Hidupkan Sunnah HANCURKAN BID'AH

Meniti Jalan Sunnah Rasulullah, Menepis Bid'ah

Hukum Seseorang yang Mengaku Nabi atau Rasul.

Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA
Hukum bagi seseorang yang mengaku-ngaku Nabi atau Rasul adalah kafir, keluar dari Islam. Atau dengan kata lain murtad bila sebelumnya dia muslim, dan harus dibunuh oleh penguasa bila ia tidak bertobat sebagaimana dibunuhnya Musailamah Al-Kadzdzab dan Al-Aswad Al-’Anasi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
“Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Dengan perbuatannya, ia telah mengganti agamanya walaupun tetap berbaju Islam.
Dia dihukumi kafir, karena dengan pengakuannya sebagai Nabi berarti ia telah mendustakan ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih bahkan mutawatir dalam hal tertutupnya kenabian dan kerasulan dengan Nabi Muhammad bin Abdillah Al-Qurasyi. Pada kesempatan sebelum ini, telah kami nukilkan ucapan sejumlah ulama yang menghukuminya sebagai kafir, semacam ucapan Abu Hanifah, Al-Qadhi ‘Iyadh, dan ulama-ulama India.
Orang yang meyakini kenabian nabi-nabi palsu tersebut juga kafir, dengan alasan yang sama.
Adapun orang yang sekadar mendukung atau melindungi mereka atau ridha tehadap bid’ah mereka, maka mereka mendapat laknat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hadits disebutkan:
لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا
“Allah melaknati orang yang melindungi orang jahat.” (Shahih, HR. Muslim dari Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu)
Dia harus dihukum dengan hukuman yang setimpal agar jera dari perbuatannya tersebut.
Oleh karena itu, kami mengingatkan setiap muslim bahwa dirinya bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengingkari segala kesesatan. Di antara kesesatan terbesar adalah semacam kesesatan Ahmadiyah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَـمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لـَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat sebuah kemungkaran maka hendaklah dia ubah dengan tangannya. Bila tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan bila tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Sebab-sebab Pengakuan Kenabian
Munculnya pengakuan kenabian dilatarbelakangi oleh banyak sebab. Di antaranya:
 upaya jahat terhadap agama Islam
 upaya memperoleh kekayaan
mencari kepemimpinan atau popularitas
 unsur fanatik terhadap golongan atau suku
atau sebab-sebab lain. Bisa jadi, seseorang mengaku nabi karena sebab itu semua.

Sumber:

http://asysyariah.com/

05/01/2009 - Posted by | abu-salafy-01, aqidah, firqah, nabipalsu | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s