyai pemahaman yang baru dan yang membuat pengingkaran atasnya juga telah direkam.

Sungguhpun apa yang mereka perbuat dengan klarifikasi ini berdasar atas nasehat terhadap Allah dan Kitabnya serta Rasulnya dan para pemimpin dari kalangan Muslim juga orang awam, dan perlindungan dari agama mereka di dalam kitab yang tak terhitung jumlahnya, apakah dalam ruang lingkup ‘Aqidah, seperti yang ada dalam kita ‘Aqa’id atau Ahkam, ataupun dalam kitab-kitab Fiqh dan penjelasan dari Hadits, serta periwayatan dalam menyampaikan Sunnah Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam seperti halnya dalam kitab Rijal dan ‘Illat dan kitab-kitab lainnya yang tak terhingga jumlahnya.

Dan mungkin mengenai satu kesalahan dari 10 Imam yang berbicara tentang kesalahan aqidah misalnya, dan riwayat (hadits) dari 10 Imam. Dan mungkin saja seorang Imam akan memiliki 10 macam pendapat dan seorang dari Ulama akan menentangnya. Sehingga dia akan membantah mereka satu per satu dengan bukti-bukti yang jelas.” ( halaman 24-27)

Dan Syaikh berkata:

Kutipan:

“Dan mungkin saja sebuah kelompok akan memiliki 10 macam pendapat-pendapat baru, sehingga salah satu dari Ulama akan menentang mereka dan menuntaskannya hingga tak satupun dari mereka yang tersisa. Dan mungkin juga banyak dari para Ulama yang akan menentangnya, masing-masing dari mereka akan berusaha keras untuk membantah kesalahan pemahaman mereka, dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya.” (halaman 28)

(Berkata Abu Sufyan Becher) : Jadi benar-benar perhatikanlah manhaj Ahlus-Sunnah, ikhwan! Coba perhatikan bagaimana mereka berusaha untuk menegakkan yang Haq dan menumpas yang batil selain nasehat kepada Allah dan agamaNya! Dan perhatikan dengan baik para Masyayikh yang menolak dengan membicarakan orang-orang yang memiliki pemahaman-pemahaman baru, Turats dan yang lainnya itu, berdasarkan atas bentuk syubhat-syubhat ini. Apakah ini manhaj kita, yang dengannya (kita) harus berdiam diri dan membiarkan mereka melanjutkan ajarannya dengan pemahaman yang salah?!

Demi Allah, ya ikhwan, perang antara yang Haq dan yang Batil belumlah berakhir!!

Jadi anda akan menemukan Salafy yang terus menentang (sebagaimana halnya) Jam’iyyah at-Turats dengan bukti-bukti yang jelas karena salah satu fitnah terbesar yang kita hadapi saat ini adalah percampuran antara kesalahan dan bid’ah dengan Sunnah.

Inilah apa yang ada pada diri kita dengan jalan terus berusaha untuk mengklarifikasi syubhat-syubhat ini dan berharap semuanya akan jelas, dan semua keberhasilan berasal dari Allah.

Kita memohon pada Allah agar menguatkan kita dalam menegakkan kebenaran dan memberikan perlindungan serta menjadikan kita golongan Mujahidin yang membela agama-Nya, juga supaya melindungi kita dari fitnah syubhat ini dan dari mereka yang menyebarkannya.

Al-Hafidh Ibn Thahir al-Maqdisi berkata, ” Saya mendengar Imam, Abu Isma’il ‘Abdullah bin Muhammad al-Ansaari saat beliau berada di Harah berkata:

“Pedang yang ditebaskan ke leherku 5 kali (dan tiap kali darinya) tidaklah berarti apa-apa, ‘Tinggalkanlah madhzab’ ini yang sebenarnya aku takutkan, ‘Tetaplah diam terhadap mereka yang menentang anda ‘. Sehingga aku katakan, ‘Aku tidak akan tinggal diam’.”

[Adab us-Syari'ah (1/207) oleh Ibn Muflih]

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
27-07-2006 @ 7:02 PM
Nama Pengirim : Spubs.com Salafi Publications Birmingham (UK)

ADNAN ABDUL-QADIR DI BIRMINGHAM – BERGELIMANG KESUSAHAN?

Adnan Abdul-Qadir yang bertugas di Birmingham minggu ini sedang dipromosikan dan menjadi tuan rumah oleh Markaz Jamiat Ahl-e-Hadits (Green Lane) dengan judul: “Bergelimang Kemewahan”. Di atas, saudara kita Abu Sufyan sudah mengutip tentang Adnan Abdul-Qadir:
AT-TURATS DENGAN SAYYID QUTHB

Kutipan:
“Sesungguhnya Sayyid Qutb, dia itu benar-benar ingin untuk menerangkan tujuan-tujuannya dan prinsip-prinsip dasarnya dari setiap surah sebelum memulai tafsirnya dalam kitabnya ‘Fi Zhilalil-Qur’an’”

Pembicara: Adnan ‘Abdul-Qadir
Sumber: ‘Mukhtasar min nathril-maasi wad-darari fee Turuqil-bahthi ‘an muqaasidis-Suwar’
Halaman: 6-7
Tahun: 2004

Jadi ini merupakan contoh lain dari sebuah aliansi kesesatan.
>>PENYIMPANGAN SAYYID QUTB<<
http://www.salafitalk.net/st/go.cfm?theurl=M%3FYB8C2%2F1%5D%2BJYB%5C4%2AB8F0%40%24%3D%5DR%20%26%5CZ%28%2A%3C0%2B%5E%23%24%3B6%3FR%3A%2E%2F%40YBPG0AS%3CX%5CPX8%40%2DJU%2AJ%5C%2FKO%40J5FPPT%29%5DD4F25J%2D%3C%24I%2B%23F%2A%3A%2E0H%2CNGXZJE413A%24J0M%23%278C8E%5E

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
27-07-2006 @ 7:02 PM
Nama Pengirim : Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

Berikut Contoh-contoh dari Majalah Al-Furqan, Majalah Jam’iyyah Ihya’ at-TuratsInilah sepuluh sampul terakhir dari Al-Furqan, majalah mingguan yang diterbitkan oleh AT-Turats. Apakah anda menemukannya pada manhaj Syaikh ‘Abdul-’Aziz bin Baaz, Syaikh Naasiruddin Al-Albany dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin?! Ataukah anda menemukan hal yang sama pada majalah Ikhwanul-Muslimin? (simak di http://www.al-forqan.com)
cover 4 cover 5 cover 6 cover 7 cover 8 cover 9 cover 10 ___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
02-08-2006 @ 1:27 PM
Nama Pengirim : Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

JAM’iYYAH IHYA’ AT-TURATS DAN ISU PALESTINA

Sungguhpun setiap orang akan menemukan bahwa setiap orang dari at-Turats menyukai untuk memberikan pendapat ketika mendengar isu Palestina mencuat ke permukaan, seperti yang akan kita saksikan إن شاء الله, namun sebelum mengemukakan pernyataan-pernyataan mereka, akan lebih baik, tanpa harus menceritakan sejarahnya, langsung menyebutkan beberapa fakta dasar tentang isu Palestina dan Intifadah (Pemberontakan): – Pemberontakan orang-orang Palestina, atau Intifadah, mulai berlangsung di awal Desember 1987. Dilaporkan bahwasanya seorang pemuda berkebangsaan Israel tewas ditikam oleh seorang warga Palestina, dan beberapa hari kemudian, 4 orang Palestina ditabrak oleh sebuah kendaraan bermotor dan terbunuh. Kejadian ini mengundang protes yang mana, seperti halnya protes yang kita ketahui, mengarah pada pertumpahan darah. – Hal ini terus berlanjut pada ketidakpuasan massa dari warga Palestina seiring dengan melonjaknya tingkat pengangguran, pertumbuhan penduduk yang sangat pesat dan kebiadaban bangsa Israel. Dengan demikian muncullah Intifadah yang pertama kalinya, sebuah pemberontakan massa menentang peranan Israel yang menduduki wilayah Palestina. Banyak protes dan kekacauan yang terus menjadi-jadi. Anak-anak kecil turun ke jalan seperti yang bisa kita saksikan melalui gambar dan TV, melempar batu (dan tak jarang melempar bom rakitan Molotov ) melawan pasukan tentara dan tank-tank Israel yang dipersenjatai lengkap. Kelompok Ihya’ at Turats terus menyuarakan diri mereka dengan sebutan “atfaal al-hijarah” dan terus mengumandangkan “ketidakgentaran dan keberanian” mereka. Bersamaan dengan itu mereka memiliki pertahanan yang dipersenjatai dengan cukup. Dimana Hamas (Ikhwan) dan Hizbush-Shaytan (Hizbullah, Rafidhah) muncul sebagai tim lawan terhadap PLO. – Intifadah yang pertama, dilaporkan bahwa mereka dari warga Palestina yang hidup diperkirakan mencapai 1.392 jiwa. Lebih dari 130.000 dilaporkan terluka dan 18.000 yang lainnya masih ditahan.- Pada Intifadah yang kedua, atau Intifaadatul-Aqsa, yang berlangsung di tahun 2000 ketika Ariel Sharon mengunjungi daerah Masjid al-Aqsa dengan dikawal oleh pasukan keamanan. Warga Palestina melakukan serangan dan protes yang ditujukan melalui West Bank di hari yang sama dan melalui wilayah-wilayah yang didiami sebagai satu kesatuan untuk hari-hari berikutnya. Keesokan harinya setelah kedatangan Sharon, setelah Sholat Juma’t, polisi dan beberapa warga Palestina terlibat baku hantam di luar Al-Aqsa. Israel mengerahkan polisi dan massa untuk mengontrol setiap unit di daerah-daerah tertentu untuk meredakan kekacauan. Beberapa warga Yahudi makin memperkeruh suasana dengan menyerang dan menyuarakan slogan-slogan anti-Arab. Pada tanggal 12 Oktober, dua orang warga cadangan Israel ditangkap oleh Palestinian Authority/PA ( Pihak yang berwenang – pent.) ketika mereka memasuki Ramalah. Kerumunan warga Palestina yang marah mendatangi kantor polisi dengan beramai-ramai dan menghantam mereka hingga tewas dan Israel menyerang balik dengan serangan udara. Dalam waktu enam hari pertama diperkirakan 61 warga Palestina tewas dan lebih dari 2500 yang terluka. Kejahatan merajalela dan banyak warga Palestina yang melakukan bom bunuh diri, yang target utamanya klub-klub malam, pasar dan stasiun bis, yang dikoordinasi oleh orang-orang yang membuat-buat pemahaman baru, seperti “Hamas” Ahmad Yasin dan “Jihad Islam”. Kelompok ini menyatakan bahwa tindakan mereka merupakan jihad dan menentang para preman.

- Partai Bulan Sabit Palestina memperkirakan bahwa hingga akhir dari peristiwa itu semua menelan korban sebanyak 30.000 jiwa dan banyak yang terluka di Intifadah yang kedua.Tentu saja orang-orang dari pergerakan politik dan partai ini menyatakan bahwa pemberontakan dan kerusuhan ini yang tujuannya untuk menentang Israel merupakan bentuk jihad, namun Ahlus-Sunnah tidak menganggap demikian, seperti yang disebutkan oleh imam Syaikh ‘Abdul-’Aziz bin Baaz  rahimahullah dalam fatwa yang terakhir beliau mengungkapkan tentang masalah ini sebelum sepeninggalnya, seperti halnya disaat Syaikh diminta untuk melakukan perjanjian damai antara Muslim dan Yahudi serta Kristen yang menyebutkan tentang kebenarannya dan hal ini merupakan kewajiban dari Waliul-Amr. Salah satu dari mereka yang hadir pada pertemuan itu mengatakan pada Syaikh rahimahullah : “Baiklah, seandainya Allah memaafkanmu, jikalau ada perdamaian dan kedamaian dengan perjanjian ini, ini tidak terelakkan lagi akan merusak dan menggagalkan jihad itu sendiri.” Kemudian Syaikh dengan tegas berkata:Kutipan:”Dimana arti Jihadnya, dimana Jihad itu?!!”Lain halnya dengan Syaikh Ibn ‘Utsaimin dan Syaikh al-Albani dengan jelas menyatakan bahwa sekarang ini tidak ada jihad.

Jihad tentunya akan tetap berlanjut hingga Hari Kebangkitan seperti yang diatakan oleh Rasulullah dalam (al-Bukhori dan Muslim) namun hal tersebut bisa dilakukan jika semua persyaratannya (syarat-syarat) sudah dapat dipenuhi. Karena hal itu juga memiliki syarat-syarat seperti halnya ibadah-ibadah yang lainnya, yang diantaranya: haruslah ada ijin dari para Waliyul Amr (pemimpin muslim) dan ijin dari kedua orang tua, memiliki kesanggupan melakukannya (Qudrah), dan tidak boleh ada pakta perjanjian dengan pihak musuh, dan mereka-mereka dari golongan muslim tidak boleh melawan mereka yang juga dari golongan muslim yang memiliki jaminan keamanan dan perlindungan dan haruslah ada perbedaan diantara golongan muslim dan mereka-mereka yang sebagai musuh. Ini merupakan jihad yang memaksa (Jihad at-Talib), disaat golongan muslim yakin akan berperang dengan orang-orang kafir di daerah yang mereka tempati. meskipun di lain hal juga dikenal apa yang disebut dengan Jihad bertahan (Jihad ad-Daf’), seperti yang sudah disebutkan oleh Syaikh ‘Ubayd dan Syaikh Shalih al-Fauzan, hal tersebut tetap harus memenuhi syarat kalau kita memiliki kesanggupan untuk melaksanakannya (Qudrah). Dalam situasi yang membuat golongan Muslim lemah dan tidak mampu mengusir pihak musuh dari daerah yang mereka diami, para Waliyul-Amr bisa melakukan pakta perjanjian dengan pihak musuh jika dia tahu bahwa hal tersebut akan memberikan manfaat pada golongan muslim, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pada Hudaibiyyah dengan kaum Musyrikin Makkah. Jadi jika ada yang mengatakan bahwa ada bentuk jihad di Palestina, bentuk jihad seperti apakah itu? Jika memang merupakan jihad yang memaksa maka seharusnya hal tersebut ada ijin dari para pemimpin muslim, tidaklah boleh ada pakta perjanjian dengan pihak musuh (dalam hal ini Israel), dan memiliki kesanggupan untuk melawan orang-orang Yahudi! Jika semua syarat-syarat ini belum bisa terpenuhi, maka tidaklah jihad ini diaangap sah. Dan jika “Jihad” yang mereka lakukan ini merupakan Jihad bertahan, dengan syaratnya yang mereka itu memiliki kesanggupan untuk mengusir musuh-musuh mereka. Apakah anak-anak melawan tentara yang menggunakan senjata, tank-tank, menyerbu helikopter dan pesawat tempur dianggap kalau sudah memiliki kesanggupan ?! Dan mereka melemparinya dengan batu. Rasulullah sudah melarang hal ini dan mengatakan: Kutipan:((Hal itu sebenarnya tidaklah bisa membunuh binatang pun apalagi merugikan di pihak musuh, semua hal itu hanyalah membuat mata kita keluar dan merontokkan gigi)) [Ibn Majah: menshahihkannya dalam riwayat Syaikh Al-Albani)Lantas ada berita lain yang merupakan aksi protes dan demonstrasi serta kerusuhan, yang kesemuanya itu sudah dilarang keras oleh para Ulama' Salafy kita. Syaikh Ibn Baaz berkomentar:Kutipan:
"Itulah diantara penyebab fitan (kesengsaraan) dan penyebab terjadinya kejahatan dan penyebab terjadinya pelanggaran hukum oleh beberapa umat'Dan Syaikh Ibn 'Utsaimin mengatakan:Kutipan:
"Sehingga janganlah kita mendukung segala bentuk dari aksi demonstrasi dan protes dan apa saja yang menyerupai dengan hal itu"
Klik disini untuk lebih dalam mengenai masalah protes dan demonstrasi-demonstrasi : http://www.salafipublications.com/sps/downloads/pdf/CAF020009.pdfTentunya masalah jihad ini memerlukan banyak pemikiran yang perlu dibahas. Mungkin saja di waktu mendatang masalah ini semua bisa didiskusikan lebih detil lagi. Tapi yang terpenting dalam hal ini yakni menunjukkan bagaimana posisi Ahlus-Sunnah mengenai Palestina, dan hal itu tidaklah harus dipahami dengan menggunakan nafsu dan emosi. Melainkan umat Muslim haruslah mengembalikannya pada Ulama yang lihai dalam menangani masalah-masalah seperti ini sehingga mereka berdasar atas basirah dan mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak semestinya. Namun, pada intinya dalam hal ini dapat menunjukkan bahwa Ihya' at-Turats al –Islami, sebuah organisasi yang menyatakan dirinya berpegang teguh pada sunnah dan menganggap dirinya sejalan dengan Syaikh 'Abdul-Aziz, Syaikh Ibn 'Uthaymin dan Syaikh Nasir (رحمهم الله), adalah suatu hal yang menyimpang dan sangatlah keliru, dan tidaklah diperkenankan bagi siapapun menganggap mereka itu adalah pembawa risalah kebenaran. Jadi simaklah apa yang sudah dijelaskan di atas tadi, dan tinjau ulang semua perkataan para pemimpin dan "mashayikh" dari Ihya' at-Turats dan perhatikan perbedaannya. و الله المستعان.

JAM'iYYAH IHYA' AT-TURATS DAN JIHAD DI PALESTINA

:Kutipan

"Jadi keberanian yang dimiliki Sharon si kriminal itu dalam kasus pembunuhan Syaikh mujahidin Ahmad Yasin bahwasanya mereka (warga Israel) meyakini bahwa mereka benar-benar telah mewujudkan mimpi mereka dalam menggagalkan semangat jihad dan banyak mengorbankan warga Palestina. Tapi sekarang yang perlu dipertanyakan yakni mengenai posisi dari kebanyakan warga Arab dan orang-orang Islam yang hanya bisa diam seperti di dalam kuburan saja, dan seakan-akan masalah ini tak berakibat apapun bagi mereka. Dan bahwasanya merupakan suatu kewajiban kita itu tidak boleh merasa lelah ataupun letih menangani masalah ini, posisi ini adalah sebenarnya hak mereka. Tapi dimungkinkan mereka hanya menunggu persetujuan resmi dari pemerintah Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sehingga mereka tidaklah bisa dituduh mendukung tindakan terorisme."

Pembicara : Wa'il al-Hasawi
Sumber: Koran Ar-Ra'iyy al-'Aam

Nomor
: 13427

Kutipan:

"Pertanyaan: Apa pendapat anda mengenari pemberontakan (intifadah) yang terjadi di Palestina?"

Jawaban: Intifadah (pemberontakan) merupakan hak yang harus disetujui sebelumnya. Jadi jihad orang-orang muslim menentang warga Yahudi, baik dalam bentuk Intifadah ataupun dalam bentuk jihad, ini bukan hanya sebuah tindakan yang benar, namun merupakan kewajiban bagi seluruh Ummat Islam untuk membantunya."Pembicara : 'Umar al-Ashqar
Sumber: Majalah Al-Furqan
Nomor
: 143, hal 3
Tanggal
: 7/5/2001
Kutipan:

"Ada dua bentuk Jihad: Jihad at-Talib, dan apa yang sudah kita kenal dengan perang yang sifatnya menyerang, dan yang kedua yaitu Jihad ad-Daf, dan yang kita mengenalnya dengan sebutan perang perdamaian, dan yang demikian ini menolak adanya tindakan memaksa, seperti halnya yang terjadi di Palestina."

Pembicara : Khaalid Sultan al-'iesa
Sumber: Koran Ar-Ra'iyy al-'Aam

Tanggal
: 20/2/2004 Kutipan:

"Sesungguhnya negosiasi yang terjadi diantara pihak yang berwenang dari warga Palestina dengan pemerintahan kaum Yahudi tidaklah sedikitpun bisa membuat perdamaian di Palestina. Dan apa yang dilakukan secara paksa tidaklah akan mungkin bisa dikembalikan kecuali dengan jalan Jihad di atas jalan Allah. Sebenarnya memerdekaan warga Al-Quds dibandingkan dengan pembebasan warga Palestina merupakan suatu kewajiban bagi semua warga muslim, dan tak seorangpun yang mempunyai hak untuk mencampuri daerah orang Muslim walaupun hanya sejengkal atau bahkan merusaknya."

Pembicara : Thariq al-'Isa, Presiden Jam'iyyah Ihya' at-Turats
Sumber: Al-Furqan
Nomor: 127, hal. 41
Tahun: 2000

Kutipan:

" Al-Aqsa adalah suatu alasan untuk melakukan pemberontakan (intifadah) {intifadah yang kedua} dan mujahidun di Palestina sedang melawan semua bentuk kekerasan atas ajaran Islam"

Pembicara : Fahd al-Khannah
Sumber: Al-Furqan
Nomor: 127, hal. 41
Tahun: 2000

NASEHAT AT-TURATS TERHADAP SEMUA WARGA PALESTINA

Kutipan:

"Sebenarnya apa yang menjadi kebutuhan bagi semua warga Palestina saat ini hanyalah penyatuan dengan semua golongan dan pergerakan yang mengatasnamakan Islam"

Pembicara : Dr. Nassir Farid
Sumber: Al-Furqan
Nomor: 178, hal. 3
Tahun: 2002

*Jadi pada intinya at-Turats hanyalah berusaha untuk mengekang semua warga Palestina agar mereka semua mengikuti golongan Syi'ah Hisbusy-Syaitan (mereka yang mengikuti Khomeini dan semua yang mempunyai link dan didanai oleh Iran), juga golongan Khariji/Ikhwani yang mengatasnamakan Jihad serta golongan yang sudah kita kenal yakni siapa lagi kalau bukan Hamas.  (Simak disini untuk mengetahui tentang Hamas http://www.geocities.com/turaath.bidah/khaalidmishaal_khomeini dan disini http://www.mehrnews.com/en/NewsDetail.aspx?NewsID=294306)

Boikot orang Kafir!!

Kutipan:

"Dan ini semua berlaku untuk mereka, bahwasanya mereka melakukan segala cara untuk melemahkan kekuatan orang kafir. Jadi mereka memerasnya saja dan tidak pernah memberikan bayaran apalagi sebagai seorang yang diaanggap ahli. Dan ini merupakan kewajiban bagi semua golongan Muslim, untuk memboikot orang-orang Kafir dengan menolak segala bentuk kerjasama dengan mereka dan tidak sekali-kali menggunakan produk-produk milik mereka"

Pembicara : 'Abdullah bin Jibrin
Sumber: Al-Furqan, majalah Ihyaa' at-Turats
Nomor: 133, hal. 9
Tanggal: 19/2/2001

*Sebagai acuan, dengarkanlah rekaman dari Syaikh 'Ubayd di http://www.salafiaudio.com/ untuk mengetahui lebih jelasnya bahwa pemboikotan itu adalah cara pandang golongan Syi'ah dan bukanlah dari Ahlus-Sunnah!

JAM'IYYAH IHYA' AT-TURATS DAN KESYAHIDAN

Kutipan:

"Dan sebenarnya gelar seorang pahlawan Intifadah sudah bisa diketahui dengan jelas. Dan warga Palestina sudah mempunyai gelar syahid ini sejak 1850."

Pembicara : 'Abdur-Rahman Abu 'Auf
Sumber: Al-Furqan
Nomor: 216, hal. 16-17
Tahun: 2002

Kutipan:

"Sebenarnya tindakan ini merupakan sebuah bentuk kesyahidan dan bukanlah tindakan bunuh diri. Dan tidaklah saya berani mengklaim bahwa ini merupakan tindakan bunuh diri dimana saya sekarang utusan dari Kerajaan Saudi Arabia…Kami menyebut mereka sebagai istisyhadiyin seperti apa yang sudah mereka dapatkan saat ini ."

Pembicara : Shalih as-Sadlan
Sumber: Al-Furqan
Nomor: 196, hal. 3
Tahun: 2002

Yang mulia Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin pernah ditanya:

"Apakah boleh kita menggunakan istilah "syahid" khusus hanya buat seseorang dan atau dengan sebutah: "yang syahid, dan seterusnya dan seterusnya'?"

Syaikh menjawabnya seraya berkata:

Kutipan:

"Tidaklah dibenarkan kita itu menilai seseorang dengan menyebutkannya sebagai seorang yang syahid, walaupun dia itu mati dalam keadaan membela kebenaran, oleh karenanya kita tidak boleh menyebutnya "yang demikian dan seterusnya sebagai seorang yang syahid". Dan ini memang sangatlah bertentangan dengan apa yang selama ini ada dalam masyarakat, mereka dengan leluasanya menamai dan memberikan gelar bagi siapa yang meninggal, bahkan seringkali mereka yang meninggal dalam keadaaan jahiliyyah, mereka menamai mereka 'syahid'. Ini merupakan tindakan yang sifatnya haram karena dengan mengucapkan syahid terhadap seseorang yang terbunuh dia anggap sebagai sebuah kesaksian terhadap orang yang mati tersebut dan akan dimintai pertanggung-jawaban nanti di Hari Kebangkitan. Kita nanti akan ditanya: "Apakah anda tahu bahwa dia itu mati dalam keadaan syahid?" Rasulullah juga pernah bersabda:
(Tak seorangpun yang terluka di jalan Allah, dan Allah itu lebih tahu siapa saja yang rela di jalanNya, melainkan dia akan datang di Hari Kebangkitan dan darah dari lukanya itu akan merembes, warnanya akan menjadi warna darah, dan baunya akan seperti parfum).

Jadi memperhatikan apa yang disabdakan oleh baginda Rasul (bahwa Allah lebih tahu siapa yang rela berkorban di jalannya) (dalam hadits): itu berarti dia memang benar-benar terluka.

Jadi bagi semua orang, meskipun mereka dalam keadaan berjuang, Allah-lah yang tahu segalanya, yang tahu semua yang tersimpan di lubuk hati kita masing-masing yang terkadang tidak sesuai dengan apa yang semestinya dikerjakan. Dalam Shahih Bukhari, bahwasanya: (Bab: tidaklah dikatakan yang demikian itu sebagai syahid}, karena kalimat shahadah itu letaknya ada didalam hati. Tak seorang pun yang tahu apa yang ada dalam hati kecuali Allah semata."

Lihat Al-Fatawa Syaikh Ibn 'Utsaimin

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
08-03-2006 @ 10:40 AM
Nama Pengirim : Abu Sufyaan 'Utsmaan bin William Beecher

AT-TURATS DAN KRISIS TERKINI DI LIBANON (PEMIMPIN IHYA' AT-TURATS DUKUNG HIZBULLAH AR-RAFIDHI!!!)

Kutipan:Dari Kuwait Times, Hari Rabu, 2 Agustus 2006
Warga Kuwait mengecam 'Wilayah Timur Tengah' kekuasaan Amerika
Oleh Ahmad Al-Khalid

Kuwait: Lebih dari 500 orang berbondong-bondong di Shahara Sahafa (Jalan sepanjang kantor pos) kemarin, mendukung warga Lebanon untuk tetap bertahan terhadap agresi warga Israel dan mencela visi Amerika tentang 'Wilayah Timur Tengah yang Baru'. Kerap kali mereka menyuarakan "Matilah Amerika!", Amerika Gembong Setan dan juga "Matilah Israel!" terkadang juga terdengar . "Kita melaporkan ke kedutaan Amerika dan Inggris di Kuwait bahwa mereka semua tidaklah diinginkan dan tidaklah disambut hangat di daerah kita, khususnya saat-saat bulan Ramadhan, "Seorang pembicara mengatakan pada kerumunan orang untuk mengatakan "Kita adalah Hizbullah" dan "ENYAHKAN, ENYAHKAN AMERIKA".

Para demonstran mengumpulkan 3000 tanda tangan dari warga Kuwait dalam rangka mendukung untuk penghentian serangan terhadap warga tawanan Israel di Lebanon, yang sudah dikirim ke semua negara yang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan beberapa agensi kemanusiaan internasional. "Apa yang sedang terjadi di Lebanon bukanlah sebuah kejahatan – itu merupakan kejahatan yang menentang kemanusiaan," Ayad Al-Mina, seorang wartawan Kuwait mengatakan pada warga. "Bubarkan kedutaan Amerika" terlihat dengan logo "PBB" dan "Liga Arab" yang menggambarkan ketidakpercayaan terhadap kedua belah pihak dalam mengatasi konflik yang berkecamuk di Timur Tengah. "Merupakan kesalahan kalau kita menamai ini Perang warga Israel namun ini adalah perang warga Israel-Amerika," Ahmed Al-DIyan, seorang pelajar berkewarganegaraan Kuwait dan juga seorang penulis. "PBB adalah merupakan bagian dari Pemerintahan Amerika," tambahnya.

Para demonstran yang turun ke jalan itu mengecam kebijakan Amerika Serikat terhadap Kuwait, seorang wartawan bernama Mustafa Behbani mengatakan:" Tujuan gerakan Zionis Amerika adalah untuk menguasai wilayah itu dan siapapun yang menentang akan disingkirkan." Behbanni meminta aparatur negara untuk melakukan tindakan hukum terhadap kejahatan yang diperbuat oleh Israel.

Fahaid Al-Helim seorang wartawan dan pemimpin pergerakan politik Salafy (sebuah partai politik milik Sunni) [yang dikenal dengan Jam'iyyah Ihya' at-Turats] mengatakan: “Ini adalah perang melawan Islam dan Muslim! Jika kedua pondasi ini runtuh, semua hal yang berhubungan dengan Amerika Serikat akan musnah!!

“Amerika Serikat menginginkan negara-negara Islam agar selalu menerima apa katanya – karena sebenarnya tantangan mereka yang terbesar yakni daya tahan orang Islam yang selalu ada namun mereka menginginkan tidak demikian. Mereka itu ingin menghancurkan pertahanan kita. Jadi bertahanlah – jika mereka kalah berarti kekalahan buat kita semuanya. Dukunglah mereka dengan kata-kata, uang dan apa saja yang anda punyai,” Al-Mina menegaskan. “Mereka (Amerika Serikat) ingin menghancurkan pertahanan kita,” ucap Al-Diyan. Menanggapi pernyataan ‘Timur Tengah yang Baru’ oleh Amerika, dia berkata: “Timur Tengah yang Baru ini akan berisi negara-negara kecil yang dibangun atas dasar etnis dan golongan namun tidak mempunyai kerelaan hati.” “Dukungan Amerika Serikat terhadap Israel lebih mengarah pada hal yang berupa tindakan ekstrim dan kebencian kepada Amerika sendiri,” Al-Mina tambahnya.

Abdullah Al-Najada, seorang kerabat dari Syi’ah yang disegani mencela konferensi press. “Ada beberapa agen (Amerika dan Israel) leluasa berkonferensi press secara bebas,” tudingnya. Semua orang dari Syi’ah menanggapinya dengan yel-yel “Kematian buat para penghianat!”. “Kematian buat Antek-Anteknya!” dan “Kematian buat pasukan bayarannya!” Tidaklah ada golongan Sunni, Syi’ah – yang ada hanyalah Muslim,” ujar dari Al-Heliem. “Dan dengan pertarungan kita dengan Israel, kita memiliki rasa Nasionalisme untuk Arab (yang sebenarnya sudah mati) – pernah kita menolak Islam, dan kita kehilangan segalanya” tambahnya , meminta pihak press Kuwait untuk mendukung Lebanon. Asosiasi Wartawan Kuwait juga meminta dengan sangat kepada press kemaren untuk mengungkap kekejaman dan kejahatan yang dilakukan warga Israel. Lihat Artikel tersebut di sini
http://www.kuwaittimes.net/Navariednews.asp?dismode=article&artid=884227409
(Al-Akh Abu Sufyan Utsman Bisyir ketika berkata) : *Sekali lagi kita menyaksikan betapa pemimpin dari Jam’iyah Bid’iyah ini telah melibatkan diri dalam tindakan protes memprotes (yang hukumnya sudah kita bahas sebelum ini) dan bekerja sama dengan mereka yang jelas-jelas menentang baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka tak lain adalah Rafidah Syi’ah [dengan kata lain Hizbullah]!! Apakah dia itu pernah sejenak berpikir bahwa sebenarnya Hizbullah-lah yang menyebabkan terjadinya pembunuhan setiap harinya di Lebanon. Dan memang benar, mentang-mentang mengumumkan untuk turun ke jalan menentang kejahatan di Lebanon, emangnya menentang siapa??? HIZBULLAH!!

Jadi disinilah kita lihat para pengikut at-Turats, dan tidak hanya dari kelas teri saja, tapi pemimpin politik dari at-Turats Harakatus-Salafiyyah, di kerumunan orang mengumandangkan, “Kita adalah Hizbullah! ” Dan dengan beraninya dia mengatakan:

Kutipan: “Tidaklah ada dari golongan Sunni, Syi’ah – yang ada hanyalah Muslim”

Kemarin, salah seorang saudara kita menunjukkan video klip Hasan Nasrullah, seorang pemimpin Hizbullah yang mengutuk yang terhormat Shahabi Abu Sufyan –radhiyallahu ‘anhu- dan menuduhnya melakukan kemunafikan dan menentang risalah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam– dalam sebuah pertemuan kuliah http://www.youtube.com/watch?v=qy8oKEhPIPc.

Bagaimana bisa seseorang yang menganggap dirinya berasal dari golongan Islam dan mengatakan mencintai Rasulullah dan Sunnahnya bisa memperdengarkan perkataaan yang najis itu dan tidak merasa muak?!! Tentunya tidak bagi anda yang dari Thariq as-Suwaidan. Namun bagaimana kalau turun ke jalan dengan mereka dan mengatakan seperti apa yang dikatakan olehnya?

Tapi yang pasti, perkataan semacam ini tidaklah berarti apa-apa, khususnya kalau kita mau melihat judul dari sebuah artikel karangan MP terbesar at-Turats, Dr. Walid at-Tabtaba’i, di halaman depan dari Koran Al-Watn milik warga Kuwait:

Kutipan:”Saya adalah orang Sunni… dan saya mencintai Syi’ah”

Dan ini hanyalah sekedar dari judulnya saja! Simaklahlah sebuah contoh dari apa yang dia tulis dalam artikelnya:

Kutipan:”…jadi aku berteriak dan kukatakan: ‘Aku adalah orang Sunni dan aku mencintai Syi’ah!’, dan biarlah setiap orang dari golongan Syi’ah berteriak dan menyuarakan: ‘Aku adalah golongan Syi’ah dan juga mencintai Sunni!”. Dan sebaiknya kita ucapkan bersama-sama: ‘Kita semua adalah umat muslim dan kita semua adalah orang Muslim’…”

Sumber: Koran Al-Watn
Tanggal: 18/12/2005

Ahh! Perhatikan itu, sebuah “cum bay a“, semua orang berbondong-bondong…Mungkin dia lupa dengan adanya para ‘Ulama’ yang masih ada saat ini atau yang dulu (seperti Syaikh ‘Ubaid yang sudah menyebutkan) mengkafirkan Syi’ah Rafidhah!

Abu Sufyan Utsman Bisyir
Kuwait

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
08-14-2006 @ 1:00 PM
Nama Pengirim :
Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

Jam’iyyah Ihyaa’ at-Turaats dan Takfir

Kutipan : "Dan memang disana sudah mulai muncul dalam masyarakat Muslim dengan keasliannya, kelompok-kelompok dari yang memakai nama Islam, tetapi hati mereka sudah menyerap ilmaaniyyah (sekularisme) dan kufur dan ilhaad (atheisme) …     Pembicara :  Al-Furqaan, kolom "As-Salaamu 'alaikum"  Sumber : Al-Furqaan, majalah dari Jam'iyyah Ihyaa' at-Turaats  Nomor : 59, hal 5  Tahun :  1995

Kutipan : “Bagaimana kita membedakan ilmaaniyin (sekularis) dan orang nifaaq (munafik), yang menolak pelaksanaan Syariah ? Pembicara : Majalah Al-Furqaan tanya Walid at-Tabtabaa’i dalam pertanyaan ini
Sumber : Al-Furqaan, majalah dari Ihyaa’ at-Turaats
Nomor :  50, hal. 25
Tahun : 1994
*Tentu saja , Turats mewarisi dari syaikh mereka, ‘Abdur-Rahmaan bin ‘Abdul-Khaaliq

Dan bahkan meskipun Ummat Islam, dalam bilangan banyak mayoritasnya kufur dan  membangkang serta mengabaikan Dien Allah, namun Ummat Islam ini,tidak akan lenyap satu kelompok darinya yang tetap di atas al Haq,  tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai kelompok terakhir dari mereka bangkit melawan Dajjal“.

Pembicara :  ’Abdur-Rahmaan ‘Abdul-Khaaliq
Judul :
Usulun fil-amri bil-ma’rufi wan-nahi ‘anil-munkar
Source: Al-Furqaan
Number: 20, hal 6
Date: 1991
Kami akan menambahkan lebih banyak terkait hal ini, insya ‘Allaah, sebagaimana pernyataan dari Takfir individual (nama tertentu), sementara Ummat Islam itu Ummah secara keseluruhan yang terdiri dari banyak orang!
____________________________________________

Aboo Sufyaan ‘Uthmaan Beecher
Kuwait
أبو سفيان عثمان بيشر الأمريكي

___________________________________________________________________________________
Tanggal posting :
08-17-2006 @ 11:38 PM
Nama Pengirim : Abu Sufyaan ‘Utsmaan bin William Beecher

Simak link ke ceramah suara Syaikh Rabi’ mengenai bekerja sama dengan Jam’Iyyah Ihyaa’ At-Turaats yang mulai pada topik ini. Saudara kita yang mulia Abu Muhammad Jaasim Al-Kandari mempunyai telah mengupload dan menyusuk banyak bantahan atas Turaats dari Mashayikh kita dan Thulaabul Ilm ke situsnya. Sekarang Anda dapat mendownload suara syaikh Rabi disini.
http://www.salafi.ws/File_1/s.rabee.wma

Demikian juga, Syaikh Ubaid mempunyai ceramah suara di mana beliau memperingatkan supaya berhati-hati dari bekerja sama dengan JamiIyyah Ihyaa’ At-Turaats,  yang dapat di download disini

http://www.salafi.ws/File_1/s.3baid.3.wma

Insya Allah akan menyusul ceramah lainnya
بارك الله فيكم
http://turaath.blogspot.com/
Aboo Sufyaan ‘Uthmaan Beecher
Kuwait
أبو سفيان عثمان بيشر الأمريكي

Sumber http://tukpencarialhaq.wordpress.com/

28/12/2008 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, manhaj | , , | Tinggalkan komentar

DAKWAH SURURIYAH = DAKWAH IKHWANIYAH

Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed


Jika kita berbicara tentang sururiyah tentunya kita harus berbicara tentang ikhwaniyah, karena sesungguhnya sururiyah hanyalah metamorfosis dari ikhwaniyah. Jika kita ringkas, ada beberapa pokok fikrah (pemikiran) ikhwaniyah diantaranya:

1. Dakwah Ikhwaniyah adalah dakwah politik

Dilihat dari asal terbentuknya, Ikhwanul Muslimin (IM) adalah sebuah partai politik yang berkembang menjadi sebuah pergerakan. Maka ciri khas dakwah mereka adalah bagaimana mengumpulkan massa, memperbanyak pengikut untuk memperbanyak suara mereka di parlemen. Akhirnya bagi mereka kuantitas lebih dipentingkan daripada kualitas. Inilah ciri khas “Dakwah Siyasiyyah”.

2. Mengkaburkan perbedaan

Untuk mewujudkan tujuan di atas, mereka berupaya untuk mengkaburkan perbedaan antara Ahlus Sunnah dengan ahlul bid’ah, antara Sunnah dan Syi’ah dan lain-lainnya. Dengan istilah mereka yang terkenal نتعاونوا قي ما اتفقنا ونعتذر بعضنا بعضا في ما اختلفنا (kita bekerja sama pada apa-apa yang kita sepakati, dan saling toleransi pada apa yang kita berbeda). Dengan slogan ini, mereka berupaya menyatukan antara Ahlus Sunnah dengan ahlul bid’ah dan sekaligus mengubur prinsip yang sangat penting dalam Islam yaitu inkarul munkar (membantah kemungkaran).

3. Melampaui batas dalam mementingkan “wawasan politik”

Dalam upaya meremehkan kebid’ahan-kebid’ahan, penyimpangan-penyimpangan dan kesesatan-kesesatan dari ahlul bid’ah, mereka menyibukkan para pemuda dengan apa yang mereka namakan ‘tsaqafah islamiyah’, mengetahui sikon (situasi-kondisi, red) atau wawasan politik. Mereka anggap bahwa ilmu ini sebagai ilmu yang terpenting daripada menerangkan kesesatan dan kebid’ahan yang dilakukan oleh ahlul bid’ah. Akhirnya ‘tsaqafah’ yang sesungguhnya adalah kliping berita dari koran-koran, majalah dan lain-lain sebagai perkara yang lebih penting daripada memperdalam dan mendakwahkan ilmu tauhid dan dan memberantas syirik, ataupun mempelajari Sunnah dan bahayanya bid’ah.

4. Mengangkat dan membesarkan tokoh-tokoh ahlul bid’ah

Dengan barometer yang rusak di atas, mereka mulai menjadikan tokoh-tokoh sesat dari kalangan Syi’ah, Khawarij, Sufi dan ahlul bid’ah lainnya sebagai sosok ulama mereka, karena memiliki ilmu “yang sangat penting” yaitu ‘tsaqafah islamiyah’. Sebaliknya, mereka justru menjatuhkan dan merendahkan para ulama rabbaniyyah yaitu Ahlul Hadits, karena mereka anggap tidak mengerti tentang ‘tsaqafah’ atau wawasan politik.

5. Memusuhi salafiyyin Ahlus Sunnah wal jama’ah

Dengan prinsip “persatuan bid’ah1” tersebut, mereka menganggap orang yang mendakwahkan tauhid dan membantah kesyirikan-kesyirikan yang terjadi di kalangan umat Islam seperti merajalelanya praktek-praktek penyembahan terhadap kuburan orang-orang shalih dan lain-lain atau orang yang membantah kebid’ahan-kebid’ahan seperti menerangkan kesesatan Syi’ah Rafidlah, Khawarij, Sufi dan lain-lain dianggap oleh mereka sebagai pemecah-belah umat. Maka jelaslah musuh besar yang mereka anggap pemecah belah ummat adalah yang paling getol mendakwahkan Tauhid dan Sunnah dan memberantas syirik dan bid’ah. Nah, siapa lagi yang dimaksud musuh besar kalau bukan salafiyyin ?

1-Fase Quthbiyyah dan Sururiyyah

Demikianlah beberapa kesesatan yang merupakan prinsip-prinsip dasar gerakan IM, namun –al-hamdulillah– Untuk membentengi umat dari kesesatan-kesesatan mereka, para ulama menjelaskan dan membantah prinsip-prinsip mereka yang batil tsb seperti disebut di atas.

Setelah tampak jelas kesesatan pemahaman persatuan ala ikhwaniyyah dengan bantahan-bantahan para ulama, baik dengan fatwa-fatwa maupun dengan buku-buku para ulama, gerakan IM ini merubah wujudnya agar gerakan mereka tetap laku di pasaran. Dan karena ketidak-mampuan mereka menghadapi hujjah-hujjah yang dipaparkan para ulama, sebagian tokoh-tokoh mereka akhirnya mengaku sebagai Ahlussunnah pengikut Salaf, meski pemikiran ikhwaniyyah masih saja bercokol di kepalanya.

Sebut saja salah satu tokoh yang paling menonjol dari mereka, yaitu Muhammad Surur bin Nayef Zainal Abidin yang hingga aliran ikhwaniyah model baru ini dinisbatkan dengan namanya yaitu sururiyah (pengikut Surur). Tokoh yang tinggal di negeri kafir –London, UK —ini mengaku sebagai Ahlus Sunnah dan menamakan dakwahnya dengan “Dakwah Suniyyah” atau dakwah Sunnah, lantas menerbitkan majalah as-Sunnah. Semula dakwahnya diawali dengan menyebarkan tulisan-tulisan Ahlus Sunnah yang bersifat umum, kemudian mulai dia menyisipkan pemikiran ikhwaniyyah – yang sudah kami ringkaskan di atas – dalam majalah tersebut.

Dia mengkritik sikap para ulama terhadap ahlul bid’ah, menganggap mereka tidak mengerti wawasan politik serta tidak tatsabut dalam menghukumi kelompok-kelompok dakwah –yang dia maksud adalah IM dan sejenisnya–. Pada puncaknya, dia mencerca para ulama dan menuduhnya sebagai ulama bayaran, munafik, penjilat pemerintah dan seterusnya.

Ada baiknya kita lihat sebentar bagaimana pemikiran ekstrim Muhammad Surur ini sebagai berikut:

Surur mengkafirkan para penguasa muslim

Dalam majalah As-Sunnah no. 26 th. 1413 H hal. 2-3, ia berkata: “Penyembahan terhadap berhala pada hari ini memiliki banyak tingkatan. Yang pertama, duduk bersila di atas singgasananya penguasa negara sekutu George Bush -bisa jadi besok Clinton-. Kedua, tingkatan para penguasa negara-negara Arab yang meyakini bahwa manfaat dan madlarat mereka ada di tangan Bush. Oleh karena itu mereka pergi haji ke sana (Gedung Putih) dan memberikan sesajen dan kurban-kurban. Ketiga, jajaran pemerintahan Arab, menteri-menteri, wakil-wakilnya, pimpinan-pimpinan tentara, dewan legislatif dan lain-lain. Mereka berbuat kemunafikan dengan menjilat atasannya. Menganggap baik kebatilan-kebatilan yang mereka lakukan tanpa ada rasa malu dan kewibawaan. Sedangkan tingkatan yang ke-empat dan kelima adalah para pegawai-pegawai yang berada di kementerian. Mereka semua meyakini bahwasanya syarat untuk dapat naik ke pangkat yang lebih tinggi adalah kemunafikan, menjilat dan menuruti semua perintah atasannya“.

Lihatlah! Muhammad Surur mengkafirkan semua jajaran pemerintahan di negara-negara Arab dan menganggapnya sebagai penyembah berhala.

Bahkan Surur menyebut para penguasa tersebut lebih jelek daripada orang kafir.

Dalam majalahnya no. 43, Jumadil Tsani th. 1415 H, Muhammad Surur menyebut-kan: “Berkata sahabatku: “Bagaimana pendapatmu kalau ada orang yang berkata: jika anak cucu Abdul Aziz (Penguasa Saudi Arabia saat itu –pent.) selamat dari teman-teman dekatnya dari kalangan orientalis Barat yang mengelilinginya, niscaya perkara-perkara yang jelek ini tidak terjadi.” Maka saya jawab: “Wahai aba fulan….. mereka lebih jelek daripada teman-teman dekatnya. Mengapa mereka memilih orang-orang yang rusak, orientalis, dan para munafik? Oleh karena itu saya katakan bahwa anak cucu Abdul Aziz lebih jelek dari teman-teman dekatnya. Karena aqidah mereka sama, ditambah lagi anak cucu Abdul Aziz mewajibkan kepada umat hukum-hukum yang jahat dan berserikat dengan kaum orientalis barat dalam strategi dan perencanaannya“.”.

Lihatlah! Muhammad Surur menyatakan dengan tegas bahwa aqidah para penguasa muslim di Saudi Arabia sama dengan aqidah orang-orang kafir barat yang –katanya- menjadi teman dekatnya.

Kalau penguasa Arab Saudi dikatakan kafir, padahal telah tegas dan jelas dasar negara mereka adalah Al-Qur’an dan Sunnah, bagaimana kira-kira dengan para penguasa muslim di negeri lain serta di negeri Indonesia ini? Tentunya para pengikut Muhammad Surur lebih berani mengkafirkan kaum muslimin di Indonesia baik yang ada di jajaran pemerintahan sipil maupun militernya.

Surur mengkafirkan para ulama

Ia menyatakan selanjutnya: “Jenis berikutnya adalah golongan yang mengambil keuntungan dengan tidak punya rasa malu mengikuti sikap tuan-tuannya. Jika tuannya meminta bantuan kepada Amerika, maka para hamba sahaya tadi mulai mengumpulkan dalil-dalil untuk membolehkan perbuatan itu. Jika tuannya bertikai dengan Iran rafidlah, maka para budak tadi mengumpulkan dalil-dalil tentang jeleknya rafidlah…” (as-Sunnah, no. 23, hal. 29-30)

Siapakah yang dimaksud oleh Surur dalam ucapannya di atas? Siapa lagi kalau bukan para ulama yang memberikan dalil-dalil dan fatwa. Lebih tegas lagi ketika kita membaca ucapan Muhammad Surur pada edisi 26, setelah menukil ucapan seperti di atas, ia berkata: “Sungguh perbudakan zaman dahulu sangat sederhana, karena ia memiliki tuan yang langsung. Adapun pada hari ini, maka perbudakan sangat rumit dan berantai. Dan aku tidak habis pikir, orang-orang yang berbicara tentang tauhid, ternyata dia ada-lah budak dari budak dari budak dari budak dari budak. Dan tuannya yang paling akhir adalah Nashrani“.

Perhatikanlah pengkafiran Muhammad Surur terhadap para ulama yang di-istilahkan dengan “orang yang berbicara tentang tauhid“! Ia menyatakan sebagai budak yang kesekian dari George Bush.

Surur menyeret dakwah tauhid para Nabi kepada “dakwah politik”

Dalam kitabnya Manhajul Anbiya’ (”Manhaj Para Nabi”), Muhammad Surur menggambarkan para Nabi seakan-akan adalah para politikus yang melawan rezim-rezim dan para penguasa yang dhalim. Ia menyebutkan bahwa para Nabi adalah para pejuang yang memberontak kepada para penguasa yang kafir dan lalim seperti Fir’aun, Namrud dan lain-lain. Setelah itu ia menyebutkan bahwa para penguasa muslim sekarang yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah “Fir’aun-Fir’aun” dan “Namrud-Namrud” yang juga harus ditumbangkan.

Ia sama sekali melupakan bahwa dakwah para nabi adalah dakwah tauhid yang mengajak semua manusia, termasuk raja-rajanya untuk beribadah kepada Allah dan tidak beribadah kepada yang selainNya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ… (النحل: 36)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (sesembahan lain)…!”. (an-Nahl: 36)

Surur menganggap penguasa muslim sebagai thaghut yang lebih dahsyat dari Namrud

Ketika menceritakan kisah nabi Ibrahim, Surur menyamakan Namrud dengan para penguasa muslim hari ini yang dianggap tidak berhukum dengan hukum Allah. Ia berkata: “Thaghut pada zaman Ibrahim menyatakan: “Aku menghidupkan dan mematikan”, yakni membunuh siapa yang dikehendakinya dan membebaskan siapa yang dikehendakinya. Adapun thaghut pada zaman kita sekarang ini disamping mereka membunuh siapa yang dikehendakinya dan memaafkan siapa yang dikehendakinya, mereka menganggap diri-diri mereka sebagai tandingan terhadap Allah. Mereka menentukan undang-undang hukum sekehendaknya dan menganggap yang demikian adalah hak mereka dan bukan hak Allah”. (Manhajul Anbiya’ 1/114)

Masih di halaman yang sama, bahkan ia menyatakan kalau mereka merupakan thaghut yang lebih dahysat dari-pada Namrud. Ia berkata: “Dari sini kita ketahui bahwa thaghut pada zaman kita lebih dahsyat dan lebih dhalim daripada thaghut pada zaman Ibrahim عليه السلام. (Manhajul Anbiya’ 1/114).

Setelah itu ia mencemooh ulama dan para dai yang tidak mau mengkafirkan mereka dan tidak mau menganggap mereka sebagai thaghut. Ia berkata: “Maka bagaimanakah sejumlah besar para penulis dan penasehat, menulis berlembar-lembar dan berjilid-jilid dalam kitab-kitab mereka dan menghabis-kan waktu berjam-jam dan waktu yang panjang dalam ceramah-ceramah mereka di radio, televisi dan lain-lain untuk membicarakan tentang thaghut pada zaman Ibrahim, tetapi tidak satu kalimat pun menyinggung tentang thaghut pada zaman kita. Allahumma, kecuali jika pembicaraan mereka adalah bagian dari misi-misi propaganda yang direncanakan oleh thaghut untuk menyerang thaghut lain”. (Manhajul Anbiya’, 1/139)

Seorang muslim yang paling sedikit ilmunya pun mengetahui bagaimana Fir’aun dan Namrud menyiksa orang-orang yang bertauhid, lantas bagaimankah para penguasa hari ini? Sungguh tepat apa yang dinasehatkan oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan ketika ditanya tentang sikap kita terhadap buku Manhajul Anbiya’ tersebut, beliau menjawab: “Jauhilah penyakit-penyakit yang ada dalam kitab tersebut dan hendaknya buku itu ditarik dari toko-toko buku dan laranglah buku tersebut untuk masuk ke negeri ini“. (Al-Ajwibal Mufidah, Syaikh Shalih Fauzan, hal. 50)

Surur melecehkan kitab-kitab aqidah Ahlus Sunnah

Dengan pemikiran di atas, Muhammad Surur menganggap kitab-kitab aqidah dan tauhid yang ditulis oleh para ulama tidak penting, bahkan ia menganggap buku-buku tersebut kaku dan kering, tidak bermanfaat dalam menyelesaikan problem dakwah masa kini.

Ia berkata: “Aku melihat buku-buku aqidah dan aku dapati buku-buku tersebut berbicara tentang masa lalu bukan pada masa kita, menyelesaikan problem-problem dan masalah yang terjadi pada masanya. Sedangkan pada masa kita, banyak problem baru yang membutuhkan penyelesaian baru pula. Di samping itu, metode yang dipakai dalam buku-buku aqidah tersebut sangat kaku dan kering, karena hanya merupakan kumpulan dalil dan hukum. Oleh karena itu kebanyakan para pemuda lari dari padanya”. (Manhajul Anbiya’, Juz I, hal 08)

Inilah ciri khas sururiyyun, yaitu melecehkan kitab-kitab aqidah para ulama dan mengajak manusia untuk membaca buku-buku para tokoh pergerakan masa kini, seperti karya Sayyid Quthb dan lain-lain.

Oleh karena itu -meskipun mereka mengaku Ahlus Sunnah dan terkadang mengaku Salafi- Muhammad Surur dan para pengikutnya tetap memberikan pembelaan kepada Sayyid Quthb dan ke-lompok-kelompok sejenisnya dengan ucapan-ucapan seperti: “Mereka pun masih mempunyai kebaikan” atau “Bagaimana pun juga mereka adalah se-orang mujtahid” dan lain-lain.

Pemikiran Sururiyyah lebih bahaya dari pada Quthbiyyah

Bahaya pemikiran sururiyyah ini lebih dahsyat daripada bahaya pemikiran Sayyid Quthb. Karena Muhammad Surur dengan majalahnya As-Sunnah -yang kemudian diganti dengan Al-Bayan- selalu mengatas-namakan Ahlus Sunnah dan pada terbitan perdananya selalu meminta rekomendasi dari para ulama Ahlus Sunnah. Hingga banyak kaum muslimin yang terperdaya dengannya.

Hingga muncullah salafi gadungan yang berbaju Ahlus Sunnah, namun berpemikiran Quthbiyyah. Kita katakan pada para sururiyyin: “Kalian hanya memiliki pegangan “Al-Bayandan “As-Sunnah“, sedangkan kami berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah”.

Kaidah-kaidah pemikiran Sururiyyah

Jika kita perhatikan gerakan sururiyyah ini, maka prinsip-prinsip dasar dalam dakwahnya persis sama dengan gerakan IM. Hanya saya dia membedakan istilah-istilahnya dengan istilah-istilah baru, diantaranya:

1. Al-Inshaf (bijaksana)

Al-Inshaf menurut gerakan ini adalah bersikap bijaksana dalam mengkritik seseorang atau kelompok-kelompok dakwah dengan cara menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka ketika kita mengingatkan umat dari kesesatan-kesesatan mereka. Ini adalah upaya taqrib (melakukan pendekatan dan menyatukan) antara Ahlus Sunnah dan berbagai macam kelompok bid’ah. Prinsip ini sama persis tujuannya dengan slogan IM yang sangat terkenal نتعاون قي ما اتفقنا ونعتذر بعضنا بعضا في ما اختلفنا.

2. Fiqhul Waqi’ (memahami situasi dan kondisi)

Istilah inipun sama maknanya dengan istilah yang dipakai oleh IM dengan istilah tsaqafah (wawasan). Hal ini mereka lakukan karena banyak diantara tokoh-tokoh yang mereka banggakan bukanlah Ahlul Hadits, bukan ahlul fiqh, bukan ahli tafsir dan seterusnya. Sehingga satu-satunya ilmu yang mereka punyai adalah mengetahui sikon maka sebutan ulama bagi mereka adalah seseorang yang mengerti fiqhul waqi’ (situasi dan kondisi) dan wawasan politik (tsaqafah) dan sejenisnya. Kemudian dengan ilmu inilah mereka mengunggulkan tokoh-tokohnya di atas para ulama.

Sebagai contoh mereka mengangkat Sayyid Quthb sebagai ulama yang mengerti fiqhul waqi’, menguasai tsaqafah islamiyah atau istilah-istilah lainnya. Mereka tidak dapat menyejajarkannya di jajaran para Ahlul Hadits, karena mereka mengetahui bahwa Sayyid Quthb tidak memiliki ilmu tentangnya. Mereka juga tidak bisa memasukkan Sayyid ke dalam jajaran ahlut tafsir. Demikianlah seterusnya, mereka tidak dapat mengangkat tokoh-tokohnya dengan latar belakang ilmu hadits, fiqh atau tafsir. Satu-satunya gelar yang mereka banggakan adalah bahwa Sayyid mengerti sikon, tsaqafah, fiqhul waqi’ dan lain-lainnya. Sebaliknya para ulama yang ahli di bidang hadits, fiqh atau tafsir seperti Syaikh bin Bazz, Syaikh al-Albani, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Madkhali, Syaikh Muhammad bin Shalih bin Utsaimin dan lain-lain dianggap tidak berguna fatwanya, karena dianggap tidak mengetahui sikon, tsaqafah atau fiqhul waqi’.

3. Tatsabbut (memastikan bukti-bukti)

Untuk memastikan shahih atau tidaknya suatu riwayat, tatsabbut merupakan hal yang harus dilakukan guna meneliti keshahihan riwayat dengan melihat ketsiqahan rawi-rawinya, bersambungnya sanad dan lain-lain. Masalah ini dibahas dalam ilmu hadits. Akan tetapi yang mereka maksudkan tentang perlunya tatsabbut bukan seperti yang dimaksudkan oleh para ulama. Tatsabbut menurut mereka adalah menanyakan kebenaran berita kepada orang yang tertuduh (yang dikritik). Sebagai contoh, jika kita menyatakan bahwa Hasan al-Banna adalah sesat, maka kita harus tatsabbut dan menanyakannya kepadanya, apakah dia benar-benar sesat. Tatsabbut jenis ini mereka gunakan untuk pembelaan diri sehingga ketika ada beberapa orang datang bertatsabbut kepada mereka: “Apakah kalian sururi, ikhwani atau quthbi?”, jelas saja mereka dengan mudahnya menepisnya dengan berbagai macam syubhat, agar dapat memperdayai orang-orang ‘lugu’ tadi.

Hizbiyyah Sururiyyah

Demikianlah, dengan ketiga syubhat di atas, mereka berupaya untuk mempersatukan dan mengkompromikan seluruh kelompok dakwah dengan beragam manhaj ke dalam satu partai (kelompok hizbiyyah) yang mereka namakan dengan istilah “Ahlus Sunnah wal jama’ah”. Nama ini sekedar nama kelompok mereka yang baru bukan bermakna jalan Ahlus Sunnah wal jama’ah.

Kita lihat sebagi buktinya ucapan ‘Aid al-Qarni dalam kasetnya Firr Minal Hizbiyyah…..: “Bahkan kita adalah kelompok Ahlus Sunnah, tidak ada nama lain kecuali Ahlus Sunnah. Tidak perlu kita menguji manusia apakah dia ikhwani, sururi, tablighi atau menanyakan apa jama’ah yang mereka ikuti. Bahkan jama’ah kita adalah jama’ah Ahlus Sunnah”.

Sangat jelas sekali tujuan A’idh dalam ucapannya diatas, yaitu menyatukan ikhwani, tablighi sururi atau kelompok-kelompok hizbiyyah lainnya dalam satu kelompok besar yang dinamakan “Ahlus Sunnah”.

Agar lebih jelas lagi, dengarkan pula ucapan Muhammad Muhammad Badry dalam majalah al-Bayan no. 28, bulan Syawal tahun 1410 H hal. 15. Dia berkata: “Jama’ah ini adalah yang mengajak seluruh kelompok pergerakan Islam untuk bergabung di dalamnya yaitu jama’ah Ahlus Sunnah wal jama’ah yang umum dan luas”.

Jika masih ada yang ragu dalam memahami ucapan di atas yaitu mengajak seluruh kelompok pergerakan Islam untuk bergabung dalam satu partai yaitu “partai Ahlus Sunnah”, maka kita katakan kepada mereka: lihatlah lebih jelas lagi pada ucapan tokoh mereka yang lain, dalam buletin mereka Buhuts Tatbiq asy-Syari’ah al-Islamiyah, no. 12 ia berkata: “Dan prinsip dasar dari semua itu adalah bahwa seluruh kelompok pergerakanIslam pada hari ini merupakan tentara yang semestinya tergabung di dalamnya seluruh umat walaupun berbeda-beda mandzhab dan latar belakangnya untuk bersama-sama menghadapi fitnah kekafiran”.

Kalimat Bersayap

Kalimat politis atau kalimat bersayap biasa digunakan untuk dapat diterima di pihak yang satu dan dapat disambut oleh pihak yang lain, tentunya hal ini dilakukan agar dapat menguntungkan di kedua pihak tersebut. Namun seorang mukmin yang sungguh-sungguh akan mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasulnya. Sedangkan orang kafir terang-terangan akan menentang Al Qur’an, As Sunnah dan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Perbedaan keduanya sangat tampak dan jelas.

Memang benar-benar ada kelompok ketiga yang samar-samar dan tidak jelas, mereka tidak mau mengikuti apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya tetapi tidak mau pula dikatakan menentang Al-Qur’an dan As Sunnah. Mereka adalah ahlul bid’ah (aliran sesat), mereka mengaku sebagai muslim yang berpegang dengan Al Qur’an dan As Sunnah namun tidak mau menerima maknanya seperti apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sehingga mereka menarik-narik ayat dan hadits sesuai selera hawa nafsunya. Maka sesungguhnya yang mereka ikuti adalah hawa nafsu, hanya saja mereka mencari dukungan dengan ayat dan hadits yang diselewengkan maknanya, sehingga terlihat seakan-akan mereka mengikuti dalil.

Allah berfirman tentang orang-orang sejenis ini -yaitu orang yang di hatinya ada penyakit- sebagai berikut :

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya.” (QS Ali ‘Imran: 7). Aisyah radiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Apabila engkau lihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat maka mereka itulah orang yang telah Allah sebutkan (pada ayat di atas) dan berhati-hatilah kamu sekalian terhadap mereka.” (HR. Bukhari Muslim).

Dengan cara seperti inilah muncul aliran-aliran sempalan dan pemahaman-pemahaman sesat yang kesemuanya mengaku muslim yang berpegang dengan dalil seperti: Syiah Rafidhah, Khawarij, Qadariyyah, Jabariyyah, Mu’tazilah, Hululiyyah, Wihdatul Wujud, tarikat-tarikat sufi dan lain-lain. Setelah mereka menarik ayat dan hadits sesuai dengan apa yang mereka mau, langkah selanjutnya adalah mecari-cari ucapan siapapun yang kira-kira cocok dengan seleranya sebagai pendukungnya, mencari zallah(ketergelinciran) ulama, atau pendapat-pendapat ulama yang Syadz (karena para ulama adalah manusia, yang ada saja kealpaannya) kemudian mengambilnya sebagai kamuflase, seakan-akan mereka mengikuti para ulama.

Senjata mereka yang paling ampuh adalah “kalimat bersayap” atau syubhat. Yakni ucapan yang memiliki dua makna atau lebih, yang sebagian haq dan sebagian lain batil. Sehingga mereka bisa bermain dengan kalimat tersebut. Jika diterima oleh para pendengarnya mereka akan mengarahkan kepada makna batil yang mereka maukan. Namun jika pendengarnya tanggap dan membantah kebatilan tersebut maka mereka akan segera mengatakan bahwa yang kami maksudkan adalah makna yang hak.

Seperti ucapan Khawarij yang membawakan ucapan Allah: ”Tidak ada hukum kecuali milik Allah”.

Ucapan ini dimaksudkan bahwasanya tidak perlu mengambil dua orang penengah atau menentukan seorang hakim. Kemudian mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyyah, dua hakim penengah : Amru bin Al-Ash dan Abu Musa Al-Asy’ari dan seluruh para sahabat yang ridha dengan mereka.

Maka berkatalah Ali bin Abi Thalib terkait ucapan Khawarij di atas : ”kalimatu hakkin arodu bihal batil”, “kalimat yang hak, tapi yang mereka maukan adalah kebathilan”. ( Lihat as-Syariah oleh Al-Ajurri).

Demikian pula halnya Gerakan Sururiyyah, untuk memasukan fiqrah-fiqrah (pemikiran-pemikiran) ikhwaniyah tersebut diatas mereka selalu menggunakan “kalimat bersayap”. Dan inilah kata kunci mereka untuk dapat memasukkan pemikiran-pemikiran mereka ke dalam hati kaum muslimin.

Disaat mereka berbicara tentang inshaf, mereka membawa ayat-ayat dan hadits-hadits tentang perlunya keadilan, menerangkan tentang keharusan tatsabut, mereka membawakan ayat-ayat dan hadits yang memerintahkan untuk tabayyun. Di samping itu ketika mereka menerangkan tentang perlunya fiqhul waqi’, merekapun menyertakan dalil-dalil dan ucapan para ulama yang menyatakan bahwa hukum terhadap sesuatu adalah tergantung gambaran (fiqhul waqi) yang diterima.

Jika diperhatikan secara sepintas, mereka seakan-akan ahlul ilmi yang berbicara dengan dalil-dalil syar’i baik dari al-Qur’an maupun hadits-hadits. Namun jika kita teliti lebih lanjut ternyata ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut, mereka tafsirkan sesuai dengan hawa nafsu dan misi mereka.

Sebagai contoh, mereka menafsirkan tentang perlunya keadilan dalam mengkritik ahlul bid’ah dengan tafsirkan wajibnya menyebut kebaikan ahlul bid’ah ketika kita menerangkan kebatilan ahlul bid’ah.

Seorang ulama besar yang bernama Hasan Al Bashri rahimahullah, beliau pernah berkata : “Apakah kamu benci untuk menyebutkan (keburukan-keburukan) orang yang jahat? Sebutkanlah (keburukan-keburukan) itu oleh kamu sekalian agar manusia berhati-hati daripadanya.” Dan telah diriwayatkan pula yang seperti ini secara marfu’. (Lihat Tafsir Suratun Nuur karangan Ibnu Taimiyyah tahqiq syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid).

Kemudian Al Hafidz Ibnu Rajab berbicara pula di dalam Syarah Ilalut Turmudzi 1/50, berkata Ibnu Abi Dunya, menceritakan kepada kami Abu Shalih Al Mawardzi, aku mendengar Rafi’ bin Asyras berkata : “Pernah ada orang yang mengatakan termasuk daripada hukuman pendusta adalah tidak diterima kejujurannya dan aku katakan termasuk daripada hukuman orang yang fasik yang mubtadi’ adalah jangan disebutkan kebaikan-kebaikannya.”

Al Muhaqqiq berkata, Al Kankauhi berkata dalam kitab Al Kawkabud Durri 1/347 : “…maka ketahuilah bahwa boleh bahkan wajib bagi para ulama untuk menjelaskan kepada manusia aibnya (ahlul bid’ah) dan mencegah mereka dari mengambil ilmu darinya (ahlul bid’ah). Ini adalah madzhab Salaf dan hukum-hukum mereka serta muamalah mereka terhadap kitab-kitab dan pengarangnya serta ahlul bida’. Sebagaimana bisa engkau lihat pada perkataan Ibnu Taimiyyah, Imam Al Baghawi, Imam As Syathibi, Ibnu Abdil Barr dari Imam Malik dan murid-muridnya, Imam Khatib Al Baghdadi, Ibnu Qudamah dari Imam Ahmad dan para Salaf seluruhnya. [Lihat Kitab Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal halaman 127-149.] Dan sikap ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah mutaqadimin yang seperti ini dijelaskan dengan panjang lebar oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali dalam kitabnya Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah fi Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif.

Namun banyak sekali ucapan yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh mereka seperti Hisyam bin Ismail asy-Syini dalam buku kecilnya yang berjudul Manhaj Ahlus Sunah wal Jama’ah fii Naqdi wal Hukum ‘alal Akharin (‘Manhaj Ahlus Sunnah dalam mengkritik dan menghukumi orang lain’), Salman Audah dalam kasetnya Min Akhlaaq Ad Daa’iyah (‘Diantara akhlak para da’i’), Zaid al-Zaid dalam tulisannya Dlawabith Raisiyah Fi Taqwimil Jama’at al-Islamiyah (‘Patokan-patokan dalam meluruskan jama’ah-jama’ah Islam), Ahmad bin Abdurrahman as-Suwayyan dalam risalahnya Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah Fi Taqwimi ar-Rijal wa Muallafatihim (Manhaj Ahlus Sunnah wal jama’ah dalam mengkritik seseorang atau tulisan-tulisannya), dan tokoh-tokoh lainnya.

Fase Turatsiyyah

Sengaja kita bedakan turatsiyyah (diambil dari nama Jum’iyyah Ihyaut Turats Al Islami, Kuwait) dengan Abdurrahman Abdul Khaliqnya dari sururiyyah walaupun pada intinya sama, karena istilah-istilah mereka berbeda.

Dakwah Salafiyyah memanggil seluruh kaum Muslimin untuk kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Mengajak untuk memurnikan tauhid, mengikuti sunnah, dan sebaliknya memberantas syirik dan bid’ah.

Dakwah Salafiyyah ini tidak pernah berhenti dan tidak akan mati sejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sampai hari ini. Dunia tidak pernah kosong dari ulama Ahlus Sunnah dengan dakwah sunnahnya ini sejak jaman para shahabat sampai hari ini, hingga mereka diberi julukan : “Penegak sunnah penghancur bid’ah, pedang sunnah dan ular bagi ahlul bid’ah, pembela sunnah dan pemberantas bid’ah dan lain-lain.” Kebencian terhadap ahlul bid’ah adalah merupakan ciri khas bagi Ahlus Sunnah, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Bakar bin Ayyasy ketika dia ditanya : “Siapakah seorang sunni (Ahlus Sunnah)?” Beliau menjawab : “Seorang yang jika disebut Al Ahwa’ (aliran-aliran bid’ah), dia tidak marah (seperti marahnya) karena itu!” (Al I’tisham 1/118 oleh Imam Asy Syathibi). Untuk lebih jelasnya kita simak ucapan Abu Utsman Ash Shabuni, murid Imam Hakim yang dijuluki dengan “Pedang sunnah dan ular bagi ahlul bid’ah” oleh Syaikh Abdul Ghafir Al Farisy, juga mendapatkan pujian dari Imam Dzahabi dan Baihaqi. Beliau berkata : “Salah satu ciri Ahlus Sunnah adalah kecintaan mereka kepada para imam sunnah, ulamanya, para penolong, serta wali-walinya, dan kebencian mereka kepada para tokoh ahli bid’ah.” (Baca Majalah Salafy edisi IV rubrik Nasehati). Kemudian setelah dia memberi contoh ulama yang mengatakan : “Barangsiapa cinta kepada fulan dan fulan, maka dia Ahlus Sunnah.” Beliau menambahkan beberapa ulama Ahlul Hadits di jamannya dan berkata : “Yang mencintai mereka adalah Ahlus Sunnah.” Setelah itu dalam point ke 175 berkata :

Mereka bersepakat bersama dengan itu semua atas ucapan untuk keras terhadap ahlul bid’ah, merendahkan, menghinakan, menjauhkan, memutuskan hubungan dengan mereka, menjauhi mereka, tidak berteman dan bergaul dengan mereka dan mendekatkan diri kepada Allah dengan menghindar dan memboikot mereka.” (Aqidatus Salaf Ash Haabil Hadits halaman 123)

Sebaliknya Syaikh Ash Shabuni sebelumnya telah menulis bab khusus tentang ciri yang paling menonjol dari ahlu bid’ah yaitu kebencian mereka kepada ulama Ahlul Hadits (halaman 31. Lihat Majalah Salafy edisi IV rubrik Nasihati)

Demikianlah sedikit mukadimah sebelum kita membahas tentang pemikiran Abdur Rahman bin Abdul Khaliq pada risalah ini dalam rangka menegakkan kebenaran dan menjelaskan penyelewengannya agar kaum Muslimin berhati-hati.

Teguran Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz

Bantahan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz kepada Abdurrahman Abdul khaliq atas pendapatnya meliputi point-point berikut :

  1. Celaan dan tuduhan yang berlebihan kepada orang-orang yang dianggap sebagai pengikut Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah (wahabi).

  2. Tuduhan bahwa ulama-ulama Saudi dan Salafiyin dalam keadaan buta dan bodoh sama sekali tentang permasalahan-permasalahan baru dan Salafiyah mereka adalah Salafiyah taqlid yang tidak berarti sama sekali.

  3. Pernyataan bahwa seluruh negeri -tidak terkecuali- telah mengikuti Barat dan Timur dalam hukum-hukum politik dan Undang-Undang.

  4. Pernyataan tentang tidak perlunya ditegakkan hukuman atas suatu dosa sebelum dihilangkan sebab-sebab yang mengajak kepada perbuatan itu.

  5. Ajakan untuk memecah belah kaum Muslimin dalam berbagai jama’ah-jama’ah hizbiyah.

  6. Anggapan bahwa demonstrasi adalah salah satu bentuk jihad yang syar’i.

(Dinukil dari Tanbihat wa Ta’qibat halaman 31-41)

Taubatkah Abdurahman Abdul Khaliq ?

Setelah mendapatkan teguran-teguran di atas dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, dikabarkan bahwa Abdurrahman Abdul Khaliq telah mengumumkan taubatnya, mencabut enam perkara tadi dan ia rujuk kepada Al Haq dalam bukunya At Tanbihat wa Ta’qibat.

Jika hal itu benar, maka sudah semestinya dia berhenti dari celaan-celaannya terhadap Salafiyin dan pembelaannya terhadap jama’ah-jama’ah hizbiyah serta menyesali ucapan-ucapannya. Namun benarkah pernyataan taubatnya itu? Lihatlah buku taubatnya, pada mukadimah buku tersebut dia mengatakan celaannya kembali kepada Salafiyin : “Disamping itu telah bangkit kelompok lain yang mengambil suatu manhaj dalam mengumpulkan apa yang mereka anggap kesalahan bagi setiap ulama, da’i, atau penuntut ilmu, kemudian menyebarkannya di kalangan manusia untuk membuat mereka lari darinya. Mereka berusaha mencari-cari sejak sekitar 7 tahun yang lalu untuk mengumpulkan apa yang mereka anggap kesalahan dariku. Beberapa kelompok penuntut ilmu, menghabiskan waktunya untuk tujuan memeriksa ratusan, bahkan ribuan kaset serta semua buku dan tulisanku, tetapi Alhamdulillah mereka tidak mendapatkan kesalahan yang mereka cari dalam aqidah atau penyelewenganku dalam manhaj. Meskipun demikian, mereka tetap memberikan apa-apa yang mereka anggap sebagai kesalahanku kepada para masyaikh (ulama) untuk membuat marah, mengkaburkan, dan merusakkan hubungan baik.” (At Tanbihat halaman 11)

Menanggapi ucapan ini Syaikh Rabi’ berkata : “Di sini dia keluar dari keadilan, manhaj, dan akhlak dalam mengkritik. Bukankah yang bertanya kepada masyaikh adalah satu orang tentang dua atau tiga masalah dari kekeliruan dan kesalahan Abdur Rahman? Kalau dia orang yang bijaksana tentunya ia berterima kasih pada si penanya tersebut dan menutup pintu fitnah.” (Jama’ah Wahidah halaman 08)

Selain itu pada akhir ucapannya : “Meskipun demikian, mereka tetap memberikan apa-apa yang mereka anggap sebagai kesalahanku… .” Menunjukkan bahwa dia masih belum menyadari kesalahannya. Namun seakan-akan dia mencabut ucapannya, karena yang menegur adalah Syaikh bin Baaz dan dia marah kepada yang melaporkan. Subhanallah!

Kisah selengkapnya adalah sebagai berikut : Berkata Syaikh Rabi’ : “Allah telah memberikan taufiq kepada seorang pemuda Salafy untuk menyimak kaset ini (Al Madrasah As Salafiyah), kemudian mengambil sebagian darinya dan sebagian lain dari kitab Ushul ‘Amal Jama’i tulisan Abdur Rahman Abdul Khaliq yang pada keduanya ada celaan yang sangat keras terhadap para ulama kerajaan Arab Saudi, kedhaliman yang besar dan tuduhan-tuduhan dengan kejelekan. Kemudian pemuda tersebut menghubungi beberapa ulama dengan telepon, diantaranya Syaikh Shalih bin Ghushhun dan Syaikh Shalih Al Fauzan. Dia bertanya kepada mereka tentang hukum mencela terhadap ulama kerajaan Arab Saudi dan ke-Salafiyah-an mereka. Mereka menjawab dengan jawaban-jawaban yang sangat merendahkan diri Abdur Rahman. Ketika jawaban para ulama tersebut sampai kepadanya (Abdur Rahman Abdul Khaliq), dia merasa berat dan goncang. Lalu dia mengutus seorang atau beberapa orang utusan untuk membuat ridla para ulama tersebut, menenangkan, dan membuat mereka puas dengan mendustakan dan mendhalimi si penanya. Ia kemudian menyampaikan ceramah dalam kaset yang diberi nama Kasyfu Syubuhat, membela diri dan menuduh si penanya dan yang ada di belakangnya. Diantara perkataannya : “Kita berada di depan suatu bahaya yang berwujud kebangkitan para penuntut ilmu tingkat rendah yang mengira bahwa kewajiban syar’i yang mengikat mereka adalah mengenal kesalahan seluruh ulama dan para da’i serta jama’ah-jama’ah dakwah yang menyeru kepada Allah di setiap tempat, kemudian berseru tentang mereka dan memperingatkan manusia dari mereka.”

Kaset tersebut (Kasyfus Syubuhat) direkam dan diperbanyak setelah pengumuman taubatnya. Maka berkata Syaikh Rabi’ : “Kalau benar dia bertaubat (ruju’), mengapa dia mencetak dan menyebarkannya, padahal di dalamnya masih ada israr (tetap mencela ulama) berupa pernyataannya bahwa celaannya terhadap ulama Saudi pada waktu itu adalah haq dan tsabit, tidak menolaknya kecuali orang yang sombong.” Adapun yang dimaksudkan adalah ucapan Abdur Rahman di dalam kaset tersebut yang berbunyi :

Apa yang saya sebutkan pada waktu itu (20 tahun yang lalu, pent.) adalah haq. Hal itu adalah perkara yang jelas, tidak menolaknya kecuali orang yang sombong. Barangsiapa yang ingin –misalnya– untuk mengetahui yang haq, silakan sekarang memeriksa satu kitab saja yang ditulis pada masa itu ketika aku menyampaikan ceramah tersebut oleh pengikut madrasah Salafiyah untuk membantah paham-paham atheisme modern” (Rekaman kaset ‘Kasyfus Syubuhat’)

Pernyataan ini persis dengan apa yang pernah kita dengar sendiri di Ma’had Ali Al Irsyad Tengaran, Boyolali, ketika dia datang ke Indonesia dan menyatakan bahwa enam kesalahan tersebut terjadi pada 20 tahun yang lalu dan cocok pada waktunya. Kalau begitu bisa jadi pada waktu yang lain akan cocok kembali. Lalu apa makna ruju’-nya?

Di samping itu dia juga berkata bahwa para pencari ilmu (pelajar) berusaha mencari kesalahannya selama 7 tahun dan menghabiskan ribuan kaset serta buku-bukunya, tetapi mereka tidak mendapatklan penyelewengan baik dalam aqidah ataupun manhaj (seperti yang sudah dikutip di awal). Demikian juga pujian yang berlebihan dari Jami’iyyah Ihya At Turats, Kuwait hampir sama dengan ucapan di atas : “Cukup baginya sebagai kebanggaan, Syaikh Al Walid Al Kabir Abdul Aziz bin Baaz hanya mengkritik enam perkara ini. Padahal dia seorang yang memiliki tulisan-tulisan, ceramah-ceramah, beribu-ribu pelajaran dan puluhan kitab-kitab … yang dia menghabiskan waktu sekitar 30 tahun untuk berdakwah kepada manhaj Salaf … .” (At Tanbihat halaman 5)

Dari ucapan-ucapan di atas, jelas yang dimaksud adalah bahwa dia tidak memiliki kesalahan, kecuali dalam enam perkara saja dan kesalahan itu bukan dalam aqidah dan manhaj. Kemudian mereka dan Abdur Rahman sendiri merasa bangga dengan itu.

Lihatlah cara mereka bertaubat! Apakah mereka mengira bahwa kesalahan-kesalahan itu adalah hanya masalah kecil ? Demi Allah, kaum Muslimin berpecah di mana-mana, Salafiyun berpecah di banyak negara karena adanya jama’ah-jama’ah hizbiyah yang dia seru dalam bukunya. Apakah dia tidak tahu bahwa buku-bukunya telah memecah-belah Salafiyun di Indonesia dan negara-negara lain ? Apakah ini yang dibanggakan oleh Ihya’ At Turats? Juga perlu ditanyakan kembali apakah memang kesalahannya hanya dalam enam perkara tersebut dan tidak menyangkut masalah manhaj?

Dinukil dari Syaikh Rabi’ bahwa ketika sampai kepada Dr. Shalih Al Fauzan surat dari Abdur Rahman Abdul Khaliq tentang pembersihan dirinya dari perkataan tentangnya, beliau mengirim surat kepadanya dengan puluhan kesalahan – yang berhubungan dengan haq para ulama – yang muncul dari buku-buku dan kaset-kasetnya. Ia juga meminta kepadanya untuk menjawab hal itu, namun dia tidak menjawabnya, sekalipun menjawab salam dari surat tersebut. Hal itu menunjukkan atas israr-nya pada sebagian besar kesalahannya.” Syaikh Rabi’ berkata : “Syaikh Shalih Al Fauzan menyampaikan hal ini kepadaku secara langsung.” (Jama’ah Wahidah halaman 30)

Dengan kejadian ini kita mengetahui apakah kesalahan-kesalahan dia hanya dalam enam perkara itu atau lebih? Dan kapan dia bersedia ruju’ dengan kesalahan-kesalahan sisanya? Apakah menunggu para pemuda Salafiyin melaporkannya kepada Syaikh bin Baaz?!

Apakah Kesalahannya merupakan Zallah (ketergelinciran) atau Dalam Manhaj?

Zallah adalah kesalahan manusiawi yang mungkin saja terjadi pada setiap manusia kecuali Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang ma’shum. Tetapi ada pula kesalahan yang munculnya dari manhaj, pemahaman atau aqidah yang bid’ah.

Maka untuk melihat apakah kesalahan-kesalahannya menyangkut masalah manhaj atau sekedar zallah, kita kembali melihat nukilan ucapan-ucapannya dalam kaset dan buku-bukunya.

  1. Kaset Al Madrasah As Salafiyah

Abdurrahman Abdul Khaliq berkata : “Sifat keempat bagi Madrasah Salafiyah ini –jika kita menginginkan kehidupan bagi Islam– adalah Shifatul ‘Ashr (mengenal jaman) yaitu hendaklah tokoh-tokoh madrasah ini memiliki sifat : Mengenal jaman di mana mereka hidup. Bukan orang-orang yang berbicara (sesuatu) pada jaman yang telah lewat!

Kita dapati –misalnya– sebagian orang yang menamakan dirinya Salafi atau Salafiyin tidak mengerti aqidah Salaf, kecuali permasalahan-permasalahan yang terjadi pada enam, tujuh, atau sepuluh tahun yang lalu. Mereka (hanya tahu) bagaimana menyelesaikan masalah tersebut, maka ini adalah Salafi taqlidi yaitu yang hanya berbicara dengan taqlid semata bukan dengan ijtihad. Yang dimaksud –misalnya– adalah masalah “Al Qur’an adalah makhluk” dan “bagaimana membantah orang yang mengatakan demikian … dan begini dan begini.” Kita sekarang menghadapi masalah baru. Permasalahan tentang pendapat “Al Qur’an adalah makhluk” sudah selesai! Kita sekarang menghadapi orang yang mengatakan “Al Qur’an bukan Ucapan Allah, Tidak ada Rabb! Dan Muhammad bukan Rasul.

Lihatlah! Betapa mirip ucapannya itu dengan ucapan Ikhwanul Muslimin (IM) yang tidak lain berisi ajakan untuk tidak membantah ahlul bid’ah yang mengatakan, “Al Qur’an adalah makhluk”, tetapi bantahlah orang-orang kafir yang tidak percaya kepada Al Qur’an dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam! Adapun orang-orang yang membantah ahlul bid’ah yang mengatakan “Al Qur’an adalah makhluk” dikatakannya sebagai muqallid. Apakah kesalahan ini hanya merupakan zallah (ketidaksengajaan atau kesalahan manhaj?

Disamping itu ucapannya di atas memiliki dua keanehan :

Pertama : Dia mengatakan bahwa masalah “Al Qur’an adalah makhluk” sudah selesai.

Kedua : Menyatakan bahwa pengingkaran terhadap Al Qur’an dan Nabi adalah masalah baru.

Sungguh aneh! Apakah hal ini tidak terbalik?

Masalah pengingkaran terhadap Al Qur’an dan Nabi sejak awal risalah kenabian sudah ada, sedangkan permasalahan “Al Qur’an adalah makhluk” baru muncul setelah muncul bid’ah jahmiyah dan mu’tazilah. Namun apakah sekarang permasalahan itu sudah selesai? Sungguh pemikiran mu’tazilah dan jahmiyah masih banyak muncul dan harus terus dibantah, khususnya di kalangan kita di Indonesia.

Mana Shifatul ‘Ashr yang dia serukan? Perlu diketahui bahwa dia menganggap taqlid kepada para ulama terdahulu dalam masalah-masalah tadi lebih jelek daripada taqlid kepada madzhab yang empat, dengan ucapannya : “Salafiyah taqlidiyah adalah seorang Salafi yang taqlid dan hanya mengatakan ‘saya Salafi’, tetapi dia taqlid dalam aqidah dan dalam fiqh bukan kepada imam yang empat, melainkan kepada selain mereka … Ini adalah pengkaburan terhadap nama tersebut …”

Kalau ada yang mengatakan : “Belum tentu yang dimaksud adalah ulama-ulama yang membantah pemikiran bid’ah di jazirah Arab secara umum atau di Saudi secara khusus.” Untuk menjawabnya kita cukup menukil ucapan berikutnya agar menjadi jelas siapa yang dimaksud. Dia berkata : “Diantara perkara taqlid yang paling besar dalam dakwah Salafiyah adalah taqlid aqidah. Taqlid aqidah yang dimaksud yaitu bahwa kita memahami permasalahan-permasalahan aqidah yang terjadi pada manusia dahulu, kemudian datang dengan tanpa memahami selainnya dan kemudian menerapkannya di jaman sekarang –misalnya– saya berikan untuk kalian beberapa contoh : Ketika engkau pergi ke Saudi sekarang ini, engkau tidak akan mendapatkan kuburan, jarang sekali kau dapati manusia –misalnya– yang menyeru kepada selain Allah. Namun bersamaan dengan itu ada sekelompok ulama yang tidak mengerti masalah aqidah, melainkan apa-apa yang diucapkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah yaitu perkara tauhid uluhiyah dan larangan terhadap peribadatan dan berdoa kepada kuburan atau ber-tawasul dengannya dan begini serta begini. Padahal perlu diketahui bahwa lingkungan dan desa-desa tempat mereka berbicara dengan ucapan itu tidak terdapat manusia yang mengucapkan seperti itu (syirik uluhiyah). Tetapi telah terbentuk di sana pemikiran-pemikiran baru yaitu seperti Atheisme, kelompok yang membuat keragu-raguan pada dien, partai Ba’ts (Saddam Hussein, Iraq, red) dan komunis serta yang lainnya. Tetapi mereka sama sekali buta dan bodoh tentang masalah-masalah yang baru ini. Kalau begitu ini adalah Salafiyah taqlidiyah yang tidak ada nilainya sedikitpun … .” (kaset Al Madrasah As Salafiyah, Abdurahman Abdul Khaliq).

Mudah-mudahan semakin jelas dengan keterangan dia sendiri siapa yang dimaksud Salaf taqlidi yang bodoh dan buta tentang lingkungannya dan tidak ada nilainya sedikitpun.

Dikatakan dalam Hasyiyah (catatan kaki) kitab Jama’ah Wahidah : “Keadaan mereka memperingatkan manusia dari kesyirikan, walaupun negeri mereka terbebas dari kesyirikan merupakan pencegahan dan penjagaan. Mereka mengikuti contoh teladan pada diri Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam pada saat beliau berdo’a :

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“ … dan jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah berhala.” (Ibrahim : 35)

Juga contoh teladan pada Luqman pada saat dia berkata :

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“ … Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan adalah kedhaliman yang besar.” (Luqman : 13)

Maka hal ini (pencegahan ulama terhadap syirik) adalah merupakan keutamaan mereka, bukan kejelekan mereka.

Sedangkan tentang tuduhan Abdurrahman terhadap para ulama tersebut dengan istilah ‘Salafi taqlidi’ kepada ulama-ulama Islam, padahal dia bertaqlid buta kepada musuh-musuh Islam dalam hal demonstrasi, demokrasi, ajakan untuk masuk parlemen dan taqlidnya dalam memperbolehkan berbilangnya jama’ah-jama’ah hizbiyah.” (Jama’ah Wahidah halaman 28)

Jika Anda ingin lebih jelas bagaimana pandangan Abdurrahman dalam masalah demokrasi dapat dibaca dalam bukunya Masru’iyyatud Dukhuli ila Majlis Tasyri’iyyah halaman 90-91. Diantara perkataannya adalah sebagai berikut : “Telah disebutkan oleh beberapa ikhwan tentang kejelekan-kejelekan demokrasi yang mencapai lima puluh kejelekan, dan kami sanggup menambahkan lima puluh bahkan seratus lagi di atasnya. Tetapi tidaklah hal itu menunjukkan haramnya masuk parlemen. Karena orang yang masuk tersebut aman dari kerusakan atau kejelekan aturan tersebut. Dan tidaklah dia masuk kecuali untuk merubahnya.”

Sabar! Jangan terburu-buru Anda mengatakan bahwa dia adalah penjahat dakwah! Kita baru melihat satu kaset. Kita akan melihat kitab dan kaset yang lain, agar lebih jelas apakah kesalahannya hanya merupakan zallah (ketergelinciran) atau karena manhaj dan pemikirannya yang bathil.

  1. Kitab Khuthuth Raisiyah Li Ba’tsil Umah Islamiyah

Dia berkata di halaman 73 : “Sesungguhnya kewajiban para pembuat kurikulum di universitas-universitas Islam yang hanya mengajarkan dien saja untuk memasukkan pengajaran undang-undang, hubungan kenegaraan Islam secara luas berupa penjelasan perbandingan (agama) antara Islam dengan kufur. Dan agar mengurangi sekecil mungkin pengajaran kepada para mahasiswa tentang pelajaran adab buang air, syarat-syarat air dan madzhab para ulama terhadap orang yang mengatakan kepada istrinya : ‘Engkau aku cerai talaq satu atau talaq dua, apakah dianggap talaq tiga atau talaq satu?’ Sudah cukup bagi kita tenggelam dalam tidur, berjalan di atas kekacauan dan kebutaan serta kebodohan! Ajarkanlah kepada anak-anak kaum Muslimin di universitas-universitas tentang hukum-hukum Islam, hukum-hukum had dalam masalah pembunuhan, zina, minum khamr, pencurian dan rampasan! Kemudian bandingkan bersihnya Islam dengan kekotoran musuh-musuhnya! Ajarkanlah hukum-hukum perdamaian dan peperangan, perjanjian-perjanjian damai dan undang-undang politik, syariat antara pemerintah dengan rakyat, antara negara Islam dengan negara kafir! Tinggalkanlah pengajaran adab buang air bagi para pelajar, agar ibu-ibu merekalah yang mengajari anak-anaknya (adab-adab tersebut) ketika mereka berumur 3 atau 4 tahun! Buanglah pengajaran bab-bab haid dan nifas di universitas bagi laki-laki, dan cukup pengajarannya bagi wanita!”

Demikianlah ucapan Abdur Rahman Abdul Khaliq tentang ‘idenya’ untuk lebih mementingkan politik di atas hukum-hukum syariat (fiqh).

Lihatlah! Di dalam kaset Madrasah Salafiyah para ulama dicela karena lebih mementingkan tauhid uluhiyah dan tidak memiliki shifatul ‘ashr. Mereka –dalam buku ini– dianggap tidur dan tenggelam pada fiqh dalam kebutaan dan kebodohan. Dengarlah apa yang dikatakan dalam buku ini tentang para ulama : “ … dan pada hari ini –sayang sekali– kita memiliki syaikh-syaikh yang hanya mengerti qusyur (kulit) Islam yang setingkat dengan masa-masa lalu, yang berubah setelahnya aturan-aturan kehidupan manusia dan cara-cara hubungan mereka.”

Subhanallah! Apakah yang diajarkan di universitas-universitas Islam seperti tauhid dan macam-macamnya, tafsir dan ilmu-ilmunya, hadits dan musthalah-nya dianggap qusyur? Apakah dalam Islam terdapat istilah qusyur? Syaikh Al Albani menjelaskan tentang bid’ah pembagian agama ini menjadi qusyur dan lubab (kulit dan inti) dalam kasetnya yang berjudul La Qushura fil Islam. Syaikhul Islam juga menganggap bid’ah pembagian ushul dan furu’ (pokok dan cabang) diantara perkataan beliau : “Adapun pembagian antara suatu macam dengan penamaan masalah ushul, dan masalah lainnya dengan penamaannya masalah furu’ maka ini tidak ada asalnya. Tidaklah hal ini berasal dari shahabat, tidak dari pengikut mereka dengan ihsan (tabi’in) dan tidak pula dari para imam kaum Muslimin. Pembagian yang demikian ini hanya diambil dari mu’tazilah dan ahlul bid’ah yang semodel dengan mereka (Masail Mardiniyah halaman 788. Lihat Dharuratul Ihtimam bi As Sunnah halaman 111)

Berkata Ibnul Qayyim tentang pembagian ini : “Setiap pembagian yang tidak dipersaksikan oleh Al Kitab dan As Sunnah serta dasar-dasar syariat yang diakui, maka ia adalah pembagian yang bathil dan wajib dibuang. Pembagian ini adalah dasar dari dasar-dasar kesesatan suatu kaum! (Mukhtashar Shawaiq Mursalah 2/415. Juga melalui nukilan Syaikh Abdus Salam bin Barjis dalam bukunya Dharuratul Ihtimam bi As Sunnah halaman 112)

Yang dimaksud dengan pembagian bid’ah oleh para ulama di atas adalah apa yang diinginkan oleh mu’tazilah dan aqlaniyyun yaitu “Aqidah sebagai ushul” dan “Syariat sebagai furu’ ” atau “Perkara i’tiqadiyyah (keyakinan) merupakan ushul dan perkara amaliyah adalah furu’.”

Bagaimanakah pendapat Anda dengan apa yang dikatakan oleh Abdur Rahman bahwa tauhid, fiqh, perkara aqidah dan amaliah itu hanya sekedar qusyur? Kalau begitu mana yang merupakan inti Islam? Dari ucapan-ucapan di atas dapat dipahami bahwa inti Islam yang paling penting menururt dia adalah “wawasan politik”.

Betapa mirip pemikirannya dengan Ikhwanul Muslimin dengan istilah mereka tsaqafah!

Betapa miripnya dengan sururiyah dengan istilah mereka fiqhul waqi’!

Hanya saja dia menyebutnya dengan istilah lain yaitu shifatul ‘ashr!

Lihatlah ucapan lain dari kitab tersebut : “Apa nilainya seorang ulama yang mengerti syariat ketika diseru kepadanya panggilan jihad dan mengangkat senjata, dia hanya berkata : ‘Perkara ini bukan urusan tokoh-tokoh syariat, kita hanya mampu memberikan fatwa-fatwa halal dan haram atau haid dan nifas serta thalaq saja!’ Kita membutuhkan ulama yang sesuai dengan jaman : Ilmu, wawasan, adab, akhlaq, keberanian, kemajuan, serta pemahamannya terhadap upaya-upaya tipu daya dan penginjakan terhadap Islam. Kita tidak membutuhkan barisan para ulama muannathin (mummi atau istilah untuk mayat yang diawetkan dengan balsem) yang hidup di jaman kita dengan badan-badan mereka, tetapi mereka hidup dengan akal-akal dan fatwa-fatwa mereka bukan di jaman kita.”

Sebelum ada pembaca yang berkata : “Bukankah kita tidak tahu siapa yang dimaksud dengan ulama tersebut? Mengapa tidak kita tafsirkan bahwa ulama tersebut adalah ahlul bid’ah dari kalangan sufi yang tidak mau berjihad?

Kita katakan :

Pertama : Sudah sering dia berkata dengan perkataan yang senada dengan ini dan memberikan contoh-contohnya (sebagaimana tersebut di atas) yaitu pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, Salafiyyin dan ulama-ulama Arab Saudi.

Kedua : Dia sendiri melanjutkan ucapannya seakan-akan menjawab pertanyaan Anda sebagai berikut :

Agar tidak ditafsirkan ucapanku tadi kepada selain yang saya maksudkan sebenarnya, maka aku akan memberikan contoh hidup yang aku saksikan sendiri dan ini bukanlah satu-satunya contoh. Waktu itu yang mengajar kami tafsir dan ushul fiqh adalah seorang ulama yang tinggi keilmuannya, dia benar-benar alim, tidaklah dia mendatangkan suatu ayat melainkan menjelaskan dari lafadz-lafadznya secara bahasa, kemudian memberi pendukung-pendukung dengan puluhan bait-bait syair untuk satu lafadh saja. Lalu definisi kalimat-kalimatnya, maknanya secara global, tafsir Salaf tentangnya dengan membawakan dalil-dalil dari hadits dan atsar, kemudian faidah-faidah hukum fiqh yang diambil darinya serta ber-istinbath darinya kaidah-kaidah ushul, selanjutnya menerangkan ayat-ayat lain yang mirip dengannya. Dia memberikan semua itu sementara kami dalam keadaan bingung dengan keluasan ilmu dan bacaannya, akan tetapi orang ini tidak mempunyai nilai sedikitpun pada jamannya, karena tidak memiliki kemampuan untuk menjawab syubhat yang muncul dari musuh-musuh Allah dan tidak siap sama sekali untuk mendengarkan syubhat-syubhat itu … .”

Kalimat terakhir ini yang membuat para ulama marah, karena mereka kenal betul siapa yang dimaksud, yaitu Syaikh Al Imam Muhammad Amin As Syinqithi rahimahullah.

Kemudian setelah itu dia (Abdurrahman) membantah penolakan Syaikh ini terhadap sampainya orang ke Bulan sebagai dasar atas apa yang dia ucapkan di atas setelah itu dia berkata : “Sesungguhnya di mataku tidak ada orang yang lebih alim darinya tentang Kitab Allah. Dia adalah perpustakaan berjalan, tetapi sayang dia adalah ‘cetakan lama’ yang butuh revisi dan koreksi. Inilah salah satu contoh dari puluhan ulama yang mengajar ilmu-ilmu syariat setingkat itu, sementara mereka berada dalam keadaan bodoh tentang kehidupan dan berilmu dengan ilmu agama.” (Selesai ucapannya).

Subhanallah! Ini adalah ucapan yang sama sekali tidak pantas keluar dari mulut seorang Salafi terhadap ulama Ahlus Sunnah, bahkan terhadap orang yang paling alim di jamannya yaitu Syaikh Al Imam Muhammad Amin Asy Syinqithi rahimahullah. Bahkan dia juga mengatakan seperti itu terhadap ulama yang bersamanya.

Mengomentari hal ini, Syaikh Rabi’ berkata : “Ini adalah pandangan Abdurrahman Abdul Khaliq terhadap para ulama Islam secara umum, dan khususnya ulama tauhid dan sunnah di Saudi. Dan (lebih khusus lagi) ulama di Universitas Islam yang dipimpin oleh Syaikh Al Imam Muhammad Amin Asy Syinqithi. (Menurutnya) mereka adalah :

  1. Para Syaikh yang tidak mengerti, kecuali kulit Islam yang hanya sesuai dengan masa-masa silam

  2. Mereka adalah barisan muhannathin (mummi, mayat yang diawetkan, pent.) yang hidup dengan jasad-jasad mereka di jaman kita, tetapi akal dan fatwa-fatwa mereka bukan di jaman kita dan kita tidak membutuhkan mereka

  3. Mencontohkan dengan Imam Asy Syinqithi dan menganggap bahwa beliau tidak mampu menjawab syubhat yang muncul dari musuh-musuh Allah, walaupun dia menyaksikan bahwa tidak ada di matanya seorang yang lebih alim dari beliau tentang Kitab Allah. Beliau adalah perpustakaan yang berjalan, tetapi (menurut Abdurrahman, pent.) adalah ‘cetakan lama’ yang butuh revisi dan koreksi

  4. Bahwasanya mengajar pada waktu itu selain dia, terdapat puluhan orang dengan tingkatan model seperti ini yang berilmu agama, tetapi bodoh dengan kehidupan

Lihatlah! Siapakah sesungguhnya para pencela ulama Ahlus Sunnah? Dia dan pengikutnya ataukah para pemuda Salafiyyin yang melaporkan ucapannya kepada para ulama, yang justru menyebabkan dia mengetahui kesalahannya ?

Sesungguhnya sikap para penganjur fiqhul waqi’ atau shifatul ‘ashr terhadap para ulama Ahlus Sunnah sangat mirip dengan ahlul kalam dan mantiq yang mengatakan bahwa ulama Ahlul Hadits adalah hasyawiyyah (dangkal ilmu)-nya dan orang-orang rendahan.

Sangat mirip pula dengan kaum sufi yang mengatakan bahwa ulama Ahlus Sunnah tidak mengetahui kecuali qusyur (syariat), sementara kaum sufi sudah mencapai tingkat hakikat atau ma’rifat.

Sangat mirip pula dengan kaum nasionalis dan tokoh-tokoh modernis yang mengatakan bahwa ulama Ahlus Sunnah adalah raj’iyyah (terkebelakang).

Kemudian Syaikh Rabi’ berkata dalam masalah ini : “Dan pada hari ini datang ulama waqi’ yang meninggikan fiqhul waqi’ dan melingkupi diri mereka sendiri dengan kebesaran fiqh ini. Sebagian mereka menamakan ilmu para ulama Ahlus Sunnah dengan qusyur, sebagian yang lain menggelari mereka dengan al ‘almanah dan sebagian yang lain menjuluki mereka dengan mummi serta yang lain menamakan mereka sebagai para pegawai atau spionase.

Oleh sebab itu fitnah mereka lebih berbahaya bagi Islam dan kaum Muslimin daripada ahlul kalam dan mantiq, sufi dan nasionalis.

Jika para penganjur fiqhul waqi’ itu menginginkan kebaikan bagi umat, hendaklah mereka mengumumkan taubat mereka dari ghuluw atau berlebih-lebihan pada fiqhul waqi’ yang mereka anggap sebagai fardhu ‘ain, yang terpenting, dan sebesar-besar ilmu. Dan hendaklah mereka mengangkat kedudukan ulama syariat tersebut yang dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya. (Jama’ah Wahidah halaman 47)

  1. Kitab Masyru’iyyatul ‘Amal Jama’i

Buku ini secara global mencakup tiga pembahasan sebagai berikut :

  1. Disyariatkannya ‘amal jama’i

  2. Pembelaan terhadap jama’ah-jama’ah hizbiyah

  3. Ucapan dusta terhadap ulama Ahlus Sunnah dan Salafiyin

  4. Disyariatkannya ‘amal jama’i

a. Disyariatkannya amal jama’i

Tentang masalah disyariatkannya ‘amal jama’i, kita tidak mengingkarinya. Kita tidak pernah mendapati seorang pun dari kalangan Salafiyyin yang mengharamkan ‘amal jama’i yang memang disyariatkan. Namun kita lebih mengenalnya dengan sebutan ta’awun syar’i. Hal ini terbukti dengan adanya organisasi-organisasi, yayasan-yayasan, universitas-universitas, rumah-rumah sakit, yang dibentuk dan dikelola oleh Salafiyyin yang semuanya merupakan ‘amal jama’i yang disyariatkan. Tetapi kalau yang dimaksud adalah jama’ah-jama’ah hizbiyah dengan membaiat seorang imam dan sebagainya tentu hal tersebut tidak disyariatkan sama sekali.Ini merupakan contoh berikutnya dari metode dakwah Sururiyyah Ikhwaniyyah yaitu menggunakan dalil-dalil tentang disyariatkannya ta’awun syar’i, namun dibelokkan kepada bolehnya membentuk aliran atau jamaah-jamaah hizbiyyah.

  1. Pembelaan Terhadap Jama’ah-Jama’ah Hizbiyah

Sedangkan tentang perkara kedua yaitu pembelaan terhadap jama’ah-jama’ah hizbiyah terutama Jamaah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin, dia (Abdurrahman Abdul Khaliq) menjelaskan keutamaan mereka secara berlebihan dengan perkataannya : “Tidaklah setiap kita merasa bangga pada hari ini dengan pemuda-pemuda Muslim yang kembali kepada kita dari negeri-negeri Barat seperti Amerika dan Eropa dengan menyandang ilmu pengetahuan umum, disamping juga telah mengambil ilmu dien berlipat kali lebih banyak daripada apa yang dibawa oleh seorang yang keluar dari universitas Islam di pusat negeri Islam. Bahkan mereka membawa akhlak dan pemahaman yang berlipat kali lebih baik daripada apa yang dibawa oleh orang yang dididik di tempat kita. Tidakkah kita merasa bangga dengan pemuda-pemuda seperti mereka yang kembali dari negeri-negeri kafir dan telah melewati fitnah (ujian) berupa kerusakan dan pengrusakan. Mereka telah menang terhadap fitnah dengan segala bentuknya. Saya bertanya kepada ‘orang-orang yang berfatwa tanpa ilmu’ : ‘Bukankah para pemuda tersebut merupakan buah dari usaha jama’ah-jama’ah dakwah yang teratur rapi yang memiliki amir (pemimpin), pembimbing, peraturan, pendanaan, serta aktifitas yang terlatih?” (Masru’iyyatul ‘Amal Jama’i, halaman 29). Syaikh Rabi’ berkata : “Ucapan ini sangat perlu ditinjau kembali : Dimana mereka (pemuda-pemuda tadi)? Kami ingin belajar dari mereka tentang agama kami dan belajar akhlak Islam. Di mana mereka bersuara? Kami tidak melihat pengaruhnya terhadap kemajuan teknologi di negeri Islam! Mengapa tidak cukup (belajar) dengan mereka saja daripada harus mengirim ribuan orang ke Eropa dan Amerika? (Jama’ah Wahidah halaman 74)

Abdurrahman Abdul Khaliq berkata pula : “ … Kalau saja urusan Allah diserahkan kepada ‘mereka’, tentu tidaklah akan tersisa pada Dien kita satu urat pun yang hidup, tidak pula ada satu pelita yang menerangi. Akan tetapi Allah telah memilih dan selalu akan memilih bagi setiap masa orang-orang yang menegakkan dien-Nya dan tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela. Merekalah yang telah dipilih oleh Allah karena hasil usaha yang ikhlas dan ‘amal yang terus-menerus ditegakkan oleh jama’ah-jama’ah dakwah di setiap tempat di seluruh penjuru alam.” Berkata Syaikh Rabi’ : “Sesungguhnya ucapan ini memberikan pengertian bahwa Jama’ah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin adalah thaifah manshurah dan firqah najiyah. Dan juga memberikan pengertian bahwa aqidah dan pengamalan mereka yang sudah kita singgung tadi adalah haq. Hal ini sangat berbahaya!” (Jama’ah Wahidah halaman 75)

Adapun ucapan beliau (Syaikh Rabi’) sebelumnya tentang Jama’ah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin adalah ketika Abdurrahman mengingkari bahwa kedua kelompok tadi adalah firqah yang memecah belah umat dalam bukunya Masru’iyatul ‘Amal Jama’i halaman 5-6. Syaikh Rabi’ berkata kepadanya : “Kami menanyakan kepadanya apakah Jama’ah Tabligh tegak di atas apa yang telah dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para shahabatnya dan sesuai dengan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam batasi sebagai firqah yang selamat diantara firqah-firqah yang binasa…”

Apakah Jama’ah Tabligh dengan thariqat Ad Diyabandi-nya mengajarkan di Madrasah (halaqah) mereka tauhid dengan manhaj Salafus Shalih, seperti kitab As Sunnah oleh Al Lalikai, Al Ibanah oleh Ibnu Bathah, Aqidah Wasithiyah, Al Hamawiyah ataupun At Tadmuriyah ?

Apakah mereka mencintai buku-buku tersebut dan para penulisnya, menasehatkan manusia untuk mempelajarinya? Atau sebaliknya mereka justru memerangi buku-buku tersebut dan penulisnya, membuangnya, serta menuduh para penulisnya dengan tuduhan kesesatan, kemudian menetapkan buku-buku bid’ah seperti An Nisfiyyah, Al Muyasirah, buku-buku Ar Razi dan buku-buku aqidah lainnya seperti Maturidiyah, Asy’ariyah, dan Jahmiyah?

Apakah dalam masalah tauhid ibadah mereka menetapkan kitab tauhid dan syarah-syarahnya? Kitab tawassul dan wasilah, bantahan kepada Al Bakri, Ighatsatul Lahfan dan yang semisalnya?

Atau apakah mereka justru memerangi buku-buku tersebut dan para penulisnya, kemudian mengajarkan buku-buku ilmu kalam, mantiq, filsafat, dan buku-buku tasawwuf yang syirik?!

Apakah mereka mencintai Ahlul Hadits, para muwahhidin (yang bertauhid) karena mereka bertauhid, memerangi syirik, dan menolak sikap ta’thil (penolakan sifat bagi Allah)?!

Apakah mereka mencintai Ahlus Sunnah yang berpegang dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam atau membencinya?!

Terakhir, disamping bencana-bencana di atas mereka juga berbaiat kepada empat thariqat sufi yaitu : An Naqsyabandiyah, As Sahrurdiyah, Al Jistiyah, dan Al Qadiriyah. Padahal di dalam thariqat-thariqat tersebut terdapat aqidah al hulul (seluruh makhluk merupakan penjelmaan Allah) dan wihdatul wujud (keyakinan bersatunya Allah dengan hamba-Nya) dan juga keyakinan bahwa para wali (yang sudah mati) dapat berpengaruh pada alam ini. Pegangan mereka adalah kitab Tablighi Nishab (manhaj Tabligh) yang penuh dengan aqidah sesat dan hadits-hadits palsu. Bersamaan dengan ini semua mereka berpaham Murji’ah. Semua perkara-perkara di atas telah melebihi mutawatir. (Jamaah Wahidah halaman 56. Untuk lebih jelasnya lihat buku Al Qaulul Baligh oleh Syaikh At Tuwaijiri)

Apakah kelompok seperti mereka dapat dikatakan Ahlus Sunnah?

Kemudian Syaikh Rabi’ mengatakan tentang Ikhwanul Muslimin : “Adapun tentang Ikhwanul Muslimin, mereka sama halnya dengan Jamaah Tabligh dalam seluruh bencana-bencana di atas ditambah lagi masuknya Rafidlah, Khawarij, bahkan Nashara dalam jamaah mereka. Juga ucapan mereka tentang berbilangnya agama dan persaudaraan antar agama.

Doktor At Turabi –penentu kebijaksanaan mereka– telah mengajak dalam salah satu muktamar yang diadakan di Sudan kepada persatuan agama. (Lihat Shahifah As Sudan Al Hadits nomor 1202 tanggal 29 April 1993)

Hasan Makky, salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin yang paling menonjol, juga mengajak untuk menegakkan partai Ibrahimy yang merupakan partai gabungan antara Yahudi, Nashara, dan Muslimin. (Lihat Majalah Al Multaqa nomor 4)

Berkata pula Qardlawi tentang kebolehan berbilangnya agama dan bahwasanya kehidupan ini memungkinkan untuk lebih dari satu agama. Setelah dia mengkaburkan perselisihan antar firqah-firqah termasuk di dalamnya Rafidlah dengan kaidah mereka yang sesat : “Kita tolong-menolong dalam hal yang kita sepakati, dan saling toleransi pada apa yang kita perselisihkan.” Inilah sikap tengah (menurutnya, pent.). Sependapat dengannya dalam hal ini adalah Ghazali, At Turabi, dan Huwaidi. Mereka menamakan pandangan ini dengan ruh Islam. (Lihat Majalah Al Mujtama’ nomor 1118 tanggal 21 Rabi’ul Akhir 1415 H)

Pada syubhat yang dilontarkan oleh Ikhwanul Muslimin, mereka menetapkan sikap terhadap selain kaum Muslimin. Mereka berbicara tentangnya dengan nama Islam dan berlepas diri dari kelompok yang menyelisihi mereka. Mereka menjelaskan dengan ucapan mereka : “Ikhwanul Muslimin berpendapat bahwa manusia seluruhnya adalah pembawa-pembawa kebaikan yang mampu memikul amanat. Sikap kita terhadap saudara-saudara kita dari kalangan Masihiyin (Kristen) di Mesir dan dunia Arab adalah sikap yang jelas, terdahulu, dan ma’ruf yaitu : ‘Bagi mereka apa yang bagi kita, dan atas mereka apa yang atas kita.’ Mereka adalah sekutu-sekutu dan saudara dalam pembelaan negara yang panjang. Untuk mereka semua hak-hak warga negara, baik segi materiil maupun moril, budaya maupun politik. Berbuat baik dan bekerja sama dengan mereka dalam kebaikan merupakan kewajiban-kewajiban Islam. Seorang Muslim tidak boleh meremehkan dan menyepelekan untuk menempatkan dirinya dalam hukum-hukum tersebut. Barangsiapa yang mengucapkan selain ini atau berbuat selain ini, maka kami berlepas diri dari ucapan dan perbuatan mereka.” (Lihat Majalah Al Mujtama’ nomor 1149 tanggal 9 Dzulhijjah 1415 H)

Pembicaraan tentang muktamar-muktamar persatuan agama dan diskusi antar agama yang sangat panjang merupakan perkara-perkara yang sangat jelas dan mutawatir. Mereka secara terang-terangan menjelaskan hal tersebut di dakam buku-buku, buletin-buletin, majalah-majalah mereka, dan di dalam press rilis mereka.

Apakah boleh bagi seorang yang memberikan nasehat bagi dirinya dan bagi Islam untuk membela mereka, dan senantiasa menggolongkan mereka pada Ahlus Sunnah wal Jamaah !?

  1. Ucapan Abdurrahman Abdul Khaliq Terhadap Ulama dan Salafiyyin

Kalau kita perhatikan ucapan Abdurrahman Abdul Khaliq di atas terdapat ucapan : “ … saya bertanya kepada ‘orang-orang yang berfatwa tanpa ilmu’ … .” dan kalimat “ … kalau saja urusan Allah diserahkan kepada ‘mereka’, tentu tidaklah akan tersisa pada dien kita satu urat pun yang hidup, tidak pula ada satu pelita yang menerangi … .” Siapakah yang dimaksud sesungguhnya?

Akan tampak dengan jelas siapa yang dimaksudkan oleh Abdurrahman, jika kita menukil ucapan sebelumnya di halaman 5 dalam Muqadimah : “Wa Ba’du, sesungguhnya aku mendengar beberapa saudara dari para pencari ilmu dan ulama, demikian pula beberapa orang yang menasabkan kepada ilmu dan mengaku ulama –padahal tidak demikian, bahwa jihad jama’i tidak boleh kecuali dengan imam ‘am (imam bagi seluruh kaum Muslimin). Dan sesungguhnya setiap jamaah yang didirikan dalam rangka jihad, dakwah, atau amalan dari amal-amal kebaikan dengan dorongan pribadi dari masing-masing mereka, maka itu bukan jamaah yang disyariatkan. Mereka juga mengatakan : “Sesungguhnya jamaah dakwah Islam yang tegak di dunia ini, timur dan baratnya seperti Jamaah Salafiyah, Jamaah Tabligh, Jamaah Ikhwanunl Muslimin, dan lain-lain itu adalah jamaah firqah dan memecah belah dan tidak boleh mendirikannya dan akhirnya amalnya tidak disyari’atkan ….

Dan terus dia mengucapkan tuduhan-tuduhan pada ulama-ulama dan para pelajar tersebut, sampai dia mengatakan : “Ketika aku melihat kebanyakan dari anak-anak kaum Muslimin dan pemuda-pemuda mereka tertipu dengan fatwa-fatwa yang bathil ini dan ucapan yang sembarangan yang tidak bersandarkan dengan ilmu dan akal. Maka aku suka dengan apa yang Allah wajibkan atasku untuk menjelaskan dan tidak menyembunyikan ilmu untuk menulis risalah ini … .” (Masyru’iyatul ‘Amal Jama’i halaman 5-6)

Dari ucapannya di atas terkandung dua tuduhan terhadap para ulama dan pelajar :

1. Mereka dianggap tidak membolehkan jihad jama’i, kecuali dengan imam ‘am. Yang berarti dia menuduh mereka melarang segala bentuk jihad karena belum ada imam.

2. Mereka menganggap jamaah-jamaah tersebut jamaah firqah dan pemecah belah.

Adapun yang pertama, kita menuntut di atas ucapan dan tuduhannya, apalagi terhadap para ulama secara umum, siapakah yang dimaksud !?

Adapun yang kedua, dia telah mengakui kesalahannya dan ruju’ daripadanya serta mengucapkan apa yang diucapkan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz pada point ke-5 yaitu melarang kaum Muslimin untuk berpecah-belah dalam jamaah-jamaah hizbiyyah.

Kita kembali kepada pertanyaan di atas : “Siapakah yang dimaksud dengan kata-kata Abdurrahman : ‘Orang-orang yang berfatwa tanpa ilmu’?”

Dengan ucapan Abdur Rahman Abdul Khaliq dalam mukadimahnya bisa kita pahami bahwa mereka tidak lain adalah para ulama Ahlus Sunnah yang membantah jamaah-jamaah hizbiyyah. Yang mana Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz pun membantahnya.

  1. Buku “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah wal ‘Amal Jama’i”

Buku ini dia tulis untuk menjadikan perbuatan Ibnu Taimiyah sebagai dalil bolehnya membentuk jamaah-jamaah hizbiyyah. Padahal tidak ada pada buku ini hujjah apapun bagi Abdurrahman Abdul Khaliq menetapkan perkara ini, karena sama sekali tidak benar pendalilannya dengan perbuatan Ibnu Taimiyah dan perannya dalam jihad, kecuali kalau didapati secara tsabit bahwa Ibnu Taimiyah mengajak untuk memecah-belah umat menjadi berpartai-partai dan jamaah-jamaah hizbiyyah.

Diantara ucapannya adalah ketika mengisahkan ajakan Syaikhul Islam untuk memerangi bangsa Tartar : “Pada kejadian ini terdapat pelajaran besar dan tinggi terhadap orang-orang yang berjalan di atas manhaj khawarij di setiap jamannya yang menjadikan permusuhan mereka seluruhnya kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka mengambil dari Ahlus Sunnah kesalahan kecil atau ketergelinciran, kemudian mengerahkan pasukan berkuda kepada mereka (Ahlus Sunnah) dan membiarkan orang-orang kafir dan munafik. Benarlah ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika berkata :

Membunuh kaum Muslimin dan membiarkan penyembah-penyembah berhala.”

Apakah mereka para pencela, pencaci, orang-orang yang memusuhi para ulama umat Islam yang kurang ajar kepada mereka dengan tangan dan mulutnya tidak mengetahui dan tidak mengambil pelajaran dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan siapa-siapa di atas jalannya dari Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sebenar-benarnya, yang mereka itu berwala’ kepada Ahlul Islam dan menjadikan permusuhannya hanya kepada orang-orang kafir?”

Berkata Syaikh Rabi’ hafidhahullah mengomentari hal ini : “Pada siapa yang engkau maksudkan nasehat ini? Apakah kepada orang-orang yang memerangi manhaj Salaf dan pengikut-pengikut Salaf dengan kedustaan-kedustaan yang dibuat-buat?!

Kalau yang engkau maksudkan mereka, maka sesungguhnya mereka memang memusuhi Ahlus Sunnah dan berarti kita tidak mendhalimi mereka. Memang permusuhan mereka seluruhnya adalah kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah dan juga kepada orang-orang kafir. Akan tetapi permusuhan mereka kepada Ahlus Sunnah adalah lebih besar dibandingkan permusuhannya kepada orang-orang kafir. Kedustaan mereka atas Ahlus Sunnah dan manhaj mereka kadang-kadang lebih daripada kedustaan mereka terhadap orang-orang kafir.

Kebanyakan dari jamaah-jamaah tersebut adalah golongan takfiri (yang mengkafirkan kaum Muslimin) dan berjalan di atas jalan Khawarij, mengkafirkan kaum Muslimin dan membunuh mereka, khususnya Salafiyin, sebagaimana yang terjadi di Kunar dan yang terjadi hari ini di beberapa negeri kaum Muslimin.

Kalau yang engkau maksudkan adalah mereka itu, maka kita menerima. Tapi kalau yang engkau maksudkan adalah Salafiyyin Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka ini adalah perkara yang sangat berbahaya dan dhalim, karena berarti dia telah meletakkan sesuatu yang besar tidak pada tempatnya dan melarikan dari tempatnya yang semestinya.

Yang rajih (lebih kuat) adalah bahwa yang engkau maksudkan adalah Salafiyyin secara dhalim sesuai dengan tujuan engkau menulis buku ini dan sesuai dengan pembahasan-pembahasan yang lain dari buku-buku dan sikapmu. (Sebagaimana telah dibahas pada buku-buku sebelumnya -pent., lihat Jamaah Wahidah halaman 78)

Sedangkan ucapanmu : “Apakah mereka para pencela, pencaci, yang memusuhi ulama-ulama umat Islam yang kurang ajar pada mereka dengan tangan lisannya … .” Siapakah yang dimaksud?

Apakah yang mencela ulama-ulama Madinah dengan pimpinanya Syaikh Al Imam Muhammad Amin Asy Syinqithi dengan julukan ‘cetakan lama’, ‘Salafi taqlid’, ‘muhannathin yang hidup dengan jasad-jasad mereka di jaman ini, tapi hidup dengan akal-akal mereka di masa lampau’, dan lain-lain dari julukan yang dituduhkan kepada para ulama Ahlus Sunnah yang mendakwahkan tauhid dan sunnah?

Apakah harakiyyun yang menamakan Syaikh bin Baaz dan para ulama di Saudi dengan ‘pegawai’, ‘spionase’, ‘yang hanya mengerti qusyur (kulit) Islam’, ‘ulama haid dan nifas’ atau seperti yang diucapkan oleh Muhammad Surur : “Budak dari budak dari budak dari budak dan tuan mereka yang terakhir Nashrani.”

Atau apakah yang dimaksud adalah buku-buku ‘Al Kautsariyyin’ yang penuh celaan terhadap Ahlus Sunnah.

Berkata Syaikh Rabi’ : “Jangan engkau berpura-pura bodoh dengan apa yang ditulis oleh Muhammad Al Ghazali dalam beberapa kitabnya dari celaan dan pengkaburan terhadap Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadits yang dulu dan sekarang. Jangan pula kau lupa dengan apa yang ditulis oleh At Tilmitsani terhadap Ahlus Sunnah dengan menjelekkan dan mencela mereka.

Jangan lupa dengan apa yang ditulis oleh Said Ramadhan Al Buthi, Said Hawwa, Abu Ghaddah, ‘Izzudin Ibrahim, dan seluruh tokoh-tokoh ikhwani yang memuji Rafidlah (Syi’ah) dan apa yang ditebarkan oleh tokoh-tokoh Quthbiyyah dari fitnah-fitnah dan gerakan-gerakan pencelaan yang dhalim dan kebohongan-kebohongan yang dibuat-buat terhadap Ahlus Sunnah.

Jangan lupa pula apa yang ditulis oleh Sayyid Quthub dan celaannya terhadap para shahabat serta pengkafirannya terhadap Bani Umayyah, khususnya atas khalifah yang lurus Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dengan menjatuhkan kekhilafahannya dan anggapannya bahwa ruh dan dasar-dasar Islam telah runtuh di jamannya serta pengunggulannya bagi murid-murid Ibnu Saba’ atasnya (Utsman bin Affan).

Jangan lupa pula terhadap tulisan mufti Oman dan celaannya terhadap Ahlus Sunnah yang sebenarnya, dan celaannya terhadap shahabat bersama persaksiannya terhadap celaan Sayyid Quthub dan Maududi (dalam bukunya Khilafah dan Kerajaan, pent.).

Terakhir, jangan lupa dengan serangan Muhammad Alwi Al Maliki, Abdullah Shiddiq Al Gumari dan As Saqqaf terhadap Ahlus Sunnah. Dan juga serangan Ad Diobandiyyin tokoh-tokoh jamaah (terhadap Ahlus Sunnah).

Kalau engkau merasa sakit dan gelisah dengan celaan-celaan yang dhalim dan jahat terhadap Ahlus Sunnah tersebut, maka berarti engkau berada di atas kebenaran. (Lihat ciri-ciri Ahlus Sunnah dalam Mukadimah halaman 19)

Tetapi sangat disayangkan, engkau jauh dari apa yang saya sebutkan tadi. Dan sesungguhnya yang engkau inginkan (dengan ucapanmu) adalah Salafiyin. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. (Jamaah Wahidah halaman 80)

Kalau Abdurrahman Abdul Khaliq memaksudkan dengan ucapannya adalah Salafiyin, maka siapakah yang dia maksudkan dengan ulama yang mereka cela? Ulama Ahlus Sunnah atau ahlul bid’ah? Jawabannya kita serahkan kepada Abdurahman Abdul Khaliq, para muridnya dan para pembaca.

Perhatikan ucapan di atas : “Apakah mereka tidak mengambil pelajaran dari Syaikhul Islam dan orang-orang yang di atas jalannya dari Ahlus Sunnah wal Jamaah yang benar, yang mereka ber-wala’ kepada Ahlul Islam dan menjadikan permusuhan mereka hanya kepada orang-orang kafir?”

Kita tidak yakin kalau dia sedang menasehati jamaah-jamaah hizbiyyah yang memerangi kaum Muslimin di Kunar dan mempersaudarakan agama-agama samawi, karena dia menulis buku-bukunya justru dalam rangka membelanya dari bantahan dan nasehat Salafiyun kepada mereka.

Adapun Salafiyun, mereka menyambut gembira manhaj Salaf dan Syaikhul Islam serta orang-orang yang berada di atas jalannya dari kalangan Ahlus Sunnah. Tetapi … apakah berarti dengan berhenti membantah ahlul bid’ah?!

Kita dengar jawaban Syaikh Rabi’ tentang hal ini : “Salafiyun akan berkata : ‘Marhaban (selamat datang) manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sebenarnya. Karena sesungguhnya mereka tidak menginginkan pengganti selain itu. Diantara dasar-dasar manhaj ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

Tidak seorang nabi pun yang Allah utus pada satu umat sebelumku, kecuali memiliki dari umatnya para penolong shahabat-shahabat yang mengambil sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian sesungguhnya akan datang setelah mereka generasi yang mengucapkan apa-apa yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan. Barangsiapa memerangi (jihad) mereka dengan tangannya maka dia mukmin, barangsiapa memerangi mereka dengan lisannya maka dia mukmin, dan barangsiapa memerangi mereka dengan hatinya maka dia mukmin … .” (HR. Muslim dalam Kitab Al Iman hadits nomor 80 juz I halaman 69-70)

Dan firman Allah :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Kalian memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar dan kalian beriman kepada Allah … .” (Ali Imran : 110)

Sedangkan bid’ah, apalagi syirik dan kekufuran termasuk dalam kemungkaran tersebut. Adapun ma’ruf yang paling puncak adalah tauhid. Akan tetapi Salafiyin tidak mengkafirkan seseorang kecuali setelah ditegakkan hujjah.

Ingatlah bagaimana Umar memukul Shabiegh dan mengasingkannya.

Ingatlah bagaimana Ibnu Umar berlepas diri dari Qadariyyah.

Ingatlah pembunuhan yang dilakukan Ali dan para shahabat terhadap khawarij dengan perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Banyak hadits-hadits dalam masalah ini yang diriwayatkan oleh para imam diantaranya Imam Bukhari dan Muslim.

Ingatlah pula sikap Ibnu Mas’ud dan Abu Musa terhadap halaqah-halaqah dzikir dan orang-orang yang bertasbih dengan kerikil.

Bacalah kitab Khalqu Af’ali ‘Ibad oleh Bukhari, kitab As Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad, As Sunnah oleh Al Khallal yang disusun di dalamnya ucapan-ucapan Imam Ahmad dan ulama Salaf.

Baca pula Asy Syari’ah oleh Al Ajurri, Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah oleh Al Lalikai, dua kitab Ibanah oleh Ibnu Baththah (Kubra dan Shugra), Ushul I’tiqad oleh Abu Hatim dan Abu Zur’ah dan kitab Tauhid oleh Ibnu Khuzaimah, Mukadimah Syarhus Sunnah oleh Al Baghawi dan banyak lagi yang lainnya.

Baca pula kitab-kitab Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim dan Ibnu Abdul Wahhab dengan tolok ukur Salafi jangan dengan tolok ukur keuntungan politik dan perasaan semata.

Engkau akan dapatkan bahwa Salafiyun telah mengambil manhaj sunni Salafi yang hakiki ini.

Aku ingin memberikan untukmu hadiah yang berharga yang dimiliki oleh Ahlus Sunnah yang merupakan ‘petir’ bagi ahlul bid’ah dan para pembelanya.

Al Baghawi dalam Mukadimah Syarhus Sunnah bab Mujanabatu Ahlil Ahwa’ (Menjauhkan Ahlul Ahwa/Ahlul Bid’ah) membawakan ayat-ayat, hadits-hadits, dan atsar-atsar di dalam bab ini tentang celaan terhadap ahlul bid’ah. Didalamnya terhadap banyak nukilan diantaranya pengkafiran dan penyesatan (menganggap sesat) terhadap beberapa ahlul bid’ah (seperti Rafidlah dan Jahmiyah, pent.) … hingga dia berkata :

Telah berlalu para shahabat, tabi’in, para pengikut mereka, dan ulama-ulama sunnah atas yang demikian, bersatu dan bersepakat atas permusuhan dan pemboikotan terhadap ahlul bid’ah.” (Syarhus Sunnah juz I halaman 227)

Demikianlah Al Baghawi menyebutkan kepada kita bahwa para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in bersatu dan sepakat atas permusuhan terhadap ahlul bid’ah dan pemboikotan mereka. Maka apakah engkau (wahai Abdurrahman Abdul Khaliq) menerima nasehat ini dan percaya dengan nukilan ini sebagaimana Salafiyin menerima dan membenarkannya?!” (Jamaah Wahidah halaman 80-82)

Dia (Abdurrahman Abdul Khaliq) juga menyandarkan pendapatnya kepada Syaikhul Islam bahwa kita hanya memusuhi orang-orang kafir.

Maka bandingkanlah dengan ucapan Syaikhul Islam berikut :

Seorang yang membantah ahlul bid’ah adalah mujahid, hingga Yahya bin Yahya berkata : ‘Pembelaan terhadap sunnah lebih baik daripada jihad’.” (Naqdul Mantiq halaman 12)

Kita katakan layakkah para pembela Ahlus Sunnah yang membantah ahlul bid’ah dijuluki dengan pencela, pencaci, kotor mulutnya dan lain-lain?! Atau apakah mereka pantas dikatakan mencela para ulama?!

Lihatlah pula ucapan Syaikhul Islam yang lain, yaitu beliau rahimahullah berkata setelah menjelaskan secara ringkas siapa yang boleh di-jarh (dicela) dan yang boleh diterangkan keadaannya, bahkan dianggap sebagai nasehat : “Nasehat wajib dalam maslahat-maslahat dien yang khusus dan yang umum, seperti :

  1. Para penukil-penukil hadits yang keliru atau berdusta. Sebagaimana dikatakan oleh Yahya bin Said : “Saya bertanya kepada Imam Malik, Ats Tsauri, Al Laits Ibnu Sa’ad, dan aku kira juga Al Auza’i tentang seseorang yang tertuduh dalam masalah hadits dan tidak hapal? Mereka semua menjawab : “Terangkan keadaannya!”

Berkata sebagian mereka kepada Imam Ahmad Ibnu Hambal : “Berat atasku untuk mengatakan fulan seperti ini, fulan seperti itu?” Maka berkata Imam Ahmad : “Kalau engkau diam dan aku diam, maka kapan seorang bodoh akan tahu yang shahih.”

  1. Para tokoh ahlul bid’ah dari golongan yang memiliki ucapan-ucapa yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, juga ahlul ibadah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah.

Maka sesungguhnya menjelaskan keadaan mereka dan memperingatkan umat dari mereka adalah wajib dengan kesepakatan kaum Muslimin. Hingga dikatakan kepada Imam Ahmad : “(Apakah) seseorang berpuasa , shalat, i’tikaf, maka hanya untuk dirinya, sedangkan jika dia berbicara terhadap ahlul bid’ah, maka itu untuk kaum Muslimin. Inilah yang lebih afdhal.”

Maka ketika manfaatnya umum bagi kaum Muslimin dalam dien mereka, dia termasuk jihad fi sabilillah. Karena pembersihan jalan Allah, dien, manhaj, dan Syari’at-Nya serta penolakan terhadap penyelewengan mereka (ahlul bid’ah) dan permusuhan terhadap mereka adalah wajib kifayah dengan kesepakatan kaum Muslimin.

Kalaulah tidak ada orang-orang yang Allah tegakkan untuk menolak kejelekan-kejelekan mereka, maka akan rusaklah dien dan kerusakan ini lebih besar daripada rusaknya penjajahan musuh yang memerangi. Karena jika mereka menguasai/menjajah tidak akan merusak hati dan apa yang ada di dalamnya dari dien secara langsung, tetapi tunduk (lahiriahnya). Adapun mereka (ahlul bid’ah) merusak hati secara langsung. (Majmu’ur Rasail wal Masail 5/110)

Adapun masalah jihad Syaikhul Islam terhadap Tartar, sesungguhnya Ibnu Taimiyah dalam memerangi Tartar bertitik-tolak dari tauhid dan yang membawa benderanya adalah ahli tauhid. Lain halnya ketika bendera jihad berada di tangan quburiyyin (para penyembah kubur), maka tidak mereka mendapatkan bagian kecuali kekalahan.

Berkata Syaikhul Islam rahimahullah ketika membantah istighatsah (mengadu), isti’anah (meminta pertoloongan), dan isti’adzah (meminta perlindungan) kepada selain Allah, serta menjelaskan bahwasannya perbuatan itu syirik sebagai berikut :

“ … hingga ketika musuh yang keluar dari syari’at Islam datang ke Damaskus mereka ber-istighatsah dengan orang-orang mati di kuburan-kuburan, yang mereka mengharapkan dari sisinya agar hilangnya bahaya. Berkatalah beberapa penyair :

Wahai orang-orang yang takut dari Tartar

Berlindunglah dengan kubur Abi Umar

Atau berkata :

Berlindunglah kalian dengan kubur Abi Umar

Dia akan menyelamatkan kalian dari setiap dlarar

Aku (Syaikhul Islam) katakan kepada mereka : “Mereka yang kalian ber-istighatsah (mengadu) kepadanya kalaupun mereka bersama kalian dalam peperangan, mereka pun akan kalah sebagaimana kalahnya kaum Muslimin di perang Uhud. Karena sesungguhnya telah ditetapkan (oleh Allah) bahwa tentara akan terpecah (kalah) karena sebab-sebab yang mengharuskan demikian. Dan ini karena hikmah Allah padanya.

Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki pemahaman dan pengertian terhadap dien yang baik tidak mau ikut berperang pada saat itu karena tidak adanya peperangan yang syar’i yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dan karena peperangan (semacam itu) hanya akan menghasilkan fasad (kerusakan) dan tidak turunnya pertolongan yang dibutuhkan. Maka tidak ada padanya balasan dunia, tidak pula pahala akhirat, bagi siapa yang mengerti ini dan itu (mengerti kesesatan kedua belah pihak, pent.). Walaupun kebanyakan orang meyakini bahwa itu adalah jihad syar’i, adapun niatnya diserahkan pada hati mereka.

Ketika setelah itu mulailah kami mengajak manusia untuk mengikhlaskan dien hanya untuk Allah Azza wa Jalla dan beristighatsah kepada-Nya dan agar tidak ber-istighatsah kepada selain-Nya. Tidak beristighatsah kepada Malaikat yang didekatkan, tidak pula kepada Nabi yang diutus. Sebagaimana ucapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada saat peperangan Badr.

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ

Dan ingatlah ketika kalian ber-istighatsah kepada Rabb kalian, lalu diperkenankan-Nya bagimu … .” (Al Anfal : 9)

Ketika manusia sudah memperbaiki keadaan mereka dan jujur, beristighatsah kepada Rabb-nya, Allah menolong dari musuh-musuh mereka dengan pertolongan yang besar, sehingga kalahlah Tartar dengan kekalahan yang tidak pernah terjadi pada saat itu.

Hal demikian dikarenakan benarnya perwujudan tauhidullah dan ketaatan kepada Rasulullah, yang sebelumnya mereka tidak seperti itu. Sesungguhnya Allah menolong Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan pada hari persaksian.” (Kitab Radd Alal Bakri halaman 377-379. Lihat Jamaah Wahidah halaman 88)

Setelah menukil ucapan Syaikhul Islam di atas, Syaikh Rabi’ berkata : “Semoga Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq masih ingat dan belum lupa sikap jamaah-jamaah Islamiyah (hizbiyyah, pent.) terhadap serangan ‘Tartar modern’ yaitu Saddam Hussein yang mulhid dan tentaranya terhadap Kuwait dan menggiring mereka para pasukan liar dan biadab ke batas Kerajaan Saudi Arabia, negeri Tauhid dan Sunnah. Apakah jamaah-jamaah itu bangkit untuk membela negeri tauhid dan dua tempat suci (Makkah dan Madinah) ?!

Atau apakah mereka bangkit untuk menolong penguasa ‘Tartar modern’ dengan demonstrasi-demonstrasi, muktamar-muktamar, dan dengan menggerakkan ahlul bid’ah dan partai-partai kafir terhadap negeri tauhid untuk membela ‘Tartar modern’, dan dengan mempersaksikan bahwa jihad mereka adalah jihad Islam, serta Saddam adalah pahlawan Islam … ?! (Jamaah Wahidah halaman 88)

Kesimpulan
Kami cukupkan pembahasan ini dengan beberapa nukilan dari kaset dan buku-buku Abdurrahman Abdul Khaliq agar menjadi jelas apakah kesalahan-kesalahannya hanya merupakan zallah (ketergelinciran) atau memang karena akibat dari penyelewengan manhaj.

Telah dibantah oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz dalam enam masalah.

Telah dibantah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Shalih Ibnu Ghushhun dan lain-lain.

Telah diberikan surat bantahan yang memuat puluhan kesalahan kepadanya oleh Syaikh Shalih Al Fauzan.

Dan telah dijelaskan penyelewengan manhajnya oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhaly.

Oleh karenanya tidak terlalu jauh kalau Syaikh Al Muhaddits Muqbil bin Hadi Al Wadi’i ketika ditanya tentang Abdur Rahman Abdul Khaliq apakah dia mubtadi’ (ahlul bid’ah), beliau mengatakan : “Ya, dia adalah mubtadi’. Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Maka kini kami memanggil Abdurrahman Abdul Khaliq dan pengikut-pengikutnya untuk bertaubat dan meninggalkan semua ucapan-ucapannya dan kembali kepada manhaj As Salafus Shalih.

Kami juga memanggil kaum Muslimin untuk berhati-hati dari penyelewengan Abdur Rahman Abdul khaliq, kaset, dan buku-bukunya serta pengikut-pengikutnya.

Kalau mereka mengatakan : “Bukankah itu kaset-kaset dan buku-buku lama, yang sekarang dia sudah bertaubat daripadanya?”

Kita katakan : “Alhamdulillah kalau memang dia telah bertaubat dari kaset dan buku-buku tersebut.”

Namun karena kaset dan buku-bukunya tetap tersebar di seluruh penjuru dunia dan bahkan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, maka kita tetap berkewajiban untuk memperingatkan dari bahaya dan penyelewengannya. Hal itu sebagaimana para ulama memperingatkan dari manhaj Asy’ariyah, meskipun Abul Hasan Al Asy’ari sendiri telah bertaubat dari paham-pahamnya dan memperingatkan dari buku-buku karya Ghazali, padahal beliau telah bertaubat di akhir hayatnya. Semoga Allah mengampuni dan merahmati mereka. Apalagi ternyata kita dapati beberapa tanda kalau dia belum bertaubat dengan sebenar-benarnya, diantaranya :

  1. Dia merasa bangga dengan ribuan kaset dan buku-buku selama dia berdakwah 30 tahun yang hanya jatuh pada enam kesalahan.

  2. Marahnya dia kepada Salafiyin yang menyampaikan ucapannya kepada para ulama, yang semestinya dia berterima kasih.

  3. Ucapannya dalam kaset Kasyfus Syubuhat yang diucapkan setelah pengumuman taubatnya bahwa kesalahan-kesalahannya 20 tahun yang lalu pada masanya adalah haq.

  4. Kembali mengucapkan perkataan-perkataan sinis kepada para ulama tauhid dan membela ahlul bid’ah dari jamaah-jamaah hizbiyyah.

  5. Dia masih belum menyadari bahwa penyelewengannya adalah pada masalah manhaj, bukan sekedar zallah (ketergelinciran) saja.

Akhirnya kami memanggil kepada seluruh kaum Muslimin untuk bertaubat kepada Allah dan kembali kepada manhaj Salafus Shalih Ahlus Sunnah wal Jamaah dan berdoa kepada Allah agar memberi petunjuk kepada kita dan mereka serta mengampuni kesalahan-kesalahan kita dan mereka. Amin.

Duta-duta Sururiyyah di Indonesia

Seluruh bentuk-bentuk metamorfosis yang asal-muasalnya dari sikap toleran ala sufi terhadap kebid’ahan-kebid’ahan dan kesesatan sudah tersebar pula di Indonesia. Setelah keberadaan IM, baik di luar negeri maupun di dalam negeri kita, sudah tidak laku di pasaran, maka mereka mencari bentuk baru hingga tampak menarik minat masyarakat awam. Manusia menjulukinya dengan berbagai macam istilah-istilah seperti: Salafy haraki, Salafi moderat, harakah sunniyyah dan lain-lain. Penamaan-penamaan tersebut muncul karena keanehan mereka pada satu hal yaitu: sikap lunaknya pada ahlul bid’ah, selalu membela dan mencarikan dalih, bahkan menyanjung mereka.

Tentunya sikap seperti ini sangat berbeda dengan ketegasan para ulama dalam menyikapi ahlul bid’ah. Mereka terpaksa memberikan embel-embel tambahan pada jenis “salafy baru” ini dengan istilah: salafy tapi moderat, salafy tetapi lunak, salafi yang mau bergabung dengan harakah-harakah bid’ah dan seterusnya.

Yayasan Al Sofwa

Pemikiran sururiyyah ini telah di import masuk ke Indonesia oleh yayasan-yayasan tertentu seperti ash-Shofwa –yang awal berdirinya bernama al-Muntada persis sama dengan nama yayasan Muhammad surur di London–. Mereka berkiblat kepada Muhammad Surur Naif Zainal Abidin, yang menerbitkan dua majalahnya as-Sunnah, kemudian al-Bayan. Yayasan ini turut andil dalam menyebar-luaskan majalah tersebut di Indonesia. Untuk lebih jelasnya lihat persaksian-persaksian berikut:

I. Persaksian Penulis (Muhammad Umar as-Sewed) Tentang Yayasan Al-Sofwah
Untuk Allah dan karena Allah kami menulis persaksian ini. Dengan harapan agar kaum muslimin khususnya ahlussunnah Salafiyyin menyadari bahaya yang sedang mengancamnya.
Saya (Muhammad Umar as-Sewed) masih ingat ucapan Syaikh Rabi’ kepada saya, ketika saya bertanya tentang al-Muntada (yang kemudian berganti nama dengan Al-Sofwa). “Kalau memang yayasan tersebut sama dengan al-Muntada yang berada di London, maka kita lihat saja , ia akan menjadi musuh paling utama Dakwah Salafiyyah di Indonesia”, kata Syaikh Rabi’.

Dengan cara yang persis sama dengan al-Muntada, London mereka mulai membuat gerakan makarnya, mendekati para Ulama. Mereka meminta rekomendasi dan legitimasi bahwa yayasan ini adalah yayasan Salafiyah, mendekati salafiyyin Indonesia dan menampilkan diri sebagai gerakan dakwah Salafiyah, dengan menyebarkan karya-karya Syaikh ‘Utsaimin dan Syaikh Bin Baaz yang sifatnya umum yang tidak berkaitan dengan manhaj mereka… dan seterusnya. Setelah itu dengan halusnya mereka menyusupkan pemikiran-pemikiran Sururiyah-Ikhwaniyah melalui berbagai macam cara.

Pemikiran khas Sururiyah-Ikhwaniyah yang paling jelas adalah menyatukan berbagai firqoh ahli bid’ah dan berusaha mengakurkan mereka sekaligus membawanya kepada satu “jama’ah” yang tidak saling bermusuhan.

Tentunya kelompok yang paling mereka takuti adalah Ahlussunnah Salafiyyun. Karena mereka tetap pada jalan generasi pendahulunya, mengajak kepada Sunnah dan memberantas bid’ah, berwala’ (loyal) kepada Ahlussunnah dan bara’ (benci dan antipati) dari para ahli bid’ah. Dan mereka terkenal keras dan tegas kepada ahli bid’ah.

Ternyata apa yang telah diucapkan Syaikh Rabi’ kini menjadi kenyataan. Karena apa yang dibawa al-Muntada/As-Sofwa di Indonesia sama dengan apa yang dibawa Al-Muntada di London. Yang demikian itu bisa dilihat dari beberapa bukti yang saya saksikan atau yang saya dengar dengan yakin yaitu :
1. Mereka menyebarkan majalah Al-Bayan yang diterbitkan oleh Al Muntada Al Islami (yang didirikan Muhammad Surur, sehingga sebutan bagi pengikutnya disebut sururi, red), London

  1. Menyebarkan buku-buku terbitan Al Muntada dan lain-lain dari tulisan tokoh-tokoh sururi seperti Salman ‘Audah, Aidl Al-Qarni dan sebagainya

  2. Bahkan lebih jelas lagi bahwa pendirinya, Muhammad Ibn Ibrahim al-Khalaf (namanya sesuai dengan manhajnya) menulis buku “Petunjuk bagi Wanita Pelajar” yang dalam bahasa aslinya (Arab) adalah Dalilut Thalibah. Dibawakan olehnya fatwa-fatwa fiqih dari syaikh Ibnu Utsaimin hafidhahullah. Sedangkan patokan-patokan dalam masalah dakwah diambil dari pemikiran Salman Al Audah. (Dilaporkan oleh website Al Sofwa, http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkegiatan&id=41&id_layanan=26 bahwa Yazid Abdul Qadir Jawwas (mudir Yayasan Minhajus Sunnah), Bogor; Abu Nida’ Khomsaha Sofwan, Lc. (Mudir Yayasan Majelis At-Turats, Yogyakarta), Khalid Syamhudi, Lc (Ustadz di Ma’had Imam Bukhari), Nizar Sa’ad Jabal, Lc. (Mudir Ma’had Al-Irsyad Tengaran-Salatiga); Abu Haidar Al-Sundawy (Mudir Yayasan Ihya’u Al-Sunnah, Bandung), Asmuji Muhayyat, Lc. (Mudir Ma’had Imam Syafi’i); Ali Nur Abu Ihsan Al-Medani, Lc., MA. (Ustadz di Jazirah Sumatera Utara), Ust. Fariq Qashim Anuz (Ustadz di Jeddah Da’wah Center-Jeddah-KSA), Ust. Abu Hamzah A. Hasan Bashari, Lc.,M.Ag. (Da’i di Jawa Timur), Ust. Muhammad Dahri Qomaruddin, Lc (LIPIA Jakarta), Ust. Geis ibn Umar Bawazir (Al-Irsyad-Pemalang), . Masruhin Sahal (Mudir Ma’had Al-Tha’ifah Al-Manshurah, Kediri), Ust. Hasyim Rifa’i (Mudir Ma’had Baitus Shalihat, Kediri), Ust. Ade Hermansyah ibn Bunyamin, Lc. (Mudir Ma’had Al-Ma’tuq, Sukabumi), mereka semuanya hadir di acara tanggal 25 Rabi’ul Awwal – 01 Rabi’ul Akhir 1421H) yang menghadirkan ‘Syaikh’ Muhammad ibn Ibrahim Al-Kholaf dari Unaizah-KSA, red)
    4. Membantu program-program ahli bid’ah baik dari kalangan pengikut tarekat sufiyyah, Ikhwanul Muslimin, ataupun Negara Islam Indonesia (NII) atau disebut JI akhir-akhir ini (diantaranya Ponpes Al Mukmin Ngruki, red)
    5. Memperkerjakan orang-orang yang tidak jelas manhajnya di dalam yayasan Al-Sofwa (diantaranya Aman Abdurrahman Lc menjadi dai dan imam tetap masjid Al Sofwa yang berpaham teroris belakangan setelah bom rakitannya meledak di rumahnya, Cimanggis, maka dia divonis dipenjara di Sukamiskin, Bandung, red)
    6. Yang lebih jelas dari itu adalah hubungannya dengan Muhammad Anis Matta, Lc (sekarang sekjen PK Al Ikhwani, red) yang jelas-jelas tokoh Ikhwanul Muslimin Indonesia.

Saya pribadi pernah memergokinya bersama Muhammad Anis Matta (tokoh PKS, red) di Hotel Karya II, Jakarta. Maka saya menegurnya. Kemudian dia beralasan hanya membantu program khusus bahasa Arabnya.
7. Hubungan eratnya dengan Ikhwanul Muslimin (IM) bertambah jelas ketika ia menitipkan istrinya bersama akhowat IM di Madrasah IM yaitu Al-Hikmah, yang pernah melarang murid-murid wanitanya memakai cadar. Dan kami pernah menegur mereka dengan mendatangi guru-gurunya. Jawaban mereka : “Ini hasil kesepakatan guru-guru”
8. Mengadakan daurah para Da’i di Bogor. Dengan mendatangkan tokoh Sururi Dr. Ibrahim ad-Duwaisy yang jelas prototypenya Salman (Nama Dr Ibrahim Ad Duwaisy dipropagandakan oleh website Al Sofwa karena kasetnya direkomendasikan oleh yayasan Al Sofwa)
9. Mengadakan dakwah untuk para da’i dengan menampilkan Farid Okbah (aktifis DPP Al Irsyad /L-Data, Jakarta, red) yang menjelaskan bahwa fitnah Sururiyah Indonesia tidak ada. Dan itu hanyalah problem politik Saudi.

II. Kesaksian Syaikh Abdullah bin Umar bin Mar’i (Yaman) Tentang Muhammad Kholaf

Mengenai pendiri Yayasan Al-Sofwa, Muhammad Kholaf, silakan dengarkan kesaksian Syaikh Abu Abdirrahman bin Umar bin Mar’i yang pernah mengenalinya langsung dari dekat di ‘Unaizah, Al-Qosim, King Saudi Arabia. Persaksian itu sebagai berikut :

Beliau berkata :

Segala pujian hanya milik Allah Ta’ala Rabb sekalian alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya.

Amma ba’du,

Seorang al-akh (saudara) meminta saya agar menulis tentang Muhammad Kholaf tentunya sesuai dengan apa yang saya ketahui. Semoga Allah menunjukinya.
Maka dari itu dengan memohon pertolongan-Nya, saya akan memulainya.
Saya katakan (Abdullah Mar’i, red) :

Saya mengetahuinya di ‘Unaizah dan ketika itu saya berjumpa dengannya di perpustakaan Maktabatul Ummah. Saya pernah mendengar tentang dirinya dari pembicaraan ikhwah Indonesia dan dari seorang yang mengetahuinya disana. Tak lama kemudian saya menanyakan tentang dirinya (juga) kepada beberapa ikhwan yang tinggal di ‘Unaizah. (Ternyata) lebih dari satu ikhwan kita yang salafy di kota Qosim memberitahukan bahwa ia adalah termasuk salah seorang yang mempunyai hubungan sangat dekat dengan Salman al-‘Audah. Hubungan dekatnya dengan Salman membuatnya (mudah) mendapatkan bantuan-bantuan (dana) darinya. Mayoritas bantuan tersebut ia peroleh dari Al-Jam’iyah Ihyaut Turats, sebagian bantuan lainnya ia kumpulkan dari para syaikh Kerajaan Saudi dengan rekomendasi dari Salman. Hubungan dekatnya dengan Syaikh ‘Utsaimin beberapa waktu lamanya (nampaknya juga) merupakan faktor yang membuat ia mudah mengumpulkan bantuan (dana) dari Jam’iyah Ihya’ut Turots. Ditambah lagi dia seorang penduduk Qosim dan seorang guru di Riyadl. Saya pikir banyak yang mengetahui hal itu.

Adapun manhajnya maka ia adalah seorang Sururi. Karena ia sangat kental hubungannya dengan Salman al-‘Audah dan orang-orang yang sejalan dengannya.
Terdapat beberapa hal yang menunjukkan demikian antara lain:

1. Hubungan sangat kental dengan Salman Al-Audah dan orang-orang yang sejalan dengannya di negeri Saudi ataupun di luar negeri tersebut.

2. Beberapa risalahnya yang telah dicetak semisal Dalilit Thalibah al Mukminah (Petunjuk Bagi Wanita Pelajar) dan selainnya.

3. Ia mempunyai perpustakaan bernama Maktabatul Ummah yang berada di ‘Unaizah, terdapat padanya kitab dan majalah.(yang bermanhaj sururi-pent)

4. Kitab-kitab yang ia bagikan, sebarkan dan cetak mayoritas memuat keinginan pencetak dan pemikirannya (yakni Muhammad Kholaf, red)

5. Warga salafiyyin yang sedaerah dengannya yang berdomisili di ‘Unaizah menyaksikan keadaannya yang demikian. Dan merekalah orang-orang yang tahu tentang dirinya dan aktivitasnya. Dr.Abdullah al-Musallam, seorang dosen pada mata kuliah Syar’iyah dan Ushuluddin di Universitas Al-Imam, Qosim, mengatakan bahwa ia seorang sururi bahkan termasuk tokohnya. Al-Ustadz Umar al-Harakan, seorang pengajar di Ma’had Ali di kota Buraidah, banyak dari kalangan ikhwan salafiyin seperti al-Akh Muhammad at-Turki, Abdurrahman al-‘Amir, Umar al-Hathlani, Rafiq Zaki dan selain mereka menyaksikannya berbuat demikian. Merekalah saksi-saksi hidup. Datang dan mintalah keterangan tentang masalah ini pada mereka.

  1. Salman Al-‘Audah, Jam’iyah At-Turats dan beberapa orang yang berdomisili di Riyadh adalah pendukung-pendukungnya. Hal ini menunjukkan apa yang telah disebutkan di muka dan inilah perkara-perkara yang dapat dipersaksikan dari kejauhan sebelum mendekatinya.

Mudah-mudahan yang telah saya sebutkan (insya Allah –pent) di atas sudah mencukupi. Allahu a’lam. Jika tidak demikian maka disana masih terdapat banyak hal lain (yang masih belum disebutkan). Namun tidak sepantasnya semua yang diketahui disebutkan. Allahu a’lam.

Adapun mengenai akhlak dan pergaulannya dengan teman-temannya, maka inilah perkara yang sudah jelas.

Sungguh saya pernah bergaul langsung dengannya. Akan tetapi saya belum pernah duduk-duduk bersamanya selain beberapa saat saja. Padanya ada perkara-perkara yang tidak sepantasnya seorang muslim yang mengamalkan keislamannya, terlebih bagi seorang thalibul ilmi dan da’i, (untuk mengorek semua kejelekannya). Semoga Allah menunjukinya.


Terakhir, inilah catatan yang saya tuangkan di sini mengenai al-akh tersebut. Saya katakan dan saya ingatkan (kepada semua pihak yang berkepentingan) bahwa haruslah bagi seorang Salafy Sunni mempunyai hubungan (kenal) dengan para Ulama Sunnah Salafiyah. (Saya perhatikan) ia bukanlah orang yang mempunyai sifat demikian sekalipun dengan ulama negeri Saudi, yang mana orang-orang dari segenap penjuru dunia, dari berbagai macam manhaj dan madzhab berhubungan dengan mereka dengan ramah dan dekat. Hal tersebut tidak terjadi pada dirinya. Menunjukkan padamu jauhnya ia dari ilmu dan ahlinya (ulama). Allahul musta’an.

Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar mengokohkan agama kita dan memberikan ilmu tentang syariat kita ini. Dan segala pujian hanyalah milik Allah semata.

Dammaj, Sha’dah, pagi hari, 3/2/1420 H

Diterjemahkan di Degolan pada pagi hari 17 Juni 1999 M.


III. Kesaksian Ustadz Muhammad as-Sewed tentang Muhammad Khalaf
Kemudian saya (Ustadz Muhammad Umar as-Sewed) menambahkan apa yang saya ketahui tentang dirinya di ‘Unaizah, Qosim yaitu :

1. Saya selama kira-kira satu tahun hampir tidak pernah absen duduk di majelis Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, tidak pernah sekalipun Saya melihat Muhammad Khalaf di majelis tersebut. Saya hanya sekali melihatnya dalam ceramah umum yang disampaikan Syaikh ‘Utsaimin
2. Ia memiliki toko buku Al-Ummah yang khusus menjual buku-buku kecil (kutaib) dan semua buku-buku tokoh-tokoh sururi terdapat disini, sedangkan buku-buku yang membantahnya dari tulisan Syaikh Rabi’ dan selain beliau susah didapat.
3. Pernah toko tersebut dititipi majalah oleh sales dari distributor majalah Al-Ashalah dan Salafiyah yang jelas pengasuh dan penulisnya adalah Salafiyun dan Ulama Ahlussunnah. Disinilah saya pertama kalinya mengenal majalah tersebut. Ternyata setelah saya baca, saya sangat mengaguminya. Maka saya kembali ke toko tersebut untuk memiliki lebih banyak lagi untuk dikirim ke beberapa kawan di Indonesia. Ternyata apa yang terjadi? Majalah tersebut lenyap dari etalase, saya menanyakan kepada penjaganya (waktu itu Ahmad Bahrudin) ternyata majalah tersebut disimpan dan tidak boleh dijual (dicekal). Bahkan beberapa temannya mencela (menurut persaksian dia) majalah tersebut dengan ucapan-ucapan jelek : ”Pengasuh majalah ini (Assalafiyah) adalah munafiqun”. “Ini bukan majalah Salafiyah tapi Thalafiyah (kerusakan)” diganti huruf sin-nya dengan huruf ta”. Bahkan saya sendiri mendengar dari seorang yang juga merupakan groupnya (memang ternyata toko itu milik “group”) mengatakan, sambil menunjuk majalah al-Bayan,”Ini yang namanya majalah, bukan itu !” Yakni bukan majalah al-Ashalah
4. Dengan data-data yang lengkap, makin jelaslah, saya berusaha untuk bertanya kepada syaikh Rabi’ tentang al-Sofwah dan Muhammad Khalaf serta al-Muntada yang ada di London. Dengan demikian lengkaplah sudah gambaran Muhammad Khalaf dan al-Sofwa. (Lihat ucapan Syaikh Rabi’ di Mukadimah)

5. Terakhir saya menemui Muhammad Khalaf sepulang dari Madinah dengan maksud menegur dan memperingatkan sekaligus melihat apakah dia bergabung dengan sururiyin dan menyebarkan paham sururiyah itu dengan sadar atau tertipu.
Saya mendapatkan beberapa catatan penting yaitu :

a. Dia mengakui memang orang-orang Al Muntada adalah teman-temannya. Sehingga dia selalu berkonsultasi dengan mereka dalam dakwahnya di Indonesia, sedangkan kita tahu adanya hadits Rasulullah yang berbunyi : Al mar’u ‘ala dini kholilihi “Agama seseorang itu bersama teman-teman dekatnya”.

b. Dia tidak suka dengan mahasiswa Madinah sehingga dia meminta saya mencarikan da’i untuk as-Sofwa dari mahasiswa Indonesia yang ada di Jamiatul Imam, Riyadl. Dan menjadi rahasia umum kalau Jami’atul Imam Riyadl dikuasai orang-orang hizbi, IM. Maka saya katakan, Saya memiliki banyak teman-teman salafy di Jamiah Islamiyah Madinah yang kita tahu banyak didominasi Salafiyun. Dia menjawab dengan tegas dan jelas :” Saya tidak suka dengan anak-anak (mahasiswa) Madinah”

Demikianlah apa yang saya ingat dengan yakin tentang Muhammad al-Khalaf.

Sedangkan yang tidak jelas dan saya masih ragu tidak perlu dituliskan disini. Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 3 Juli 1999

Disusun oleh Ustadz Muhammad Umar as-Sewed (Cirebon).

A’lamus Sunnah

Sebagian yang lain berkiblat ke sururiyyin di Riyadl dengan mengirim da’i-da’inya untuk membikin daurah-daurah di pondok Aunur Rafiq, Gresik dengan mediator ash-Shafwa atau A’lamus Sunnah Leuwiliang Bogor, dimana dana dan pemikirannya dipasok oleh grup Sururiyyah di Riyadl yaitu Dr. Adnan ‘Ar’ur dan Abdul Karim al-Katiri, kemudian mereka membentuk Harakah Sunniyyah (gerakan sunni). Adnan ‘Ar’uur adalah sosok yang berpemikiran sama dgn Surur.

Majelis At Turats Al Islamy Yogya

Seperti tertera dalam situsnya versi lama (atturots.or.id), bahwa dalam Majelis At Turats Al Islamy ada nama-nama seperti Arif Syarifuddin, Abu Sa’ad Muhammad Nur Huda (LBI Al Atsary), Kholid Syamhudi, Lc, Tri Madiyono. Alamatnya di Wirokerten, Banguntapan, Bantul, DIY.

Pihak yang masih berkiblat kepada Abdurrahman Abdul Khaliq dengan yayasan Ihya at-Turats-nya, yaitu Yusuf bin Utsman Baisa (Lajnah Dakwah DPP Al Irsyad) dengan ponpes Ma’had Ali al-Irsyadnya (Tengaran, Boyolali, red). Bahkan dia mendatangkan ‘bigbos’nya, Abdurrahman Abdul Khaliq, mengadakan ceramah di Indonesia guna menyebarkan syubhat-syubhat kepada para da’i di Indonesia dan didukung oleh semua da’i Majelis grup At-Turats.

Meskipun kiblat kelompok-kelompok di atas berbeda-beda, namun mereka memiliki satu kesamaan misi, yaitu: “Membela hizbiyyin, memuji mereka atau berkerja sama dengan mereka”. Sebaliknya mereka sinis, dengki dan tidak suka terhadap salafiyyin yang mentahdzir ahlul bid’ah. Mereka membenci dan mengingkari adanya tahdzir yang dilakukan oleh salafiyyin dengan kalimat-kalimat seperti: “Gak ada tahdzir-tahdziran”, “tahdzir itu hanya haknya ulama”, “di Indonesia belum waktunya ditegakkan manhaj tahdzir”, dan lain-lain.

Maka sungguh picik apa yang dikatakan oleh ‘jagoan-jagoan’ baru yang berkolaborasi dengan Majelis Turats Al Islami, seperti Firanda Abu Abdil Muhsin ibnu Abidin dalam bukunya Lerai Pertikaian Akhiri Permusuhan dan Abdullah Taslim dalam banyak tulisannya di www.muslim.or.id yang menyatakan bahwa perseteruan para ustadz hanya dikarenakan “kedekatan”nya dengan yayasan-yayasan tersebut (Ihya at-Turats dan Ash-Shofwa) atau hanya karena mereka mendapatkan dana dari mereka. Semoga Allah memberikan hidayah dan taufik kepada mereka berdua. Wallahu a’lam bish showab. (Draft diedit terakhir tanggal 20 November 2006)

1 Disebut persatuan bid’ah, karena mereka berupaya menyatukan manusia bukan di atas landasan tauhid dan sunnah, tetapi bahkan dengan mengorbankan tauhid dan sunnah.

Simak pula artikel terkait :

Bahaya Pemikiran Takfir Sayyid Quthub

Membongkar pikiran Hasan Al Banna – Pendahuluan (I)

Membongkar pikiran Hasan Al Banna – Ikhwanul Muslimin (II)

Membongkar pikiran Hasan Al Banna – Quthbiyyah (III)

Membongkar pikiran Hasan Al Banna – Sururiyah (III)

Membongkar pikiran Hasan Al Banna – Ihya’ut Turats (IV)

Abdurrahman Abdul Khaliq dan Ihya ut Turots

Soal Jawab Ttg Abdurahman Abdul Khaliq & At Turots (I)

Soal Jawab Ttg Abdurahman Abdul Khaliq & At Turots (II)

Abdurahman Abdul Kholiq seorang Mubtadi’

SEJARAH RINGKAS GERAKAN SURURIYYAH

Sururiyyah Terus Melanda Muslimin Indonesia

Persaksian Tentang Yayasan Al Sofwa

Bahaya jaringan JI dari Kuwait dan At Turots (1)

Bahaya jaringan JI dari Kuwait dan At Turots (2)

Bahaya jaringan JI dari Kuwait dan At Turots (3)

Prinsip Imam Ahlus Sunnah Dalam Al Inshaf

Sikap muslim dalam membenci dan memusuhi ahli bid’ah (I)

Sikap muslim dalam membenci dan memusuhi ahli bid’ah (II)

Sikap Ahlussunnah dalam tahdzir dan ghibah atas ahli bid’ah (I)

Sikap Ahlussunnah dalam tahdzir dan ghibah atas ahli bid’ah (II)

Sikap Ahli Sunnah Dalam Menjadikan Ahli Bid’ah Sebagai Donatur/Penolong Jihad

Menimba Ilmu dari Ahli Bid’ah dan Berguru padanya

Hati-hati dengan Al Sofwah dan Ihya ut Turats

Penyimpangan Ihya’ Turots Bag.1 (Fatwa-fatwa Ulama)

Penyimpangan Ihya’ Turots Bag.2 (Khilaf & Ijtihadiyyah)

Penyimpangan Ihya’ Turots Bag.3 (Ifrath Haddadiyah & Tafrith Sururiyyah)

Penyimpangan Ihya’ Turots Bag.4 (Antara Ulama Senior dan Paling Senior)

Penyimpangan Ihya’ Turots Bag.5 (Ihya’ Turots Boneka Abdurrahman Abdul Khaliq)

Penyimpangan Ihya’ Turots Bag.6 (Jarh Mufassar Atasnya)

Penyimpangan Ihya’ Turots Bag.7 (Ulama Tidak Merekomendasi)

Borok-borok Jum’iyah Ihya’ At Turots Al Hizbiyyah

Buku Syahadat Muhimmah Talbis Bagi Ummat

Bertahkim Di Depan Masyayikh Yordan

Abdul Mun’im Direktur QSS Adalah Hizbi?

CMM – Sebuah Kedustaan Atas Nama Asatidz Ahlussunnah

Siapakah Aktor Intelektual Pembela Hizbiyyah? (Kesaksian Al Ustadz Abu Mas’ud)

Syubuhat Irsyadiyyun dan Turatsiyyun…

Sumber:

http://tukpencarialhaq.wordpress.com/

28/12/2008 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, firqah, manhaj | , , | 1 Komentar

Kesesatan Yayasan Wahdah Islamiyah

بسم الله الرحمن الرحيم

Berikut ini adalah kumpulan file-file audio tentang kesesatan atau penyimpangan-penyimpangan Yayasan Wahdah Islamiyah.
.
Ustadz Askari

Nama File: 01. Menjelasakan Kesesatan Manhaj Muwazanah.mp3
Ukuran: 7.2 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/20CO90LQGWIT/01. Menjelasakan Kesesatan Manhaj Muwazanah.mp3
Nama File: 02. Menjelasakan Kesesatan Manhaj Muwazanah.mp3
Ukuran: 6.5 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/20YNSGQ4GGAA/02. Menjelasakan Kesesatan Manhaj Muwazanah.mp3
Nama File: 03. Menjelaskan kesesatan Manhaj Muwazanah.mp3
Ukuran: 8.0 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/20M9K9ZSVTB2/03. Menjelaskan kesesatan Manhaj Muwazanah.mp3
Nama File: 04. Menjelaskan kesesatan Manhaj Muwazanah.mp3
Ukuran: 5.5 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/2054VSGV8493/04. Menjelaskan kesesatan Manhaj Muwazanah.mp3
Nama File: 05. Gerakan Dakwah Yayasan Wahdah Islamiyah adalah Ikhwanul Muslimin.mp3
Ukuran: 4.1 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/20GSD2F8RMLZ/05. Gerakan Dakwah Yayasan Wahdah Islamiyah adalah Ikhwanul Muslimin.mp3
Nama File: 06. Fitnah Ihya At-Turots dan penjelasan ttg Siapa Abdul Qodir.mp3
Ukuran: 2.8 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/20LPUN9UGM1L/06. Fitnah Ihya At-Turots dan penjelasan ttg Siapa Abdul Qodir.mp3

Ustadz Naim

Nama File: 37_Syaikh Zaid bin Hadi Al Madkholi (Via Phone).mp3
Ukuran: 5.5 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/20LP2UN3YE0J/37_Syaikh Zaid bin Hadi Al Madkholi (Via Phone).mp3
Nama File: 38_Penutup oleh Ustadz Naim.mp3
Ukuran: 3.1 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/20YRSKJRBVZS/38_Penutup oleh Ustadz Naim.mp3

Ustadz Dzulqarnain

Nama File: Tahzir To Yayasan Wahdah Islamiyah 1.mp3
Ukuran: 10.5 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/20JEBHYZU3X1/Tahzir To Yayasan Wahdah Islamiyah 1.mp3
Nama File: Tahzir To Yayasan Wahdah Islamiyah 2.mp3
Ukuran: 7.1 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/20A5FX6B3HJU/Tahzir To Yayasan Wahdah Islamiyah 2.mp3
Nama File: Tahzir To Yayasan Wahdah Islamiyah 3.mp3
Ukuran: 3.2 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/209QVFNLSIB4/Tahzir To Yayasan Wahdah Islamiyah 3.mp3
Nama File: Tahzir To Yayasan Wahdah Islamiyah 4.mp3
Ukuran: 10.4 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/20A59TP85KIN/Tahzir To Yayasan Wahdah Islamiyah 4.mp3
Nama File: Tahzir To Yayasan Wahdah Islamiyah 5.mp3
Ukuran: 5.0 Mb
Link Download: http://www.salafishare.com/id/20Y2T24GTQG3/Tahzir To Yayasan Wahdah Islamiyah 5.mp3

Sumber:

http://ashthy.wordpress.com/2008/09/17/kesesatan-yayasan-wahdah-islamiyah/

http://tukpencarialhaq.wordpress.com/

28/12/2008 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, firqah, manhaj | , , | Tinggalkan komentar

Ihya’ut Turots Menyimpang

Artikel: Ihya at Turats menyimpang – Ulama tidak merekomendasi (2)
Pertama dikirim: Sat 24 Mar 2007
Deskripsi: Dari ucapan beliau ini sangat jelas, bahwa beliau mentahdzir dari berbagai macam pemikiran yang dapat memecah belah persatuan mereka, dan menjauhkan mereka dari aqidah dan manhaj salaful ummah. Dan beliau juga menasehati untuk mengikuti wasiat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, yang menganjurkan untuk menjadi pengikut kebaikan dan tidak menjadi tokoh kesesatan, disaat munculnya berbagai macam syubhat. Akan tetapi diantara mereka ada yang berusaha membela berbagai praktek hizbiyyah, dan bersembunyi di belakang fatwa ulama yang kira-kira bisa dijadikan sebagai pelindung amalan maupun dana hizbiyyahnya.
Isi Artikel:

ULAMA AHLUS SUNNAH TIDAK MEREKOMENDASI IHYA ATTURATS (2)

لميراث من فتاوى العلماء عن جمعية إحياء التراث

Menjawab nasehat Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad dan Ibrahim Ar-Ruhaili hafidzhahumallah

Firanda menukilkan dari Syekh Abdul Muhsin Al-’Abbad hafidzhahullah Ta’ala bahwa beliau berkata:
أَقُوْلُ لا َيَجُوْزُ لِأَهْلِ السُّنَّةِ فِي إِنْدُوْنِيْسِيَا أَنْ يَتَفَرَّقُوْا وَأَنْ يَخْتَلِفُوْا مِنْ أَجْلِ التَّعَامُلِ مَعَ جُمْعِيَةِ إِحْيَاءِ التُّرَاثِ فَإِنَّ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ الَّذِيْ يُفَرِّقُ بِهِ بَيْنَ النَّاسِ. وَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ أَنْ يَجْتَهِدُوْا فِي تَحْصِيْلِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ وّأّنْ يَتْرُكُوْا الشَّيْءَ الَّذِيْ فِيْهِ فِتَنٌ. جُمْعِيَةُ إِحْيَاءُ التُّرَاثِ فِيْهَا خَيْرٌ كَثِيْرٌ، فِيْهَا نَفْعٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ فِي مُخْتَلَفِ أَقْطَارِ الأَرْضِ مِنْ جِهَةِ الْمُسَاعَدَاتِ وَمِنْ جِهَةِ تَوْزِيْعِ الْكُتُبِ. الاِخْتِلاَفُ بِسَبَبِ هَذَا لاَ يَصْلُحُ وَلاَ يَسُوْغُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ. وَعَلَى أَهْلِ السُّنَّةِ هُنَاكَ أَنْ يَتَّفِقُوْا وَأَنْ يَتْرُكُوْا التَّفَرُّقَ

“Aku katakan, tidak boleh bagi Ahlus Sunnah di Indonesia untuk berpecah belah dan saling berselisih disebabkan masalah mu’amalah dengan Yayasan Ihya` at-Turats, karena ini adalah termasuk perbuatan setan yang dengannya ia memecah belah di antara manusia. Namun yang wajib bagi mereka adalah besungguh-sungguh untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Hendaknya mereka meninggalkan sesuatu yang menimbulkan fitnah. Yayasan Ihya’ at-Turats memiliki kebaikan yang banyak, bermanfaat bagi kaum muslimin di berbagai tempat di penjuru dunia, berupa berbagai bantuan dan pembagian buku-buku. Perselisihan disebabkan hal ini tidak boleh dan tidak dibenarkan bagi kaum muslimin. Dan wajib atas Ahlus Sunnah di sana (di Indonesia, -pen) untuk bersepakat dan meninggalkan perpecahan.” [Jawaban berupa nasehat ini beliau sampaikan di masjid seusai shalat Zhuhur, Kamis, 13 Oktober 2005, atau 10 Ramadhan 1426 H. Pada kesempatan tersebut yang meminta fatwa adalah Abu Bakr Anas Burhanuddin, Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah Zain, dan Abu ‘Abdil Muhsin Firanda Andirja)

Demikian teks dan terjemahan yang disebutkan oleh Firanda dalam tulisannya tersebut. Namun sayang sekali karena Firanda sama sekali tidak menyebutkan bentuk pertanyaan yang disampaikan kepada Syekh tersebut, padahal teks pertanyaan sangat memberi pengaruh terhadap terjadinya perubahan fatwa Syekh hafidzhahullah. Demikian pula tidak sampainya kepada beliau berita tentang hizbiyyah yang dimiliki Ihya At Turats dengan berbagai kesesatan lainnya. Sebab sikap Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad dari hizbiyyah sangat jelas, bagi siapa yang membaca tulisan dan ceramah beliau. Diantaranya disaat beliau memberi muqaddimah terhadap kitab "Madarikun Nadzar" tulisan Syekh Abdul Malik Ramadhani, setelah beliau menjelaskan tentang kesesatan "fiqhul waqi" model hizbiyyun, yang mengantarkan mereka kepada sikap merendahkan para ulama, dan menuduh mereka tidak mengerti fiqhul waqi', dan yang semisalnya. Lalu beliau berkata:
وفي الختام أوصي بقراءة هذا الكتاب والاستفادة منه، وأوصي شباب هذه البلاد السعودية أن يحذروا الأفكار الفاسدة الحاقدة الوافدة إلى بلادهم لإضعاف دينهم وتمزيق شملهم والتنكر لما كان عليه أسلافهم، وأن يأخذ كلُّ شابٍّ ناصحٍ لنفسه العبرةَ والعظةَ من قول عبد الله بن مسعود  كما في
(( الإبانة )) لابن بطّة: (( إنّها ستكون أمور مشتبهات! فعليكم بالتؤدة؛ فإنّك أن تكون تابعاً في الخير خيرٌ من أن تكون رأساً في الشرِّ )).

"Sebagai penutup, aku menasehati untuk membaca kitab ini, dan mengambil faedah darinya. Dan aku menasehati para pemuda negeri Arab Saudi ini untuk memberi peringatan dari berbagai pemikiran yang rusak dan penuh kedengkian yang dimasukkan ke dalam negeri mereka, untuk melemahkan agama mereka, dan menghancurkan persatuan mereka, dan hendak menjauhkan dari apa yang telah diamalkan oleh para pendahulu mereka. Dan hendaklah setiap pemuda yang menasehati dirinya, agar mengambil pelajaran dan nasehat dari ucapan Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu sebagaimana yang disebutkan dalam kitab "Al-Ibanah", oleh Ibnu Baththah: "Sesungguhnya akan muncul perkara-perkara yang syubhat! Maka hendaklah kalian bersikap hati-hati, karena sesungguhnya engkau termasuk pengikut kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi tokoh dalam kesesatan". (Madarikun Nadzar, hal:18).

Dari ucapan beliau ini sangat jelas, bahwa beliau mentahdzir dari berbagai macam pemikiran yang dapat memecah belah persatuan mereka, dan menjauhkan mereka dari aqidah dan manhaj salaful ummah. Dan beliau juga menasehati untuk mengikuti wasiat Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu, yang menganjurkan untuk menjadi pengikut kebaikan dan tidak menjadi tokoh kesesatan, disaat munculnya berbagai macam syubhat. Akan tetapi diantara mereka ada yang berusaha membela berbagai praktek hizbiyyah, dan bersembunyi di belakang fatwa ulama yang kira-kira bisa dijadikan sebagai pelindung amalan maupun dana hizbiyyahnya.

Salah satu contoh, tentang kitab "Rifqan Ahlas Sunnah" yang beliau tulis sebagai nasehat diantara sesama Ahlus Sunnah. Banyak dimanfaatkan oleh para pembela organisasi Ihya At-Turats untuk membelanya, dan membela orang yang bermu'amalah dengannya, dan mengecam para pentahdzirnya. Oleh karenanya, para pembelanya menjadikan kitab ini sebagai "tameng" untuk melegitimasi bantuan dana dari mereka kepada yang selama ini bermuamalah dengannya. Padahal sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kitab ini ditulis untuk intern dari kalangan ahlus sunnah, bukan terhadap mereka yang memiliki pemikiran hizbiyyah dan berwala' kepadanya. Ini dijelaskan oleh beliau sendiri, sebagaimana dinukil dalam kitab Ittihaful ‘Ibad bi Fawa-idi Durusi Asy-Syaikh ‘Abdil Muhsin bin Hamd Al ‘Abbad –kitab ini telah dibaca dan direkomendasi oleh Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin sendiri— (hal. 60):
“Kitab yang saya tulis pada akhir-akhir ini (yaitu kitab Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, pent) ….. tidak ada hubungannya dengan pihak-pihak yang pernah saya sebutkan dalam kitab Madarikun Nazhar [1]. Dengan ini yang dimaksud dengan bersikap lembutlah wahai Ahlus Sunnah terhadap Ahlus Sunnah, bukanlah kelompok Ikhwanul Muslimin, bukan pula orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb, dan yang lainnya dari kalangan harakiyyin (para aktivis pergerakan, pent). Tidak pula yang dimaksudkan (oleh buku tersebut) orang-orang yang terpengaruh pemikiran fiqhul waqi’ [2], (orang-orang yang) mencaci maki pemerintah, dan meremehkan para ‘ulama. Bukan mereka yang dimaksudkan sama sekali. Tapi hanyalah yang dimaksudkan (oleh buku tersebut, pent) adalah intern Ahlus Sunnah saja, dimana telah terjadi di antara mereka ikhtilaf, sehingga mereka sibuk dengan sesamanya untuk saling menjarh, memboikot, dan mencela [3]. “

Perhatikan ucapan beliau: “Bukan pula orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb, dan yang lainnya dari kalangan harakiyyin, tidak pula yang dimaksudkan orang-orang yang terpengaruh pemikiran fiqhul waqi’, mencaci-maki pemerintah, dan meremehkan para ulama, bukan mereka yang dimaksudkan sama sekali”. Cobalah anda perhatikan kalimat ini, lalu sesuaikan dengan manhaj Ihya At Turats yang berada di bawah asuhan sang mufti Abdurrahman Abdul Khaliq, kalian akan mendapati sifat-sifat yang beliau sebutkan tersebut sesuai dengan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Ihya At Turats tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Syekh hafidzhahullah tidak mengetahui secara persis mahaj dakwah mereka, serta pengaruhnya yang mendatangkan dampak negatif di berbagai negara, khususnya di Indonesia. Bila demikian keadaannya, perlu ada diantara sebagian mereka yang punya kesempatan untuk menjelaskan kepada Syekh secara rinci tentang masalah ini.

Perhatikan pula fatwa beliau yang disebutkan oleh Firanda:
Yayasan Ihya’ at-Turats memiliki kebaikan yang banyak, bermanfaat bagi kaum muslimin di berbagai tempat di penjuru dunia, berupa berbagai bantuan dan pembagian buku-buku. Perselisihan disebabkan hal ini tidak boleh dan tidak dibenarkan bagi kaum muslimin…”
Perhatikan apa yang beliau katakan: ” Perselisihan disebabkan hal ini”, lalu perhatikan kembali fatwa para ulama yang mentahdzir organisasi tersebut, maka Nampak bagi kita semua bahwa perselisihan bukan disebabkan hal ini, namun disebabkan karena pengaruh hizbiyyah yang dimiliki organisasi ini.

Sebenarnya apa yang kami sebutkan terdahulu dari fatwa-fatwa para ulama senior tentang Ihya At Turats ini sudah lebih dari cukup, namun untuk semakin melengkapi fatwa mereka, berikut ini fatwa yang berasal dari Syekh Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidzahullah, yang semoga Firanda dan yang bersamanya juga masih menganggapnya sebagai alim yang senior. Beliau ditanya dengan pertanyaan berikut:

س : ماذا تعرفون عن جمعية إحياء التراث التي في الكويت حيث إنها فتحت لها فرع في العراق و فرقت الشباب السلفي و فتحت دروس و تصرف رواتب لكل من يحضر هذه الدروس و هؤلاء الذين يلقون الدروس ليسوا أهلاً للتدريس ، أرشدونا مأجورين ؟
Soal : Apa yang anda ketahui tentang Jum’iyyah Ihya’ut Turats yang berada di Kuwait dimana jum’iyyah ini telah membuka cabangnya di Iraq dan telah memecah belah para pemuda salafy dan membuka pelajaran dan memberikan gaji bagi setiap orang yang menghadiri pelajaran tersebut dan orang-orang yang memberikan pelajaran tersebut bukanlah ahlinya untuk mengajar. Berikanlah kami bimbingan, semoga anda mendapatkan pahala ?

ج- جمعية إحياء التراث عليها ملاحظات فلا ننصحكم إن كنتم سلفيين بالإلتحاق بها خوفاً عليكم بالإنخداع بما هي عليه .
و أنصكم أن تصبروا حتى يهيئ الله لكم من يعلمكم على المنهج السلفي و الطريقة الشرعية الصحيحة وهو الأخذ بكتاب الله و سنة رسول الله – صلى الله عليه و سلم – على فهم السلف الصالح و أهل العقيدة الحقة و البراءة من الدعوات الدخيلة من شيعة و شيوعية و غير ذلك .
و أسأل الله – عز و جل – أن ييسر لكم من يكون من أهل العقيدة الصحيحة و المنهج السلفي من تتعلمون على يديه و ينضاف إلى هذا أيضاً أنكم قلتم : إن الذين يتولون التدريس ليسوا بأهل للتدريس و ليس عندهم علم، لهذافإني أنصكم بعدم الدخول فيها وفقكم الله و سدد خطاكم
و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه .
الفتاوى الجلية عن المناهج الدعوية (2/320(

Jawab : Jum’iyyah Ihya’ut Turats baginya ada catatan-catatan/komentar. Maka kami menasehati kalian – jika kalian salafy – untuk tidak bergabung dengannya karena kawatir kalian bisa tertipu dengan apa yang dia diatasnya. Aku nasehati kalian untuk bersabar sampai Allah berikan untuk kalian orang yang akan mengajari kalian diatas manhaj salafi dan cara-cara syar’i yang benar yaitu berpegang dengan kitabullah dan sunnah Rosulullah صلى الله عليه و سلم berdasarkan pemahaman salafus shalih dan orang yang beraqidah yang benar dan berlepas diri dari dakwah-dakwah yang masuk dari syi’ah, komunis dan lainnya. Dan saya memohon kepada Allah عز و جل agar Allah mudahkan untuk kalian, orang yang beraqidah yang shahih dan bermanhaj salafy yang kalian akan belajar dihadapannya dan termasuk dengan itu juga bahwa kalian mengatakan bahwasanya orang yang memberikan pelajaran mereka bukanlah ahlinya dan tidak ada padanya ilmu. Karena itu aku nasehatkan kalian untuk tidak masuk pada yayasan tersebut, semoga Allah memberikan taufiq kepada kalian dan menunjuki langkah kalian kepada jalan yang lurus.
و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه

(Al Fatawa Al Jaliyyah ‘An Almanaahiji Ad Da’awiyyah (2/320) , penulis Faris At Thahir AsSalafy. URL Sumber www.sahab.net/forums/showthread.php?t=341912. Penterjemah : Muhammad Ar Rifa’i As Salafy)

Demikian pula berkenaan tentang pujian Syekh Ibrahim Ar-Ruhaili hafidzhahullah Ta’ala, tatkala beliau mengatakan [4] :
“Yayasan Ihya’ At-Turots adalah yayasan yang bergerak mengumpulkan harta dan bantuan dari para pedagang dan orang-orang kaya dan menyalurkannya dalam amalan-amalan kebaikan seperti menggali sumur-sumur, membangun mesjid-mesjid, sekolah-sekolah, dan memberi gaji bagi para da’i. Dan termasuk perkara yang aneh timbulnya perpecahan karena yayasan seperti ini.”
Hal ini juga disebabkan karena tidak sampainya berita yang detil kepada beliau tentang dampak Ihya At Turats di berbagai negara, dan memberikan berbagai berita yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, lalu disampaikan kepada beliau, dan bukan hal yang mustahil sebagian berita tersebut berasal dari Firanda dan para pendukungnya yang punya kesempatan bertemu dengan beliau. Dan sebenarnya perkara inipun telah dijawab oleh para ulama semenjak beberapa tahun sebelumnya. Diantaranya adalah jawaban seorang syekh senior –yang semoga Firanda pun tetap menganggapnya senior atau jajaran paling senior- muhaddits dari Yaman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah Ta’ala, sebagaimana yang telah kita nukilkan diedisi pertama. Namun sekedar untuk mengingatkan, maka kami nukil kembali fatwa tersebut, sebagai berikut:
فعلماءنا الأفاضل حفظهم الله تعالى يأتي صاحب الجمعية إليهم ويقول : يا شيخ نحن نهتم ببناء المساجد وبفتح مدارس تحفيظ القرآن وبكفالة اليتامى وبحفر الآبار وغير ذلك من الأفعال الحميدة الصالحة فالشيخ ………(كلمة غير واضحة) ما رأيك في هذه الجمعية تهتم ببناء المساجد وتحفيظ القرآن وكفالة اليتامى وكفالة الدعاة إلى الله وحفر الآبار ,من الذي يقول هذا ما يجوز كل واحد يقول –يا أخي- هذا عمل صالح كله لكن المشايخ حفظهم الله تعالى لا يعرفون ما بعد هذا .
والواقع أن الأموال التي تأتيهم أصحاب الجمعية لتحارب بها أهل السنة في السودان وفي اليمن نعم وفي أرض الحرمين ونجد وفي أندونيسيا وفي كثير من البلاد الإسلامية .
(مفرغ من الشريط بصوته رحمه الله وهو عندي)

“Ulama kita yang mulia –semoga Allah senantiasa menjaga mereka- , lantas anggota Jum’iyyah datang kepada mereka dan berkata: “…wahai syekh, kami memperhatikan masalah pembangunan masjid-masjid, membuka madrasah tahfidz Al-Qur’an, menanggung anak-anak yatim, menggali sumur-sumur dan yang lainnya – dari berbagai perbuatan yang terpuji dan salih -”. “Maka syaikh …..(kalimat tidak jelas), apa pendapatmu tentang jum’iyyah ini, yang memperhatikan pembangunan masjid, tahfidz al-Qur’an, menanggung anak-anak yatim, menanggung para da’i di jalan Allah, menggali sumur-sumur…”.

Siapa yang mengatakan ini tidak boleh ? Setiap orang mengatakan –ya akhi- ini adalah amalan soleh semuanya ! Namun para syaikh tersebut –semoga Allah menjaga mereka- tidak mengetahui apa yang terjadi setelah ini.

Kenyataannya bahwa harta yang sampai ke mereka para pengurus Jum’iyyah digunakan untuk memerangi Ahlus Sunnah di Sudan, di Yaman, di bumi Haramain (Makkah dan Madinah, pen), Najed dan di Indonesia dan dalam banyak Negara Islam.”

Jika sekiranya Syekh Ar-Ruhaili hafidzahullah mengetahui sepak terjang organisasi Ihya Atturats ini diberbagai Negara, maka beliau tentunya tidak akan memberi pembelaan kepadanya. Dalam salah satu Tanya jawab dengan beliau [5], beliau sempat ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut:

السائل: نريد تحديد مفهوم من هو السني حيث إن هناك أقواما يقولون :إنهم من اهل السنة وإذا سمع أحدهم كلامهم وجده يقول قال الله قال رسوله وأما إذا نظر الناظر في أقوالهم وفي أفعالهم فإنه يجد العكس فيراه يثني على أهل البدع والضلال ويصفهم بأنهم أئمة مجددون وبالمقابل يذم أهل السنة والأثر بأنهم لا يفقهون الواقع أو أن فقههم يدور حول سراويل امرأة أي أنهم علماء حيض ونفاس أو أن الدنيا قد غرتهم وبعضهم يرى أن هذه الجماعات البدعية تعد ظاهرة صحية وهي من أهل السنة وتفرقها ليس تفرقا مذموما وبعضهم يرى أن ما يسمى بالأناشيد والتمثيليات والمسرحيات هي من الوسائل التي ينبغي على الداعي إلى الله جل وعلا أن يسلكها في دعوته لأنها تدخل الناس في دين الله وبعضهم يؤصل أصولا حكم أئمة السنة والأثر بأنها أصول بدعة وضلال وأن هذه الأصول لا تمت إلى السنة من أي وجه ,فما توجيهكم حفظكم الله؟

Pertanyaan: “Kami ingin penjelasan tentang batasan dalam memahami siapakah pengikut Ahlus Sunnah itu, dimana ada sebagian orang yang mengatakan bahwa mereka termasuk dari kalangan ahlus sunnah .Bila seseorang mendengar ucapan mereka, ia mendapatinya mengatakan bahwa berfirman Allah, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Namun jika seseorang melihat ucapan dan perbuatannya, maka dia mendapati sebaliknya, dilihat dia memuji ahlul bid’ah dan sesat, dan menyebut mereka sebagai imam mujaddid (pembaharu agama), dan sebaliknya dia mencela Ahlus Sunnah dan Atsar bahwa mereka tidak mengerti fiqhul waqi’, atau mengatakan bahwa fiqih mereka hanya berada di seputar celana dalam wanita, atau mereka adalah para ulama haid dan nifas, atau mengatakan bahwa dunia telah menipu mereka.

Sebagian lagi ada yang menganggap bahwa jama’ah-jama’ah bid’ah ini merupakan dampak yang positif, dan termasuk dari kalangan ahlus sunnah, dan perpecahan mereka bukanlah perpecahan yang tercela. Sebagian lagi ada yang menganggap bahwa apa yang disebut dengan nasyid, teater dan pertunjukan, termasuk diantara wasilah yang sepantasnya bagi seorang da’i kepada jalan Allah untuk menempuhnya dalam berdakwah, sebab (dengan itu) dapat memasukkan manusia ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Sebagian lagi ada yang menyebut prinsip-prinsip yang para imam Ahlus Sunnah telah menghukumi bahwa itu merupakan prinsip-prinsip bid’ah dan sesat, dan bahwa prinsip-prinsip ini tidak ada hubungannya dengan sunnah dari sisi manapun. Maka bagaimana nasehatmu –semoga Allah menjagamu-?
Maka beliau menjawab dengan jawaban sebagai berikut:

الجواب: كما ذكرت أن صاحب السنة ليس مما يجتهد الناس فيه فيحكمون فيه بأهواءهم أنه صاحب سنة أو صاحب بدعة ,وإلا فالكثير من أهل البدع يدعون أنهم أهل السنة وأن من خالفهم هو من أهل البدع ,وهذا باب توقيفي فصاحب السنة هو من قام بالسنة علما وعملا ودعوة إليه ,وارجعوا إلى النصوص فمن وافق عمله عمل النبي صلى الله عليه وسلم فهو من أهل السنة ,ومن خالف هدي النبي صلى الله عليه وسلم فهو من أهل البدع الذين خرجوا عن السنة .فالسنة معلومة وأصول السنة معروفة في التوحيد وفي القدر وفي الإيمان وفي أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وفي طاعة ولاة الأمر وفي معرفة معاملة العلماء وفي الدعوة إلى الله عز وجل ,دعوة أهل السنة ظاهرة ولا تخفى,ووالله لو عرف الناس السنة وأهلها ما عاداها أحد ,لكن الناس يجهلون السنة ويجهلون حقيقة السنة فيعادونها بجهلهم بها وإلا فالسنة هي المصلحة العظيمة في الدنيا والآخرة لكل أحد,هي لمصلحة الحكام ولمصلحة المحكومين لمصلحة الآباء ولمصلحة الأبناء لمصلحة الرجال ولمصلحة النساء ,لمصلحة الفقراء ولمصلحة الأغنياء ,ليس هناك فرد من أفراد الأمة إلا والسنة في نصرته فما يتركها أحد ولا يتنكر إليها أحد .فالسنة هي ما سنه النبي صلى الله عليه وسلم وما كان عليه الخلفاء الراشدون من بعدهم والبدعة هو ما عدا ذلك كما أخبر النبي صلى الله عليه وسلم .
ثم إن العلماء ذكروا ضابطا لهذه المسألة لأن الكثير يدعون بأنهم يستدلون بنصوص الكتاب والسنة ويقولون قال الله وقال رسوله صلى الله عليه وسلم لكن ذكر العلماء ضابطا مهما يضبط هذه المسألة قالوا: الاستدلال بنصوص الكتاب والسنة بناء على فهم سلف الأمة . قولنا: الاستدلال بنصوص الكتاب والسنة دخل في هذا الخوارج ,الخوارج يزعمون بأنهم بنصوص الكتاب والسنة لكن بناء على صلف هذه الأمة,هل دخلوا في أهل السنة؟ لا,ما استفادوا من علي وما انتفعوا بعلمه بل كفروه ,فإذا هؤلاء خرجوا من السنة لأنهم لم يستدلوا بنصوص الكتاب والسنة بناء على سلف هذه الأمة.صاحب السنة إذا ما أراد أن يفسر الآية رجع إلى تفاسير أهل السنة ,ماذا قال ابن عباس ماذا قال مجاهد ماذا قال قتادة ,ثم يبني فهمه على أقوال أهل العلم .وصاحب البدعة هو الذي يأتي بالنصوص ويستدل بها بناء على فهمه,وقد يبني كلامه على أدلة لكن العبرة بالفهم .
ولهذا يقول شيخ الإسلام : الضلال يحصل من جهتين :
إما أن يستدل بما ليس بدليل,أو أن يخطئ في فهم الدليل.فإذا استقام له هذان الأمران أمن الخطأ,وهو صحة الدليل وصحة الفهم .صحة الفهم لا يمكن لواحد منا أن يدعي ,لأن كل إنسان يظن أن عقله أحسن العقول وأن فهمه أحسن الأفهام لكن ضابط هذا أن ترجع إلى فهم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وفهم سلف الأمة ماذا قالو في معنى هذه الآية ماذا قالوا في معنى هذا الحديث ,فإذا تمسكنا بهذا الأصل فهؤلاء هم أهل السنة ثم بعد ذلك تحصل أخطاء لكن هذه الأخطاء لا يمكن أن تنقض الأصول بأن من سلك هذا المسلك ومن وصل إلى هذه المرحلة في الاستدلال يستدل بالدليل الصحيح بناء على فهم صحيح ,نعم قد يحصل له خطأ جزئ كما حصل للسلف لكنه لا يمكن لأن ينقض أصلا من أصول أهل السنة فهذا هو ضابط السنة وهذا هو ضابط أهل السنة ,وليس كل من قال الله وقال رسوله صلى الله عليه وسلم يكون مصيبا في فهمه وإن كان كلام الله وكلام رسوله ثلى الله عليه وسلم حق,لكن العبرة بالفهم الصحيح ,وأما من يوالي أهل البدع ويشيد بهم وينحرف عن أهل السنة فهذه من أعظم العلامات التي ذكر العلماء أنه من علامات أهل البدع ,قالوا: من علامات أهل البدع الوقيعة في أهل الأثر ,لا تجد رجلا يشتم البخاري ومسلم وأحمد ومالك وأئمة الحديث ويشتم علماء السنة من المعاصرين ومن غيرهم .نحن عرفنا من علماءنا المعاصرين كالشيخ عبد العزيز بن باز وابن عثيمين والألباني هؤلاء والله لا نقول أنهم معصومين ,لكن ماعرفنا مثلهم في السنة وفي القيام بها والدعوة إليه ,فلا نعرف رجلا انحرف عنهم إلا وهو على قدر انحرافه يكون قد أصابهم ما أصابهم من البدع.ولا يعني أيضا الانحراف عنهم أن يأتي المجتهد العالم من أقرانه ويقول: أخطأ فلان وأصاب فلان,هذا ليس منحرفا وإنما هو محب ناصح لكن الذي ينتقصهم ويتهمهم بالبدعة ويتهمهم بما ورد في السؤال من أنهم علماء الحيض والنفاس فهذا من جهله,الحيض والنفاس أحكامهما جاءت في كتاب الله ,فالذي يقلل من شأن هذا العلم هذا رد على الله ورسوله ,والذي يقول هذه الكلمة إن كان يعني ما يقول والله يخشى عليه من الكفر ,إن كان يظن أن الرجل ينتقص بمجرد علمه للحيض والنفاس ,لو صرنا كما صار غيرنا ورآ تلك الكتب الفكرية التي لا تجد فيها مسألة في العقيدة ولن تجد مسألة تبين الحكم الشرعي في المسألة الفقهية وإنما كلها آراء وتصورات وأفكار وخوض في السياسة وكلامهم مبني على كلام الناس لا تجد في كتبهم آية ولا حديث وإنما هو في آراء لو سار الناس هذا السير والله سيأتي على الناس زمان لايعرفون كيف يصلون ,ولكن الناس لا يعرفون فساد هذه الكتب لأن معهم علماء والعلم منتشر لكن والله لو ذهب الناس أو ذهب أهل السنة ولم يبق في الناس إلا هؤلاء لم يبق من دين الله شيئ ,وأما أهل السنة فالخير قد اجتمع فيهم إن سألت عن العلن فهو فيهم وإن سألته عن الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فهو فيهم وإن سألت عن العبادة والاجتهاد فهو فيهم وإن سألت عن طاعة ولاة الأمر في حدود الضوابط الشرعية فهو فيهم وإن سألت عن أهل المنناصحا لولاة الأمر فهم أهل السنة فالخير اجتمع في أهل السنة ,وهذا لا يعني أن يكون الرجل معصوما منه.لكن هم بمجموعهم لا يخرج الحق عنهم .
وأما ما ورد في السؤال من ذكر الأناشيد وهي ما يسمى بالأناشيد الإسلامية فهذه ليست من السنة وإذا كانت هذه كما يعتقد البعض أنها وسيلة من وسائل الدعوة فأين الدليل على هذا من هدي النبي صلى الله عليه وسلم فإن وسائل الدعوة التعبدية كلها قد دلت عليها الأدلة وينبغي أن يفرق بين الوسائل التعبدية والعادية .الوسائل التعبدية هي الوسائل التعبدية التي لا يسع الخروج عنها مثل أن يكون الهجر منهج ومسلك من مسالك الدعوة التأليف مسلك العلم مسلك النصح والبيان وإزالة الشبه والمجادلة بالتي هي أحسن من مسالك الدعوة الصحيحة ,فمن أنكر شيئا من هذا فهو مبتدع,
وأما الوسائل العادية مثل استخدام المكبر واستخدام الشريط واستخدام الكتاب,وجود الجامعات الآن ,وجود الوسائل فهذه الوسائل العادية ولا نقول أنه تدخل البدع فيها فمهما أحدث الناس من هذه الوسائل فاستخدامها مشروع لأنها وسائل عادية وليست تعبدية.
ولهذا لا نقول بأن الدعوة تنحصر في المكبر وأنه ليست هناك دعوة صحيحة إلا لرجل لا بد أن يستخدم المكبر أو يستخدم الإذاعة أو غيرها ,إنما هي وسيلة لإيصال الكلمة,وليست غاية.وأما الوسائل الشرعية فلا يسع الخروج عنها ,لو جاء رجل فقال: لا يهجر المخالف والله نبدعه ونتهمه في دينه لأنه خالف هدي النبي صلى الله عليه وسلم ,ولكن لو جاء رجل الآن قال: أنا لن أستخدم المكبر في الدعوة إلى الله عز وجل وإنما أخاطب الناس وأرفع صوتي حتى يسمعني الناس,هل نقول :أنت مبتدع؟ لا يقال فيه,لأن هذه وسيلة عادية, فمن اسخدم هذه الوسائل أو تركها لا يحرج عليه.فالأناشيد ليست وسيلة شرعية .ومن اعتقد أنها وسيلة فإنه مبتدع خالف هدي النبي صلى الله عليه وسلم ,وأما إن كان المقصود بها اللهو واللعب فمعلوم أن اللهو واللعب ليس من دين الله وأما من يعتقد أن هذه الأناشيد هي مرحلة ننتقل بها من الناس من سماع الأغاني إلى سماع الأناشيد ثم إلى سماع القرآن فهذه والله من الجهل وهو ألا يدعى الناس إلى الحق وإنما يدعى الناس إلى مرحلة قبل الحق .فالناس لا يمكن أن تصدق توبتهم وتصح توبتهم حتى يترك المخالفة إلى السنة وإلى الحق فكيف ننقله إلى مرحلة دون الحق ثم لو مات وهو في هذه المرحلة فمن الذي يتحمل إثمه ,انت تدعو وتقول: اتقول الله ودعوا الأغاني واسمع الأناشيد,ومعلوم أن هذه الأناشيد فيها من المخالفات الكثيرة ,منها: التلذذ بأصوات المنشدين من الشباب ومن غيرهم وكم فتن من فتن بهؤلاء حتى كأنها كلأغاني وأصبحت شغل الناس الشاغل ,ومن داوم عليها فإنه يضعف سماعه للقرآن .فإن أشكل عليكم شيئ فارجعوا إلى علماءنا الكبار,هل ألفوا الفرق للإنشاد بين يدي دروسهم ؟,وفي المساجد أم أنهم عكفوا يعلمون الناس العلم ويبينون الناس السنة ,هذه لم تأت إلا من بعض المخالفين من الجهلة أو من أهل البدع ,قد يكون الرجل له مقصد حسن,لكن من ظن أن هذه وسيلة للدعوة فهو مخطئ .
(مفرغ من شريط عن ضوابط الهجر)

“Sebagaimana yang aku sebutkan bahwa (istilah) Ahlus Sunnah bukanlah sesuatu yang manusia dapat berijtihad padanya dengan hawa nafsu mereka bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah atau ahlul bid’ah, sebab jika demikian, maka banyak dari kalangan ahlul bid’ah yang mengaku diri mereka sebagai Ahlus Sunnah, dan yang menyelisihi mereka sebagai ahlul bid’ah. Ini merupakan perkara tauqifi (bersandar kepada nash), Ahlus Sunnah adalah yang menegakkan sunnah secara ilmu, amal, dan dakwahnya. Kembalilah kepada nash-nash yang ada, siapa yang amalannya sesuai dengan amalan Nabi shallallahu alaihi wasallam maka dia termasuk dari kalangan Ahlus Sunnah, dan siapa yang menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wasallam maka dia termasuk dari kalangan ahlul bid’ah yang keluar dari Sunnah. Maka Sunnah merupakan perkara yang dimaklumi, prinsip-prinsip sunnah juga telah diketahui, dalam masalah tauhid, masalah takdir, masalah iman, tentang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, tentang penguasa, tentang bergaul dengan para ulama, tentang mengajak kepada jalan Allah Azza wajalla.

Dakwah Ahlus Sunnah jelas dan tidak tersamarkan, demi Allah, jika sekiranya manusia mengenal sunnah dan para pemeluknya, maka tidak seorang pun yang akan memusuhinya. Akan tetapi manusia jahil terhadap Sunnah, dan jahil terhadap hakekatnya, sehingga mereka memusuhinya karena kejahilan mereka, padahal Sunnah merupakan kemaslahatan yang besar di dunai dan akhirat bagi setiap orang. untuk kemaslahatan penguasa, dan kemaslahatan rakyat, untuk kemaslahatan orang tua, dan juga untuk kemaslahatan anak-anak, untuk kemaslahatan para lelaki, dan juga para wanita, untuk kemaslahatan orang-orang miskin dan juga orang-orang kaya, tidak ada satu pun dari elemen umat ini melainkan dengan Sunnah sebagai pertolongannya, tidak seorang pun yang meninggalkannya dan yang mengingkarinya. Maka As-Sunnah adalah apa yang disunnahkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, dan apa yang para khulafa ar-rasyidin berada di atasnya dari setelahnya, sementara bid’ah adalah selain itu, sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Kemudian para ulama menyebut ketentuan dalam masalah ini, karena banyak yang mengaku bahwa mereka berdalil dengan nash-nash dari Al-kitab dan As-sunnah, dan mereka mengatakan: berfirman Allah, bersabda Rasul-Nya Shallallahu alaihi wasallam. Namun para ulama menyebutkan ketentuan yang penting dalam permasalahan ini, mereka berkata: berdalil dengan nash-nash dari Al-kitab dan As-sunnah dengan pemahaman pendahulu umat ini. Ketika kami mengatakan: berdalil dengan Al-kitab dan As-sunnah, maka termasuk didalamnya kelompok khawarij. Khawarij menyangka bahwa mereka berdalil dengan Al-kitab dan As-sunnah, namun apakah diatas pemahaman pendahulu umat ini? Apakah mereka termasuk Ahlus Sunnah? Tidak, mereka tidak mengambil faedah dari Ali, dan mereka tidak mengambil manfaat ilmu darinya, bahkan mereka mengkafirkannya. Jadi, mereka ini keluar dari sunnah, sebab mereka tidak berdalil dengan Al-Kitab dan As-Sunnah yang dibangun diatas pemahaman pendahulu umat ini. Ahlus Sunnah, jika ingin menafsirkan sebuah ayat, maka ia merujuk kepada tafsir Ahlus Sunnah. Apa yang diucapkan Ibnu Abbas, apa yang diucapkan oleh Mujahid, apa yang diucapkan oleh Qatadah, lalu dia membangun pemahamannya diatas pendapat para ahli ilmu. Sedangkan ahlul bid’ah, adalah yang mendatangkan nash-nash dan berdalil dengannya, dan dibangun diatas pemahamannya.Terkadang dia membangun pendapatnya diatas dalil-dalil, namun yang ditinjau adalah pemahaman.
Oleh karenanya, berkata Syeikhul Islam: “Kesesatan dapat terjadi dari dua arah:
Adakalanya dia berdalil dengan yang bukan dalil, atau dia salah dalam memahami dalil. Apabila dapat terpenuhi dua perkara, maka dia selamat dari kesalahan, yaitu keshahihan dalil dan benarnya pemahaman. Dalam hal benarnya pemahaman, tidak mungkin seseorang dari kita mengklaim demikian, karena setiap orang selalu menyangka bahwa akalnya adalah yang terbaik, dan pemahamannya adalah yang terbaik. Namun yang menjadi ketentuan dalam hal ini, adalah engkau kembali kepada pemahaman sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, dan pemahaman pendahulu umat ini, apa yang mereka katakan dalam menjelaskan makna ayat ini, apa yang mereka jelaskan dalam makna hadits ini. Jika kita telah berpegang dengan prinsip ini, maka mereka adalah ahlus sunnah. Kemudian setelah itu, bisa terjadi kesalahan, namun kesalahan ini tidak mungkin membatalkan prinsip-prinsip tersebut. Barangsiapa yang menmpuh jalan ini,dan sampai kepada tingkatan ini dalam mencari dalil,dia berdalil dengan dalil yang shahih dan dibangun diatas pemahaman yang shahih,iya,terkadang terjadi padanya kesalahan dalam sebagian perkara, sebagaimana yang dialami kaum Salaf, namun tidak mungkin membatalkan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Inilah ketentuan As-Sunah dan Ahlus Sunnah. Dan tidak setiap orang yang berkata bahwa Allah berfirman, bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, berarti dia benar dalam pemahamannya, walaupun firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah haq, namun yang ditinjau adalah pemahaman yang benar.

Adapun orang yang bersikap loyal kepada ahlul bid’ah, dan menguatkan mereka, dan menyimpang dari ahlus sunnah, maka ini termasuk tanda yang paling besar yang disebutkan oleh para ulama bahwa itu termasuk tanda ahlul bid’ah, mereka mengatakan: diantara tanda ahlul bid’ah adalah mencela ahlul atsar (para tokoh Ahlus Sunnah, pen). Kamu tidak mendapati seseorang (dari ahlus sunnah) yang mencela Bukhari, Muslim, Ahmad, Malik dan para imam hadits, dan mencela ulama ahlus sunnah yang hidup di masa sekarang dan yang selainnya.

Kita mengetahui dari ulama zaman kita seperti Syekh Abdul aziz Bin Baaz, Ibnu Utsaimin, Al-Albani, mereka ini demi Allah, kami tidak mengatakan bahwa mereka itu ma’shum, namun kami tidak mengenal yang semisal mereka dalam hal menghidupkan sunnah, menegakkannya, dan mendakwahkannya. Kami tidak mengetahui seseorang yang menyimpang dari mereka melainkan dia berada diatas kadar penyimpangannya, telah terjatuh kedalam bid’ah. Dan bukan pula yang dimaksud menyimpang dari mereka, bila ada seorang mujtahid alim dari sahabatnya mengatakan: telah salah si fulan, dan benar si fulan. Ini bukan penyimpangan, namun dia adalah orang yang mencintai yang memberi nasehat, namun yang merendahkan mereka dan menuduh mereka dengan bid’ah, dan menuduh mereka seperti apa yang terdapat dalam pertanyaan, bahwa mereka adalah ulama haid dan nifas, maka ini menunjukkan kejahilannya. Haid dan nifas, hukum keduanya terdapat dalam Kitabullah. Yang menganggap remeh kedudukan ilmunya, termasuk penolakan terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Dan yang mengatakan ucapan ini, jika memang demikian yang dia ucapkan, demi Allah dikhawatirkan atasnya kekafiran ,jika orang tersebut merendahkannya disebabkan karena ilmunya tentang haid dan nifas. Jika sekiranya kita seperti yang lainnya yang melihat buku-buku yang didasari atas pemikiran semata, yang engkau tidak mendapati di dalamnya ada permasalahan dalam akidah, dan engkau tidak mendapati permasalahan yang menjelaskan hukum syar’i dalam masalah fikih, dan yang ada hanyalah pendapat, pandangan, pemikiran, terjun dalam politik, ucapannya dibangun di atas ucapan manusia, engkau tidak mendapati dalam kitab-kitab mereka ayat ataupun hadits, namun hanya sekedar menggunakan akal. Jika sekiranya manusia menjalani cara ini, demi Allah akan muncul satu zaman dimana manusia tidak lagi mengetahui bagaimana cara mereka shalat. Namun mereka tidak mengetahui kerusakan buku-buku ini, sebab mereka masih bersama para ulama, dan ilmu masih menyebar. Akan tetapi jika ahlus sunnah telah pergi, dan tidak lagi ada yang tinggal kecuali mereka ini, maka tidak ada lagi yang tertinggal dari agama Allah. Adapun Ahlus Sunnah, maka kebaikan telah terkumpul pada mereka, jika engkau bertanya tentang ilmu, maka ada pada mereka, jika engkau bertanya tentang amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka ada pada mereka, jika engkau bertanya tentang ibadah dan kesungguhan, maka ada pada mereka, jika engkau bertanya tentang keta’atan terhadap penguasa dalam batasan-batasan syari’at, maka ada pada mereka, jika engkau bertanya tentang mereka yang selalu memberi nasehat kepada penguasa, maka merekalah ahlus sunnah. Maka kebaikan terkumpul pada ahlus sunnah. Dan ini bukan berarti bahwa seseorang tersebut ma’shum, namun mereka secara menyeluruh, kebenaran tidak keluar dari mereka.

Adapun yang terdapat dalam pertanyaan tentang nasyid, yaitu yang dinamakan dengan nasyid islami, maka ini bukan dari Sunnah. Dan jika ini dianggap sebagai sarana dakwah –sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang- , maka manakah dalil atas hal ini dari petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wasallam, karena sesungguhnya sarana dakwah yang bersifat ibadah seluruhnya telah ditunjuki oleh dalil-dalil. Dan hendaklah dibedakan antara sarana dakwah yang bersifat ibadah dengan sarana dakwah yang bersifat adat kebiasaan. sarana dakwah yang bersifat ibadah adalah sarana ibadah yang tidak diperkenankan untuk keluar darinya, misalnya melakukan hajr (pemboikotan) sebagai manhaj, dan diantara yang ditempuh dalam berdakwah, menulis karya termasuk sarana, ilmu termasuk sarana, nasehat dan penjelasan termasuk sarana, menghilangkan syubhat dan berdialog dengan cara yang paling baik, termasuk diantara sarana dakwah yang benar. Maka barangsiapa yang mengingkari sesuatu dari perkara ini maka dia ahlul bid’ah.

Adapun sarana yang berupa adat kebiasaan, seperti menggunakan pengeras suara, menggunakan kaset, menggunakan kitab, adanya universitas –universitas sekarang ini, adanya berbagai sarana yang lainnya, maka sarana yang bersifat adat kebiasaan, dan kita tidak mengatakan bahwa bid’ah masuk kedalamnya, sebab bagaimanapun manusia membuat rancangan baru dari berbagai sarana ini, maka menggunakannya adalah perkara yang disyari’atkan, karena sarana ini bersifat adat kebiasaan dan bukan ibadah. Oleh karenanya, kita tidak mengatakan bahwa dakwah hanya dibatasi oleh pengeras suara, dan tidak ada dakwah yang benar kecuali apabila seseorang menggunakan pembesar suara, atau menggunakan radio, atau yang lainnya, namun itu hanyalah sarana untuk menyampaikan ucapan, dan bukan tujuan.

Adapun sarana yang bersifat syar’i maka tidak diperkenankan untuk keluar darinya. Bila ada seseorang datang lalu berkata: “orang yang menyelisihi (sunnah) tidak boleh dihajr”, demi Allah, kita mentabdi’nya (menuduhnya berbuat bid’ah), dan kita meragukan agamanya, sebab dia telah menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Tapi jika ada seseorang datang di masa sekarang ini dan berkata: “Saya tidak akan menggunakan pengeras suara dalam berdakwah di jalan Allah Azza wa Jalla, namun saya akan berbicara di hadapan manusia dan mengangkat suara saya sampai manusia mendengar suaraku.” Apakah kita mengatakan padanya : “Kamu ahlul bid’ah?.” Tentunya tidak, sebab ini hanyalah sarana yang menjadi kebiasaan setempat, maka barangsiapa yang ingin menggunakan sarana ini atau meninggalkannya, maka tidak ada kesempitan atasnya. Maka nasyid bukanlah sarana yang disyari’atkan, barangsiapa yang meyakini bahwa itu wasilah maka dia ahlul bid’ah, menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wasallam.

Adapun kalau yag dimaksud adalah sebagai permainan dan senda gurau, maka telah diketahui bahwa senda gurau dan permainan bukanlah dari agama Allah. Adapun orang yang meyakini bahwa nasyid-nasyid ini sebagai tahapan yang manusia berpindah dari mendengar nyanyian kepada mendengar nasyid, lalu setelah itu mendengar Al-Qur’an, maka ini –demi Allah- termasuk kejahilan, karena dia tidak mengajak manusia kepada al-haq, namun diajak kepada sebuah tahapan sebelum al-haq, maka seseorang tidak mungkin menjadi benar taubatnya, dan diterima hingga ia meninggalkan perbuatan menyelisihi menuju kepada sunnah dan kebenaran, maka bagaimana mungkin kita memindahkannya menuju sebuah tahapan dibawah sebelum al-haq, lalu jika dia mati dalam keadaan berada pada tahapan ini, maka siapa yang akan menanggung dosanya? Anda berdakwah dan mengatakan: “Bertakwalah kepada Allah, tinggalkan nyanyian dan dengarkanlah nasyid”, padahal juga telah dimaklumi bahwa di dalam nasyid banyak terjadi pelanggaran, diantaranya merasa enak dengan mendengar suara para pelantun nasyid dari kalangan para pemuda dan selain mereka, berapa banyak yang terfitnah disebabkan mereka ini, sehingga terdengar persis seperti nyanyian, dan bahkan telah menjadi kesibukan sebagian manusia, dan barangsiapa yang membiasakan diri dengannya maka hal tersebut akan melemahkannya untuk mendengarkan Al-Qur’an.

Jika kalian menemukan satu problem, maka kembalilah kepada para ulama kita, apakah mereka pernah membuat tim untuk para pelantun nasyid di sela-sela pelajaran mereka?, dan di masjid-masjid? Ataukah mereka tetap mengajari manusia ilmu dan menjelaskan kepada manusia tentang sunnah. Hal ini tidaklah datang kecuali dari sebagian orang-orang yang menyelisihi (al-haq) dari kalangan orang-orang bodoh, atau dari kalangan ahlul bid’ah. Mungkin saja seseorang memiliki niat yang baik, namun barangsiapa yang menyangka bahwa hal ini termasuk sarana dalam berdakwah maka sungguh dia telah keliru”.
(Dikutip dari kaset yang menjelaskan tentang Dhawabit fil Hajr, terdiri dari dua kaset, dan tanya jawab ini terdapat pada kaset yang kedua, pada sesi tanya jawab. Kasetnya ada pada kami).

Perhatikan beberapa ucapan beliau tersebut, lalu cocokkan dengan apa yang diucapkan oleh Abdurrahaman Abdul Khaliq pada penukilan sebelumnya, maka anda akan mendapati bahwa sifat yang beliau sebutkan ini sangat tepat diterapkan kepada Abdurrahman Abdul Khaliq, dan orang-orang yang sepemikiran dengannya.Wallahul musta’an.

(BERSAMBUNG INSYA ALLAH)

Catatan :

(1) Yakni Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin telah mengtaqridh kitab Madarikun Nazhar dan memberikan pengantar. Dalam pengantar kitab tersebut beliau menyinggung beberapa orang, yakni yang beliau maksud di situ adalah : ‘Aidh Al-Qarni, Salman Al-‘Audah, Safar Al-Hawali, dan Nashir Al-‘Umar, mereka adalah tokoh-tokoh utama kelompok Sururiyyah dan Quthbiyyah. Bagi yang pernah membaca kitab Madarikun Nazhar pasti tahu perkara ini.

(2) Yaitu pemikiran yang selalu digembar-gemborkan oleh Safar dan Salman, dan Abdurrahman Abdul Khaliq.

(3) Yakni bukan yang dimaukan syaikh : rifqan (bersikap lembutlah) wahai ahlus sunnah terhadap ikhwanul muslimin, atau rifqan wahai ahlus sunnah terhadap orang-orang yang gandrung dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb, Fifqan wahai Ahlus Sunnah terhadap pergerakan-pergerakan hizbiyyah… dst. Tapi yang dituju dan dimaukan oleh syaikh dengan kitab tersebut adalah sesama/intern Ahlus Sunnah.

(4) Potongan dari ceramah beliau ketika datang berkunjung ke Indonesia. Karena terlalu panjang,kami tidak menukil semua yang beliau katakan, namun kami hanya menukil yang menjadi sebab beliau membela organisasi ini. Namun ada beberapa hal yang perlu kami bahas berkenaan tentang Tanya jawab tersebut, insya Allah akan kita bahas dikesempatan yang lain.

(5) Sengaja kami tidak memotong fatwa beliau, dan kami sebutkan secara lengkap, agar kita mendapatkan faedah dari beberapa hal lain yang menjadi kegiatan para hizbiyyin

(Dikutip dari tulisan Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi, judul asli ULAMA AHLUS SUNNAH TIDAK MEREKOMENDASI IHYA ATTURATS (2). URL Sumber http://www.al-ilmu.info/index.php?name=News&file=article&sid=626)

<!–

!–>

Artikel asli dipublikasikan pada:
Site: SALAFY INDONESIA – Salafy Online – Situs Salafi Ahlussunnah wal Jama’ah
URL: http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1153

Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan URL sumbernya.
URL sumber : http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1153

27/12/2008 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, firqah, manhaj | , , , | Tinggalkan komentar

Fatawa Ulama tentang Ihya at-Turots

kategori Fatwa-Fatwa
Penulis: Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
“BUKU EMAS”, itulah pujian dari para pendukung Ihya’ At-Turots terhadap tulisan Abu Abdil Muhsin Firanda Ibnu Abidin –semoga Allah Ta’ala memberi hidayah kepadanya dan kepada kita semua-. Di dalam bukunya Firanda menerapkan beberapa kaidah tentang masalah khilaf, hajr dan yang lainnya yang tidak didudukkan pada tempatnya. Dengan berbagai dalih –bukan dalil- ia mengemukakan beberapa alasan tentang pembelaannya terhadap “Jum’iyyah Hizbiyyah” ini sampai kepada tingkat -bukan saja membolehkan untuk mengambil dana darinya- bahkan menganjurkan untuk berta’awun bersamanya dan meminta dana darinya (Lerai …, hal.242).

Sebenarnya, syubhat dari Al-Akh Firanda ini termasuk syubhat yang sudah sangat klasik dan sudah dibantah oleh para ulama yang mengerti tentang seluk-beluk dan kenyataan yang terjadi di lapangan di berbagai negara, yang menimbulkan dampak yang amat negatif disebabkan masuknya bantuan dari yayasan ini. Karena permasalahan ini mulai dikaburkan kembali dan dimunculkan anggapan bahwa yayasan ini adalah yayasan yang dibangun di atas Manhaj Salaf, maka perlu kita ingatkan kembali kepada kaum muslimin sebagai bentuk pengamalan dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam : ”Agama itu adalah nasehat.”

Untuk itulah tulisan ini akan kami bagi menjadi beberapa bagian, disebabkan keterbatasan waktu dan sempitnya kesempatan untuk menulis, maka saya akan berusaha menulis secara bertahap dan memberi bantahan dan tanggapan terhadap “BUKU EMAS” yang sekarang ini menjadi pedoman setiap Turotsi. Akhirnya, kami tetap mengharapkan kritikan yang membangun dan bersifat ilmiah terhadap apa yang akan saya tulis, sebab setiap manusia tidak pernah luput dari kesalahan, namun yang terbaik tentunya yang bertaubat kepada Allah Ta’ala. Dan seorang Salafi adalah yang selalu menjadikan prinsipnya “Rujuk kepada kebenaran lebih baik daripada berkelanjutan di atas kebatilan”. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufiq kepada kita semua, terkhusus kepada diri ana pribadi dan semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi manfaat kepada kaum muslimin terhadap apa yang kami tulis dan senantiasa menjaga kita dari berbagai macam fitnah yang zhahir maupun batin. Amin, ya mujibas saailin.

FATWA ASY-SYAIKH RABI’ BIN HADI AL-MADKHALI –HAFIDHAHULLAH-

فتوى الشيخ ربيع بن هادي المدخلي حفظه الله تعالى
(( والله يقولون بأن إحياء التراث تلتزم بالمنهج السلفي,لكن عليها مآخذ شديدة في الخارج أكثر من الداخل,وأرى أن التعاون معها تعاون ضد المنهج السلفي,فعليها أن تتوب إلى الله تبارك وتعالى وتلتزم المنهج السلفي باطنا وظاهرا وتعلن الحرب على هذا الغلو وعلى هذه المناهج مناهج سيد قطب.أما إمام إحياء التراث عبد الرحمن عبد الخالق يدافع عن الترابي وسيد قطب والبنا والمودودي وعيرهم من زعماء البدع والفتن ويبقى إماما مقدسا في قلب إحياء التراث.بارك الله فيكم.فهذا من أقوى القرائن على أن إحياء التراث ليست بصادقة في اتجاهها بالمنهج السلفي وآثار عبد الرحمن عبد الخالق معروفة هي ما تحمل المنهج السلفي بجدية وصفاء ونقاء .ومن أدلة أنها لا تلزم هذا المنهج أنها توالي التكفيرية في اليمن جمعية الحكمة وأمثالها وتوالي غيرهم توالي الإخوان المسلمين .أين جهودها في مواجهة هذا الفكر الإخواني لا هَمَّ له إلا السحب من المنهج السلفي .
أيها الإخوة,على كل حال ,نحن ننصح الشاب السلفي أن يدرس المنهج السلفي من الطرق الشريفة النظيفة ,وأنصح السلفي الصادق ألا يدخل إخوانه في دوامة الخلافات والقيل والقال وقد نصحتكم في مرات كثيرة أنكم ابتعدوا عن أسباب الخلافات ,فالتعاون مع إحياء التراث يؤدي إلى صراعات وخلاافات بينكم.
فالسلفي الصادق لا يغالط بدعوته وبإخوانه ويدخل بها في صراع الخلافات بارك الله فيكم.
نحن والله نتمنى من إحياء التراث أن تعود إلى رشدها وأن يكون أعمالها الخفية مثل أعمالها الظاهرة وهي– سلفية واضحة باطنا وظاهرا ترى آثار هذه السلفية في الخارج وفي الداخل .لكم مانرى هذا,أين هذا في بانجلاديش,وأين مثل هذا في السودان,وأين آثارها في بلدان بعيدة وإن كانوا يلبسون على الناس ,يلبسون على الناس ويقولون: نطبع الكتب وننشر كذا وكذا ……..(كلمة غير واضحة) بارك الله فيك
ليست مخلصة في نشر المنهج السلفي الذي رفع رايته رسول الله وصحابته الكرام وأتباعه أحمد بن حنبل وابن تيمية وابن عبد الوهاب .نجدهم ذكر الإخوان ,مجاملات,والسياسات وما شاكل ذلك.فلتتب إلى الله عز وجل من هذا المنهج .
تم هذا اللقاء في يوم الخميس الموافق الثامن من شهر الله الحرام عام 1426 .بعنوان: الوسطية في الإسلام
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Terjemahannya
Syaikh Rabi Ibn Haadi : “Demi Allah, mereka mengatakan bahwa Ihya’ At-Turots komitmen dengan manhaj Salafi, namun ada beberapa kritikan keras atas mereka, dimana di luar – lebih banyak (kritikannya) – daripada di dalamnya. Aku berpendapat bahwa bekerjasama dengan mereka adalah bentuk kerjasama yang menentang manhaj Salafi. “

“Maka wajib atas mereka bertaubat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan komitmen terhadap Manhaj Salafi, baik secara lahir maupun batin serta mengumumkan perang terhadap sikap ekstrim ini, terhadap berbagai manhaj, manhaj Sayyid Quthb. Adapun Imamnya Ihya’ At-Turots Abdurrahman Abdul Khaliq, yang membela At-Turabi (Hasan At-Turabi), Sayyid Quthub, Al-Banna (Hasan al Banna), Al-Maududi (Abul A’la Al- Maududi) serta yang lainnya dari para pemimpin bid’ah dan fitnah yakni Abdurrahman Abdul Khaliq) tetap menjadi imam yang dikultuskan dalam hati Ihya’ At-Turots. Barakallahu fiikum – Semoga Allah memberkahi Anda”

“Maka inilah data-data yang paling kuat yang menunjukkan bahwa Ihya’ at-Turots tidaklah jujur dalam mengarahkan dirinya kepada manhaj Salafi. Pengaruh Abdurrahman Abdul Khaliq telah diketahui dimana dia tidak membawa manhaj Salafi dengan sesungguhnya secara bersih dan murni. Diantara indikasi terkuat bahwa ia tidak komitmen dengan manhaj ini, bahwa ia bersikap loyal kepada kaum takfir di Yaman, Jum’iyyatul Hikmah dan yang semisalnya. Juga bersikap loyal kepada selain mereka, Ikhwanul Muslimin. Mana kesungguhan mereka dalam menghadapi pemikiran Ikhwani ini ? Mereka tidak punya keinginan (membantah pemikiran Ikhwan, pen) kecuali untuk menarik diri dari manhaj Salafi.
Ikhwan sekalian, yang jelas kami menasehati para pemuda Salafi agar mempelajari manhaj Salafi melalui cara-cara yang mulia dan bersih. Dan aku menasehati seorang Salafi yang jujur agar tidak menjerumuskan saudara mereka dalam berbagai perselisihan yang berkelanjutan, isu ini dan isu itu.”

“Aku telah menasehatkan kalian dalam banyak kesempatan agar kalian hendaklah menjauhkan diri dari berbagai sebab perselisihan. Bekerjasama dengan Ihya’ At-Turots akan mengantarkan kepada pergolakan dan perselisihan diantara kalian.
Seorang Salafi yang jujur tidak mempermainkan dakwahnya dan saudara-saudaranya dengan menjerumuskannya ke dalam pergolakan khilaf, barakallahu fiikum.”

“Kami –demi Allah- berharap dari Ihya’ At-Turots agar kembali kepada kebenaran dan agar amalan-amalannya yang tersembunyi seperti amalannya yang nampak.Yaitu menjadi Salafiyah yang jelas, batin maupun zahir, yang dapat dilihat pengaruh Salafiyyah ini baik di luar maupun di dalam. Namun kita tidak melihat ini, sejauh mana (pengaruh salafiyahnya) di Bangladesh, juga yang seperti itu di Sudan, juga pengaruhnya di berbagai negeri yang jauh. Walaupun mereka mengelabui manusia dan mengatakan: “Kami mencetak kitab, kami menyebar ini dan itu…..[1]. Barokallahu fiik. Tidak memurnikan dalam menyebarkan dakwah Salafiyah yang telah diangkat benderanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya yang mulia serta orang-orang yang mengikutinya seperti Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Abdul Wahhab. Kami mendapatkan mereka (Ihya’ At-Turots, pen) memuji Ikhwanul Muslimin, basa-basi, berpolitik dan yang semisalnya. Maka hendaklah mereka bertaubat kepada Allah Ta’ala dari manhaj ini.”

Selesai pertemuan ini pada hari Kamis, bertepatan dengan tanggal 8 dari bulan Muharram 1426 H dengan judul : Sikap pertengahan dalam Islam.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

FATWA ASY-SYAIKH UBAID AL-JABIRI –HAFIDHAHULLAH-

فتوى الشيخ عبيد الجابري حفظه الله تعالى
(( أولا يا بني, نحن لا نتحدث إلا ببينة يستوي عندنا في هذا إحياء التراث وغيرها .لقد صح عندي بنقل الثقات منهم الشيخ عبد المالك رمضاني أن هذا موجود عندهم.ولا يزال عند بعض المنتسبين إليهم مثل عبد الله السبت ومحمد بن حميد النجدي .نعم. فهم أخفوا هذا عنكم,وكل جماعة منحرفة لا تعطي المنتسبين إليهم أول الأمر كل ما عندهم حتى جماعة التبليغ لا يبايعون على السلسلة الرباعية الصوفية وهي الجشتية والقادرية والسهروردية والنقشبندية إلا بعد اختبار ,نعم)).

Terjemahan
Syaikh Ubaid al Jabiri :
Jawaban beliau tatkala ditanya tentang pembai’atan yang terjadi di Jum’iyyah Ihya’ at-Turots:
“Pertama, wahai anakku, kita tidaklah berbicara kecuali dengan bukti, menurut kami dalam hal ini Jum’iyyah Ihya’ At-Turots atau yang lainnya. Dan telah sampai berita shahih menurutku dengan penukilan orang yang tsiqah (terpercaya), diantara mereka Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani bahwa ini (bai’at) ada pada mereka. Dan masih saja ada pada sebagian orang yang menisbahkan dirinya kepada mereka seperti Abdullah As-Sabt dan Muhammad bin Humaid An-Najdi.

(Ini adalah transkrip dari kaset fatwa beliau oleh penerjemah, rekaman ada pada kami – penerjemah).

Iya, tetapi mereka menyembunyikan hal ini dari kalian. Dan setiap Jama’ah yang menyimpang pada awal kali tidak akan menyampaikan kepada orang-orang yang menisbahkan kepada mereka semua apa yang ada pada mereka. Bahkan Jama’ah Tabligh, mereka tidak membai’at berdasarkan empat serangkai Tarekat Shufiyah yaitu Al-Jusytiyah, Al-Qadiriyah, As-Sahrawardiyah,dan An-Naqsyabandiyah kecuali setelah melalui pengujian. Na’am (iya) …”

السائل: أثابكم الله,هل تنصحون الشاب بالدخول مع جمعية إحياء التراث في حلقة تحفيظ القرآن وبعض دروسهم؟ نرجو النصيحة؟
الجواب: أقول,بالنسبة للجمعية,نحن تكلمنا فيها ,أعني جمعية إحياء التراث وبينا ما يسعنا بيانا في أشرطة,منها في السعودية ومنها في الكويت وأظن أن أبا محمد وأبا عثمان حضرا بعضها .وآخر ما تكلمت فيه عن هذه الجمعية شريط أو مقابلة سجلت معي من قبل بعض الكويتيين وكان ذلك الشريط في عام 1422 ,وكنت أنا ذاك مشتركا في دورة علمية بحفر الباطن,فالكويتييون زاروا جيرانهم وأجروا مع ذلك الشريط وهو موجود,وأظنه في التسجيلات السلفية عندكم في الكويت.
والذي أدين الله به أنه لا يجوز التعاون مع تلك الجمعية ولا غيرها من الجمعيات المنحرفة ولو اشتراك في سلكها ولا الدراسة في مدارس خاصة بها ولا حلقات خاصة بها ,ولا يجوز التعاون معها في أشرطتها الدعوية ,لأن هذه الحمعية ثبت عندنا أنها حرب على أهل السنة بالكويت .وكذلك تحتوي فيمن تحتوي من أعضائها المكفرين مثل ناظم المصباحي التي تنضح أشرطته بالتكفير إن لم يكن كلها فكثير منها ومن هون أمر هذه الجمعية ولطف حالها فإنهم ردوا عليه قوله بشهادة العدول من إخوانها وأبنائنا الكويتيين ومنهم مشيخة السلفية الذين يعرفون حالها ونحن نقبل قولهم وقول أبنائهم وإخوانهم به ما يجري في الكويت وهم أعلم ومنهم أبو محمد الشيخ فلاح بن إسماعيل وأبو عثمان الشيخ محمد بن عثمان العمري وغيرهم من مشيخة السلفية في الكويت ,نعم.

Terjemahan
Berkata penanya: “Semoga Allah Ta’ala memberimu pahala. Apakah engkau menasehatkan seorang pemuda untuk masuk bergabung bersama Yayasan Ihya’ At-Turots dalam halaqah Tahfidzul Qur’an dan sebagian pelajaran mereka? Kami mengharapkan nasehat …

Jawaban
Syaikh Ubaid al Jabiri : “Aku katakan, tentang organisasi ini. Kami telah berbicara tentangnya.Yang saya maksudkan adalah organisasi Ihya’ At-Turots dan telah kami jelaskan semampu kami dengan penjelasan dalam beberapa kaset, diantaranya di Saudi dan juga di Kuwait. Dan dugaannku bahwa Abu Muhammad dan Abu Utsman hadir pada sebagian (majelis).Yang terakhir, aku berbicara tentang Yayasan ini dalam satu kaset atau pertemuan yang direkam bersamaku oleh beberapa orang Kuwait. Dan kaset itu (terekam) pada tahun 1422 H. Dan aku pada waktu itu ikut dalam Daurah ilmiyyah di Hafrul Batin. Maka orang-orang dari Kuwait mengunjungi tetangga mereka lalu mereka –bersamaan dengan itu- kaset itu ada, saya mengira ada di Tasjilat Salafiyah di tempat kalian, Kuwait.

Yang aku jadikan sebagai keyakinanku yang aku beragama pada Allah Ta’ala dengannya, bahwa tidak boleh bekerja sama dengan organisasi ini dan juga dengan organisasi yang lainnya dari organisasi-organisasi yang menyimpang, walaupun hanya ikut pada kegiatannya saja. Juga tidak boleh belajar di sekolah-sekolah khusus mereka dan tidak pula pada halaqah-halaqah mereka serta tidak boleh kerjasama dengannya dalam kaset-kaset dakwah mereka, sebab yayasan ini telah jelas pada kami bahwa mereka memerangi Ahlus Sunnah di Kuwait.

Demikian pula tercakup diantara orang yang bergabung bersama mereka dari para anggotanya orang-orang takfiri [2] seperti Nadzim Al-Misbahi yang kaset-kasetnya dipenuhi dengan takfir, kalau bukan semuanya, maka mayoritasnya. Dan siapa yang meremehkan keadaan organisasi ini dan menggampangkan keadaannya, maka sesungguhnya bantahan atasnya dengan persaksian orang-orang yang adil dari ikhwan kita, dan dari anak-anak kita di Kuwait.

Diantara mereka, para syaikh Salafiyah yang mengenal keadaannya dan kita menerima ucapan mereka dan ucapan anak-anak dan ikhwan mereka tentangnya terhadap apa yang terjadi di Kuwait. Dan mereka lebih mengetahui.Diantara mereka Abu Muhammad Syaikh Falah bin Ismail dan Abu Utsman Syaikh Muhammad bin Utsman Al-Umri dan yang lainnya dari para Syaikh Salafi di Kuwait. Na’am…”

(Ini adalah transkrip dari kaset fatwa beliau oleh penerjemah, rekaman ada pada kami – penerjemah)

FATWA ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN HADI AL-MADKHALI Hafidhahullah-

فتوى الشيخ محمد بن هادي المدخلي خفظه الله تعالى
السائل:يوجد لجمعية إحياء التراث جهود في مجال الدعوة ؟
الجواب: هل تعرفون هذه الجمعية وهل هي قائمة على النهج السلفي؟لا والله ما هي قائمة على المنهج السلفي,والله على المنهج الإخواني قائمة, وأصحابها متلونون .والذي نعرفه منهم لا يجوز لنا أن ندعه لحال من زكاهم ممن تجملوا له وهو لا يعرفه,فإن الله سبحانه وتعالى لم يكلفنا إلا بما علمنا .وهذه الجمعية حزبية والبيعة عندهم يسمونها العهد.أو يسمونها طاعة المسؤول .وانظروا إليهم في مواقفهم .فأينما شرقوا أو غربوا في العالم الإسلامي وغير الإسلامي لا تجدهم إلا يفرقون الدعوات السلفية.ما يجمعون,وإنما يأتون إلى التجمعات السلفية فيفرقونها ,وذلك بسبب المال الذي معهم.فنسأل الله العافية والسلامة .ولقد تكلمت في هذا في كثير من الأشرطة ولي في هذا كلام في شريطين في الكويت عندهم. الشاهد عبد الرحمن عبد الخالق ليس بخاف علينا ولا بخاف عليكم جميعا وهو شيخهم إلى هذه الساعة وإن حاولوا التنقل منه.فنسأل الله العافية والسلامة والكلام فيه يطول ولكن أكتفي بهذا ))

Terjemahan
Penanya berkata: “Apakah didapati pada Jum’iyyah Ihya’ At-Turots andil dalam bidang dakwah ?”

Jawaban
Syaikh Dr. Muhammad Ibn Hadi al Madkhali : “Apakah Kalian tahu Jum’iyyah ini? Apakah dibangun di atas manhaj Salafi ? Demi Allah dia (Ihya’ut Turots-pen) tidak dibangun diatas manhaj Salafi. Demi Allah dibangun di atas manhaj Ikhwani, para anggotanya adalah orang-orang yang mutalawwin/bermuka dua [3]. Adapun yang kami ketahui tentang mereka, tidak boleh bagi kita mendiamkan karena adanya orang yang memberi rekomendasi kepada mereka, dari orang-orang yang mereka (orang-orang Ihya’ Turats-pent) berbasa-basi di hadapannya sementara mereka (yang memberi rekomendasi) tidak mengetahuinya.
Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak membebani kita kecuali dengan apa yang kita ketahui. Sementara organisasi ini adalah Hizbiyyah. Mereka mempunyai bai’at yang mereka namakan perjanjian atau mereka namakan “Ta’at kepada penanggung jawab (pengurus, pen).” Maka, perhatikanlah mereka dalam berbagai sikapnya! Kemanapun mereka pergi, ke Barat atau ke Timur, di negara Islam atau selain negara Islam, kalian tidak mendapati mereka melainkan mereka memecah-belah dakwah Salafiyah.

Mereka (Ihya’ At-Turots) tidaklah mempersatukan, namun mereka mendatangi perkumpulan Salafiyah lalu memecah-belah diantara mereka. Dan itu disebabkan karena harta yang ada pada mereka. Kita memohon kepada Allah Ta’ala ‘afiyat dan keselamatan. Aku telah membicarakan ini di banyak kaset, dan aku juga telah berbicara dalam dua kaset di Kuwait, di (negeri) mereka.

Intinya, Abdurrahman Abdul Khaliq tidak tersamarkan bagi kita dan tidak tersamarkan pula oleh kalian semuanya bahwa dia adalah Syaikh mereka (Ihya’ at Turats) sampai saat ini, walaupun mereka berusaha berpindah darinya.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala afiyat dan keselamatan. Pembicaraan seputar masalah ini panjang, namun aku mencukupkan hingga di sini.

(Ini adalah transkrip dari kaset fatwa beliau oleh penerjemah, rekaman ada pada kami – penerjemah)

FATWA SYAIKHUNA MUQBIL BIN HADI –RAHIMAHULLAH- (1)

فتوى الشيخ مقبل رحمه الله تعالى
((جمعية إحياء التراث علمها هو جمع الأموال ثم بعد ذلك تجميع الناس معهم وإلى دعوة ديمقراطية .ليس الخلاف بيننا وبينهم من أجل المال, وليس الخلاف بيننا وبينهم من أجل المراكز وليس الخلاف بيننا وبينهم من أجل المرتفعات العسكرية وغيرها.الخلاف بيننا وبينهم أنهم يدعون إلى الديمقراطية وهكذا أيضا الإخوان المفلسون يدعون إلى الديمقراطية ويريدون أن يصوروا للناس من أنها إسلامية, والله المستعان)).

Terjemahan
Syaikh Muqbil ibn Hadi rahimahullah : “Jum’iyyah Ihya’ At-Turots ilmunya adalah mengumpalkan harta, kemudian mengumpulkan manusia agar bersama mereka dan mengajak kepada Demokrasi. Bukanlah perselisihan antara kita dan mereka (Ihya’ At-Turots) disebabkan karena harta. Dan bukanlah perselisihan antara kita dan mereka (Ihya’ At-Turots) disebabkan karena markaz (pondok pesantren) dan bukan perselisihan antara kami dan mereka dalam masalah tingkatan ketentaraan.

Perselisihan antara kita dan mereka (Ihya’ at-Turots) adalah karena mereka menyeru kepada Demokrasi. Demikian pula, Al-Ikhwan Al-Muflisun menyeru kepada Demokrasi. Mereka hendak menggambarkan kepada manusia bahwa itu adalah cara Islami. Wallahul musta’an”.

FATWA SYAIKHUNA MUQBIL BIN HADI –RAHIMAHULLAH- (2)

فتوى الشيخ مقبل رحمه الله تعالى:
السائل: كما سمعتم فقد اتصلت جمعية إحياء التراث ببعض المشايخ مثل الشيخ ابن باز وعبد المحسن العباد وابن عثيمين وعبد الرحمن جبرين واستطاعت إلى الأخذ بتزكية شفوية من الشيخ ابن باز حفظه الله ,حيث ذكر أنها جمعية طيبة فتعاونوا معهم فإن أخطؤوا فبينوا أخطاءهم ,انتهى كلامه بالمعنى ولما سمعوا ما أرادوا خرجوا ….(كلمة غير مفهومة) كشبهة بعض إخواننا هناك أنهم يقولون :إذا كانت هذه الجمعية صاحبة شر وضلال فكيف يزكيها هؤلاء المشايخ .فيا شيخ ماردكم على هذا؟
الجواب: الحمد لله صلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ,اشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ,أما بعد:
فعلماءنا الأفاضل حفظهم الله تعالى يأتي صاحب الجمعية إليهم ويقول : يا شيخ نحن نهتم ببناء المساجد وبفتح مدارس تحفيظ القرآن وبكفالة اليتامى وبحفر الآبار وغير ذلك من الأفعال الحميدة الصالحة فالشيخ ………(كلمة غير واضحة) ما رأيك في هذه الجمعية تهتم ببناء المساجد وتحفيظ القرآن وكفالة اليتامى وكفالة الدعاة إلى الله وحفر الآبار ,من الذي يقول هذا ما يجوز كل واحد يقول –يا أخي- هذا عمل صالح كله لكن المشايخ حفظهم الله تعالى لا يعرفون ما بعد هذا .
والواقع أن الأموال التي تأتيهم أصحاب الجمعية لتحارب بها أهل السنة في السودان وفي اليمن نعم وفي أرض الحرمين ونجد وفي أندونيسيا وفي كثير من البلاد الإسلامية .
(مفرغ من الشريط بصوته رحمه الله وهو عندي)

Terjemahan
Berkata penanya: “Sebagaimana yang engkau dengar, sungguh Jum’iyyah Ihya’ At-Turots telah menghubungi sebagian syaikh seperti Syaikh Bin Baaz, Abdul Muhsin Al-Abbad, Ibnu Utsaimin dan Abdurrahman Jibrin. Dan mereka berhasil mendapatkan tazkiyah secara lisan dari Syaikh Bin Baaz Hafidzahullah, dimana beliau menyebutkan bahwa “… ini adalah Jum’iyyah yang bagus, maka bekerjasamalah dengan mereka. Jika mereka bersalah maka jelaskan kesalahan mereka….,” demikian ucapannya secara makna.

Tatkala mereka mendengar apa yang mereka inginkan, lantas mereka keluar ….(kalimat tidak dipahami) seperti syubhat sebagian saudara kita di sana bahwa mereka mengatakan : “…jika Jum’iyyah ini memiliki kejelekan dan kesesatan, lalu bagaimana mungkin direkomendasi oleh para Syaikh ini…”. Maka wahai Syaikh, apa bantahan anda terhadap hal ini?

Jawaban
Syaikh Muqbil ibn Hadi rahimahullah : “Segala puji milik Allah Ta’ala . Semoga Allah Ta’ala memberi shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, keluarganya dan para shahabatnya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata, tidak ada sekutu baginya.Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah Ta’ala maka tidak ada yang mampu menyesatkannya dan siapa yang disesatkan oleh Allah Ta’ala, maka tidak ada yang mampu memberi hidayah kepadanya. Amma Ba’du:

Ulama kita yang mulia –semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga mereka- , lantas anggota Jum’iyyah datang kepada mereka dan berkata: “…wahai Syaikh, kami memperhatikan masalah pembangunan masjid-masjid, membuka madrasah tahfidz Al-Qur’an, menanggung anak-anak yatim, menggali sumur-sumur dan yang lainnya – dari berbagai perbuatan yang terpuji dan saleh -.” “Maka syaikh …..(kalimat tidak jelas), apa pendapatmu tentang jum’iyyah ini, yang memperhatikan pembangunan masjid, tahfidz al-Qur’an, menanggung anak-anak yatim, menanggung para da’i di jalan Allah Ta’ala, menggali sumur-sumur…”. Siapa yang mengatakan ini tidak boleh ? Setiap orang mengatakan –ya akhi- ini adalah amalan saleh semuanya ! Namun, para syaikh tersebut –semoga Allah Ta’ala menjaga mereka- tidak mengetahui apa yang terjadi setelah ini.

Kenyataannya bahwa harta yang sampai ke mereka dari para pengurus Jum’iyyah digunakan untuk memerangi Ahlus Sunnah di Sudan, di Yaman, di bumi Haramain (Mekkah dan Madinah, pen), Nejed dan di Indonesia dan di banyak negara Islam.

(Ini adalah transkrip dari kaset fatwa beliau oleh penerjemah, rekaman ada pada kami – penerjemah)

KESIMPULAN
Kesimpulan dari apa yang difatwakan oleh para Masyaikh –Hafidzahumullah- tersebut adalah bahwa Ihya’ At-Turots adalah yayasan Hizbiyyah, dengan beberapa alasan:
1. Mereka adalah para pembela manhaj Quthbi Takfiri
2. Abdurrohman Abdul Khaliq tetap menjadi Syaikhnya Ihya’ At-Turots dan tetap mulia di hati mereka, walaupun membela kebatilan, membela Hasan At-Turabi, Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna, Al-Maududi dan yang lainnya dari para penyeru kesesatan.
3. Menyeru kepada Demokrasi
4. Mereka memiliki bai’at yang namanya diubah dengan istilah “’ahd (perjanjian), atau menaati pengurus yang bertanggung jawab”.
5. Diantara pengurusnya terdiri dari para takfiriyyun, seperti Nadzim al-Misbahi dan yang lainnya.
6. Bersikap loyal kepada Takfiriyyun dan kepada Al-Ikhwanul Muslimin.
7. Menyebabkan perpecahan di kalangan Ahlus Sunnah di berbagai Negara.
8. Memiliki manhaj Sirriy yang tidak diketahui kecuali hanya orang-orang tertentu.
9. Ikut serta dalam berpolitik dan masuk parlemen.

Dengan demikian, jelas tidak diperbolehkan bekerjasama dengan mereka sebab akan mendatangkan kemudharatan dan menyebabkan terjadinya perpecahan. Adapun fatwa para masyayikh yang memberi rekomendasi mereka, hal ini disebabkan karena mereka menyampaikan kepada para masyayikh tersebut perkara-perkara yang sifatnya baik, adapun kebatilan yang ada pada mereka jelas mereka sembunyikan dari para Syaikh Hafidzahumullah tersebut.Wallahul musta’an. (bersambung)

Footnote :
1. (kalimat yang ada tidak fahami,pen)
2. Mudah mengkafirkan orang lain, warisan Sayyid Quthb dan yang semisalnya dari kalangan Khawarij.
3. Yaitu tidak kokoh di atas manhaj yang satu, yaitu manhaj Salaf, namun bermanhaj sesuai kondisi.

(Ditulis oleh al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi. Fatwa dikutip dari rekaman di Sahab.Net. File rekaman ada pada redaksi dan ustadz)

http://salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1061

27/12/2008 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, fatawa, manhaj | , , | Tinggalkan komentar

Membongkar Kejahatan Ihya’ut Turots

Musuh Salafiyyin

Penulis: Abu Abdillah Khalid Adh-Dhahawi

Yayasan Ihya’ut Turots Selalu Menjadi Musuh SalafiyyinDemikian pula, keberadaan mereka yang selalu menjadi lawan Salafiyyin di mayoritas tempat, contohnya di Kuwait. Mereka sungguh berbeda dengan kami, bagi mereka kelompok mereka dan bagi kami para ikhwah dan pemuda Salafiyyin. Sedikitpun mereka tidak ada hubungan dengan kam, bahkan mereka mentahdzir kami dan para masyaikh sunnah. Mereka mentahdzir Syaikh Rabi’ dan senantiasa memuji Abdurrahman Abdul Khaliq.

Adapun ucapan mereka, “Kami telah meninggalkan Abdurrahman Abdul Khaliq.” Ini adalah sebuah lelucon yang nyata karena Abdurrahman Abdul Khaliq jelas berada di yayasan Ihya’ut Turots, bahkan mempunyai kedudukan di Lajnah ‘Ilmiyyah Ihya’ut Turots.
Terkadang jika engkau menelepon untuk meminta fatwa, maka mereka akan mengarahkanmu kepada Abdurrahman Abdul Khaliq sebagai penghormatan terhadapnya, dia ada dan tinggal di tengah-tengah mereka.

Tidak benar kalau mereka berkata: “kami telah meninggalkannya.”
Bahkan, ada markas cabang Ihya’ut Turots yang menyelenggarakan muhadharah dan seminar bagi Abdurrahman Abdul Khaliq. Dengan ini jelaslah bahwa omongan mereka, “kami telah meninggalkan Abdurrahman Abdul Khaliq”, ibarat melemparkan debu ke mata hingga orang tertipu dengannya.

Orang mengetahui kesesatan Abdurrahman Abdul Khaliq dan mayoritas Salafiyyin mengetahui bahwa dia telah menyimpang. Asy Syaikh Bin Baaz, Asy Syaikh Al Fauzan, Asy Syaikh Rabi’, Asy Syaikh Al Faqihi, Asy Syaikh As Suhaimi dan Asy Syaikh Al Albani telah menjarh Abdurrahman Abdul Khaliq.

Mereka tidak mempunyai tipu daya lagi kecuali dengan mengatakan bahwa kami telah mengusir Abdurrahman Abdul Khaliq, padahal dia adalah saudara mereka yang mereka dan syaikh yang utama di kalangan mereka.

Dengan pengakuan ini mereka ingin memalingkan para pemuda karena mereka tidak akan bisa masuk kepada pemuda Salafiyyin kecuali dengan menyebarkan berita dusta bahwa “Kami telah mengusir Abdurrahman Abdul Khaliq”.

Maka dengan ini kita harus bersikap tegas untuk tidak berhubungan dengan yayasan ini. Demikian pula, terhadap orang yang berhubungan dan bekerjasama dengan mereka padahal dia mengetahui keadaan mereka dan mendengar ucapan–ucapan ulama tentang mereka.
Kita tidak akan membiarkan mereka merusak saudara-saudara kita Salafiyyin dan menipu mereka dengan yayasan ini.

Sesungguhnya, kita – demi Allah – sudah merasa cukup dengan masyaikh Ahlussunnah dan buku-buku Ahlussunnah dan kita tidak membutuhkan harta yayasan ini.

Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi kita rezeki dengan keutamaannya dan menjadikan kita berkecukupan serta tidak memerlukan orang-orang yang ingin menyesatkan Salafiyyin dengan harta mereka.

Adapun jika mereka berdalil dengan fatwa ulama yang mendukung Ihya’ut Turots, maka kita katakan:
“Sungguh, kebenaran tidak diambil dari para tokoh, tetapi para tokoh itu yang diukur dengan kebenaran”.
Menghukumi suatu masalah dengan melihat kenyataannya. Kami mengenal baik yayasan ini dan kalian pun mengenalinya dan mengenali sikap fanatiknya dan penyimpangannya dalam melawan sunnah dan Salafiyyin. Sehingga, jika ada yang datang kepada kita dan memuji mereka, tentu kita tidak akan menerimanya hanya semata-mata rekomendasi dan pujian.

Sesungguhnya, mereka mendatangi orang ‘alim dan menampakkan diri bahwa mereka berada di jalan Ahlussunnah dan menulis manhaj dan aqidah Ahlussunnah.
“Yang menjadi ibrah bukanlah ucapan dan apa yang tertulis, tetapi yang menjadi ibrah adalah perbuatan dan sepak terjang kalian. Inilah sikap kalian terhadap orang yang menyimpang. Inilah sikap kalian terhadap Ahlussunnah, maka inilah yang menjadi ibrah.
Sedangkan, jika kalian berpenampilan bukan dengan penampilan kalian yang sebenarnya dan kalian mendatangi ulama untuk mendapatkan rekomendasi dari Ahlussunnah, sungguh jika datang seseorang kepada orang ‘alim dengan pengakuan seperti itu pastilah orang ‘alim itu akan berkata: ‘Jazakallahu khairan, ini adalah manhaj yang baik,” lalu mereka akan mengambil ucapan ini dengan beranggapan bahwa orang ‘alim ini telah memberikan rekomendasi.

Kita memiliki kaidah dan para ulama salaf juga telah meletakkan kaidah. Diantara kaidah tersebut adalah:
“Kebenaran tidak dikenal dari seorang tokoh, tetapi seorang tokoh itu dikenali dengan kebenarannya.”
“Kritikan yang terperinci lebih didahulukan daripada pujian secara umum.” Jika datang seseorang kepada kita dan berkata: “Demi Allah tidaklah aku melihat keburukan mereka sedikitpun dan tidaklah aku ketahui kecuali mereka di atas kebaikan”, (maka kita katakan, pen.): “Sungguh hujjah bukanlah pada ucapanmu tetapi hujjah bagi siapa yang mengetahui hakekat yang sebenarnya,
“Orang yang mengetahui lebih didahulukan ucapannya daripada yang tidak mengetahui.”
Kemudian -jika kita melihat kenyataan-, sungguh tidak seorangpun dari ahlul bid’ah yang menyimpang, maka akan ada perselisihan tentangnya. Maksudnya bahwa mayoritas mereka (ahlul bid’ah, pen.) yang ada sekarang sungguh masih ada perselisihan tentang mereka.
Kalaulah menyikapi masalah ini dengan kaidah kalian bahwasanya, “Masih ada ulama yang memuji yayasan Ihya’ut Turots sehingga tidak boleh membicarakan keburukannya”, maka kalau begitu di sana juga ada ulama yang memuji Sayyid Quthb, bagaimana menurut kalian?

Ada juga ulama yang memuji Abdurrahman Abdul Khaliq, apa berarti tidak boleh membicarakannya?
Kalau Turotsi (orang-orang yang ikut atau membela Ihya’ut Turots, pen.) ini berkata, “tidak boleh membicarakan kejelekan Ihya’ut Turots karena ada ulama yang merekomendasinya”, niscaya akan datang kepadanya seorang Sururi menghujatnya dengan berkata: “Kalau begitu tidak boleh pula membicarakan kejelekan syaikh Salman Al-Audah dan Safar Hawali karena ada juga ulama yang merekomendasikannya” -dia membawakan rekomendasi tertulis dari sebagian ulama-. Maka bagaimana menjawab alasan ini?
Turotsi ini tidak akan mempunyai jawaban kecuali dengan berkata bahwa yang menjadi ibrah adalah kenyataan yang ada dan bahwasanya rekomendasi-rekomendasi itu tidak berguna kalau kenyataannya menyelisihi jalan Ahlussunnah, bahkan menyelisihi prinsip imam dan ‘alim yang merekomendasikannya.

Apabila dia terus berpegang dengan pendapat bahwa rekomendasi bisa mencegah untuk membicarakan seseorang, berarti kita nyatakan bahwa rekomendasi juga bisa mencegah untuk membicarakan Abdurrahman, Sayyid Quthb, Salman (al Audah, pen.), dan selain mereka dari kalangan Sururiyyin, Quthbiyyin, Takfiriyyin dan qiyaskanlah ke yang lainnya!

Penutup
Dengan ini jelaslah bahwa adanya perselisihan pada suatu masalah tidak memberi pengertian bahwa kebenaran tidak jelas pada masalah itu dan tidak pula menyebabkan kita tidak bersikap.

Janganlah ada yang menduga bahwa masalah ini adalah ijtihadiyyah karena telah nyata bukti-bukti yang menunjukkan kesesatan yayasan ini dan penyimpangannya dari jalan Ahlussunnah.
Ini bukanlah masalah ijtihadiyyah yang setiap orang boleh berkata dengan pendapatnya dan orang yang menyelisihinya dilarang untuk menentangnya. Tidak! Masalah ini adalah masalah yang jelas yang menyelisihi Ahlussunnah dan kita harus berhati-hati dari mereka.

Pada hakekatnya yang memecah-belah bukanlah Ahlussunnah karena Salafiyyin adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk tegaknya persatuan. Mereka datang seraya berkata: “Dengan tahdzir kalian terhadap Ihya’ut Turots, Salman, Quthbiyyin, dan Ikhwanul muslimin, semua itu telah menjadi sebab terpecah belahnya umat.”
Sungguh perkataan itu tidak benar karena Ahlussunnah adalah orang-orang yang sangat bersemangat untuk persatuan. Persatuan di atas Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih dan bukan persatuan ala Hasan Al Banna dan yang semisalnya dengan semboyan:
“Kita bersatu di atas apa yang telah kita sepakati dan kita saling toleransi pada apa yang tidak kita sepakati”, tetapi kita bersatu di atas sunnah.

Termasuk faktor utama terwujudnya persatuan adalah memutuskan sebab-sebab perpecahan. Dan termasuk dari sebab munculnya perpecahan adalah penyimpangan, kebid’ahan dan fanatisme golongan. Dan semua ini termasuk dari sebab munculnya perpecahan.

Dengan ini barangsiapa yang datang kepada kita dengan fanatisme golongan, maka dialah yang menyebabkan perpecahan dan memecah belah Salafiyyin.
Sedangkan tahdzir dari Salafiyyin dalam hal ini hukumnya wajib!! Bahkan, tahdzir adalah termasuk sebab bersatunya manusia di atas kebenaran.Dan termasuk sebab terbentuknya persatuan adalah dengan mentahdzir orang-orang yang meyimpang dan mentahdzir ahlul bid’ah.
Oleh karena itu, Ahlussunnah sepakat untuk mentahdzir ahlul bid’ah karena engkau tidak akan mampu mempersatukan manusia di atas kebaikan kecuali engkau telah memisahkan antara yang haq dan yang bathil. Di dalam hadits telah disebutkan bahwa di antara sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memecah belah di antara manusia. Maksudnya adalah beliau memisahkan antara yang haq dan yang bathil.
“Katakanlah, telah datang kebenaran dan telah sirna kebatilan, sungguh kebatilan pasti akan sirna” {Al-Israa’:81}.

Kebatilan dan kebenaran tidak akan mungkin bersatu. Jika bersatu berarti menunjukkan orang tersebut tidak berada di atas jalan Ahlussunnah, yaitu jalannya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Salaf selalu membedakan antara haq dan batil dengan cara memperingatkan umat dari yang batil sehingga kebatilan tidak lagi mampu menyesatkan dan menjauhkan manusia dari jalan Salafus Shalih dan dari jalan kebenaran.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis lurus kemudian membuat garis lain di kanan dan kirinya seraya berkata: “Setiap jalan ini ada syaithan yang menyeru kepadanya”. Kalau begitu di sana ada banyak jalan yang padanya syaithan menjauhkan manusia dari jalan Ahlussunnah dan memecah belah manusia. Dengan ini apakah aku harus diam atau mentahdzir umat dari jalan-jalan itu?
Adalah wajib bagiku untuk mentahdzir umat dari jalan-jalan itu agar manusia tidak akan masuk dan menuju kepada jalan-jalan itu jika kita memperingatkan umat darinya.

Adapun kalau kita diam, niscaya akan terbentuklah jalan-jalan itu dan manusia akan berpecah belah, setiap hari berkelompok-kelompok. Sedangkan kewajiban kita semua adalah berada pada satu barisan dan memperingatkan umat dari Ahlul Bid’ah. Dan temasuk dari sebab persatuan adalah memperingatkan umat akan bahayanya Ahlul Bid’ah.

(Dikutip dari terjemahan al Ustadz Faishal Jamil Al Maidani dari muhadharah Syaikh Abu Abdillah Khalid Adh Dhahawi Al Kuwaiti pada tanggal 2 September 2006 atau 8 Sya’ban 1427 H di Mahad Al Anshar, Sleman. Beliau adalah da’i yang tinggal di Kuwait, alumnus Jami’ah Islamiyyah Madinah, webmaster situs Asy Syaikh Rabi ibn Haadi http://www.Rabee.net)

Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.

Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/

27/12/2008 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, firqah, manhaj | , , | Tinggalkan komentar

ABU QATADAH (Bandung)!!!(payah)!!!

Assalamu'alaikum

Menanggapi permintan tanggapan dari zaky. Kebetulan ana di Bandung mengetahui
kedatangan Abu Qotadah bersama Ustadz Abu Hamzah dari Yaman, dan beliau berdua
sempat mengisi ta'lim (sebelum Abu Qotadah bergabung dengan sururi), Ustadz Abu
Hamzah pergi Ke Yaman hampir bersamaan dgn Abu Qotadah, dan di Yaman mereka
berdua adalah sahabat kental, sehingga wajar saja jika Ustadz Abu Hamzah adalah
orang yang paling tahu tentang bagaimana Abu Qotadah dibanding ustadz-ustadz
lain yang bersama di Yaman juga. Akhirnya terjadi apa yang terjadi Abu Qotadah
bergabung dengan sururi yang dulu justru dia sendiri yang mencelanya. 

Lalu sebagai salah satu nasehat agama untuk Abu Qotadah dan untuk salafiyin
dari ustadz Abu Hamzah maka beliau menulis Man Huwa Abu Qotadah. dan serta
merta banyak email ke webmaster salafy.or.id yang menampakkan "kepanasan"
ustadznya di tahdzir (/dinasehati).
 Lalu ustadz Abu Hamzah pun menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya adalah
Syar'i dan merupakan manhaj Salaf.
Kemudian pada saat kajian beliaupun sempat menyinggung masalah ini.
berikut adalah transkrip ta'lim hari ahad setelah dimuatnya ManHuwa Abu
Qotadah, :

Transkrip rekaman kaset ta'lim

Pembicara        : Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Tempat             : Masjid LIPI, Dago, Bandung

Waktu               : Ahad tanggal 12 Oktober 2003 pukul 14.00-16.00

Kitab                 : Annaqdu manhajussyar'I (Kritikan adalah manhaj yang
                        syar'i)

Karya                : Syaih Rabi' bin Hadi Al Madkholi

Alhamdulillahi washolatu wassalamu 'ala rosulillah, segala puji bagi Allah,
sholawat dan salam atas Rosulullah, amma ba'du

Qola Syaikh Robi' bn Hadi Al Madkholi Hafidzohullah : Al Amru bil Ma'ruf wa
nahyi anil munkar , memerintah kepada yang baik mencegah dari perkara yang
munkar adalah kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh ummat ini, dan juga
merupakan kewajiban-kewajiban yang paling besar dimana agama tidak akan tegak
kecuali dengan keduanya, yang pertama adalah amar ma'ruf dan yang kedua adalah
nahyi munkar.

Al Bayan, keterangan :

Menerangkan perkara yang haq kehadapan manusia dan tidak menyembunyikannya
adalah perkara yang besar yang di dalamnya terdapat janji yang besar yaitu
berupa pahala bagi orang-orang yang menjelaskan dan menyampaikannya ke hadapan
manusia, menyampaikan al-'ilmu dan agama Allah subhanahu wa ta'ala. Sebaliknya
ancaman yang keras atas orang-orang yang menyembunyikannya. Allah berfirman
dalam al Baqoroh : 159:" Sesngguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang
telah Allah turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk seteah kami
terangkan di dalam al kitab maka sesunguhnya mereka itu dilaknat oleh Allah dan
mendapatkan la'nat dari orang-orang yang melaknat" 

Hal ini yaitu menerangkan perkara yang haq kepada manusia dan mengajak orang
untuk loyal kepada ahlinya serta menjauhkan manusia dari perkara yang batil dan
memerintahkan untuk meninggalkan para ahli batil, itu ditolak dan dikaitkan
oleh ahli bid'ah dan ahlul dolal dan sufiyah dengan perkara al Ghibah. Nah
seperti inilah ya ikhwan ahlul bid'ah ketika dikritik mereka akan mencari
seribu alasan untuk menghindar dari kritikan itu. Dan Allahul musta'an ketika
kita berbicara tentang sii fulan, atau jamaah fulan maka akan datang serta
merta bersama itu tuduhan-tuduhan ghibah. Ummat sekarang ini sudah banyak tidak
tahu tentang masalah gibah. Adapun ahlul bid'ah, makanya ya ikhwan, tentunya
tidak mau jika aurot kesesatan mereka  itu terbongkar sehingga mereka
bersembunyi dengan alasan ghibah. Miskin.. memang mereka ini ahli bid'ah,
miskin.. ahlul dolal dan orang-orang sufiyah ini  yang biasa senyum disana
senyum disini yang damai disana dan damai disini, semua dianggapnya sebagai
kawan
 bahkan orang-orang kafir pun dianggap kawan uhffilakum dari mereka-mereka ini
ya ikhwaan, hindarkan diri diri kita dari mereka yang mengatakan demikinan.
Na'am , jadi kita jelaskan sekali lagi jadi ahlil bid'ah bersembunyi dari
kritikan-kritikan itu dibalik alasan ghibah. 

Wa Allahul musta'an ketika ana menulis tentang Abu Qotadah, maka dengan serta
merta datang tanggapan-tanggapan yang hampir semua  mengatakan, ?ini ghibah ya
akhi, dia seorang da'i tahuid ya akhi? dia seorang da'i yang menyerukan untuk
meninggalkan bid'ah ya akhi.. . Maka saya katakan pada mereka aku tidak peduli
walaupun 500 orang atau 2000 orang mengenal sunnah melalui tangannya abu
Qotadah, mengenal bid'ah melalui tangannya Abu Qotadah , tetapi kalau orang itu
tidak lurus dan malah bermuamalah dengan ahlul bid'ah Ya opo? ? Apa artinya?
Hal ini semua tidaklah menjadikan saya untuk diam berbicara tentangnya.
Orang-orang munafiq mereka mempunyai kebaikan, tetapi tidak sedikitpun Allah
menyatakan pujiannya di dalam Al Qur'an. Orang- orang khawarij, Masya Allah,
bacaan quran mereka , jidat-jidat meraka hitam, tetapi Roulullah tetap mencerca
mereka, bahkan A'isyah Radhiallahu 'anha mengatakan mereka kilabu ahlinnar,
anjing neraka. Na'am. Kalau seandainya perkara menerangkan kepada ummat
 tentang yang haq dan menjauhkan dari perkara yang batil itu merupakan ghibah,
tentu Rosulullah telah bergibah, para shahabat telah berghibah, ibnu Umar telah
menggibah Qodariyah, Ibnu Abbas telah menggibah khawarij, maka tentu juga para
tabiin telah telah bergibah dan semua ulama Islam telah berghibah, dan ini
perkara yang mustahil bagi mereka, karena mereka bukan orang-orang yang tidak
tahu tentang ghibah. Dan kita nasehatkan juga kepada orang-orang kecil itu
untuk  pelajari gibah, membahas secara khusus tentang ghibah agar mereka
mengetahui seperti apa yang dinamakan ghibah dan seperti apa yang dinamakan
mengkritik secara syar'i. na'am.

Qola [Syaikh Rabi'] : wal ghibah Laa Syak annaha haroomun ?, dan tidak ragu
lagi bahwa ghibah merupakan perkara yang diharamkan dan juga melanggar
kehormatan muslimin serta darah-darahnya serta harta-hartanya juga perkara yang
diharamkan. Demikianlah Rosullullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah
berkhutbah pada hari idul adha seperti yang diriwayatkan dari Abu Bakroh
rhadiallahu 'anhu beliau berkata: beliau [Rosul] bertanya hari apakah ini? Maka
para sahabatnya menjawab Allah dan RosulNya  lebih mengetahui, lalu kami diam.
Lalu Rosul bertanya lagi, bukankah ini hari Adha? Para sahabat menjawab  benar
ya rosulullah, Lalu Rosulullah bertanya lagi , Bulan apakah ini? Para Sahabat
menjawab: Allah dan Rosulnya lebih mengetahui, lalu kami diam sehngga kami
mengira bahwasanya Rosul akan menyebutnya dengan nama lain. Rosul bertanya
lagi, apakah ini bulan harom?, ..ya'ni para sahabat sebenarnya tahu bahwa ini
bulan harom tetapi khawatir Rosullullah akan menyebut bulan harom dengan sebutan
 lain. ?Lalu kami jawab, benar ya rosullulah. Lalu Rosulullah bertanya lagi
Negeri Apa ini? Lalu kami diam sampai-sampai kami mengira  rosul akan
menyebutkan negeri itu dengan negri lain, lalu Rosul bertanya lagi : bukankah
ini Negeri Harom yang telah ma'ruf ,diketahui dan masyhur ? maka para sahabat
pun mengetahui bahwa negeri itu negeri harom, lalu sahabat mejawab: benar ya
Rosulullah. Kemudian Rosulullah bersabda : "Sesungguhnya Allah telah
mengharamkan atas kalian darah-darah kalian dan harta-harta kalian serta
kehormatan-kehormatan kalian seperti keharamannya pada hari ini, ya'ni yang
memiliki kehormatan, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini" (Muttaqun
'alaih). Jadi jelaslah bahwa dengan hadits yang disampaikan atau diriwayatkan
dari Abu Bakroh ini merupakan suatu dalil bahwasannya ghibah itu adalah
aperkara yang diharamkan, tetapi masalahnya jangan sampai perkara yang gibah
dikatakan ghibah dan yang bukan ghibah juga dikatakan ghibah. Harus ada yang
pembedaan antara yang ghibah dan yang bukan. 

Tidak setiap menceritakan kejelekan orang lain itu disebut ghibah tetapi harus
melihat sisi-sisi ketentuan dari perkara itu, tidak mungkin ya ikhwan para
ulama para ahli hadits ketika menceritakan tentang fulan do'if, fulan kadzab,
fulan begini dan begini , itu dikatakan ghibah. Apakah ada yang mengatakan ini
ghibah? Kalau ada orang ini telah majnun [gila], yaa. Ga mungkin, ya ikhwan,
masalah yang seperti ini disebut ghibah. Ar Rosul shalallahu'alaihi wassalam
pernah menceritakan tentang Abu Jahm, Rosul juga telah menceitakan tentang
Muawiyah ketika mereka ingin meminang seorang shohabiyah lalu kemudian dua
orang ini kembali, lalu rosul menceritakan tentang dua orang ini . Kedua orang
ini ketika diceritakan oleh Rosulullah shalallahu 'alaihi wasallam mereka tidak
ada di tempat. Apakah kita katakan bahwa Rosulullah telah berghibah, sementara
rosulullah sendiri yang bersabda dalam hadits ini Allah mengharamkan
darah-darah kalian, mengharamkan harta-harta kalian dan mengharamkan
 kehormatan-kehormatan kalian, na'am. 

Wallahu subhanahu wata'ala berfirman dalam AlQuran surat Al Hujurot :12 : "
Wahai orang -orang yang beriman, jauhilah oleh kalian banyak prasangka, karena
sebagian prasangka adalah dosa, dan janganlah kalian saling intai mengintai,
dan janganlah kalian salng gibah menggibah, apakah kalian menyukai memakan
daging saudaranya yang telah menjadi bangkai, tentu kalian membencinya" [Qola
Syaikh Rabi ] Laa syak ?,  Maka tidak ragu lagi bahwasannya daging-daging kaum
muslimin ini hukumnya harom, diharamkan bagi seseorang untuk membunuh kaum
muslimin, dan orang yang mengghibah saudaranya seolah-olah ia sedang memakan
bangkai, dan siapa orang yang sanggup untuk memakan bangkai yang sudah busuk,
tentu tidak ada. Tentu saja setiap jiwa ini menolaknya. Akan tetapi demi
tercapainya kemaslahatan dan demi tercapainya maksud-maksud Islam, demi
terproteksi nya agama ini  serta terjaganya agama ini, maka Allah subhnahu wa
ta'ala membolehkan perkara-perkara yang kadang-kadang bentuknya seperti ghibah
 tapi ia tidak termasuk di dalam ghibah. Maka seorang manusia yang salah yang
terjatuh ke dalam kesalahan dan diperingatkan atas kesalahannya itu maka ini
adalah perkara yang wajib dan harus dilakukan, dan ini disebut nasihat, disebut
pula sebagai bayan sebagai penjelasan, maka ini adalah perkara ushul, mendasar
dalam Islam yang harus di tegakkan. 

Karena kalau tidak ada yang menegakkan akan tercampur aduklah antara yang haq
dan yang batil sementara Allah mengatakan " ditampakkannya yang haq itu dalam
rangka menggempur yang batil " sementara kalau yang haq ini tidak digunakan
untuk menggempur yang batil maka bisa jadi akan tercampur dengan yang batil
atau bahkan kebalikkannya yang batil akan menggempur yang haq. Na'am, bila
sunnah itu mati maka bid'ah yang akan hidup bila sunnah itu hidup maka bid'ah
yang akan mati. Dan demikianlah ya ikhwan, jadi kita memperingati orang yang
ada padanya mukholafah, yang ada padanya penyimpangan, kemudian kita ingatkan,
ini adalah nasihat, dan juga bayan, bukan termasuk permasalahan ghibah.

Qola [syaikh] tujuannya agar agama ini tidak hancur, .karena juga kita harus
ketahui bahwa betapa banyaknya  manusia yang telah bersalah dan betapa banyak
nya yang telah terjerumus pada kesalahan dan sangat banyak sekali
manusia?manusia yang terjerumus dalam kesesatan yang hawa nafsu telah
menyetirnya, wal iyadubillah, bahkan sebagian orang-orang sholeh juga yang
telah disetir oleh hawa nafsunya sehingga hawa nafsunya juga telah mengalahkan
dirinya akhirnya orang sholeh itu terjerumus kedalam ke salahan dan berbicara
tentang Allah tanpa ilmu.

Na'am, bila kita sudah melihat kenyataan seperti ini, tentu sangatlah harus
adanya tanbih dan sangatlah harus adanya nasihat, bila kita ketahui bahwasannya
mujtamaul muslimin, masyarakat muslimin itu banyak yang terjatuh pada kesalahan
bahkan bukan masyarakat muslimin saja tetapi dai'-dainya juga yang dulunya
sholeh kemudian menjadi tholeh, yang dulunya sholeh terjerumus ke dalam
kesesatan maka ketika ini wajib hukumnya meberikan bayan, keterangan,
memberikan nasihat memberikan tanbih kepada ummat  dari kesalahan yang
dilakukannya agar ummat ini tidak mengikuti kesalahan yang diikutinya, na'am
bila dibiarkan tentu mafsadah yang lebih besar. Kerusakan yang lebih menyebar
luas, na'am. 

Qola [Syaikh]  dan inilah diantara kelebihan?kelabihan di ummat ini yang
membedakan antara ummat ini dengan ummat lainnya, dan diantara kelebihan itu
diantaranya bahwasannya Allah melebihkan din ini di atas agama-agama yang
lainnya  dimana Allah menjanjikan untuk menjaga Agama ini, Allah berfiman: "
Sesungguhnya Kami yang menurunkan ad Dzikro dan Kami pulalah yang menjaganya"
maka Allah subhanahu wata'ala menjaga din ini melalui tangan tangan ummat ini
yang Allah telah memujinya dalam firmanNya : "Kalian adalah sebaik-baik ummat
yang dikeluarkan di tengah-tengah manusia dalam rangka memerintah kepada yang
ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan kalian beriman pada Allah"

Karena itu ya ikhwan, jadilah para pembela-pembela agama Allah, jadilah
pembela-pembela Sunnah Rosulullah shalallahu' alaihi wa sallam. Na'am, kita
yakin bahwasannya Allah telah menjaga agama ini dengan penjagaan Allah ini
melalui tangan-tangan kita, na'am, melalui kesungguhan kita untuk menjaganya
dari perkara-perkara yang baru, dan perkara-perkara  yang batil sekalipun.
Na'am, oleh karena itu maka jadilah kalian pembela-pembela sunnah, jadilah
kalian pembela Allah dengan membela agamaNya. Lebih baik bagi kita ya ikhwan
memiliki musuh seluruh isi dunia dari pada kita memiliki musuh Allah di akhirat
nanti gara-gara kita tidak mau menjadi pembela agamaNya. Lebih baik kita
mempunyai musuh sejuta atau dua juta atau berjuta-juta di dunia ini dari pada
kita mempunyai musuh Rosulullah shalallahu 'alaihi wasallam karena kita tidak
mau membela Sunnahnya. Ini ya ikhwan yang perlu kita tegaskan. Na'am, kita
nyatakan yang haq itu adalah haq dan yang batil adalah  batil. 

Qola [syaikh] maka diantara yang termasuk ke dalam amar ma'ruf nahi munkar itu
adalah mengkritik kesalahan-kesalahan dan menerangkannya serta menjelakannya ke
hadapan manusia dan ini bagian dari amar ma'ruf nahi munkar dan mengokohkan
ummat ini di atas dinullah, dan mengusir atau menghilangkan
penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dan
pelanggaran yang dilakukan ahli batil atas agama ini.

Kita cukupkan dulu sampai sini, karena sepertiya sudah sore.

Subhanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu alla lailaha ila anta astaghfiruka wa
atubu ilaika

Walhamdulillahirobbil 'alamin.

Man huwa (Siapakah dia) Abu Qotadah?
Telah menjadi jalannya para Salafush Shalih dan termasuk da'wah ilallah
(menyeru ke jalan ALLAH, red) bahkan jihad fi sabilillah menerangkan aqidah
Ahlussunnah dan membelanya, membongkar aurat ahlil bid'ah (pembaharu dalam
Dien, red), mulhidin (orang yang menyimpang), dan mentahdzirnya
(mengingatkan akan bahayanya). 

Allah berfirman, "Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil,
lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu
lenyap." (QS Al Anbiyaa`: 18). Semoga Allah merahmati para salaf yang telah
menjadikan tahdzir terhadap ahli bid'ah sebagai metodologi yang ditempuh
dan prinsip yang dijunjung luhur sepanjang sejarah kehidupan mereka.

Akhir-akhir ini telah banyak permintaan mengenai penjelasan seputar "Man
huwa Abu Qotadah?" Pasalnya, kehadiran rojul (orang) ini bukan hanya
membingungkan umat tetapi juga membikin jenggot-jenggot para hizbiyyah rada-
rada tumbuh -yang dulunya kebakaran- serasa mendapat angin segar. Rentang
waktu yang cukup lama sebenarnya penulis berharap rojul itu dapat berubah
dan kembali ilaa manhajissaliim (kembali menuju jalan yang selamat, Salafus
Sholih, red), tetapi seperti dikatakan, "Qod zaadat thiinu ballah" dengan
pengetahuannya dia semakin jauh dari yang diharapkan. Wal hasil apa yang
akan ditulis di sini sebagai nasehat bagi ummat umumnya dan yang
bersangkutan secara khusus. Wabillahit taufiq.
"Orang-orang sururi itu perlu pedangnya Abu Qotadah!" tandasnya. (Sururi,
pengikut pemahaman Muhammad Surrur, red) 

"Mengapa kuniyah saya Abu Qotadah?! Karena Qotadah artinya syaukah,
sedangkan syaukah artinya duri, ya, itulah Abu Qotadah duri bagi ahli
bid'ah," teriaknya dengan penuh kepahlawanan.

Kaum muslimin -rahimakumullah- saat ini kita sedang mengenal tamu baru,
yang kini tengah menjadi kebanggaan kaum hizbiyyun (sempalan) sururiyyun,
kehadirannya dijadikan alat oleh para sururiyyun untuk memperkeruh suasana
menghembuskan angin baru sebagai sebuah "kado syubhat" tuk melegitimasi
bahwa mereka adalah salafiyyun ahlissunnah wal jama'ah - miskin. mereka -
tentu saja dengan sejuta kepolosan sang tamu tersebut.
Yah itulah Abu Qotadah, rojul yang pernah duduk di majlis fadhilatusy
Syaikh Abu Abdirrahman Muqbil bin Haadi al Wadi'i rahimahulloh, namun kini
rojul itu telah bertengger di deretan sejumlah adznab-adznab hizbiyyah
sururiyyah -inna lillahi wa inna ilaihi raji'un-. Dia pernah
mengatakan, "Saya hanya menjalankan fatwa Syaikh Muqbil (Al Ihtimam
bil 'Ilmi)." 

Makna yang dimaukan dia, adalah dia tidak mau mengurusi masalah salafiyyah -
sururiyyah- yang padahal dengan fitnahnya sururiyyun telah memecah-belah
salafiyyun- perkaranya sangat mengherankan lagi, saat di kesempatan lain
dia mengatakan "Saya siap disuruh mengajar di pihak mana saja" (yakni
dimaksud di pihak adznab sururi ataupun di pihak salafiyyin). Sungguh
sikapnya ini menunjukkan bahwa dia tak ubahnya bagaikan seekor domba buta!

Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wassalam bersabda, "Perumpamaan seorang
munafiq di tengah-tengah umatku ibarat seekor domba buta di antara dua
kambing, sesekali berjalan ke yang satunya, pada kali lainnya berjalan ke
yang lainnya, tidak tahu mana yang patut diikuti." (Hadits riwayat Muslim
dari Ibnu 'Umar).

Ditanyakan kepada al Imam al Auza'i tentang seseorang yang berkata, "Aku
akan duduk bersama ahlus sunnah dan duduk pula bersama ahli bid'ah", maka
al Imam al Auza'i menjawab, "Orang ini ingin menyamakan antara yang haq
dengan yang batil!"

Jangan coba-coba kau mengambil fatwa syaikh dalam rangka mencocoki hawa
nafsumu, sedangkan kamu tinggalkan fatwa-fatwanya yang lain, ini adalah
metodologi ahli zaigh wadh dholal! Dulu dia punya sikap yang cukup tegas
terhadap adznab sururiyyun amtsal: Abu Nida`, Aunur Rofiq, Yazid Jawas *),
dan yang lainnya dengan pernyataannya yang masyhur, "Orang-orang sururi itu
perlu pedangnya Abu Qotadah." Ternyata pedangnya itu tak lebih dari pedang
yang haus akan fulus (harta, red) ! Pedangnya tak bisa berbuat banyak di
hadapan Abu Nida` saat dengan sengaja dia menemuinya, malah giginya Abu
Qotadah yang digosok dan dirinya yang diuntal miring (dikuasai) oleh Abu
Nida` yang memang kepandaiannya hanya bersilat lidah. Pedangnya itu semakin
tak berguna ketika sengaja dia bertemu dengan Kholid Syamhudi *) seorang
yang pernah kepanasan telinganya waktu duduk di hadapan Syaikh Muhammad bin
Hadi al Madkhali hafizhahullah ketika beliau menjelaskan bahaya hizbiyyah
diapun keluar dari majlis tanpa pamit,
seperti diberitakan ikhwanuna salafiyyin di Madinah. 

Tidak ketinggalan pula Abu Haidar didatanginya, Abu Haidar sang centeng
bangunan dari Bandung. yang berlagak kesyaikh-syaikhan itu, ia pernah
diberitahu tentang seorang rojul yuqoolu lahu Muhammad Kholaf, dengan penuh
gaya dia mengatakan, "Muhammad Kholaf sudah tobat di hadapan saya." Padahal
Muhammad Kholaf ini salah seorang yang dihujani tahdziran para ulama hingga
kini (bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut rojul ini silahkan melihat
tulisan akhuna Ustadz Muhammad Umar as-Sewed hafizhahullah). 

Mereka para adznab sururiyyun itu kemudian diundangnya di majlisnya Ma'had
Ihya`us Sunnah -yang lebih cocok disebut dengan Imaatatis Sunnah-,
hubungannya semakin dekat dengan mereka, menyebabkan dirinya semakin jauh
dari salafiyyin [sempat terlontar dari mulutnya bahwa dia ditinggalkan
teman-temannya salafiyyin, justru sebenarnya dialah yang memisahkan diri
dari salafiyyin dan bergabung dengan adznab sururiyyah, dia bukan orang
yang tidak mengerti masalah ini]. Dia semakin mustafidh di dalam hal
ilaqoh / hubungannya dengan lembaga-lembaga hizbiyyah, bahkan pernah
diundangnya seseorang (yang menurutnya Syaikh) dari Ihya`ut Turots Kuwait,
inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.

Dalam satu kesempatan dia pernah ditanya oleh seorang mustami'nya mengenai
lembaga Ihya`ut Turots, apa jawabnya, "Kita belum jelas dengan keberadaan
lembaga itu, kalau memang hizbi, maka kita tinggalkan." Jawaban inilah yang
disinyalir olehnya akan dapat meloloskan dirinya dari kenyataan hakikat
lembaga itu, tanpa dia sadari bahwa sebenarnya dengan jawabannya itu
semakin memperjelas posisinya, dimana dengan pernyataannya itu sudah
tercium bau-bau pembelaan terhadap Ihya`ut Turots yang kemudian dikuatkan
lewat ilaqoh-ilaqohnya bersama lembaga tersebut, ya hadza! Kalau sekiranya
menurutmu bahwa lembaga itu belum jelas keberadaannya, maka minimal
seharusnya kamu diam tidak berhubungan dengannya! 

Bukan malah sebaliknya bermuamalah bersama lembaga itu bahkan mendatangkan
orang-orangnya, faham macam apa ini?!! Rupanya saat ini sudah pandai
membuat manhaj jadidah! 

Dia berpura-pura bodoh -kalau tidak sebenarnya demikian- dia cukup tahu
kalau para ulama memberikan pernyataan lembaga itu adalah lembaga
hizbiyyah, bahkan selalu terdengar saat penulis dan dia masih sama-sama di
Yaman sentilan-sentilan pedas dari Syaikh Yahya al Hajury dengan kata-
kata, "Turotsi!... Turotsi!!!" Apakah kemudian dikatakan "Kita belum jelas
dengan keberadaan lembaga itu"??? Salah seorang pendiri dan yang berperan
penting pada lembaga itu adalah Abdurrohman Abdul Kholiq, orang yang
dinyatakan mubtadi' oleh Syaikhan, Syaikh Muqbil dan Syaikh Al Albani
rahimahumallah dan masyayikh (ulama-ulama) lainnya. Dia tahu bagaimana
Syaikh Muqbil mewanti-wanti dari bermuamalah dengan lembaga-lembaga
hizbiyyah, lembaga-lembaga yang tidak jelas. Tetapi memang ceritanya lain
bila sudah urusannya hawa (nafsu, red) dan tawar-menawar harga. 

Kaum muslimin rahimakumullah, hati itu lemah sedangkan syubhat senantiasa
menyambar-nyambar hati yang lemah itu. Makanya Allah Jalla Jalaaluhu
mengingatkan kita dengan firmanNya, "Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar
kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudhorotan
bagimu." (QS Ali Imron: 18).
Kita dilarang untuk bergaul bersama ahli bid'ah, sebab seseorang itu akan
dihukumi sesuai dengan keadaan temannya yang di sampingnya. Abdullah ibnu
Mas'ud mengatakan, "Perhatikanlah manusia itu siapa-siapa saja yang ada di
sampingnya, sesungguhnya seseorang tidak akan berdampingan kecuali dengan
yang disenanginya." Sufyan ats Tsauri ketika datang ke kota Bashroh, ia
bertanya tentang madzhabnya Rabi' ibnu Subaih, orang-orang yang ada di situ
menjawab, "Ia tidak bermadzhab melainkan sunnah!" "Siapa teman-temannya?"
tanya Sufyan. Mereka menjawab, "Ahli qodar!" Kemudian Sufyan berkata, "Dia
seorang Qodari!!!" Betapa banyak atsar-atsar salaf yang seperti ini.

Bila saja para salaf sedemikian hati-hatinya, mana kehati-hatianmu dalam
hal ini ya. Qotaad?! Mana pula pengakuanmu bahwa dirimu duri bagi ahli
bid'ah? Jika keadaanmu demikian, maka "duri" itu akan berbalik huruf
menjadi "ridu" karena aliran dana yang cukup deras dari lembaga-lembaga
hizbiyyah, pantaslah bila kemudian kamu memimpi-mimpikan untuk membeli
lapang Dadaha (Tasikmalaya) -hebatnya mimpi orang yang kelebihan duit-,
dirimu hanya akan menjadi bahan tertawaan ahli bid'ah dan sampah bagi
ahlissunnah jika tidak mau berubah. Keberadaanmu di pihak adznab sururiyyah
akan menjadi tazkiyah bagi mereka, mereka tidak butuh kamu tetapi butuh
label "murid Syaikh Muqbil". Di akhir tulisan ini, ya. Qotaad, segeralah
tinggalkan olehmu para adznab sururiyyah itu -bila kamu tidak ingin
tergolong seperti mereka- tinggalkan lembaga-lembaga hizbiyyah itu -bila
kamu menginginkan kebaikan. Wallahul Musta'an. Wal 'Ilmu indallah wal
hamdulillahi robbil 'alamin.

Yang faqir di hadapan Robbnya,

Abu Hamzah al Atsari.
17 Rajab 1424 (14/09/2003)

Catatan : (tambahan dari Webmaster) *) Silakan lihat
http://www.salafy.or.id/download/atturots mengenai keterlibatan nama-nama
tsb dengan Ihya Ut Turots, organisasi yang berbahaya dan mengacaukan
barisan Islam Salafy dunia. Nampak jelas keterkaitan antara cabang
Indonesia dan Kuwait secara nyata. Diambil dari situs www.atturots.or.id,
At Turots cabang Indonesia. 

**) Lebih lanjut silakan lihat lihat
http://www.salafy.or.id/download/atturots/atturots.network.zip. Berupa
bukti adanya benang merah antara nama-nama ustadz At Turots dan lainnya,
kajian-kajiannya, kaset/cd ceramahnya, rekomendasi link yang ditampilkan,
screen shot dst. Menunjukkan adanya persetujuan atas At Turots dan
pengelola dan ustadz penasehat website itu sendiri.

Dari Abu Hurairoh ra. Katanya : Kudengar Rasulullah saw berkata : sesuatu
yang aku larang memperbuatnya maka jauhilah dan sesuatu yang aku suruh
memperbuatnya maka kerjakanlah sekedar kuasamu. Hanya saja yang
membinasakan ummat sebelum kamu karena banyak pertanyaan mereka dan tidak
mengikuti perintah Nabi-nabi mereka. (HR. Muslim No. 1309)

Rasulullah saw bersabda : "Akan ditimpakan kehinaan dan kerendahan bagi
orang-orang yang menyalahi perintahku". (HR Ahmad dengan sanad hasan)

============================================================================
Web Based Mailing List Salafy di http://webmail.salafy.or.id/
Alamat Email kirim ke Mailing List : "salafy @ freelists.org"
Free Webmail @ assalafi.ath.cx , @ assalafi.cjb.net , @ assalafi.mine.nu , @
assalafi.za.net , @ salafy.ath.cx, @ salafy.cjb.net , @ salafy.mine.nu , @
salafy.za.net , @ salafy.zzn.com , @ s.salafy.or.id , @ user.salafy.or.id
----------------------------------------------------------------------------

Other related posts:

  • [milis-salafy] Fwd: [ukhuwah.or.id] HATI-HATI thd ABU QATADAH (Bandung) !!! (payah!!!)
  • [milis-salafy] Re: Fwd: [ukhuwah.or.id] HATI-HATI thd ABU QATADAH (Bandung) !!! (payah!!!)
  • 27/12/2008 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, firqah, manhaj | , , | 1 Komentar

    Membongkar Kejahatan Ihya’ut Turots

    Penulis: Abu Abdillah Khalid Adh-Dhahawi
    04 Juli 2007, 08:53:16

    بسم ا لله الرحمن الرحيم. الحمد ا لله و صلا ة و سلام على رسو ل ا لله و على آله و صحبه و من ا تبع هدا ه. أما بعد.

    Diantara pertanyaan yang diajukan oleh saudara-saudara kalian adalah satu hal yang penting, yaitu permasalahan yayasan Ihya’ut Turots. Permasalahan ini meresahkan banyak Salafiyyin di berbagai negara. Jangan kalian menduga bahwa masalah ini hanya menimpa negara kalian (Indonesia, pent.) saja, bahkan kejahatan Ihya’ut Turots sebagai yayasan yang berbahaya telah meluas dan terdapat di mayoritas negara yang tersebar padanya dakwah Salafiyyah.

    Yayasan ini mempunyai pengaruh di Kuwait dan inilah sumbernya. Begitu pula di Yaman, Sudan, Mesir, Bangladesh dan di mayoritas negara yang padanya Salafiyyin tersebar. Sikap terhadap yayasan ini sangatlah jelas dan tidak ada keraguan karena permasalahan ini adalah permasalahan antara Salafiyyin dan Hizbiyyin.

    Barangsiapa yang melihat dan mempelajari keadaan yayasan ini, memperhatikan kondisinya dan meneliti sikap-sikap dan tujuannya, niscaya dia akan mengetahui bahwasannya yayasan ini tidaklah berada di atas jalan kebaikan.

    Tujuan dari yayasan ini buruk dan manhajnya menyimpang dari jalan yang lurus. Yayasan ini telah banyak menyelisihi prinsip-prinsip yang diyakini Ahlussunnah.

    Yayasan Ihya’ut Turots Menyelisihi Ahlussunnah Dalam Hal Ketaatan Kepada Pemerintah

    Mereka menyelisihi Ahlussunnah dalam permasalahan ketaatan kepada pemerintah dan telah kita bahas di dalam Kitabul Imarah (kitab Shahih Muslim) bahwasanya ketaatan kepada pemerintah termasuk perkara penting. Maka mereka menyelisihi Ahlussunnah dalam perkara ini dengan mengadakan pemimpin-pemimpin yang dibai’at untuk mengurus masjid-masjid atau daerah-daerah. Mereka memiliki sistem bai’at dan pemerintahan tersendiri yang mereka namakan tidak sesuai dengan hakekatnya, seperti mereka namakan dengan tanzhim (pengaturan), ‘ahd, mitsaaq, wafaa’ (ikatan janji) atau yang semisalnya. Ini semua hanyalah menamai sesuatu yang tidak sesuai dengan hakekatnya. Padahal sebenarnya semua itu adalah sistem pemerintahan (yang menyelisihi pemerintahan resmi negara, pent).

    Kami (Syaikh Kholid Azh Zhofiri Kuwait, pent.) langsung menyaksikan fenomena ini sehingga tidak perlu seorangpun mendustakan dan mengingkarinya. Sebagai contoh yang terjadi di tempat kami di Kuwait, sejak dulu hingga sekarang mereka menjadikan di setiap masjid seorang amir (pemimpin) dan tidak boleh seorangpun menyelisihinya. Jika engkau menyelisihinya, maka engkau dianggap berdosa. Sang amir masjid ini memiliki amir di atasnya lagi, yaitu amir kota (wilayah) dan amir kota ini yang mengatur dan memerintah para amir masjid tersebut. Sedangkan, para amir kota juga mempunyai atasan lagi yaitu amir yayasan. Demikianlah, bahkan walau untuk urusan berkunjung dan bersilaturahmi pada sanak kerabatpun engkau tidak boleh melakukannya kecuali dengan meminta izin kepada amir tersebut, jika tidak, maka engkau dianggap berdosa.

    Ini semua adalah perkara bid’ah yang tidak pernah dikenal di kalangan generasi shahabat ataupun setelahnya. Pernahkah kalian mendengar bahwa di masjid Quba ada amir-nya? Atau pernahkah kalian mendengar bahwa ada amir di setiap masjid di zaman Abu Bakar Radhiallahu‘anhu? Yang ada adalah kepemimpinan secara umum dan kekhilafahan (yang sah, pent.), serta adanya amir yang ditugaskan pemerintah untuk kota dan daerah. Adapun sistem pemerintahan yang mereka buat ini adalah pemerintahan bid’ah yang tidak sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Bahkan, hal itu adalah salah satu bentuk pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah. Telah kami sebutkan ucapan Syaikh Hammad Al-Anshori Rahimahullah ketika aku tanyakan kepada beliau tentang hal ini, maka beliau menjawab: “Hendaknya dibunuh yang terakhir muncul dari keduanya.” Ini termasuk dalam bab yang dianggap beliau sebagai pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah. Pemerintahan propaganda yang mereka terapkan ini telah ditulis dalam satu buku oleh Muhammad bin Hamud An-Najdi. Demikian pula Abdullah bin Sabt telah mengarang satu buku untuk hal ini dan banyak lagi dari mereka yang menulis buku dan berbicara di dalam muhadharah-muhadharah yang terekam yang semua itu dengan satu tujuan untuk mengokohkan pemerintahan mereka tadi. Ini adalah penyelisihan mereka terhadap pemahaman Ahlussunnah.

    Yayasan Ihya’ut Turots Menyelisihi Ahlussunnah Dalam Menyikapi Orang Yang Menyimpang

    Permasalahan lain yang mereka menyelisihi Ahlussunnah adalah dalam menyikapi orang yang menyimpang. Ahlussunnah memiliki sikap yang jelas terhadap orang yang menyimpang, seperti sikap terhadap Hizbiyyin, Takfiriyyin, Quthbiyyin dan orang-orang yang memerangi Ahlussunnah. Sedangkan pada yayasan ini, sikap mereka berbeda dengan sikap para ulama salaf. Mereka mengundang Hizbiyyin untuk menyampaikan muhadharah. Mereka menga-dakan muktamar dan seminar-seminar serta mengundang di daerah kami Abu Ishaq Al-Huwaini dan Muhammad Hassan yang memuji Sayyid Quthub dan mencela para masyaikh Ahlussunnah seperti Syaikh Rabi’ dan semisal beliau.

    Demikian pula, mereka mengundang Muhammad Shofwat Nuruddin (orang ini telah wafat), ketika dia datang dan menyampaikan muhadharah di Kuwait dia berkata:
    “Perpecahan umat dan beragamnya kelompok-kelompok dalam Islam adalah fenomena yang sehat.”
    Ini jelas menyelisihi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang perpecahan dan memerintahkan untuk bersatu.

    وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ
    “Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah setelah datang kepada mereka keterangan”.(QS Ali Imran 105)

    Allah melarang dari perpecahan, namun orang ini justru berkata bahwa perpecahan adalah fenomena yang sehat. Pemahaman ini diambilnya dari Abdurrahman Abdul Khaliq (dedengkot Ihya’ut Turots, pen.). Dan janganlah seseorang menduga bahwa kesalahan, kekeliruan dan kejahatan ini hanya terbatas pada Abdurrahman Abdul Khaliq saja. Sungguh, ada beberapa orang lagi yang keluar dari manhaj ini walaupun Abdurrahman adalah sebagai pendahulu mereka dalam kesesatan ini. Kita mohon keselamatan kepada Allah.

    Inilah sikap mereka terhadap orang-orang yang menyimpang, bahkan mereka tidak suka membicarakan dan mentahdzir orang-orang yang menyimpang dan para Hizbiyyin. Mereka anggap itu adalah perbuatan memecah belah umat. Inilah sikap yang mereka serukan di daerah kami. Mayoritas kalian yang datang dari Yaman tentu mengenal Al-Mahdi dan Al-Maqtiri serta sikap keduanya terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah dan dakwah Syaikh Muqbil. Sungguh, mereka telah datang ke Kuwait berkali-kali dan mengadakan seminar serta muhadharah.

    Semua ini adalah bentuk penyimpangan terhadap manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka mencoba di Yaman dengan membentuk yayasan Al-Hikmah dan menyalurkan bantuan-bantuan padanya serta menerbitkan majalah Al-Furqon. Thariq Al-Isa setelah kunjungannya ke Yaman dan mendatangi yayasan Al-Hikmah dia kembali ke Kuwait dan menulis di majalah Al Furqon dengan memuji yayasan Al Hikmah dan sepak terjang dakwahnya.

    Demikianlah, mereka selalu akrab dengan orang-orang yang menyimpang dan selalu memerangi Ahlussunnah. Maka, ini adalah salah satu prinsip dari prinsip-prinsip Ahlussunnah dalam menyikapi orang-orang yang menyimpang yang diselisihi oleh mereka .

    Yayasan Ihya’ut Turots Menyelisihi Ahlussunnah Dalam Menyikapi Salafiyyin

    Termasuk penyelisihan mereka terhadap Ahlussunnah adalah sikap mereka terhadap Salafiyyin. Engkau tidak akan mendapati mereka mau menolong Salafiyyin dan tidak pula engkau dapati sikap terpuji mereka terhadap ulama Ahlussunnah. Engkau tidak akan dapati mereka mengadakan muhadharah dengan masyaikh Ahlussunnah yang dikenal. Bahkan, mereka berupaya dengan sungguh-sungguh di berbagai daerah untuk memecah belah Salafiyyin dengan harta mereka dan inilah kenyataannya.

    Mereka memecah-belah Ahlussunnah setelah sebelumnya bersatu di bawah bimbingan seorang ‘alim di Bangladesh (telah wafat, Rahimahullah). Mereka datang dan memikat orang–orang yang mencintai harta, inilah metode mereka. Mereka mendatangi sekelompok Ahlussunnah dan melihat siapa yang suka harta sehingga mereka dapat merekrutnya dan memberikan harta kepadanya. Mereka memecah belah Ahlussunnah, mereka datang kesana dan merekrut Asadullah Al-Ghalib dan orang-orang yang bersamanya sehingga berpecahlah Salafiyyin menjadi dua kelompok. Di Mesir mereka merusak Anshorus Sunnah, dan saat ini Anshorus Sunnah menjadi politikus-politikus. Mereka membela Abdurrahman Abdul Khaliq dan menyebarkan buku-bukunya serta berpendapat dengan pendapatnya sebagaimana yang aku nukilkan dari Muhammad Shofwat Nuruddin dan selainnya.

    Maka, mereka menyimpang disebabkan harta dari yayasan ini. Demikian pula di Sudan, Anshorus Sunnah di Sudan telah rusak disebabkan Ihya’ut Turots hingga mereka menyanjung dan memuji At-Turabi (pembesar Ikhwanul Muslimin Sudan, ed.) dan mereka mulai masuk ke lingkaran politik.

    Mereka juga berupaya merusak Ahlussunnah di Yaman, tetapi Allah memalingkan tipu daya mereka dan hanya mampu mempengaruhi orang–orang yang terfitnah dengan harta, serta mendirikan yayasan disana sebagaimana yang telah aku sebutkan. Mereka datang kepada Syaikh Muqbil dan menawarkan bantuan, tetapi Syaikh menyadari bahwa mereka menginginkan syarat dan ingin mengikat dengan harta bantuan itu sehingga Syaikh menolak dan tidak mau menerima bantuan tersebut. Dan ini adalah perkara yang harus diperingatkan darinya yaitu masalah harta. Mereka sibuk mengumpulkan harta para muhsinin (dermawan) dan orang-orang yang baik untuk digunakan memecah belah Salafiyyin dengan cara mendatangi sekelompok Salafiyyin dan menawarkan harta kepada mereka. Salafush Shalih telah memperingatkan dengan keras tentang hal ini, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Abdullah bin Al-Mubarok Rahimahullah: “Jangan sampai Ahlul Bid’ah memiliki jasa terhadapmu!”.

    Terkadang mereka datang menawarkan bantuan dan berkata bantuan ini tanpa syarat. Mereka bangun markas dan masjid untukmu, setelah itu baru engkau menyadari ini adalah masalah harta yang jika engkau memulai proyek pembangunan, maka engkau akan membutuhkan harta tambahan hingga engkau pun akan butuh kepada orang yang membantumu di awal pembangunan. Disaat itulah mereka akan mencengkeram lehermu hingga engkau tidak mampu melepaskan diri.
    Mereka tidak akan mau membantumu dan menawarkan harta kepadamu kecuali karena mereka ingin engkau juga membantu mereka. Pernahkah engkau tahu ada seseorang yang Ihya’ut Turots telah membangunkan baginya masjid dan markas, lalu dia mampu berkata: “Kami tidak punya hubungan dengan At-Turots?”
    Apakah dia mampu untuk memperingatkan umat dari Ihya’ut Turots?

    Demikian pula (apakah dia mampu, pen.) mengadakan muhadharah Syaikh Rabi’, Syaikh Ahmad (bin Yahya An-Najmi, pen.) atau Syaikh Zaid (bin Muhammad Al-Madkhali, pen.)?? Dia tidak akan mampu melakukannya! Disebabkan bantuan harta yang diambilnya dari mereka sehingga dia berada di bawah pengaturan mereka dan bertindak sesuai kemauan mereka.

    Mereka mengubah orang ini dan memalingkannya serta memisahkannya dari Ahlussunnah.

    Maka, sudah seharusnya para ikhwah sekalian bertekad untuk tidak mengambil bantuan dari mereka. Sungguh, Allah Maha Kaya, di tangan-Nya lah segala kekuasaan. Kemuliaan hanya bagi orang-orang yang beriman, maka janganlah kalian mengambil apapun dari mereka walaupun kalian harus belajar di bawah pohon. Jangan kalian biarkan mereka mempunyai jasa terhadap kalian karena sebagaimana yang kita katakan tadi bahwa tidaklah mereka mau membantu kecuali dengan syarat-syarat dan untuk tujuan menyesatkan dan memecah-belah.

    Adapun jika mereka mengetahui bahwasanya engkau adalah seorang Salafy yang sesungguhnya dan engkau selalu bersama masyaikh Ahlussunnah, maka mereka tidak akan mau bersamamu dan tidak akan menolongmu.

    Inilah kenyataan yang terjadi pada yayasan Ihya’ut Turots.

    (Dikutip dari terjemahan al Ustadz Faishal Jamil Al Maidani dari muhadharah Syaikh Abu Abdillah Khalid Adh Dhahawi Al Kuwaiti pada tanggal 2 September 2006 atau 8 Sya’ban 1427 H di Mahad Al Anshar, Sleman. Beliau adalah da’i yang tinggal di Kuwait, alumnus Jami’ah Islamiyyah Madinah, webmaster situs Asy Syaikh Rabi ibn Haadi http://www.Rabee.net )

    Silahkan menyalin & memperbanyak artikel ini dengan mencantumkan url sumbernya.
    Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=1167

    27/12/2008 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, fatawa, manhaj | , , , | Tinggalkan komentar

    Ja’far Umar Thalib meninggalkan Salafiyyin

    Ja’far Umar Thalib telah meninggalkan kita…
    kategori Fatwa-Fatwa
    Penulis: Al Ustadz Qomar ZA, Lc
    بسم الله الرحمن الرحيم
    إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ،

    Amma ba’d:
    Adapun sekarang betapa jauh keadaannya dari yang dulu (Ja’far Umar Thalib, red), jangankan majlis seperti yang engkau tidak mau menghadirinya saat itu, bahkan sekarang majlis dzikirnya Arifin Ilham kamu hadiri, majlis Refleksi Satu Hati dengan para pendeta dan biksu kamu hadiri (di UGM, red), majlis dalam peresmian pesantren Tawwabin yang diprakarsai oleh Habib Riziq Syihab, Abu Bakar Baa’syir Majelis Mujahidin Indonesia dan lain-lain kamu hadiri juga peringatan Isra’ Mi’raj sebagaimana dinukil dalam majalah Sabili dan banyak lagi yang lain yang sejenisnya.

    Duhai sayang sekali, dimana kekokohan manhajmu yang dulu kau miliki. Apakah gurumu yang sampai saat ini kamu suka menebeng di belakangnya yaitu syekh Muqbil, semoga Allah merahmatinya, akan tetap memujimu dengan keadaanmu yang semacam ini ??

    Lebih dari itu tentunya Allah Ta’ala apakah akan ridha dengan perbuatanmu ini? Pantaslah kalau suatu saat Al-Ustadz Usamah Mahri menelepon Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, beliau bertanya tentang kebenaran kedatanganmu ke majelis Dzikirnya Arifin Ilham yang saat itu Asy-Syaikh Rabi’ menyangka majelis Maulud Nabi atau sejenisnya. Al-Ustadz Usamah pun menerangkan bahwa acara itu adalah majelis dzikir untuk memperingati kemerdekaan RI sekaligus peringatan HUT BNI yang diadakan majelis Adz Dzikra pimpinan Muhammad Arifin Ilham dgn sponsor bank ribawi BNI. Al-Ustadz Usamah bertanya: “Apa pendapat anda (wahai Syaikh) tentang (perbuatan) saudara Ja’far ini? Kita sudah berusaha banyak menasehatinya.” Asy-Syaikh Rabi’ pun menjawab dengan nada ta’jub: “Bagaimana kalian ini…? Kalian tidak punya pendapat tentang dia?” Al-Ustadz Usamah menjawab: “Teman-teman mengatakan: Kita menunggu ucapan Asy-Syaikh Rabi’.”
    Asy-Syaikh Rabi’ menjawab: “Di depan kita…dia mendatangi (peringatan) Maulud (maksudnya adalah acara HUT RI dan bank BNI dengan Majelis Dzikirnya Arifin Ilham). Ia berkumpul dengan para politikus dan bersama…. Jika ucapan kalian benar, jika ucapan kalian benar maka dialah yang meninggalkan kalian (Ahlus Sunnah/Salafiyyun), bukan kalian yang meninggalkan dia.”
    Al-Ustadz Usamah berkata: “Kita punya kaset/CD tentang kedatangan Ja’far Umar Thalib di majelis tersebut. (yakni ada 3 CD, 2 CD acara tgl 17 Agustus 2003 dan 1 CD acara tgl 15 Agustus 2004, nampak jelas tertera acara tersebut disponsori oleh bank ribawi BNI, red)”
    Asy-Syaikh Rabi’ berkata: “Ya, berikan kepada kami kaset tersebut – barakallahu fiik – dan saya katakan: Dialah yang meninggalkan kalian dan meninggalkan manhaj ini (manhaj Ahlus Sunnah) dan kita memohon keselamatan kepada Allah serta berlindung kepada-Nya dari fitnah-fitnah.

    “Yakni satu hal yang sangat jelas menurut syaikh, kebatilan apa yang ada padanya Ja’far dari perbuatan-perbuatan semacam itu ?”, ujar ustadz Qomar.

    (Ditulis oleh ustadz Qomar ZA, Lc, saat menterjemahkan pertanyaan kepada Syaikh Yahya al Hajuri, dengan diedit dan ada tambahan oleh tim Salafy.or.id)

    http://salafy.or.id/

    26/12/2008 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, fatawa, firqah, manhaj | , , , | 2 Komentar

    Saikh Yahya – Hizbiyyun Undang Ulama Ahlussunnah

    kategori Fatwa-Fatwa
    Penulis: Syaikh Yahya Al Hajuri hafidhohullah

    بسم الله الرحمن الرحيم
    إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ،

    Amma ba’d:
    Allah Ta’ala telah berfirman,
    فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
    Yang artinya: [Maka bertanyalah kalian kepada ahludzikr jika kalian tidak mengetahui ] (An Nahl :43)

    وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ
    [Dan jika datang kepada mereka suatu perkara dari keamanan atau ketakutan mereka menyebarluaskannya dan kalau seandainya mereka kembalikan kepada Rasul dan kepada ulil amri dari mereka, benar-benar akan mengetahuinya orang-orang yang memahaminya dari antara meraka ]. (An Nisa’: 83)

    Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh saudara–saudara dari Indonesia kepada guru kami Abu Abdurrahman Yahya bin Ali al Hajury semoga Allah senantiasa menjaganya (beliau pengganti pengasuh ma’had Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah sepeninggal beliau, red), yang telah dikatakan kepadanya oleh Guru dan Ayah kami al Muhaddis al ‘Allamah (ahli hadits yang sangat berilmu) Imam dalam ilmu Jarh dan Ta’dil Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi al Wadi’iy semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadaNya dan memasukkannya ke surgaNya yang luas : “Sesungguhnya dia (syekh Yahya) adalah ahli hadits yang faqih (membidangi fiqh) , pemberi nasehat dan amanah, disukai oleh saudara-saudaranya karena apa yang mereka lihat padanya dari keyakinannya yang baik, kecintaannya terhadap sunnah dan kebenciannya terhadap hizbiyyah (kekelompokan) yang bisa merubah (seseorang menjadi jelek), dan dia membantu saudara-saudaranya muslimin dengan fatwa-fatwa yang bersandar pada dalil”.

    Maka soal-soal ini dan jawaban syekh Yahya atasnya adalah tepat dengan apa yang telah dijanjikan oleh syekh Muqbil sebelum meninggalnya.

    Kami memohon kepada Allah untuk membenarkan jawaban syekh Yahya atas pertanyaan-pertanyaan ini dan menjadikannya dalam timbangan kebaikannya sesungguhnya Dia yang mengurusi itu dan yang Maha Mampu atas yang demikian.
    Dan sebelum masuk kepada soal, kami akan menyebutkan sejarah ringkas tentang dakwah salafiyyah di Indonesia.

    Seperti diketahui oleh semua bahwa tersebarnya dakwah salafiyyah di Indonesia adalah setelah kedatangan saudara dan guru kami Ja’far bin Umar Tholib -semoga Allah selalu menjaganya- (catatan : Kini dia telah menyimpang dari jalan Ahlussunnah wal Jama’ah dalam beberapa hal, semoga Allah mengembalikannya kepada jalan yang lurus dengan baik, pent) dari (perguruan) Darul Hadits di Dammaj (Yaman), ini adalah dari keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian keutamaan dakwah syekh Muqbil semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu merahmatinya, dan di awal dakwahnya dahulu semua para da’i bersatu dalam satu kalimat tapi tatkala muncul fitnah sururiyyah, berpecahlah salafiyyun. Diantara pembesar da’i Surury disana dalam fitnah ini adalah seorang yang disebut Yusuf bin Utsman Ba’isa, dia adalah direktur pesantren al Irsyad dahulu (Ma’had Al Irsyad, Tengaran, Salatiga, red), dimana dia membela Sayyid Qutb, Salman al Audah, Safar al Hawaly, dan Abdurrahman Abdul Khaliq. Dan sangat disayangkan, sebagian orang yang dulu teman kita telah membelanya, mereka dari yayasan At Turots al Islamiyyah Indonesia dan yang mengepalai mereka adalah Abu Nida’, dia adalah direktur yayasan tersebut dan Abu Ibrohim Sholeh Su’aidi sebagai wakilnya yang sekarang tinggal di (perguruan) Darul Hadits di Ma’rib (Yaman, perguruan syekh Abul Hasan) juga orang-orang yang semacamnya, semakin parah fitnah tersebut dengan kedatangan Abdurrahman Abdul Kholiq di Indonesia di pesantren al Irsyad seperti telah disebutkan, lalu Jum’iyyah Ihya’ Turots -Kuwait- mengirim seorang dari mesir yang bernama Syarif bin Fuad Hazza’, (orang) yang telah ditahdzir (diperingatkan umat darinya) oleh syekh Muqbil dan dianggap sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) oleh syekh Rabi’ semoga Allah menjaga beliau dan menyembuhkannya, maka bertambahlah basah tanah liat (yakni semakin parah) dengan kedatangan orang Mesir ini sampai terjadinya mubahalah (sumpah saling melaknati) antaranya dengan Ja’far Umar Tholib, kemudian terus berlangsunglah fitnah sampai pada hari ini. Sekarang menuju soal-soal. Apa yang akan kami sebutkan dari ucapan dan perbuatan mereka yang menyeleweng, hal itu setelah dicek keberadaan perkataan tersebut dan setelah dinasehati para pelakunya :

    Pertanyaan keenam :
    Apa pendapat antum/anda dalam masalah ini, yaitu bahwa mereka hizbiyyin mengundang syekh Ali Hasan al Halaby dan Salim al Hilaly ke markas mereka dengan tujuan mendamaikan antara mereka dengan akh Ja’far serta yang bersamanya dari da’i-da’i salafy, kemudian mereka berdalil dengan kedatangan keduanya kepada mereka bahwasanya mereka adalah Salafy, sebagaimana diketahui bahwa akh Ja’far dan da’i lainya yang salafy tidak mendatangi majlis itu, kamipun menghubungi akh Ja’far dan jawabannya terekam di kaset, dia sebutkan sebab ketidakhadirannya ke majlis tersebut, dan ini nash perkataannya -semoga Allah menjaganya- : Adapun ketidakhadiranku di muhadhorohnya/ ceramahnya syekh Ali Hasan dan Salim al Hilaly di Surabaya maka ada sebab-sebabnya:
    1. Yang pertama: bahwa muhadhoroh berlangsung di kandangnya hizbiyyin yaitu madrasah al Irsyad (Ma’had Ali Al Irsyad, Surabaya, asuhan orang al Irsyad, Abdurahman at Tamimi, Mubarak Ba Mu’allim, red), dan kedatanganku di kandang mereka akan menjadi fitnah terhadap dakwah salafiyyah .
    2. Bahwa yang hadir pada muhadhoroh tersebut, adalah hizbiyyun yang memusuhi sunnah, bahkan sebagiannya telah diketahui oleh syekh Ali Hasan seperti Abu Nida’ dan beliau mengatakan tentangnya: dia adalah paling lemahnya yang lemah. Yang kedua, Yusuf Baisa, syekh Ali Hasan berkata tentangnya bahwasanya dia bukan (kurang jelas)………ketiga Abdul Hakim Abdat (biasa disebut ahli hadits dari Jakarta oleh pengikutnya, punya halaqah di masjid DDII Jakarta, berhubungan dgn Al Sofwah, red), dia telah menentang sunnah hijab dan dia mentakwilkan hadits dengan pemikirannya yang menyeleweng sampai dia katakan dalam hadits [ Semua kesesatan itu di neraka ] ia berkata: maknanya, bahwa yang masuk neraka adalah bid’ah adapun orangnnya maka tidak mesti, begitu katanya, orang yang menyeleweng ini Abdul Hakim Abdat, dan ketiga orang ini … dan yang lainnya yang memusuhi Sunnah, kedatangan mereka disitu menghalangiku dan yang semisalku untuk datang, ini sebabnya dan bukan karena sebab dua syekh tersebut, demi Allah sesungguhnya ketidakhadiranku karena kehadiran mereka orang-orang itu.

    Adapun masalah syekh Ali, beliau pernah menyampaikan muhadhoroh di pesantrenku setahun atau dua tahun sebelum kedatangannya yang kedua, dia pernah duduk di rumahku dan saya pun pernah duduk di rumahnya, dia pernah makan di meja hidanganku dan akupun pernah makan di meja hidangannya dia tahu saya dan saya tahu dia maka ketidakhadiranku bukan karena yang memberi muhadhoroh tapi hanya karena orang-orang yang datang dalam muhadhoroh, begitulah. Wallahua’lam .

    Jawab :
    Hasilnya –semoga Allah memberkahi kalian- bahwa saudara kita syekh Ja’far semoga Allah memberikan perhatian-Nya kepadanya. Dia orang yang menegakkan dakwah salafiyyah di sana dan dialah yang melaksanakannya diatas kaki dan betisnya (maksudnya, kokoh di atas dakwahnya) dan guru kita (syekh Muqbil) memujinya (Tentu sebelum tampak penyimpangan-penyimpangannya dari manhaj ahlussunnah) -semoga Allah merahmatinya-, orang yang utama ini.

    Telah datang syekh Ali hasan Abdul Hamid dan syekh Salim al Hilaly ke kediamannya sururiyyah, telah mengundang mereka sururiyyuun, maka merekapun datang di kediaman mereka, dan al akh/saudara Ja’far tidak mendatanginya, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas perbuatannya dimana dia katakan: telah menghalangiku dan yang semisalku, –perkataan ini bukan hanya perkataan Ja’far, ini adalah perkataan seluruh Ahlussunnah yang jujur, telah menghalangi kita semuanya sama saja itu Ja’far atau kita semuanya untuk menghadiri ceramah-ceramah, untuk datang di tempat-tempat hizbiyyin walaupun yang berceramah bukan dari hizbiyyin, dan berkata kepada yang datang dia tidak akan berceramah.

    Maka jika Ja’far datang dan orang-orang melihatnya datang ke tempat sururiyyun mereka akan terfitnah, benar, mereka akan mengatakan: Bagaimana kalian larang kami untuk datang ke tempat mereka, padahal telah mendatangi mereka al akh Ja’far. Perkataan yang sangat benar dan tiada tambahan lagi dalam masalah ini, dia telah diberi taufiq dalam masalah ini.

    Adapun syekh Salim dan syekh Ali, maka saya insya Allah akan berusaha menghubungi keduanya dan saya akan melihat apa yang menjadikan keduanya hadir di tempat orang–orang sururiyyun padahal syekh Ali telah mengetahuinya, dan dia sendiri telah mencacat sebagian mereka, kemudian dia beri muhadhoroh di tempat mereka, hasbunallah wa ni’mal wakil, padahal saya tahu kalau beliau pergi ke Inggris beliau turun di tempat salafiyyuun dan berceramah di tempat salafiyyuun, begitu juga dia dan syekh Salim dan syekh Muhammad bin Musa Nasr.

    Mereka hanya pergi dan menolong saudara-saudara mereka salafiyyin tidak menolong sururiyyin, maka ini adalah kejadian baru, kita butuh untuk mengetahui apa sikap dua syekh ini dalam masalah ini, dan sekali lagi semestinya mereka bertaqwa kepada Allah janganlah memperbanyak jumlah pengikut hawa nafsu/bid’ah dan jangan sampai pula pengikut hawa nafsu memperbanyak jumlah dengan mereka (kedua syekh tersebut) dan jangan sampai menjadi sebab fitnah dan tertipunya Ahlussunnah, maka ini (mestinya) tidak mereka lakukan.

    Dan telah sampai kepadaku di dalam kaset ini pula bahwa syekh Rabi’ -semoga Allah memberikan perhatian-Nya kepadanya- disampaikan kepadanya masalah ini lalu beliau berkata kepada Ja’far tulislah ini dengan dalil-dalinya/bukti-buktinya dan aku akan menasehati keduanya, menasehati (syekh) Ali Hasan dalam masalah ini. Ya, tidak diragukan lagi bahwa keduanya membutuhkan nasehat, dan tidak sepantasnya turun di tempat…Apakah semua yang mengundangmu akan kau penuhi?! Apakah semua yang mengundangmu akan kau penuhi? Ya, hanyalah yang engkau penuhi undangannya siapa yang kau tahu dari kalangan Ahlussunnah, karena perbuatan yang baik dan karena tiada penipuan dan untuk tolong menolong dalam kebaikan, firman Allah Ta’ala :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    [ Dan kerjakanlah kebaikan mudah–mudahan kalian menang ] (Al Hajj:77)
    [Permisalan kaum mukminin adalah seperti bangunan yang saling menguatkan sebagian dengan sebagian yang lain], yakni saling menguatkan, dalam hal apa? Dalam bid’ah? Atau saling membantu dalam masalah bid’ah? Memperbanyak jumlah sururiyyah? Tidak! (bahkan) di atas kebenaran, menguatkan sebagian dengan sebagian yang lain di atas yang hak di atas sunnah, Allahlah tempat kita meminta pertolongan dan cukuplah bagi kita Allah, Dialah sebaik-baik yang mengatur urusan.

    (Direkam dalam kaset yang dibawa oleh Al Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani, pengasuh PP Al Anshor Jogjakarta, beliau yang menanyakan kepada Syaikh Yahya Al Hajuri, Yaman saat belajar disana. Diterjemahkan secara ringkas oleh ustadz Qomar Su’aidi, Lc, dengan edit tanda baca, teks Al Quran oleh tim Salafy.or.id)

    http://salafy.or.id/

    26/12/2008 Posted by | abu-salafy-01, aqidah, fatawa, firqah, manhaj | , , , | Tinggalkan komentar

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.