Hidupkan Sunnah HANCURKAN BID'AH

Meniti Jalan Sunnah Rasulullah, Menepis Bid'ah

Abdurrahman Abdul Khaliq & Ihya at Turots I

kategori Fatwa-Fatwa
Penulis: Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i

Segala pujian bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi pilihan-Nya.
Amma ba’du.

Berikut ini adalah tanya jawab yang saya tujukan kepada Syaikhuna (syaikh/ulama kita) Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i seorang ahli hadits di negeri Yaman – semoga Allah menjaganya – tentang Abdur Rahman Abdul Khaliq, manhaj dan yayasannya, Ihya’ut Turats.

Beliau rahimahullah telah menjawab dengan lengkap tentang siapa Abdur Rahman Abdul Khaliq, manhaj dan majalah Al-Furqan yang ia pimpin.

Di samping itu Syaikh telah menambah dalam jawabannya kondisi jama’ah-jama’ah islamiyah yang ada dan beberapa tokoh yang ada di sekitar kita, serta membeberkan kesesatan dan penyimpangan mereka agar para pemuda menyikapinya dengan keterangan ilmu yang jelas.

Sebagaimana biasa jawaban beliau selalu diiringi dengan nasihat-nasihat dan pengarahan-pengarahan yang tegas kepada penuntut ilmu dan murid-muridnya.

Alhamdulillah, Allah telah memudahkanku untuk menelaah buku-buku Syaikh sehubungan dengan persoalan-persoalan ini, yang aku kumpulkan dalam buku catatan khusus agar mudah memanfaatkan dan mencarinya ditambah dengan beberapa komentar dalam catatan kaki. Hanya Allah yang memberi taufik untuk semua kebaikan.

Pertanyaan:
Apa yang Anda ketahui tentang Abdur Rahman Abdul Khaliq, “Apakah dia seorang salafi sejak awal ataukan dia bermanhaj Ikhwanul Muslimin”

Jawab:
Abdur Rahman Abdul Khaliq pernah tinggal di Madinah ketika aku masih di Ma’had Al-Haram. Aku mendengar kabar-kabar yang baik tentang dirinya. Ketika banyak kaum muslimin keluar dan membersihkan gambar-gambar yang ada di sekitar tanah Haram, ia pergi ke Kuwait dan Allah memberikan manfaat yang banyak kepada kaum muslimin melalui dakwahnya. Ia menegakkan dakwah salafiyah sebatas kemampuan ilmunya sehingga banyak para pemuda belajar berkumpul dan mengelilinginya serta mengambil manfaat darinya. Akan tetapi ia seorang yang tertutup hingga Syaikh Al-Albani memberi kabar kepadaku ketika aku di Madinah. Beliau berkata, “Jama’ah di Kuwait mengkafirkan imam yang empat atau membid’ahkan mereka”. Syaikh (Muqbil, red) berkata, “Saya tahu siapa Abdur Rahman Abdul Khaliq, ia termasuk murid kami tetapi saya mengingkari perbuatannya, saya harus menghadirkannya dan hendaknya orang yang menuduh ia mengkafirkan atau menuduh bid’ah imam yang empat juga hadir untuk beradu kesaksian.”

Setelah dakwah salafiyah di Madinah semarak dan banyak manusia merasakan manfaatnya, sekitar seratus lima puluh orang-orang Kuwait berkunjung kepada saudara-saudara mereka yang ada di Madinah dan mengambil manfaat ilmu dari mereka selama satu atau dua malam. Nampaknya penyakit hasad masuk ke dalam hati Abdur Rahman Abdul Khaliq dan teman-temannya, lalu mereka hendak membuat kerancuan kepada ikhwan-ikhwan di Madinah dan memprovokasi mereka untuk memberontak kepada pemerintah, ia pernah mengatakan bahwa ikhwan-ikhwan Madinah adalah Khawarij. Yang lain mengatakan bahwa mereka menyelisihi Syaikh bin Baz, Syaikh Ibnu Humaid dan Syaikh Asy-Syabil.

Setelah itu beberapa ikhwan mendatanginya dan mendengarkan ceramahnya. Dalam ceramahnya itu dia antara lain mengatakan, “Tidak selayaknya kita menyerukan menutup pabrik-pabrik minuman keras hingga kita mempersiapkan pekerjaan untuk pegawai-pegawainya setelah pabrik ditutup. Jika tidak ada pekerjaan, dari mana mereka makan”

Seorang yang bernama Ali Ja’fan datang kepadanya dan berkata, “Ya, Syaikh! Takutlah kepada Allah, minuman keras itu kemungkaran yang wajib disingkirkan”, Abdur Rahman Abdul Khaliq berkata, “Ya, ia mungkar wajib disingkirkan.”

“Apakah Anda yang mengatakan bahwa pabrik minuman keras tidak perlu diberantas” tanya Ali Ja’fan. Abdur Rahman Abdul Khaliq berkata, “Tidak, kamu salah.” Kemudian ia meminta maaf atas ucapannya.

Beberapa ikhwan mendatangi jama’ahnya dan mengingkari televisi dan gambar-gambar bernyawa. Setelah pertemuan itu ia menulis satu buku kecil yang berjudul “Al-Wala’ wal Bara” (Loyalitas dan Permusuhan), ia menginginkan setiap ikhwan membacanya. Belakangan ia terpengaruh oleh pemikiran Ikhwanul Muslimin dalam hal kerusuhan, demokrasi dan fanatik golongan maka ia mengalami kemunduran sebagaimana yang Allah firmankan, “Dan bacakanlah kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami meninggikan dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkanlah lidahnya dan jika kamu membiarkannya diapun tetap mengulurkan lidahnya. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Al-A’raf:75-76).

Selanjutnya ia menduh tokoh-tokoh Kuwait seperti al-Akh Abdul Lathif Ad-Durbas dan beberapa alim lainnya sebagai pengikut Juhaiman ! Padahal mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dia semakin berani dengan segala kecerobohannya dalam masalah gambar bernyawa, mengkritik ulama tanpa ilmu bahwa para ulama tidak mengetahui kondisi zaman (waqi’) sedikitpun dan keras terhadap orang-orang fasik. Saya (Syaikh Muqbil) menganggap ia memecah-belah barisan ahlus sunnah dengan membuat tipu daya melalui hartanya, tidak melalui pemikirannya. Ia bangkit dari Kuwait ke Indonesia (Abu Nida cs, red), Mesir dan beberapa negara lainnya. Saya berpendapat tidak benar menyerahkan dana kepada Yayasan Ihya’ut Turats karena mereka gencar memecah-belah dakwah Ahlus Sunnah sehingga Ahlus Sunnah di Jeddah dan Sudan terpecah.

Di Yaman banyak orang yang tertipu oleh kekayaannya bukan pemikirannya. Saya beritahukan kepada pemuda-pemuda salaf Kuwait bahwa Yayasan Ihya’ut Turats memberikan dana yang menimbulkan bencana kepada orang-orang yang tertipu tersebut. Abdul Qadir Asy-Syaibani dan Muhammad Abdul Jalil saling bermusuhan gara-gara dana Ihya’ut Turats. Salah seorang anggota Yayasan Ihya’ut Turats yang bernama Muhammad ketika hendak mendanai Majalah Al-Furqan mengatakan, tidaklah kami dipukul di suatu negeri sekeras di negeri Yaman. Jadi mereka memakan dana satu golongan ke golongan lainnya sampai mereka tidak punya apa-apa, dan orang-orang yang ada di Yaman memakan dana Yayasan Ihya’ut Turats sampai habis kemudian berpindah ke golongan lainnya.

Saya nasihatkan kepada Abdur Rahman Abdul Khaliq agar belajar ilmu lebih banyak lagi di hadapan para ulama seperti Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan Syaikh Bin Baz (sebelum keduanya meninggal, red) yang mereka katakan tidak mengetahui kondisi zaman- dan hendaknya mereka tidak menyombongkan diri. Saya pernah mengatakan kepada beberapa ikhwan Kuwait, sesungguhnya dakwah kalian sejak lama tidak menghasilkan apa-apa. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya, benar, ketika kami melihat demikian kami bersama para pemuda menimba ilmu di Universitas yang ada di Su’udiyah (Saudi).”

Saya menasihatkan kepada saudara-saudara kita di Kuwait agar menjauhkan diri dari Abdur Rahman Abdul Khaliq. Allah telah memperingatkan kita dari teman yang jelek dengan firman-Nya, “Dan di hari orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’, Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)

Apakah Abdur Rahman Abdul Khaliq lebih alim daripada Ahmad bin Hambal” Apakah Abdur Rahman Abdul Khaliq lebih bertaqwa daripada Ahmad bin Hambal” Kalau kita mau taklid (mengikuti dgn membabi-buta, red) tentu kita akan taklid kepada Ahmad bin Hambal. Kita memnadang bahwa taklid diharamkan dan pemuda Kuwait tetap dalam kondisi buta kalau mereka masih mengikuti Abdur Rahman Abdul Khaliq.

Sebelum Saddam menyerang Kuwait pendiri majalah Al-Furqan ini mengatakan bahwa Saddam adalah seorang yang mukmin, namun setelah Saddam menyerang Kuwait, ia memvonis Saddam kafir. Adapun saya, Alhamdulillah sebelum dan sesudah penyerangan Kuwait memvonis Saddam kafir. Maka orang yang plin-plan dan tidak kokoh ilmunya niscay akan bertindak seperti yang diperbuat Abdur Rahman Abdul Khaliq.

Pernah ada seorang yang berkata bahwa Syaikh Bin Baz menulis surat kepada Abdur Rahman Abdul Khaliq menasihati agar mau bertaubat, kemudian ia bertaubat. Namun taubat yang ia lakukan tidak sebanding dengan kalimat yang membuat perpecahan di dalam barisan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Saya takut ia adalah mata-mata dakwah. Jangan dikira ia telah bertaubat dari semua yang telah diperingatkan kepadanya, tidak ada seperempatnya, karena ia tidak mau tunduk terhadap ilmu.

Saudara kita Rabi’ bin Hadi (Asisten Profesor di Univ. Islam Madinah, red) telah membantah semua pemikiran sesatnya – semoga Allah membalasnya dengan kebaikan- seandainya pemuda Kuwait membaca tulisannya niscaya beliau akan berlepas diri dari Abdur Rahman Abdul Khaliq dan Yayasan Ihya’ut Turats. Jika mereka tidak membacanya maka mereka akan bertanya-tanya siapakah Abdur Rahman Abdul Khaliq itu ?

Sesungguhnya yang membuat ia seperti itu adalah dinar Kuwait dan tampilnya dia di koran. Yang menggerakkan dakwah adalah dinar Kuwait, bukan dia pribadi. Saya akan menanyakan kepada Abdur Rahman Abdul Khaliq, “Negeri mana yang lebih kamu butuhkan dan layak untuk dirimu -jika kamu ingin berbuat baik- Mesir negerimu atau Kuwait” Di Mesir terdapat makam Al-Badawi dan Al-Hasan. Kalau kamu mau berdakwah tentu kamu akan kembali ke Mesir, mendirikan markaz di sana untuk berdakwah dengan sebatas ilmu yang kamu punyai dan membekali diri dengan ilmu semampumu.”

Pertanyaan
Anda pernah mengatakan bahwa sebagian kaum muslimin bergabung bersama Ikhwanul Muslimin padahal mereka tahu bahwa Ikhwanul Muslimin berdiri di atas kebatilan dan Anda berkali-kali mengulangi pernyataan tersebut (sebanyak empat kali) sehingga sebagian manusia memahami pernyataan Anda bahwa semua apa yang ada pada Ikhwanul Muslimin batil tidak ada kebenarannya, tetapi diketahui Anda tidak berniat seperti itu dan Anda mengatakan bahwa kami ahlus sunnah selalu adil dalam ucapan dan perbuatan kami?

Jawab
Yang kami yakini bahwa Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh (yaitu Firqah Tabligh) dan Jama’ah Salafiyah Abdur Rahman Abdul Khaliq serta dakwah mana saja yang berupaya mengumpulkan manusia dan meninggalkan yang lainnya atau bergabung kepadanya adalah bid’ah. Karena Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam mengatakan,
“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain janganlah menzalimi, mencla dan menghinakannya, takwa itu berada di sini (sambil menunjuk dadanya), cukup dikatakan jelek seorang muslim dengan menghinakan saudaranya.”

Dan Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara.” (Al-Hujurat: 10).

Firman Allah (yang artinya), “Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2)

Mayoritas jama’ah Abdur Rahman Abdul Khaliq adalah Ahlus Sunnah tapi masalah fanatik golongan timbul dari sebagian kecil jama’ahnya. Sedangkan Ikhwanul Muslimin mayoritasnya ahli bid’ah, dan ahlus sunnahnya bisa dihitung dengan jari. Mengapa ahlus sunnah yang bergabung tidak melepaskan diri dari ahli bid’ah, sehingga mereka menjadi bergolong-golongan.” Demikian juga Jama’ah Tabligh kebanyakan anggotanya campuran dari sufi dan Syi’ah dari berbagai jenis manusia. Maka saya mengharap mereka bertaubat kepada Allah Ta’ala dan kembali mempelajari kitabullah dan sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Insya Allah pada hari ini, besok atau lusa banyak pemuda kembali kepada jalan yang benar. Karena jika mereka telah mengetahui kebenaran walaupun kamu memberi mereka emas, mereka tidak akan mempedulikan emasmu dan tidak akan mempedulikan kedudukan dan selainnya. Alhamdulillah. (Ijabatus Sa-il, 408-409)

Pertanyaan
Apakah yang disebut dengan jama’ah salafiyah Abdur Rahman Abdul Khaliq. Siapa dia, apa yang ia serukan dan dimanakah sekarang ?

Jawab
Dia sekarang ada di Kuwait dan berasal dari negeri Mesir. Ia pernah tinggal di Madinah sebagai mahasiswa Universitas Madinah, pernah merobek gambar-gambar bernyawa di Madinah kemudian dia pindah ke Kuwait.

Pada awalnya di Kuwait ia berdakwah di atas sunnah kecuali dalam satu masalah yaitu masalah loyalitas (al wala’) dan kebencian (al bara’) terhadap ahli bid’ah (ia kurang baik) akan tetapi pada akhirnya dakwahnya menjadi rancu dan tidak ikhlas, padahal Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Ketahuilah bahwa agama yang murni itu milik Allah.”

Maka hendaknya dia mengikhlaskan agamanya untuk Allah semata dan menyeru kepada Kitabullah (Al Quran, red) dan Sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Sedangkan tulisan-tulisannya di koran dan majalah adalah baik. Kami tidak menutup mata kebaikannya akan tetapi kami menasihati agar ia taubat dan tidak menyeru kepada fanatik golongan dan agar membela setiap muslim.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang munkar.” (At-Taubah: 71).

Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk.” (Al-Maidah: 55)

Saya nasihatkan kepadanya agar kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam, kembali kepada dakwah semula dan tiak memecah belah kaum muslimin, menolong setap muslim, tidak menuduh bahwa ulama tidak mengetahui waqi’ (realita) dan tidak berharakah serta pernyataan lainnya yang membuat lari manusia dari agama.

Alhamdulillah banyak pemuda Jeddah (Arab Saudi) yang dahulu tertipu oleh Abdur Rahman Abdul Khaliq sekarang sudah banyak yang kembali kepada ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah secara murni.

Insya Allah di Kuwait, Haramain (dua tanah suci, Mekkah dan Medinah, red) dan Nejed banyak pemuda yang akan berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, karena mereka berkumpul bersama Syaikh bin Baz dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin yang tidak menyeru kepada fanatik golongan maupun sekedar menghimpun kaum muslimin. Bahkan mereka melarang perpecahan kaum muslimin menjadi banyak jama’ah. Jangan dipahami kami melarang adanya saling menolong di antara kaum muslimin dalam satu pemimpin bahkan kami mewajibkannya dan jangan dipahami kami melarang adanya aturan (organisasi) bahkan organisasi terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda (yang artinya), “Sungguh badanmu punya hak atas kamu, istrimu punya hak atas kamu, dan dirimu punya hak atas kamu maka berilah masing-masing haknya.”

Kami tidak mengingkari adanya aturan-aturan dalam segala sesuatu tetapi yang kami ingkari, peringatkan dan perangi adalah fanatik golongan yang memecah belah kaum muslimin.” (Ijabatus Sa-il, 410-412)

Pertanyaan
Apakah benar bahwa Abdur Rahman Abdul Khaliq salafiyah dalam akidah dan ikhwani dalam cara dakwah? Ataukah ini hanya kebohongan?

Jawab
Saudara-saudara kita di Kuwait yang tergabung dalam Yayasan Ihya’ut Turats terdapat saudara-saudara yang baik pemikirannya. Dahulu mereka pernah di Madinah kemudian menetap di Kuwait dan berdakwah di sana. Seiring dengan perjalanan waktu mereka menyimpang dari jalan yang lurus. Mereka menganggap masalah demokrasi dan masalah-masalah lainnya sebagai masalah yang remeh. Akhirnya, dakwah mereka menjadi dakwah Abdullah As-Sabt, sebuah dakwah yang menghancurkan dan memecah belah ahlus sunnah.

Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam telah menerangkan sifat beliau sendiri dalam kitab “Shahih Bukhari” pada kitab “Al-I’tisham” bahwa beliau memecah belah manusia. Artinya memecah belah antara orang-orang Islam dengan orang-orang kafir. Adapun saudara kita Abdur Rahman Abdul Khaliq memecah belah ahlus sunnah. Seorang ahlus sunnah dari Sudan datang kepada saya dan mengatakan bahwa di Sudan ahlus sunnah telah pecah disebabkan oleh Abdur Rahman Abdul Khaliq.

Juga telah terjadi perpecahan ahlus sunnah di Yaman, Mesir dan Yordania (dan Indonesia dengan sebab Abu Nida cs, red). Dia memecah belah bukan melalui pemikirannya tetapi melalui dinarnya. Adapun pemikirannya bukan diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi dinar sebagaimana kata penyair:

Berapa banyak kelebihan rizki
Dapat melunakkan dan menunggangi leher-leher lelaki kuat.

Adapun di Yaman saya memperkirakan anggotanya meninggalkan Abdur Rahman Abdul Khaliq tetapi berpindah ke Sururiyyun. Saya ingin bertanya kepada mereka, “Wahai salafi Yaman kalian bersama orang-orang Kuwait selama empat tahun apakah mereka di dalam kesesatan atau apa? Apa motivasi kalian meninggalkan mereka kemudian berpindah ke Sururiyyun, apakah Sururiyyun lebih banyak hartanya ? Atau kalian tidak sadar terhadap perbuatan kalian sendiri ? Apakah kalian tidak bisa berdikari ? Dakwah bagi kami lebih mahal daripada dirham dan dinar.

Saya nasihatkan kalian jangan suka mencoba-coba, terkadang bersama Ihya’ut Turats dan terkadang pindah ke Sururiyyun. Berdirilah di atas kaki sendiri dan beramallah dengan mengharap wajah Allah semata, Allah tidak akan menyia-nyiakan amalanmu.

Pertanyaan
Di tempat kami ada Yayasan Ihya’ut Turats milik Abdur Rahman Abdul Khaliq, apa nasihat Anda bagi para pemuda yang menjadi anggota Yayasan ?

Jawab
Ini yayasan perpecahan. Ada sebagian dari mereka berkunjung ke Yaman dan berkata, “Kami tidak bisa memberi bantuan kepada Anda kecuali pesantren Anda mempunyai izin resmi dari pemerintah.”

Saya katakan kepadanya, “Kami tidak membutuhkan bantuanmu, kecuali tanpa syarat dan ikatan apa-apa.” Lalu mereka pergi mencari orang-orang yang lemah kepribadiannya untuk dijadikan pegawai dengan gaji dinar Kuwait hingga menjadikan pegawai-pegawai itu tidak membutuhkan ulama. Di antara mereka ketika singgah di Shan’a (Yaman) pernah berkata, “Dakwah kita berjalan setelah kita meninggalkan ulama.” Betapa jelek ucapan ini padahal Allah telah berfirman (yang artinya), “Tanyakanlah kepada ulama jika kamu tidak mengetahui.” (An-Nahl: 43).

Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahami kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-Ankabut: 43).

Allah telah mengisahkan Qarun yang keluar dengan membawa banyak perhiasan, “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang cenderung hatinya kepada kehidupan dunia, ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (Al-Qash-shash: 79-80).

Maka ahli ilmu adalah orang-orang yang lebih mengetahui dan mendudukkan sesuatu pada tempatnya. Bagi yang ragu terhadap ucapanku pergilah kepada Abdul Majid Ar-Rimi dan katakan kepadanya, “Aku bertanya kepadamu dengan nama Allah apakah pernah ada orang Kuwait yang duduk bersamamu mengatakan, “Dakwah kami berjalan setelah kita meninggalkan ulama”.

Jadi dakwah Ihya”ut Turats memecah belah umat. Dalam “Shahih Bukhari” disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda (yang artinya), “Muhammad pemisah manusia,” atau dalam riwayat lain berbunyi, “Muhammad memisahkan manusia.” Artinya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memisahkan antara istri dengan suami, karena kadang istri menjadi muslimah si suami kafir, atau sebaliknya. Atau memisahkan anak dengan orang tua yakni kadang anaknya muslim sedangkan orang tuanya kafir, atau sebaliknya.

Sedangkan Ihya’ut Turats memisahkan ahlus sunnah di banyak negeri seperti Mesir, Yaman, Kuwait, Emirat Arab, Haramain dan negeri lainnya (termasuk di Indonesia, red).

Saya nasihatkan kepada semua saudaraku janganlah menjual agama dengan pembangunan masjid, jika ada orang berkata, “Aku akan memberi dana bantuan padamu untuk membuat masjid,” Katakan padanya, “Kamu memberi dana bantuan pembangunan masjid lillah, tanpa syarat maupun ikatan apa-apa.” Membangun masjid harus lillahi Ta’ala. Adapun jika memberikan syarat misalnya dengan mengatakan, “Aku bangunkan masjid atau madrasah untukmu tetapi kamu harus menjadi anggotaku,” maka jangan ikuti!.

Buku Abdur Rahman Abdul Khaliq banyak mengandung kerancuan, maka saya nasihatkan kepada semua kaum muslimin untuk membaca buku saudara kita Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali (Ulama dari Saudi) yang membantah semua pemikiran Abdur Rahman Abdul Khaliq. Agar tidak disangka dia telah bertaubat melalui Syaikh bin Baz. Ya, ia telah taubat dalam satu masalah, tetapi dalam masalah-masalah yang lain ia belum menunjukkan taubatnya.

Apakah telah ia taubat dari memecah belah ahlus sunnah, dan fanatik golongan? Apakah ia telah kembali kepada jalan yang baik sewaktu dia masih kuliah di Universitas Madinah?

Maka mereka – baik Jama’ah Abdur Rahman Abdul Khaliq, Ikhwanul Muslimin ataupun Sururiyyun- adalah seperti orang-orang yang buta sebelah matanya, seperti yang dikatakan penyair,

Orang buta menuntun orang yang melihat “adalah sangat baik”

Sungguh menyesatkan orang buta yang kamu minta petunjuknya

Saya nasihatkan kepada saudara-saudara di Inggris, Allah tidak menyia-nyiakanmu dan bagi yang memiliki ilmu hendaknya mengajarkan kepada yang tidak mengetahui, dekatilah mereka, sering-seringlah berkomunikasi denga para ulama. Mempelajari ilmu itu lebih bermanfaat bagimu. Jika ada seorang yang telah mengambil faidah ilmu di sisi ulama dan tinggal selama empat bulan di sisimu, maka itu lebih bermanfaat bagimu dan negerimu.
(Dinukil dari Tanya Jawab Ikhwan Inggris dengan Syaikh Muqbil, hal. 151-153)

———————————————————————— (Dikutip dari terjemah Tanya Jawab dengan Syaikh Muqbil tentang Kesesatan Abdur Rahman Abdul Khaliq, Yayasan Ihya’ut Turats dan Majalah Al-Furqan. Penerbit : Maktabah Sahab, 2003. Dikumpulkan oleh : Abu Juwairiyah rahimahullah, direkam pada tanggal 22 Syawal 1416 H bertepatan dengan 23 Maret 1995. Penerjemah: Ahmad Hamdani bin Muslim. Dinukil dari Buku “Hasan Al Banna seorang Teroris “? oleh Ayyid Asy Syamari hal 71 – 117..

http://salafy.or.id/

26/12/2008 - Posted by | abu-salafy-01, fatawa, firqah | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s