Hidupkan Sunnah HANCURKAN BID'AH

Meniti Jalan Sunnah Rasulullah, Menepis Bid'ah

Syaikh Yahya – Siapakah Yazid bin Abdul Kadir Jawwas?

kategori Fatwa-Fatwa
Penulis: Syaikh Yahya Al Hajuri hafidhohullah

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ،

Amma ba’d:
Allah Ta’ala telah berfirman,

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Yang artinya: [Maka bertanyalah kalian kepada ahludzikr jika kalian tidak mengetahui ] (An Nahl :43)

وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ

[Dan jika datang kepada mereka suatu perkara dari keamanan atau ketakutan mereka menyebarluaskannya dan kalau seandainya mereka kembalikan kepada Rasul dan kepada ulil amri dari mereka, benar-benar akan mengetahuinya orang-orang yang memahaminya dari antara meraka ]. (An Nisa’: 83)

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh saudara–saudara dari Indonesia kepada guru kami Abu Abdurrahman Yahya bin Ali al Hajury semoga Allah senantiasa menjaganya (beliau pengganti pengasuh ma’had Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah sepeninggal beliau, red), yang telah dikatakan kepadanya oleh Guru dan Ayah kami al Muhaddis al ‘Allamah (ahli hadits yang sangat berilmu) Imam dalam ilmu Jarh dan Ta’dil Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi al Wadi’iy semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadaNya dan memasukkannya ke surgaNya yang luas : “Sesungguhnya dia (syekh Yahya) adalah ahli hadits yang faqih (membidangi fiqh) , pemberi nasehat dan amanah, disukai oleh saudara-saudaranya karena apa yang mereka lihat padanya dari keyakinannya yang baik, kecintaannya terhadap sunnah dan kebenciannya terhadap hizbiyyah (kekelompokan) yang bisa merubah (seseorang menjadi jelek), dan dia membantu saudara-saudaranya muslimin dengan fatwa-fatwa yang bersandar pada dalil”.

Maka soal-soal ini dan jawaban syekh Yahya atasnya adalah tepat dengan apa yang telah dijanjikan oleh syekh Muqbil sebelum meninggalnya.

Kami memohon kepada Allah untuk membenarkan jawaban syekh Yahya atas pertanyaan-pertanyaan ini dan menjadikannya dalam timbangan kebaikannya sesungguhnya Dia yang mengurusi itu dan yang Maha Mampu atas yang demikian.

Dan sebelum masuk kepada soal, kami akan menyebutkan sejarah ringkas tentang dakwah Salafiyyah di Indonesia.

Seperti diketahui oleh semua bahwa tersebarnya dakwah salafiyyah di Indonesia adalah setelah kedatangan saudara dan guru kami Ja’far bin Umar Tholib -semoga Allah selalu menjaganya- (catatan : Kini dia telah menyimpang dari jalan Ahlussunnah wal Jama’ah dalam beberapa hal, semoga Allah mengembalikannya kepada jalan yang lurus dengan baik, pent) dari (perguruan) Darul Hadits di Dammaj (Yaman), ini adalah dari keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian keutamaan dakwah syekh Muqbil semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu merahmatinya, dan di awal dakwahnya dahulu semua para da’i bersatu dalam satu kalimat tapi tatkala muncul fitnah sururiyyah, berpecahlah salafiyyun. Diantara pembesar da’i Surury disana dalam fitnah ini adalah seorang yang disebut Yusuf bin Utsman Ba’isa, dia adalah direktur pesantren al Irsyad dahulu (Ma’had Al Irsyad, Tengaran, Salatiga, red), dimana dia membela Sayyid Qutb, Salman al Audah, Safar al Hawaly, dan Abdurrahman Abdul Khloliq. Dan sangat disayangkan, sebagian orang yang dulu teman kita telah membelanya, mereka dari yayasan At Turots al Islamiyyah Indonesia dan yang mengepalai mereka adalah Abu Nida’, dia adalah direktur yayasan tersebut dan Abu Ibrohim Sholeh Su’aidi sebagai wakilnya yang sekarang tinggal di (perguruan) Darul Hadits di Ma’rib (Yaman, perguruan syekh Abul Hasan) juga orang-orang yang semacamnya, semakin parah fitnah tersebut dengan kedatangan Abdurrahman Abdul Kholiq di Indonesia di pesantren al Irsyad seperti telah disebutkan, lalu Jum’iyyah Ihya’ Turots -Kuwait- mengirim seorang dari mesir yang bernama Syarif bin Fuad Hazza’, (orang) yang telah ditahdzir (diperingatkan umat darinya) oleh syekh Muqbil dan dianggap sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) oleh syekh Rabi’ semoga Allah menjaga beliau dan menyembuhkannya, maka bertambahlah basah tanah liat (yakni semakin parah) dengan kedatangan orang Mesir ini sampai terjadinya mubahalah (sumpah saling melaknati) antaranya dengan Ja’far Umar Tholib, kemudian terus berlangsunglah fitnah sampai pada hari ini. Sekarang menuju soal-soal. Apa yang akan kami sebutkan dari ucapan dan perbuatan mereka yang menyeleweng, hal itu setelah dicek keberadaan perkataan tersebut dan setelah dinasehati para pelakunya :

Soal pertama:
Salah seorang da’i mereka, Yazid Bin Abdul Qodir Jawwas berkata: Bahwasanya tahdzir (memperingatkan umat dari seseorang) itu adalah hak ulama saja. Apa yang syekh akan katakan tentang orang ini dan perkataannya?

Jawab:
الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له،
وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم تسليما كتيرا أما بعد.

Amma ba’d:
Allah Ta’ala berfirman,
هُوَ الَّذِيَ أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ
artinya:
[ ” Dialah yang menurunkan atas engkau al Kitab, diantaranya ayat-ayat yang muhkam (jelas), itulah ummul kitab, dan yang lainya mutasyabihat (belum jelas), adapun orang orang yang ada dalam hatinya condong kepada penyelewengan, maka mereka mengikuti apa yang dari mutasyabihat, karena menginginkan fitnah dan menginginkan takwilnya (menafsiri dengan makna yang salah) dan tidaklah mengetahui takwilnya (hakikat tafsirnya yang benar) kecuali Allah, dan orang-orang yang kokoh dalam berilmu mereka mengatakan kami beriman dengan-nya, semua adalah dari Rob kami , dan tidaklah selalu mengingat kecuali ulul albab ( orang orang yang berakal) ” ] (Ali ‘Imron : 7).
Juga berfirman,
لَوْ خَرَجُواْ فِيكُم مَّا زَادُوكُمْ إِلاَّ خَبَالاً ولأَوْضَعُواْ خِلاَلَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
artinya:[“Kalau seandainya mereka (orang-orang munafiq) keluar bersama kalian tidaklah menambah kalian kecuali kerusakan. Mereka menginginkan fitnah, dan diantara kalian ada yang menjadi para pendengar mereka ” ] (At Taubah: 47).

Dan berfirman sebelum ayat–ayat ini,
لَقَدِ ابْتَغَوُاْ الْفِتْنَةَ مِن قَبْلُ وَقَلَّبُواْ لَكَ الأُمُورَ حَتَّى جَاء الْحَقُّ وَظَهَرَ أَمْرُ اللّهِ وَهُمْ كَارِهُونَ
artinya [ “Benar-benar mereka telah menginginkan fitnah sebelumnya dan mereka memutarbalikkan masalah-masalah sampai datang kebenaran dan nampak urusan Allah sedang mereka dalam keadaan benci” ] (At Taubah: 48)
Al Qur’an yang baru kita baca tadi, diturunkan untuk orang-orang munafiq orang–orang yang melakukan sholat, puasa bahkan berperang bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pada perang Tabuk dan lainnya akan tetapi ketika mereka tidak punya peran, mereka mencari fitnah, dan membuat syubhat bahkan setan meniupkan kepada mereka bangga diri dan kesombongan.

Allah berfirman tentang mereka,
لَئِن رَّجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَاالْأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّالْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
artinya : [ Kalau seandainya kami kembali ke Madinah benar-benar orang yang mulia (maksud mereka, Abdullah bin Ubay, pimpinan munafiq dan teman-temannya) akan mengeluarkan orang yang hina (dia maksudkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dan sahabatnya, padahal sebaliknya) dan milik Allahlah kemuliaan dan milik RasulNya serta kaum mukminin akan tetapi kaum Munafiqin tidak memahaminya ] (Al Munafiqun :8 )

Mereka tidak diberi Allah pemahaman dalam agama, Allah telah hapus pandangan/ilmu mereka. Dan -juga- mereka masuk dari sisi materi, mereka sangka bahwa materilah yang mengangkat dan merendahkan (martabat), itulah yang menolong dan melecehkan. Hal ini hanya karena hinanya mereka, Mereka katakan, artinya : [“Jangan berinfaq terhadap siapa yang ada di sisi Rasulullah sampai mereka pergi dari sisinya ” ], maka Allah katakan,
وَلِلَّهِ خَزَائِنُالسَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ
artinya : [“ Dan milik Allah perbendaharaan langit dan bumi akan tetapi orang orang munafiq tidak mengetahui” ]. (Al Munafiqun : 7)

Maka inilah sifat orang-orang yang ragu dan yang bimbang sejak dahulu, dari kalangan orang-orang munafiq dan yang semacamnya, mereka mengimpor dari setan syuhat-syubhat (kerancuan berpikir) tersebut tapi seakan–akan -menurut mereka- kecerdasan yang luar biasa yang belum didapatkan oleh Ahlussunnah. Dimana mereka mengatakan kata-kata itu kemudian mereka sebarkan di kalangan para pemuda Ahlussunnah untuk melemparkan keraguan pada mereka dan memudarkan (hubungan-pen) mereka, padahal pada kenyataannya ini adalah pelecehan dari Allah (buat mereka), kalau tidak maka Allah berfirman,
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
artinya [ “Dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan taqwa dan jangan kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan “ ] (Al Maidah: 2).
Mereka diminta untuk tolong-menolong menegakkan Sunnah, karena Ahlussunnah dalam keadaan sedikit dan bahwasanya Ahlussunnah di setiap negeri dalam keadaan (jumlah) yang semacam ini seperti yang dikatakan oleh al Auza’iy : “Wahai Ahlussunnah bersikap lembutlah kalian …(tidak jelas) karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit (jumlahnya). Dan telah shahih keterangan demikian dari Nabi dalam shahih Imam Muslim semoga Allah merahmatinya, artinya : [ ” Islam itu bermula dengan keasingan dan akan kembali dengan keasingan seperti ketika bermula, maka beruntung bagi mereka orang-orang yang asing”].

Dan bersamaan dengan itu kami berikan kabar gembira buat Ahlussunnah, -dan mereka mengetahui hal itu semoga Allah selalu melindungi mereka- bahwa (keunggulan) kalimat akan selalu menjadi milik mereka, dan hujjah akan selalu bersama mereka serta kemenangan akan selalu menyertai mereka, dengan dasar sabda Nabi, artinya [ ” Tetap akan ada dari umatku sekelompok yang nampak dan menang diatas kebenaran tidak akan mencelakakan mereka orang orang yang menyelisihi mereka dan melecehkan mereka “].

Orang–orang tersebut menyelisihi Ahlussunnah maka akhirnya mereka terhinakan, yaitu dari para pengikut hawanafsu, keraguan, kebimbangan dari golongan orang-orang hasad dan ahli bid’ah serta orang-orang yang bermakar jahat, yang tertipu atau orang orang yang dalam kebimbangan dan keraguan. Semua ini tidak akan membuat madhorot terhadap Ahlussunnah, dengan memuji Allah yang Maha Mulia dan Agung.

Akan tetap ada sekelompok yang berada dalam kebenaran, maka jika bukan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam serta berpegang teguh dengan keduanya itu yang hak, maka apa lagi yang benar setelah itu? Apa yang hak/benar kalau begitu,
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
[” maka tidaklah ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan, maka dari mana kalian dibohongi “]. (Yunus : 32)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
[“pada hari ini Kami sempurnakan untuk kalian agama kalian dan nikmat kalian dan Kami ridhoi untuk kalian Islam sebagai agama kalian “] (Al Maidah : 3)

مَّا فَرَّطْنَا فِي الكِتَابِ مِن شَيْءٍ
[“Tidaklah Kami mengabaikan dalam al Quran sesuatupun”] (Al An’am : 38)

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ [“Tidakkah datang waktunya untuk orang orang yang beriman agar khusyu’ hati mereka untuk berdzikir kepada Allah dan apa yang turun dari kebenaran “] (Al Hadid :16)
لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
[“Benar-benar telah datang kepada kalian seorang Rasul dari diri kalian, dia merasa keberatan dengan sesuatu yang memberatkan kalian, dan sangat berambisi untuk kebaikan kalian, serta kasih sayang terhadap orang-orang mukmin, maka jika mereka berpaling, katakanlah cukuplah bagiku Allah, padanya aku bertawakkal dan kepadanya aku kembali”] (At Taubah : 128-129)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاء إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ
وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ
[” Wahai manusia kalian adalah orang orang yang butuh kepada Allah, sedang Allah Maha Kaya dan Terpuji. Jika Allah menghendaki Dia akan menghilangkan kalian dan akan mendatangkan makhluq yang baru. Dan itu bukan sesuatu yang susah bagi-Nya “] (Fathir:15-17)

فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقَدْ أَبْلَغْتُكُم مَّا أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَيْكُمْ وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلاَ تَضُرُّونَهُ شَيْئًا إِنَّ رَبِّي عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ
[ Maka jika mereka berpaling, katakanlah aku telah sampaikan kepada kalian apa yang aku diutus dengannya dan Allah akan mengganti dengan kaum selain kalian, dan kalian tidak akan memudharati-Nya sedikitpun “] (Hud: 57)

Dalam hadits Qudsy yang diriwayatkan oleh Abu Dzar -dan tidak shahih kecuali dari jalannya- dalam shahih Imam Muslim dari apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya: [“Wahai hambaku kalian tidak akan bisa sampai memberikan kemudharatan kepada-Ku dan tidak akan bisa sampai memberikan manfaat kepada-Ku”].

Syubhat-syubhat ini (diantaranya, ucapan Yazid Jawwas: Bahwasanya tahdzir (memperingatkan umat dari seseorang) itu adalah hak ulama saja) yang datang dengannya para pengekor sururiyyah, sururiyyah atau ekor–ekornya, sekarang tinggal pengekornya, sururiyyah telah terbongkar/diketahui, yang sekarang tersisa di jalan adalah ekor-ekornya. (Syubhat-syubhat) yang datang dengannya para pengekor sururiyyah untuk tujuan pengkaburan (menebar keraguan) atau dengan tujuan mencabik–cabik Ahlussunnah disini dan disana, kami tidak akan peduli dengannya -dan segala puji milik Allah- kami mengetahuinya serta Ahlussunnah mereka sadar…(kurang jelas, pent)….kami tidak peduli dengan mereka, kita peradilkan mereka kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, dan barangsiapa yang menjauh darinya atau melarang darinya maka Allah akan timpakan kepadanya kehinaan. Ahlussunnah akan memberikan kerendahan kepada meraka, Ya… orang yang mengatakan itu “Bahwa tahdzir tidak boleh kecuali oleh para Ulama’”, dia punya maksud dengan ucapannya. Ya… hak Ulama’, kehormatan dari Allah untuk para Ulama’ semoga Allah meninggikan mereka, dan semoga Allah angkat mereka, dan muliakan mereka, mereka (ulama) adalah Ahlul Hal wal Aqd, dan fatwa itu hak mereka pada merekalah berputar urusan muslimin, para Ulama terangkan hal itu dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah. Tapi seperti kalian kenali mereka (para pembawa syubhat), mereka mengatakan: “Sesungguhnya tahdzir…”, engkau hai tholib ilm ! Maksudnya, jangan kalian katakan syekh berkata, syekh Muqbil berkata seperti ini, syekh Rabi’ berkata seperti ini, syekh bin Baz berkata begini, syekh fulan berkata begitu. Jangan!
Kamu (wahai Ahlussunnah) punya dalil dari kitab Allah dan Sunnah Rasululah Shalallahu ‘alaihi wassalam, kamu bisa tahdzir ahli maksiat! dari kalangan orang-orang jahat, pezina dan pemabuk, menunjukkan atas yang demikian hadits Nabi : [“Barang siapa diantara kamu yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya jika engkau tidak mampu maka dengan lisannya, jika engkau tidak mampu maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemah iman”]
(Tapi kata mereka) “Engkau jangan melakukan tahdzir, tinggalkan tahdzir, semua itu hak selainmu “.
Ya… (justru) lakukan tahdzir dengan semampumu, dan aku masih tetap mengulang-ulang ini, para ulama kita telah datang dengan suatu (keterangan) yang tidak perlu ditambah lagi dari masalah tahdzir, ya mereka telah datang dengan sesuatu yang tidak perlu ditambah lagi baik dari pelajaran dan Tarbiyah.

Mereka (para ulama) maksudkan dengannya (untuk) menyebar ilmu ini kepada yang lainnya, semoga Allah merahmati mereka [dan tolong menolonglah kalian atas kebaikan dan ketakwaan] (Al Maidah:2)
وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
[Dan berbuat baiklah agar kalian menang] (Al Haj:77)
[Tidaklah salah seorang diantara kalian beriman sehinga mencintai saudaranya seperti halnya ia mencintai dirinya ] (Al Hadits)
[Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lainya seperti sebuah bangunan ] (Al Hadits)
[Permisalan kaum mukminin adalah seperti sebuah jasmani jika salah satu dari anggotanya mengeluh dari sakit maka semua anggota tubuhnya merasakan demam dan bergadang ] (Al Hadits)

Semua itu menunjukan tentang (dianjurkannya) saling membantu, dari yang jauh dan dekat, yang kecil dan yang besar pada perkara yang datang dalam kitab Allah dan sunnah RasulNya.

Maka jika seorang Imam/Ulama mentahdzir dari sebuah masalah, kemudian dia mengatakan (kepada yang lain) “diam ya fulan, kami punya pandangan dalam masalah ini”.

Bagus, ya… ketika itu kita diam dan melihat pandangan (alasan) imam itu dalam masalah tersebut, tanpa merendahkan/tidak menerima usulan pada kibar ahlul ilm (para ulama besar) –[ barokah itu bersama Ulama’- Ulama’ besar kalian ]- imam itu menerangkan, dan juga yang lain menerangkan. Adapun mereka (para pengekor sururiyyah) mereka mengatakan: Tidak, Diamlah kalian dan jangan bicara! -begitu saja– tingalkan masalah ini!, jangan kalian lakukan amar (ma’ruf) dan nahi (mungkar) (jangan kalian katakan) yang baik dan jangan kalian ingkari yang mungkar!.

Kenyataannya bahwasanya mereka (pengekor sururiyyah) adalah ahlu tablid -dengan huruf dal yang diqolqolahkan- (artinya orang–orang dungu) ahluttakhdir (orang-orang yang membuat pusing) Ahlussunnah dengan maksud merekalah yang akan merayap, -seperti halnya api yang dalam sekam-, merayap dengan kemungkaran, merayap dan menyebar luaskan -layaknya api pada kayu-kayu yang kering- di kalangan manusia dengan bid’ah, khurofat, syubhat dan kemungkaran mereka. Sedangkan Ahlussunah?? mereka (pengekor sururiyah) mengatakan kepada Ahlussunnah: “Jangan kalian bicara”. Ya mereka ingin agar mereka dapat mengatakan yang bathil dan kalian (Ahlussunnah) jangan mengatakan yang hak.

Tidak! (justru) barangsiapa yang mempunyai kebenaran hendaknya memusyawarahkannya kepada para ulama dari kalangan Ahlussunnah, dan hendaknya minta pertolongan kepada Allah dalam menyebarkan kebenaran ini dan memperingatkan dari para ahlul ahwa’ (bid’ah). Telah kita sebutkan beberapa hari yang lalu beberapa atsar Dari salaf dalam masalah ini, bahwa sebagian mereka minta fatwa kepada gurunya untuk bicara tentang keadaan fulan, dia jawab: Ya, peringatkan manusia darinya.

Dan yang semacam ini tersebut dengan masyhur dalam muqoddimah shahih muslim dan yang lainnya, maka tetap seorang murid bisa melakukan tahdzir padahal gurunya masih ada, tanpa ada pengingkaran dari gurunya dan dari murid itu. Yakni atas (pengingkaran terhadap) kemungkaran ini. Bahkan ini adalah ta’awun. Mereka (pengekor sururiyyah) tidak punya kecuali hawas (kepandiran) mereka tidak punya kecuali kepandiran, mereka tidak punya kecuali keraguan, kami diatas ilmu tentang urusan kami dan Allahlah yang memberi taufiq dan milik-Nyalah pujian.

(Direkam dalam kaset yang dibawa oleh Al Ustadz Abdul Mu’thi Al Maidani, pengasuh PP Al Anshor Jogjakarta, beliau yang menanyakan kepada Syaikh Yahya Al Hajuri, Yaman saat belajar disana. Diterjemahkan secara ringkas oleh ustadz Qomar Su’aidi, Lc, dengan edit tanda baca, teks Al Quran oleh tim Salafy.or.id)

http://salafy.or.id/

26/12/2008 - Posted by | abu-salafy-01, aqidah, fatawa, firqah, manhaj | , , ,

Sorry, the comment form is closed at this time.