Hidupkan Sunnah HANCURKAN BID'AH

Meniti Jalan Sunnah Rasulullah, Menepis Bid'ah

SEJARAH RINGKAS GERAKAN SURURIYYAH

new1a

Apa yang sebenarnya terjadi ?

Sejarah Mumayyi’un, agar Anda tidak terjatuh (didalamnya)

Kronologi sejarah kelahiran, perkembangan, warisan at Tamyi’, diwarisi oleh Al Ikhwaniyyah (Ikhwanul Muslimin, di Indonesia membentuk partai PK Al Ikhwani, Al Haramain, Syariahonline, red)
Sebuah Sejarah Kronologis dari kelahiran, perkembangan, dan pewarisannya melalui jalan Hasan al-Banna.

Ketika semua bermula 1930-an, 1941-an…

[Al-Banna]: “Nata’awan, fii maa tafakna, wa na’dziru ba’dhan, fii maakhtalafna.” (Kita saling bantu membantu dalam hal yang kita sepakati, dan kita saling toleransi dalam hal-hal yang kita perselisihkan). Inilah Tamyi’ Generasi pertama.

Implikasi:
1. Saling membantu dan bekerja sama dengan semua Mubtadi’
2. Penghilangan segala macam Jarh dan Tajrih dan Tabdi’ kepada para Mubtadi’
3. Penghancuran al-Wala dan al-Bara di sekitar aqidah dan manhaj Salafy
4. Penyingkiran penghalang sosial dan metodologikal antara Salafiyyun dan Ahlul Bid’ah

Secara Keseluruhan:
Penghapusan Jarh, Tajrih terhadap Ahlul Bid’ah wadh-Dholalah, secara fundamental, sebagai sebuah prinsip.

Respon Ahlus Sunnah:
Ketika Aqidah Salafy menyebar di tangan para Ulama Salafy pada tahun 1970, 1980 ke depan, menjadi jelaslah bahwa Ahlus Sunnah menentang Ahlul Bid’ah, memboikot mereka, menjarh (mencela, red) mereka dan memperingatkan terhadap mereka dan buku-buku mereka. Hal ini menjadi terkenal dan tersebar. Beberapa orang yang benar-benar di atas manhaj Ikhwany berjuang untuk membangkitkan penjelmaan yang baru dari Bid’ah-nya Hasan al-Banna. Mengetahui bahwa Jarh dan peringatan Ahlus Sunnah terhadap Ahlul Bid’ah tidak dapat diacuhkan, mereka berusaha untuk menetralisasi pengaruh dari Jarh Tajrih ini, meskipun maksud sebenarnya adalah berharap untuk menghilangkannya (Jarh tersebut), tapi ini tidaklah mungkin karena alasan sejarah.

Muncul reaksi balik pada 1980-1990
[al-’Audah]: Menyebutkan hal-hal baik ketika mengkritik (al-Muwazanah) merupakan keadilan.
[‘Abdurrahman ‘Abdulkhaliq]: Beragamnya Jama’ah adalah diizinkan dan bermanfaat.
[Salman al-’Audah]: Membedakan antara al-Firqah an-Najiyah dan at-Thaifah al-Mashurah (memasukkan Jama’ah-jama’ah ke dalam al-Firqah an-Najiyah).
[Adnan ‘Ar’ur]: Kita membenarkan (kesalahan) tapi tidak melakukan Jarh (terhadap orangnya).
[Keseluruhan di atas]: Kita mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk. Inilah Tamyi’ Generasi kedua

Implikasi:
1. Menetralkan pengaruh Jarh, Tajrih dan Tahdzir yang dibuat oleh Ulama Salafy terhadap Jama’ah-jama’ah Hizbiyyah
2. Mengaburkan penghalang antara Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid’ah yang baru-baru saja tegak oleh keutamaan penyebaran aqidah Salafy yang membedakan antara Salafiyyun dengan Mubtadi’un. Membuat jalan lain untuk membangun jembatan penghubung dengan para Ahlul Bid’ah.
3. Mendorong kerjasama yang sama (dengan Ahlul Bid’ah) yang telah Hasan al-Banna buat pertimbangan dengan mengambil yang baik dan membuang yang jelek’, entah itu berkaitan dengan orang, kelompok, buku, ataupun kaset.

Secara keseluruhan:
Netralisasi terhadap jarh yang sebenarnya tidak dapat dihindarkan.

Respon Ahlus Sunnah:
Para Ulama Salafy, yang di depan mereka yaitu Syaikh Rabi’ bin Hady, menolak bid’ah-bid’ah ini, yaitu al-Muwazanah dan bekerjasama dengan jama’ah-jama’ah, dan juga prinsip bathil Adnan Ar’ur, dan mereka (para Ulama Salafy) menjelaskan bahwa ketika mengkritik dan menjarh dengan tujuan memperingatkan, maka jarh dan tajrih adalah cukup, dan jarh itu sendiri adalah adil, dan merupakan manhaj yang benar dan manhaj yang sejati. Maka kemudian dikenal jarh saja (tanpa menyebutkan sisi baik) adalah manhaj Salaf, dalam konteks memperingatkan dari bid’ah dan orang-orangnya. Maka seorang yang dengan akar Ikhwany menyembunyikan dirinya dalam barisan Salafiyyun, dan menampakkan dirinya sebagai pembela Sunnah dan orang-orangnya, maka ketika kesempatannya pas (meninggalnya 4 Imam, (yaitu Imam Ibn Baz, Imam Ibn Utsaimin, Imam al-Albany, dan Imam Muqbil –rahimahumullah-red)), mereka keluar untuk membawa sesuatu yang pendahulu mereka gagal membawanya. Melihat bahwa jarh saja (tanpa al-Muwazanah) merupakan hal yang tidak dapat diacuhkan, dan bahwa hal ini merupakan hal yang telah dikenal oleh Salafiyyun, dia muncul untuk merintangi dan membatasi jarh dan tajrih yang dibuat oleh Ahlus Sunnah, dan membuat prinsip barunya, dan membawa sebagian dari prinsip orang-orang sebelumnya, namun, menyamarkannya entah bagaimana. Tujuan aslinya adalah penghilangan jarh, namun ini tidak mungkin karena alasan sejarah.

Sisa-sisa dari fitnah:
Sisa-sisa dari fitnah yang tetap berada di atas kesesatan adalah mereka yang tetap bersama Hizbiyyin ini, dan Ushul bathil mereka, dan tetap berada dalam apa yang mereka di atasnya dengan menggunakan ucapan yang umum yang datang dari Syaikh al-Albany, Syaikh Ibn Baz, Syaikh Ibn Utsaimin, dan selain dari mereka pada awal tahun 1990 di mana realita dari Hizbiyyun ini belum nampak jelas pada para Ulama ini, dan ketika para Ulama ini melontarkan nasehat kepada semua yang berkepentingan, bahwa dari sudut pandang mereka bahwa semua yang terlibat perselisihan ini adalah dari Ahlus Sunnah, dan perkara-perkara ini tidaklah berkaitan dengan mereka yang di luar Ahlus Sunnah.

Reaksi balik ke-2 (berasal dari Sulaimany (yaitu Abul Hasan Musthafa bin Sulaiman al-Mishry al Ma’ribi-red), revolusi terbesar (tahun 2000, setelah meninggalnya para Ulama besar, diantaranya Syaikh Muhammad Sholih al Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Muqbil bin Haadi, red).
[al-Ma’riby]: Kita membenarkan (kesalahan) tapi tidak menghancurkan (orangnya)
[al-Ma’riby]: Manhaj yang luas (untuk mengakomodasi seluruh Ummat)
[al-Ma’riby]: Jama’ah-jama’ah adalah dari al-Firqah an-Najiyah, dan tabdi’ berlaku atas individu dan manhaj dari jama’ah-jama’ah, bukan jama’ah-jama’ah itu sendiri.
[al-Ma’riby]: Kita melakukan tatsabbut terhadap segalanya, yang kita dengar dan lihat oleh diri kita, kita bukan muqallidah
[al-Ma’riby]: Al-Mujmal dan al-Mufashshal, kita membela Sayyid Quthb dan al-Maghrawy, dan Ahlul Bid’ah lainnya, dengan menggunakan prinsip ini untuk memaklumi pernyataan bathil mereka, dan kita menggunakannya untuk membela dan membenarkan pernyataan-pernyataan yang mencela para Shahabat (seperti memanggil mereka dengan sebutah Ghutsaiyyah dan Aradzil), selama kita bisa, sebelum dipaksa untuk bertaubat
[al-Ma’riby]: Kita tidak mengeluarkan dari Salafiyyah, kecuali mereka yang menentang dari kebid’ahan yang pokok, (seperti) Kharijiyyah, Rafidhah, Tajahhum, Irjaa’, Qadar, sedangkan apa yang jama’ah-jama’ah kontemporer telah lakukan dari kebid’ahan-kebid’ahan dari ushul, maka kita tidak bisa mengeluarkan mereka karena hal-hal tersebut (yang mereka lakukan) hanyalah perkara-perkara furu’. Inilah Tamyi’ Generasi ketiga.

Implikasi:
1. Rintangan dan pembatasan jarh itu sendiri, yang dibuat oleh Salafiyyun atas seseorang yang menyimpang dan keluar dari Sunnah dan Jama’ah, dan atas mereka yang telah berada di atas kebid’ahan dan kesesatan.
2. Menempatkan penghalang antara Jarh yang dibuat oleh para Ulama terhadap orang-orang yang menyimpang dan Ahlul Bid’ah, dan (menempatkan penghalang) antara penerimaan seluruh Ummat terhadap Jarh tersebut (maksudnya supaya ummat tidak menerima Jarh tersebut –red).
3. Memberikan setiap orang di Ummat ini otonomi dan kebebasan yang lengkap, jauh dari Ulama, untuk pergi dan meneliti dan memverifikasi dan menyelidiki bagi diri mereka sendiri, dan mengklaim bahwa ini akan menghindarkan dan menyelamatkan seseorang dari “taqlid”.
4. Memberikan tuduhan “Haddadiyyah” dan “Ghulat” dan “Muqallidah” terhadap para Salafiyyun yang menolak ushul bathil mereka.

Secara Keseluruhan:
Rintangan, pembatasan, terhadap Jarh yang (sebenarnya –red) tidak dapat diacuhkan sebagai isolasi terhadap al-Muwazanah (dengan realisasi Ahlus Sunnah bahwa al-Muwazanah adalah Bid’ah dan tidak diperlukan).

Respon Ahlus Sunnah:
Para Ulama Salafy, yang di depan mereka yaitu Syaikh Rabi’ bin Hady, mengetahui beberapa hal ini di tahun-tahun yang lampau, namun terus menerus memberikan nasehat secara rahasia, dan menasehati selama bertahun-tahun. Ketika mubtadi’ Sulaimany mengaduk fitnah yang telah dia rencanakan di Yaman setelah kematian Syaikh Muqbil, para Ulama Yaman melihat kekeraskepalaannya dan kesombongannya atas banyak dari kesalahannya, maka mereka (para Ulama Yaman) menaikkan permasalahan ini kepada Syaikh Rabi’. Setelah menasehati dengan lembut dan halus, as-Syaikh merobohkan tiap kebathilan-kebathilan Bannawy (nisbat kepada Hasan al-Banna –red) satu persatu, dengan penghancuran yang lengkap. Secara keseluruhan, sekitar 25-30 Ahlul ‘Ilmi berbicara dengan tabdi’ dan tahdzir kepada Abul Hasan as-Sulaimany, setelah Revolusi Besar Sulaimany tahun 2002 mencapai puncaknya. Namun revolusi ini juga menyingkap yang lainnya, seperti Usamah al-Quusi (Ulama Yaman yang menyimpang, red) dan yang bersama dengannya, yang masih berhubungan dengan Abul Hasan dan berada di atas manhajnya, meskipun mereka menutupnya pada awalnya. Akhirnya mereka keluar dan membuat tampak hubungan mereka dan al-Wala dan al-Bara’ mereka untuk Abul Hasan. Kehadiran kelompok ini juga merupakan satu dari faktor-faktor terbesar yang menyebabkan kebingungan di kalangan pemuda Salafy, dan membuat mereka berada di atas ushul yang bathil dari Abul Hasan, mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran. Ketika kelompok ini menyadari batas-batas mereka, tetap diam, dan tetap bersama pata Ulama yang lebih senior bagi mereka, seperti Syaikh Rabi’, Syaikh Ahmad an-Najmy, dan Syaikh ‘Ubayd al Jabiri dan selainnya, yang berada di atas bayyinah dalam masalah ini, akan lebih baik bagi mereka dan juga bagi para pemuda Salafy, dan berkurangnya kebingungan akibat fitnah yang mengikuti. Tapi ternyata jauh dari netral dan tidak memihak, mereka sebenarnya berada di atas manhaj Abul Hasan, dan ini menjadi nampak ketika mereka mulai mencela dan menyerang Ahlus Sunnah dengan kata-kata yang cukup eksplisit baru-baru ini.

Sisa-sisa dari fitnah ini:
Sisa-sisa dari fitnah ini yang masih berada di atas kesesatan adalah mereka yang tetap bersama mubtadi’ ini dan tidak dapat meloloskan diri mereka dari peran mereka di dalam Revolusi Besar Sulaimany karena mereka diracuni oleh ushul yang bathil. Mereka tetap di atas apa yang mereka berada di atasnya dengan menggunakan ucapan umum yang datang dari semisal Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad al Badr ketika beliau melontarkan nasehat kepada semua yang berkepentingan, yang mana dari sudut pandang beliau bahwa setiap orang yang terlibat dalam perselisihan ini merupakan Ahlus Sunnah, dan bahwa permasalahan ini tidak berkaitan dengan mereka yang sebenarnya telah keluar dari Ahlus Sunnah.

Reaksi Balik ke-3
Masa sekarang ini yang kita saksikan adalah kemunculan dari Thabaqat Tamyi’ yang berada di belakang Abul Hasan al-Ma’riby, dan mereka menyebarkan syubhat kepada para pemuda.

(Diterjemahkan dari http://www.salafitalk.net/st/viewmessages.cfm?Forum=23&Topic=2349, disusun oleh author Salafipublications.com dgn judul Apa yang sebenarnya terjadi ? Sejarah Mumayyi’un, agar Anda tidak terjatuh (didalamnya). Sumber asli dalam bahasa Inggris gambar sejarah Tamyi’ http://www.salafitalk.net/st/uploads/HIstoryofTamyeeComplete.gif atau file PDF http://www.salafitalk.net/st/uploads/TheHistoryofTamyeeZIP.zip)

Sumber:

http://tukpencarialhaq.wordpress.com/

10/01/2009 - Posted by | abu-salafy-01, aqidah, firqah, manhaj | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s