Hidupkan Sunnah HANCURKAN BID'AH

Meniti Jalan Sunnah Rasulullah, Menepis Bid'ah

Abdurrahman Abdul Khaliq & Ihya at Turots II

kategori Fatwa-Fatwa
Penulis: Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i

Pertanyaan
Ada pertanyaan ikhwan dari Inggris sekitar Yayasan Ihya’ut Turats Kuwait bahwa yayasan ini memecah belah persatuan?

Jawab
Sesungguhnya yayasan ini adalah yayasan pertama yang diingkari para ulama ahlus-sunnah karena yang memimpin adalah Abdur Rahman Abdul Khaliq yang pada awal dakwahnya mengajak kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga kaum muslimin Kuwait banyak mengambil manfaat dari dakwahnya. Antara ia dan Ikhwanul Muslimin terjadi pertentangan besar. Ikhwanul Muslimin mencela dia dan dia mencela Ikhwanul Muslimin. Akan tetapi entah kenapa kemudian muncul dari ucapan dan perbuatannya perkara-perkara yang mungkar.

Sebagian saudara kita yang ada di Madinah dan pernah bergaul dengannya masuk ke rumahnya dan menjumpai di dalamnya banyak kemungkaran seperti televisi, lalu mereka mengingkarinya dengan alasan dalam siaran televisi banyak kemungkaran seperti adanya gambar bernyawa, sedangkan Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda (yang artinya), “Para malaikat tidak akan masuk rumah yang terdapat anjing dan gambar bernyawa.”

Beliau bersabda (yang artinya), “Akan keluar di hari kiamat anak kambing yang mempunyai dua mata yang melihat, dua telinga yang mendengar, lisan yang berbicara ia berkata, “Aku diberi tugas menyiksa tiga golongan: semua orang yang sombong, semua orang yang berdoa kepada selain Allah dan para pelukis gambar yang bernyawa.”

Ahli ilmu tidak punya waktu untuk melihat televisi. Saudara-saudara kita mengingkarinya. Tetapi ia marah bahkan menuduh mereka jama’ah takfir, jama’ah khawarij. Ia telah mendzalimi mereka, padahal mereka adalah penuntut ilmu yang bisa salah dan bisa benar.

Ia pernah mengadakan tabligh akbar yang isinya antara lain menyerukan agar tidak menutup pabrik-pabrik minuman keras sampai ada penggantinya! Jika belum ada penggantinya dari manakah pekerja makan ?.

Tidak lama kemudian Ja’fan, saudara kita dari Yaman, menulis buku yang cukup bagus yang membantah Abdur Rahman Abdul Khaliq.
Sebelumnya Abdur Rahman Abdul Khaliq didatangi rombongan dan dikatakan kepadanya, “Anda salah!”. “Saya akui kesalahanku,” jawabnya.
“Kami ingin Anda mengumumkan kesalahan Anda di muka umum.”
“Kalau saya umumkan nanti publik tidak akan percaya pada saya lagi.”
Dia telah berbuat kesalah dalam hal ini tetapi sebaliknya publik menambah kepercayaan kepadanya.

Abdur Rahman Abdul Khaliq menulis kitab berjudul “Al-Wala’ wal Bara”, sebuah kitab yang jelek yang tidak patut ditulis oleh seorang sunni salafi. Dalam kitabnya ia menyerang penuntut ilmu, menuduh mereka khawarij, bodoh dan menyimpang. Padahal, justru merekalah yang berada pada pihak yang benar. Mereka telah menyeru manusia kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah selama enam tahun. Dunia semarak dengan dakwah mereka.

Kemudian kami pindah ke Yaman, setibanya di sana beberapa orang menemuiku. Di antara rombongan ada Abdullah As-Sabt. Mereka berkata, “Kami tidak bisa membantu Anda kecuali Anda bergabung bersama yayasan negeri.” Saya katakan kepada mereka, “Kami tidak akan menjual dakwah untuk seorang pun, jika kalian mau membantu tanpa syarat maka lakukanlah. Jika memakai syarat, Allah pasti akan memberi kemampuan pada kami.”

Kondisi yang lebih jelek daripada itu ialah ia duduk bersama orang-orang yang berkepribadian lemah, yang mengaku salafi dari Yaman, untuk diajak bergabung bersamanya. Seseorang dari Kuwait berkata, “Dakwah kita berjalan dengan lancar setelah kita meninggalkan ulama.” Saya katakan, “Betapa besar kalimat yang keluar dari mulutmu, wahai orang bodoh!”

Salah seorang teman kita yang mendengar ucapannya mengatakan, “Bulu kudukku merinding mendengar ucapannya!”

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-Ankabut: 43).

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu.” (Ar-Rum: 22)

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang cenderung hatinya kepada kehidupan dunia, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, “Kecelakaan besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (Al-Qash-shash: 79-80)

Ulama adalah orang-orang yang menyeru ke jalah Allah di atas hujjah/keterangan (bashirah) sebagaimana yang Allah firmankan, “Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108).

Ulama adalah orang-orang yang menyeru kepada kebaikan, “Dan hendaklah ada di antar kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104).

Ulama adalah orang-orang yang telah diangkat kedudukannya oleh Allah, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan agama beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadalah: 11).

Ulama adalah orang-orang yang disamakan dengan para malaikat oleh Allah dalam hal persaksian tentang keesaan-Nya,”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Sesembahan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang berilmu (juga menyaksikan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 18).

Ulama adalah orang-orang yang memerangi fitnah-fitnah menerangi jalan kegelapan, sabar dalam kesempitan hidup, membimbing umat dan memberi faidah ilmu kepada umat, sementara kamu hai orang-orang bodoh merasa tidak butuh kepada ulama padahal Allah telah berkata, “ Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15).

Keluarga Yasin berkata kepada kaumnya, “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk,” (Yasin: 21)
Jadi ulama mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan manusia, baik kamu kehendaki atau kamu tolak. Karena dakwahmu dibangun di atas pengumpulan dana, tipu daya dan pemikiran yang aneh, sebentar lagi akan hancur dan banyak manusia yang kaan berlepas diri darinya.

Ketika ikhwan kita di Kuwait mengundang Syaikh Rabi’ untuk tabligh akbar, maka kehidupan pun terasa sempit bagi mereka, padahal dunia ini sangat luas. Mereka ragu dalam menyikapi nasihat Syaikh bin Baz terhadap Abdur Rahman Abdul Khaliq. Kemudian Abdur Rahman mendatangi mereka dan saya yakin ia tidak menerangkan apa yang telah dinasihatkan Syaikh bin Baz dan tidak rujuk dari pemikirannya. Tetapi karena takut terhadap pemerintah Kuwait maka ia pura-pura menerima nasihat Syaikh bin Baz.

Pemerintah Kuwait sangat segan terhadap Syaikh bin Baz. Kalau Syaikh bin Baz memerintahkan usir Abdur Rahman Abdul Khaliq tentu pemerintah akan mengusirnya.
Kami akan bertanya kepadanya, “Apakah kamu telah taubat dari ucapanmu: ‘Tidak mengapa kita saling membantu dengan orientalis’,padahal Allah telah berfirman (yang artinya), “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali.” (Ali Imran: 28)

Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah, Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepad orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24) .

Allah berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf, mencegah dair yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71).

Setelah menyebutkan loyalitas orang-orang yang beriman kepada orang-orang yagn beriman dan orang-orang kafir loyal kepada orang-orang kafir, Allah mengatakan, “Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (loyal terhadap orang-orang yang beriman), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Al-Anfal: 73)

Di Kuwait telah terjadi banyak kerusakan, sementara Abdur Rahman Abdul Khaliq sibuk memecah belah di sana. Saya anggap ini adalh sikap yang keterlaluan. Di Yaman banyak ahlus sunnah yang membelot ke Sururiyyun dan mengikuti Ihya’ut Turats gara-gara ulahnya. Misalnya saja, Abdul Majid Ar-Rimi, Muhammad Al-Badhani dan Muhammad Al-Mahdi. Saya perkirakan hal ini merupakan siasat di antara mereka agar mendapat makan dari dua arah, makan dari sana dan dari sini.

Kaum muslimin Yaman sekarang menjadi musuh ahlus sunnah, sebaliknya mereka justru menolong dan mengutamakan Ikhwanul Muslimin. Mereka sangka saya tersibukkan dengan Muhammad Al-Mahdi. Siapa dia? Ia adalah seorang yang bodoh. Alhamdulillah, saya mengetahui mereka – kelompok Ihya’ut Turats, Abdul Majid Az-Zindani dan Abdur Rahman Abdul Khaliq- adalah Ikhwanul Muflisin (orang-orang yang rugi, gelar untuk IM, red).

Saya katakan kepada Muhammad Al-Mahdi bahwa majalahmu adalah majalah perpecahan. Tulislah apa yang kau maukan, kamu oang bodoh, akan diberangus, pendusta dan Amar bin Nasyir yang memberangusnya.

Adapun Abdurahman Asy-Syir’abi yang menulis dalam majalah Al-Furqan mengajak saya bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, maka saya pendam perasaan atas seruannya itu, tetapi jika ia menulis tentang ini maka saya akan sampaikan. Yayasan Ihya’ut Turats memecah belah ahlus sunnah di Saudi dan Sudan sampai mereka menamakan pengikut Abdur Rahman Abdul Khaliq seperti Muhammad Hasyim sebagai “orang-orang yang berbuat baik.” Sesungguhnya mereka telah menjual dakwah dengan dinar Kuwait. Saya telah menasihati mereka beberapa kali dan hasilnya banyak muslimin keluar dari jama’ah Abdur Rahman Abdul Khaliq.

Tinggal kini Muhammad Hasyim yang tinggal di Qatar lalu pindah ke Kuwait. Ia membantah saya, “Saya membela Anda.” Saya katakan kepadanya, “Ucapanmu terbang bersama angin, bagaimana saya akan mengumumkan ucapnmu sedangkan kamu sendiri memendamnya. Tidak perlu aku menjawab omonganmu. Tetapi cukup orang-orang Sudan di sekelilingmu yang mencela kamu dan Abdur Rahman Abdul Khaliq.”

Alhamdulillah, mereka telah keluar dari yayasan itu. Kamu memusuhi bekas teman-temanmu karena mereka mengatakan bahwa percampuran laki-laki dan perempuan di sekolah haram, demonstrasi dan pemilu tidak boleh. Mereka telah keluar dari neraka ke surga, dari kehinaan ke kemuliaan. Allah berfirman (yang artinya), “Dan kemuliaan itu milik Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman.” (Al-Munafiqun: 8).

“Barangsiapa menghendaki kemuliaan maka kemuliaan itu milik Allah semuanya.” (Fathir: 10).

Abdur Rahman Abdul Khaliq telah memecah-belah ahlus sunnah di Mesir dan Indonesia, maka Allah tidak memberkahimu, wahai Abdur Rahman Abdul Khaliq! Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda (yang artinya), “Aku pemisah di antara manusia.” Dalam riwayat lain, “Aku memisahkan di antara manusia.” Beliau memisahkan antara suami dan istri, anak dan orang tua kerena kekafiran dan keislaman. Adapun orang ini memisahkan ahlus sunnah. Saya perkirakan dia seorang jongos Amerika, ia menghendaki perpecahan dakwah, bahkan mengorbankan hartanya untuk itu sebagaimana pemerintah sekarang berusaha keras memecah belah dakwah.

Kamu jangan lupa bagaimana Abdur Rahman Abdul Khaliq memuji Saddam Husain sebagai seorang mukmin yang baik, dan itu dimuat di surat kabar. Padahal Saddam adalah seorang komunis menurut ahlus sunnah, sebelum dan sesudah ia menyerang Kuwait.

Abdur Rahman Abdul Khaliq tidak diberi taufik oleh Allah, dakwahnya sejak di Madinah selama dua puluh enam tahun tidak membuahkan hasil saya menantangnya agar ia menunjukkan salah satu dari muridnya yang menjadi orang alim yang dijadikan rujukan. Jika dia menjawab, “Saya punya Abdur Razaq Asy-Syayiji.” Maka saya katakan bahwa dia adalah orang tolol yang menyeru kepada demokrasi dan memerangi ahlus sunnah.

Dahulu sebagian ikhwan yang kuliah di Madinah hanya mengetahui Abdur Rahman Abdul Khaliq dan Abdullah As-Sabt. Saya katakan kepada mereka, “Mengapa kamu tidak membuat pesantren, dakwahmu tidak menghasilkan orang alim atau penuntut ilmu sejak lama.” Dia berkata, “Kami merasakan itu oleh karenanya kami mendaftarkan murid-murid kami ke Universitas Madinah.” Ini ucapan yang benar.

Maka dakwah golongan-golongan itu tidak mendapat taufik dari Allah bahkan kami anggap mereka merusak dakwah. Alhamdulillah, sekarang Abdur Rahman Abdul Khaliq dan pegawai-pegawainya telah bangkrut di Yaman. Dan Muhammad Surur yang dahulu mencela Syaikh Al-Albani dan Syaikh bin Baz sebagai ulama yang tidak mengetahui kondisi umat, kini telah tenggelam. Walaupun begitu, mereka tidak merasa malu minta rekomendasi kepada Syaikh bin Baz, melaporkan bahwa mereka melakukan ini dan itu.
Saya nasihatkan kepada para saudagar untuk menolong kaum muslimin, dan tidak membantu memerangi dakwah sunnah.

Saya katakan, “Sabarlah, dakwahmu telah terberangus di Kuwait, disokong oleh dinar Kuwait. Demikian juga harta yang kamu peroleh dari saudagar Saudi untuk membangun dakwahmu yang rusak.”

Pertanyaan :
Apa sikap Syaikh bin Baz dan Syaikh Al-Albani terhadap Ihya’ut Turats?

Jawab :
Adapun Syaikh Al-Albani telah berlepas diri sejak lama dan Syaikh bin Baz mengingkari sikap fanatik golongan dan tipu daya mereka yang ada padanya. Mereka pernah mendatangi beberapa syaikh yang mereka anggap mendukung mereka dan mengatakan, “Ya Syaikh, sungguh dia (Abdur Rahman Abdul Khaliq) telah banyak berbuat kebaikan, mendatangi Afrika dan Indonesia, padahal ia datang untuk mmecah belah ahlus sunnah- dia telah datang ke Pakistan, ke negeri ini dan itu.? Syaikh mendengarkan laporan itu dan membenarkannya. Lantas Abdur Rahman Abdul Khaliq membantah saya dengan pembenaran Syaikh. Saya yakin kalau Syaikh tahu kondisi sebenarnya pasti beliau akan berlepas diri.”

Pertanyaan :
Ketika Abdur Rahman Abdul Khaliq berkunjung ke Indonesia, ia berkata bahwa kesalahan-kesalahan dirinya yang diperingatkan Syaikh bin Baz itu terjadi pada waktu yang lalau dan tidak pernah dia ucapkan pada saat sekarang. Apa komntar Anda terhadap pengakuaannya?

Jawab :
Pada awal dakwahnya ia baik dan bermanfaat bagi muslimin Kuwait. Setelah itu ia menyimpang. Dan penyimpangan yang besar adalah memcah belah persatuan ahlus sunnah. Saya telah membicarakannya dalam kitab “Al-Makhraj minal Fitan” (Solusi Mengatasi Fitnah – sudah saya terjemahkan, penerj) dan juga telah saya peringatkan tentang dia dalam banyak kaset. Saya nasihatkan kalianmembaca buku yang ditulis saudara kita Rabi’ bin Hadi Al-Madhali yang berjudul “Jama’ah Wahidah Laa Al-Jama’at” (Satu Jama’ah Saja, Bukan Banyak Jama’ah). Buku ini sudah cukup Insya Allah.

Demi Allah saya membenci dia karena Allah karena dia telah membuat tipu daya kepada umat dan memecah belah persatuan ahlus sunnah. Kaset-kaset dan bukunya tidak perlu didengar dan dibaca. Dia menulis buku dengan judul “Al-Fikrush Shufi” (Pemikiran Sufi). Dalam bukunya ia nukil Abu Abdirrahman As-Silmi, Muhammad bin Al-Husain, seorang yang tidak beres agamanya. Dalam buku tersebut ia mencela beberapa orang. Dia pernah berkata kepda Syaikh bin Baz bahwa ia telah mencabut empat perkara (dari pemikirannya) yang dikritik oleh Syaikh bin Baz. Saya katakan, tidak cukup kritikan bin Baz dalam masalah-masalah yang sederhan sementara dia telah melakukan perkara yang membahayakna dan belum taubat yaitu memecah belah ahlus sunnah melalui dinar Kuwait, bukan hanya melalui pemikirannya.

Maka Yayasan Ihya’ut Turats di Kuwait pun menggalang dana. Kemudian diutuslah Abdur Rahman Abdul Khaliq untuk menyesatkan muslimin dan memecah persatuan. Akan tetapi dakwah tidak membutuhkan Abdur Rahman Abdul Khaliq dan pemikirannya. Sebaiknya ia duduk di rumahnya. Atau jika ia masih punya rasa cemburu kepada agamanya, sebaiknya ia pulang ke Mesir, yang lebih membutuhkan dai-dai. Barangkali di sana dia dapat bertukar pikiran dengan orang-orang Universitas Al-Azhar, yang banyak mempunyai pemikiran sia-sia.

Ia harus bertaubat kepada Allah dan mengambil kitabnya, belajar kepda Syaikh bin Baz, Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimin atau Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad.
Saya menantang dia untuk menunjukkan satu muridnya yang berhasi menulis satu kitab yang bagus. Ia telah membantah Syaikh Rabi, dan berkata, “Anda yang berkata demikian, wahai Syaikh Rabi?”

Bantahan yang menggelikan seperti orang-orang Sha’dah (Yaman) yang mengatakan kepadaku, “Anda yang berkata demikian, wahai Muqbil”? Saya berkata dalam hati, “Ya aku mengatakannya dan aku memuji Allah atas perkataanku.” Semoga Allah membalas Syaikh Rabi’ dengan perkataan yang baik.

Pertanyaan
Apa yang Anda ketahui tentang buku karya Abdur Rahman Abdul Khaliq yang berjudul “Ibnu Taimiyah dan Bolehnya Amal Jama’i”?

Jawab
Abdur Rahman Abdul Khaliq dan Abdul Wahhab Ad-Dailami telah menulis buku khayalan, dan saya heran mereka menulis buku khayalan untuk diperdagangkan kepad apublik. Salah seorang dari mereka datang kepadamu dan bertanya, “Aku tidak ingin beramal jama’i (amalan yang harus dilakukan bersama), tapi siapa yang mampu menjadi guru, dai, mujahid, pedagang, petani dan selain itu”?

Apakah kami telah beramal jama’i, fakta telah membuktikan dengan baik. Bukankah dakwah tersebar karena karunia Allah kemudian dengan amal Jama’i, ada yang menjadi guru, penulis, petani dan sebagainya. Tidak akan baik amalan kecuali dengan amal jama’i, Allah yang Maha Tahu dan Memahami memerintahkan, “Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2)
(Dinukil dari Al-Gharah, 410)

Pertanyaan
Apakah benar Anda tidak memperbolehkan tanzhim (aturan-aturan) untuk semua urusan dakwah?

Jawab
Subhanallah, ini adalah kebohongan yang besar. Dakwah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam berdiri dengan aturan-aturan, keluarnya dari Mekkah ke Madinah denga aturan main bukan dengan tanpa perhitungan, keluarnya dari Madinah untuk haji menempuh perjalanan sembilan hari membawa banyak orang, kalau tidak dengan aturan tentu tidak akan mampu menempuh perjalanan sejauh itu.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya jasadmu mempunyai hak atas kamu, matamu punya hak atasmu, keluargamu mempunyai hak atasmu, istrimu mempunyai hak atasmu, maka penuhilah haknya masing-masing.” Ini adalah aturan juga. Pengutusan pasukan dengan aturan. Tiga orang beriman dan tiga orang kafir yang bersengketa ketika saling berdebat sebagaiman tersebut dalam surat Al-Hajj dengan aturan. Kebanyakan urusan jihad dan dakwah adalah dengan aturan. Yang kami ingkari adalah tanzhim (aturan) yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seorang lebih baik hidup sendiri daripada hidup dalam aturan thaghut.

Telah tersebar kabar bahwa ahlus sunnah mengingkari adanya tanzhim dan amal jama’i. Saya katakan orang yang mengingkari aturan dan amal jama’i bukan sunni karena Allah berkata, “Dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan dan janga tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2)

Rasulullah bersabda (yang artinya), “Seorang mukmin atas mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.”

Rasulullah bersabda, “Permisalan orang-orang yang beriman dalam kasih sayang, kecintaan dan hubungan mereka seperti satu jasad jika salah satunya sakit maka selurh jasad merasakan dengan panas dan demam.”

Amal jama’i yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah apa yang dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin dan Abdur Rahman Abdul Khaliq. Silakan Anda membaca risalahku kepada Yayasan Ihya’ut Turats yang menerangkan kebenaran walaupn mereka tidak suka. Abdur Rahman Abdul Khaliq mengaku bahwa ia salafi, ia berkata, “Saya bersumpah untuk menghormati undang-undang negara.” Yakni undang-undang yang berisi aturan bila seorang wanita berzina atas persetujuan suaminya maka tidak dihukum. Maka saya bersaksi berlepas diri dari kesalafiannya. Salafinya seperti baju, jika mau ia pakai dan jika tidak mau maka ia lepas.

Saya berlepas diri dari amal jama’i apakah bersama Ikhwanul Muslimin ataupun salafi Kuwait. Kami berlepas diri dari amal jama’i yang berisi demo-demo, pemilu dan selain itu. Allah telah berkata, “Dan apa yang kamu perselisihkan dalam satu urusan maka hukumnya dikembalikan kepada Allah.” (Asy-Syura: 10)
“Jika kamu berselisih dalam satu urusan maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” (An-Nisa: 59).

Da’i besar Abdur Rahman Abdul Khaliq telah gugur dalam medan dakwah, yang semula ia memperjuangkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan memberantas kebatilan. Akan tetapi, ketika terbuka pintu-pintu dunia baginya dalam pemilu ia gugur. Tulisan-tulisannya dalam puncak penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya serta syariat-Nya yang disebarluaskan melalui majalahnya Al-Muntada dalam topik “Mengikuti Yayasan Al-Hikmah”. Dalam majalah itu disebutkan bahwa seseorang itu haruslah fleksibel. Ya, fleksibel menerima satu pemikiran kemudian berpindah ke pemikiran lainnya. Merek di antara dua perkara: boleh jadi terikat oleh dinar atau memang “fleksibel”. Jika tidak untuk apa menyebarkan kebatilan dalam majalah?
(Dinukil dari Al-Gharah 2/6-8)

Pertanyaan :
Apakah yang dimaksudkan dengan metode muwazanah (keseimbangan) antara kebaikan dengan kejelekan? Siapa yang pertama kali melakukannya dan apa tujuan akhirnya?

Jawab :
Satu kaum mengetahui bahwa mereka dikritik dan mereka ingin menutup aib mereka. Saya katakan kepada ahli bid’ah: Ia seorang yang sesat, ahli bid’ah, jangan kamu sebutkan kebaikan dan kemuliaannya karena dia telah kafir!

Adapun orang yang mencintai kebaikan dan salah dalam satu urusan tidak mengapa kita menyebut kebaikannya seperti Aban bin Ayasy ketika sebagian ulama yang semasa dengannya berkata, “Jika dia berkata mendatangkan masalah yang besar.”
Akan tetapi ia adalah seorang ahli ibadah dan orang yang fadhil (utama). Seorang ulama yang semasa dengannya ditanya lalu menjawab, “Sebutkan kebaikannya dan peringatkan kesalahannya agar diterima haditsnya.”br />
Adapun prinsip menimbang antara kebaikan dan kejelekan kami tidak menolak secara mutlak dan menerima secara mutlak, tetapi kalau satu hizb (golongan) menyeru kepada fanatik golongan dan menginfakkan hata karena golongannya maka kita tidak perlu menyebut kebaikan-kebaikannya. Atau yang lainnya menyeru demokrasi yang bermakna masing-masing golongan berhukum dengan hukumnya sendiri padahal Allah berfirman (yang artinya),

“Hukum hanyalah milik Allah.” (Al-An’am: 57)

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) (yang artinya), “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan siapakan yang lebih baik daripada Allah bagi orang-orang yang yakin”? (Al-Maidah: 50).

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-An’am: 44)

Firman Allah (yang artinya),”Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syura: 21).

Saya gelari Abdur Rahman Abdul Khaliq salfathi (salafi demokrasi). Maka orang semisal dia jika masih dalam keadaan semula tidak perlu disebutkan kebaikannya walaupun dahulu ia baik.

Masalahnya wahai saudara-saudaraku, Abdur Rahman Abdul Khaliq, Ihya’ut Turats, Yayasan Al-Hikmah, Sururiyah, Yayasan Al-Ihsan dan Ikhwanul Muslimin adalah cacat di mata ulama dan ahlus sunnah. Orang pertama yang mengkampanyekan metode ini (muwazanah) adalah Yayasan Al-Hikmah, Ikhwanul Muslimin dan Sururiyyun.

Pertanyaan
Ada sebagian ikhwan yang berakidah salaf tetapi kami tidak sependapat dengan mereka dalam masalah menyebarkan akidah salaf (dakwah). Mereka telah memilih jalan mereka sendiri. Kami berbeda dalam satu bagian amalan manhaj, maka apakah kami boleh mengaplikasikan kaidah kritikan dan pujian ataukan menasihati mereka?

Jawab
Sebaiknya menasihati dan tidak menerapkan kaidah tersebut kecuali kepada orang yang mengaku salafi tetapi memecah belah ahlus sunnah seperti Abdur Rahman Abdul Khaliq dan Abdullah As-Sabt. Mereka telah memecah belah ahlus sunnah di Yaman, Sudan, Yordania, Abu Dhabi, Mesir dan Indonesia. Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam adalah pemisah manusia yang kafir denga mukmin. Seorang istri masuk Islam sedangkan suaminya kafir, lalu si istri bergabung dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.

Seorang anak masuk Islam sedang ayahnya kafir lalu ia bergabung dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Dan seorang masuk Islam sedang saudaranya kafir lalu ia bergabung dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Ini adalah perpecahan yang baik. Adapun memecah-belah ahlus sunnah sungguh menyakitkan hati. Ia memecah dengan dinar, tidak dengan pemikirannya. Sebaigan orang ada yang lebih alim dari orang ini (Abdur Rahman), akan tetapi air liur mereka menetes lalu mengikutinya. Maka orang seperti ini perlu diperingatkan dan diterangkan siapa Abdur Rahman Abdul Khaliq. Alhamdulillah, saya telah menerangkan dan memperingatkan bahwa mereka dalam banyak kaset sampai mereka bertaubat dari memecah belah Ahlus Sunnah.

Demikian juga orang yang berdakwah mengatasnamakan salaf padahal membawa misi fanatik golongan (hizbiyah), mestilah kita terangkan kepada manusia kondisinya. Kami memerangi hizbiyah karena hizbiyah menghancurkan dakwah. Berapa banyak orang yang dahulu seorang dai, penulis dan ahli kutbah, setelah bergaul degan hizbiyah akhirnya mati sebagai seorang hizbi yang menyukai nasyid dan sandiwara. Perkara-perkara ini haruslah kita terangkan dan tempatkan pada posisinya dengan adil. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) (yang artinya), “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah meski terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (An-Nisa’:135).

Senantiasa berlaku adillah dan menempatkan manusia pada posisi sebenarnya adalah perkara yang sangan penting. Para ahli hadits terkadang memuji seorang periwayat hadists terkadang melemahkannya (mengkritik). Mengapa yang satu memuji? Karena demikianlah sebatas yang ia ketahui. Dan mengapa yang lainnya mengkritik? Karena memang demikian sebatas pengetahuannya. Terkadang mengkritik dengan gaya bahasa yang lunak seperti fulan “jujur tapi lemah hafalannya”, “jujur tapi lemah”, “fulan lemah”. Jadi ungkapan kritikan berbeda-beda sesuai kondisi seseorang.
(Dinukil dari Al-Gharah, 72)

Pertanyaan
Apakah boleh saling berjanji di antara kita untuk menolong Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam sebatas kemampuan kita?

Jawab
Saya tidak tahu adanya larangan dalam hal itu. Akan tetapi jangan lakukan seperti apa yang dilakukan Abdur Rahman Abdul Khaliq yang menjadi hizbi. Lantas ia pun mengubah kepribadian para pemuda yang telah baik pemahaman agamanya menjadi hizbi pula., sehingga keluar dari golongan Allah (hizbullah). Allah-lah tempat kita meminta pertolongan. Segala pujian hanyalah milik Allah.
(Dari Qam’ul Mu’anid, 96)

Pertanyaan
Apakah Abdur Rahman Abdul Khaliq ahli bid’ah?

Jawab
Ya, dia ahli bid’ah, hendaknya orang yang menyaksikan menyampaikan kepada yang tidak hadir, selama dia menyeru kepada golongannya.
Pencipta Ka’bah berfirman,
“Dan berpeganglah dengan tali agama Allah dan jangan berpecah belah.” (Ali Imran: 103)

Jika ulama memvonis ahli bid’ah terhadap orang yang fanatik terhadap orang yang fanatik pada salah satu mazhab yang empat sebagaimana yang dikatakan Imam Shan’ani dalam bukunya “Irsyadun Nuqad ila Taisiril Ijtihad”, maka fanatik terhadap golongan, memerangi ahlus sunnah, mengakui demokrasi dan menuduh ahlus sunnah tidak beramal jama’i sungguh dia ahli bid’ah. Bagaimana menuduh ahlus sunnah mengingkari amal jama’i sementara Rabbul Ka’bah berfirman, “Dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolonga dalam dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2)

Dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda (yang artinya), “Seorang mukmin atas mukmin lainnya seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan.”

Namun amal jama’i di sini adalah dalam batas-batas Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bukan seperti yang dikatakan seseorang, “Pemimpin kami memerintah mencukur jenggot, lalu kami mengikuti perintahnya.”
Sementara Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda (yang artinya), “Biarkanlah (panjangkanlah) jenggot dan tipiskanlah kumis.”

Atau pemimpin kami memerintahkan kami melukis (memfoto) gambar bernyawa lalu kami melakukannya, dan keharaman-keharaman lainnya. Saya memuji ALLAH atas kebaikan yang telah terealisasikan melalui tangan dai-dai sunnah Yaman. Pergilah kepada saudara-saudaramu yang terus-menerus mengumpulkan dinar, kalian akan menemukan mereka mati, tidak hidup dan tidak merasakan kapan mereka jatuh. Berbeda dengan dakwah Ahlusunnah. Sesungguhnya ia seperti yang ALLAH katakan (yang artinya) : “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana ALLAH telah membuat perumpaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” (Ibrahim:24).

Dan Alhamdulillah, dakwah Ahlus sunnah tersebar di Yaman dan negeri-negeri lainnya. Saya beri kabar gembira kepada kalian bahwa ada pertanyaan dari Inggris, Amerika dan Jerman serta negeri-negeri lainnya menanyakan siapa Abdurahman Abdul Khaliq dan Yayasan Ihya’ut Turots lalu saya peringatkan dengan keras agar para pemuda jangan sampai jatuh dalam jerat mereka. Kami katakan, minta tolonglah kepada ALLAH dan berdakwahlah dalam batasan-batasan agama dan bersabarlah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabar lapar, haus, sakit dan kurang pakaian, jangan kamu jual dakwahmu kepada fulan dan fulan.

Pertanyaan :
Apakah anda punya niat membantah ucapan Abdurahman Abdul Khaliq dalam satu kitab khusus ?

Jawab : Tidak, saya tidak punya niat membantah ucapannya karena ucapannya ngawur dan tidak dinilai dengan sesuatu apapun. Adapun majalah Al Furqan adalah majalah peminta-minta (dana via proporsal, red) di Yaman, penulisnya pembohong dan tolol, Ammar bin Nasyir, tidak ada keinginanku untuk membantahnya. Kami hanya mau membantah tulisan ahli ilmu dan pencari ilmu seperti tulisan Ali Ridha yang mengkritik empat hadits dan kami telah membantahnya dalam satu buku kecil, alhamdulillah.

Seorang penyair berkata,
Kalaulah setiap anjing yang mengonggong kau tutup mulutnya dengan batu,

Tentu kerikil ditimbang dengan uang emas..

Atau kata penyair yang lain,

Kalau setiap lalat kami hardik,

Tentu lalat jadi mulia bagimu

Majalah ini ( Al Furqan, red) muncul karena pendanaan dari dinar Kuwait. Dahulu manusia mencintai Abdur Rahman Abdul Khaliq dan mengambil manfaat buku-bukunya tetapi sekarang dia jadi seorang pencari dana seperti Muhammad Al-Mahdi dan orang-orang Sudan yang mereka namakan sebagai “orang-orang yang berbuat kebaikan”. Maka sungguh merugi orang yang menjual dakwah dengan dinar Kuwait. Allah berfirman (yang artinya), “Dan ucapan siapa yang lebih baik daripada orang menyeru kepada jalan Allah dan mengatakan kami orang-orang yang berserah diri kepada Allah.” (Fush-shilat: 33).

Betapa rugi orang yang menukar dakwah dengan pembangunan masjid-masjid. Maka kita harus menyingkap kedok mereka dan dan jalan mereka yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Saya memandang tidak perlu membantahnya dan alhamdulillah Syaikh Rabi?’ bin Hadi Al-Madkhali telah membantah semua pemikiran Abdur Rahman Abdul Khaliq dalam kitabnya “Jama’ah Wahidah La Jama’at”, maka kita bersyukur atas upayanya.

Dan alhamdulillah kita telah mendapat jawaban-jawaban dan nasihat yang berharga.
Semoga Allah membalas kebaikan Syaikh dengan baik Amin

(Dikutip dari terjemah Tanya Jawab dengan Syaikh Muqbil tentang Kesesatan Abdur Rahman Abdul Khaliq, Yayasan Ihya’ut Turats dan Majalah Al-Furqan. Penerbit : Maktabah Sahab, 2003. Dikumpulkan oleh : Abu Juwairiyah rahimahullah, direkam pada tanggal 22 Syawal 1416 H bertepatan dengan 23 Maret 1995. Penerjemah: Ahmad Hamdani bin Muslim. Dinukil dari Buku “Hasan Al Banna seorang Teroris “? oleh Ayyid Asy Syamari hal 71 – 117).

http://salafy.or.id/

26/12/2008 - Posted by | abu-salafy-01, fatawa, firqah | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s