Hidupkan Sunnah HANCURKAN BID'AH

Meniti Jalan Sunnah Rasulullah, Menepis Bid'ah

Syaikh Yahya – Siapakah Abu Nida’?

kategori Fatwa-Fatwa
Penulis: Syaikh Yahya Al Hajuri hafidhohullah

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ،

Amma ba’d:
Allah Ta’ala telah berfirman,
فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Yang artinya: [Maka bertanyalah kalian ksepada ahludzikr jika kalian tidak mengetahui ] (An Nahl :43)

وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ
[Dan jika datang kepada mereka suatu perkara dari keamanan atau ketakutan mereka menyebarluaskannya dan kalau seandainya mereka kembalikan kepada Rasul dan kepada ulil amri dari mereka, benar-benar akan mengetahuinya orang-orang yang memahaminya dari antara meraka ]. (An Nisa’: 83)

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh saudara–saudara dari Indonesia kepada guru kami Abu Abdurrahman Yahya bin Ali al Hajury semoga Allah senantiasa menjaganya (beliau pengganti pengasuh ma’had Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah sepeninggal beliau, red), yang telah dikatakan kepadanya oleh Guru dan Ayah kami al Muhaddis al ‘Allamah (ahli hadits yang sangat berilmu) Imam dalam ilmu Jarh dan Ta’dil Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi al Wadi’iy semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadaNya dan memasukkannya ke surgaNya yang luas : “Sesungguhnya dia (syekh Yahya) adalah ahli hadits yang faqih (membidangi fiqh) , pemberi nasehat dan amanah, disukai oleh saudara-saudaranya karena apa yang mereka lihat padanya dari keyakinannya yang baik, kecintaannya terhadap sunnah dan kebenciannya terhadap hizbiyyah (kekelompokan) yang bisa merubah (seseorang menjadi jelek), dan dia membantu saudara-saudaranya muslimin dengan fatwa-fatwa yang bersandar pada dalil”.

Maka soal-soal ini dan jawaban syekh Yahya atasnya adalah tepat dengan apa yang telah dijanjikan oleh syekh Muqbil sebelum meninggalnya.

Kami memohon kepada Allah untuk membenarkan jawaban syekh Yahya atas pertanyaan-pertanyaan ini dan menjadikannya dalam timbangan kebaikannya sesungguhnya Dia yang mengurusi itu dan yang Maha Mampu atas yang demikian.

Dan sebelum masuk kepada soal, kami akan menyebutkan sejarah ringkas tentang dakwah salafiyyah di Indonesia.

Seperti diketahui oleh semua bahwa tersebarnya dakwah salafiyyah di Indonesia adalah setelah kedatangan saudara dan guru kami Ja’far bin Umar Tholib -semoga Allah selalu menjaganya- (catatan : Kini dia telah menyimpang dari jalan Ahlussunnah wal Jama’ah dalam beberapa hal, semoga Allah mengembalikannya kepada jalan yang lurus dengan baik, pent) dari (perguruan) Darul Hadits di Dammaj (Yaman), ini adalah dari keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian keutamaan dakwah syekh Muqbil semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu merahmatinya, dan di awal dakwahnya dahulu semua para da’i bersatu dalam satu kalimat tapi tatkala muncul fitnah sururiyyah, berpecahlah salafiyyun. Diantara pembesar da’i Surury disana dalam fitnah ini adalah seorang yang disebut Yusuf bin Utsman Ba’isa, dia adalah direktur pesantren al Irsyad dahulu (Ma’had Al Irsyad, Tengaran, Salatiga, red), dimana dia membela Sayyid Qutb, Salman al Audah, Safar al Hawaly, dan Abdurrahman Abdul Khloliq. Dan sangat disayangkan, sebagian orang yang dulu teman kita telah membelanya, mereka dari yayasan At Turots al Islamiyyah Indonesia dan yang mengepalai mereka adalah Abu Nida’, dia adalah direktur yayasan tersebut dan Abu Ibrohim Sholeh Su’aidi sebagai wakilnya yang sekarang tinggal di (perguruan) Darul Hadits di Ma’rib (Yaman, perguruan syekh Abul Hasan) juga orang-orang yang semacamnya, semakin parah fitnah tersebut dengan kedatangan Abdurrahman Abdul Kholiq di Indonesia di pesantren al Irsyad seperti telah disebutkan, lalu Jum’iyyah Ihya’ Turots -Kuwait- mengirim seorang dari mesir yang bernama Syarif bin Fuad Hazza’, (orang) yang telah ditahdzir (diperingatkan umat darinya) oleh syekh Muqbil dan dianggap sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) oleh syekh Rabi’ semoga Allah menjaga beliau dan menyembuhkannya, maka bertambahlah basah tanah liat (yakni semakin parah) dengan kedatangan orang Mesir ini sampai terjadinya mubahalah (sumpah saling melaknati) antaranya dengan Ja’far Umar Tholib, kemudian terus berlangsunglah fitnah sampai pada hari ini. Sekarang menuju soal-soal. Apa yang akan kami sebutkan dari ucapan dan perbuatan mereka yang menyeleweng, hal itu setelah dicek keberadaan perkataan tersebut dan setelah dinasehati para pelakunya :

Soal ketiga :
Abu Nida dan teman-temannya berkata: “Pada hakekatnya buku-buku ini serta kaset ini adalah pasif (seperti benda mati)”, padahal mereka mengatakannya setelah sampai kepada mereka sebagian buku dan kaset diantaranya:
1. Jama-atun wahidah la jama-at, karya syekh Rabi’
2. Hajrul mubtadi, karya syekh Bakr Abu Zaid
3. Manhaj Ahlussunnah fi Naqdirrijal, karya syekh Rabi’
4. Assiyasah baina firasatil mujtahidin (Madarik Nadhor), karya syekh Abdul Malik Al Jaza-iry
mereka inginkan dengan kata-kata ini agar teman-teman kita dari salafiyyin sibuk dengan berdiskusi dengan mereka dan tidak merasa cukup dengan buku dan kaset tersebut. Maka apa yang antum akan katakan pada ucapan ini dan orang yang mengatankanya.

Jawab :
Saya katakan: Perkataan semacam ini adalah igauan, bagaimana seperti benda-benda mati? apakah kita ambil faedah dari benda-benda mati berbentuk sunnah-sunnah?, apakah kita ambil faedah agama dari batu dan pohon?, inilah benda–benda mati. Akan tetapi kitab-kitab itu?…apakah mereka (Ulama’) mengupayakan kesungguhan mereka yakni menghabiskan waktunya pada sesuatu seperti benda-benda mati? mereka yang menyusun buku, dan menulis, capek dan bergadang hanya karena sesuatu yang tidak dihasilkan dari padanya kecuali seperti benda–benda mati?.

Apa faedahnya kalau begitu? Ini, di dalam ucapan ini -kalau seandainya orang yang bodoh itu berakal, di dalamnya penghinaan terhadap para salafussoleh dan pelecehan terhadap mereka yakni bahwa mereka menyia-nyiakan upaya mereka dan memberikan waktu mereka, waktu mereka yang berharga pada sesuatu yang itu seperti benda-benda mati, seperti benda mati tiada faedahnya hasbunallah mani’mal wakil, buku-buku yang membawa kebaikan untuk manusia, buku-buku ini adalah dakwah kepada Allah, tidak boleh melecehkannya.

Dakwah kepada Allah diatas ilmu dan cahaya, buku-buku ini adalah nasehat untuk kaum muslimin, [ Agama adalah nasehat untuk Allah untuk kitab-Nya untuk RasulNya, untuk para pimpinan kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum] (HR Muslim) buku-buku ini adalah buah hidupnya para Ulama’ cendekiawan dan inti sari hidup mereka. Engkau tidak ambil faedah dari kehidupan para ulama? kamu katakan bahwa ini adalah benda-benda mati, dari apa kalau begitu kamu ambil faedah?, kamu ambil faedah dari igauannya hizbiyyin (para fanatisme golongan).

Ini, seperti kalian ketahui adalah sebagian dari lemparan–lemparan yang mereka lemparkan, dan ungkapan-ungkapan yang diungkapkan hizbiyyun, sebuah kalimat yang dilontarkan oleh hizbiyyuun dan sururiyyun. Dan begitulah, jika engkau debat dia, dia akan mengatakan: Saya tidak niatkan, kita tidak memaksudkan makna itu, tidak saya niatkan, kita tidak memaksudkannya.
Allah berfirman :
وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ
[Katakanlah bahwa kebenaran itu dari Tuhanmu] (Al Kahfi :29)
Allah juga berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
artinya [ Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan katakanlah kata-kata yang benar , Dia akan memperbaiki amal kalian dan akan mengampuni dosa kalian ] (Al Ahzab : 70-71).

Perkataan ini tidaklah benar, dimana kamu tuduh bahwa buku-buku ini adalah layaknya benda-benda mati dan benda mati itu tidak diambil manfaat darinya, padahal ini mambawa agama, maka engkau (kalau begitu) melecehkannya dan melecehkan pengarang-pengarangnya dari para ulama Ahlussunnah.

Hati-hati! perkataan ini tidak keluar kecuali dari manusia… semoga Allah menunjuki mereka, pada kakekatnya orang ini dari jenis… –saya tidak ragu- dan dengan memuji Allah saya tahu kata-katanya dengan hanya mendengar seperti perkataan ini. Saya tidak ragu bahwa dia dari jenis penebar keraguan, jenis yang bingung, jenis yang bodoh, jenis yang kehilangan tarbiyah yang bagus di tangan didikan Ahlussunnah, jenis… ya, dia tidak terdidik oleh Ahlussunnah- jenis yang telah lewat sebutannya, dari sururiyyah dan semacamnya.

Kalau tidak, maka demi Allah, tidaklah keluar sebuah kitab dari kalangan Ahlussunnah dari seorang alim dari Ulama’ sunnah, kecuali akan merasa senang dengannya seorang sunny karena itu adalah pertolongan dan dia akan mengharap agar adanya seorang sunny/Ahlussunnah yang mengerjakan masalah ini agar menerangkan kepada manusia bahanya kemungkaran itu.

Ini adalah masalah tolong–menolong atas kebaikan dan ketaqwaan sebagaimana Allah perintahkan. Maka ini adalah perkataan yang tidak pantas untuk ditoleh, karena kalimat yang semacam ini, yang bersorak dengannya sururiyyah akan hilang seperti faswatu ‘ajuz. Ya, tidak ada nilainya, ya.

(Direkam dalam kaset yang dibawa oleh Al Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani, pengasuh PP Al Anshor Jogjakarta, beliau yang menanyakan kepada Syaikh Yahya Al Hajuri, Yaman saat belajar disana. Diterjemahkan secara ringkas oleh ustadz Qomar Su’aidi, Lc, dengan edit tanda baca, teks Al Quran oleh tim Salafy.or.id)

http://salafy.or.id/

26/12/2008 - Posted by | abu-salafy-01, aqidah, fatawa, firqah, manhaj | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s