Hidupkan Sunnah HANCURKAN BID'AH

Meniti Jalan Sunnah Rasulullah, Menepis Bid'ah

Gerhana Matahari Cincin, 26 Januari 2009

new1a

Gerhana matahari pertama pada 2009 akan berlangsung pada 26 Januari 2009 mendatang. Gerhana matahari cincin akan melintasi Sepertiga benua Afrika bagian selatan, terus ke Madagaskar, Australia (kecuali Tasmania), India bagian tenggara, Asia tenggara, dan Indonesia.

Fase gerhana berawal saat bayangan antumbral Bulan mulai menyapu samudera Atlantik Selatan pada puku 06:06 UT (13:06 WIB) pada koridor selebar 363 kilometer. Bergerak ke arah timur, bayangan Bulan selanjutnya akan melewati benua Afrika bagian Selatan hingga samudera Hindia Selatan. Puncak gerhana terjadi pada pukul 07:58:39 UT (14:58:39 WIB) dimana gerhana mencapai magnitud 0.9282. Fase ini berlangsung selama 7 menit 54 detik meliputi daerah selebar 280 km saat matahari mencapai ketinggian 73° diatas horizon.

Selepas itu, gerhana akan bergerak ke arah timur laut, melewati kepulauan Cocos (Cocos Islands) menuju Sumatera bagian selatan dan Jawa bagian Barat, dan selanjutnya melintasi Kalimantan bagian Tengah dan sebagian kecil Sulawesi bagian barat laut sebelum berakhir di sekitar pulau Mindanao, Filipina pada 09:52 UT (16:52 WIB).

Selama 3 jam 45 menit fase gerhana, antumbra Bulan melintas sejauh sekitar 14.500 km, meliputi 0,9% permukaan planet Bumi.  Semua waktu dalam UT.  Tambahkan 7 jam untuk mengkonversi ke WIB. (eclipse.gsfc.nasa.gov)

Sumber:
http://ias.dhani.org/

TATA CARA SHALAT GERHANA (SHALAT KUSUF DAN KHUSUF)

Apabila terjadi gerhana bulan atau matahari dianjurkan berseru “ASH-SHALAATU JAAMI’AH”
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anh, “Tatakala terjadi gerhana matahari dimasa Rasulullah صلى الله عليه وسلم , diseru “ASH-SHALAATU JAAMI’AH” (Muttafaq ‘alaih, Fathul Bari’ II: 533 no:1045, Muslim II: 627 no:910 dan an-Nasa’i III:136)

Shalat berjama’ah 2 raka’at.

Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Pernah terjadi gerhana matahari dimasa Rasulullah صلى الله عليه وسلم masih hidup, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pergi kemasjid, lalu para sahabat berbaris dibelakangnya, kemudian beliau bertakbir, lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم membaca bacaan yang panjang, kemudian beliau bertakbir lalu ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian mengucap “SAMI ALLAHULIMAN HAMIDAH”, kemudian berdiri, TIDAK SUJUD, kemudian membaca bacaan yang panjang, tapi kurang dari yang pertama, kemudian beliau bertakbir, lalu ruku’ dengan ruku’ yang panjang, tapi kurang dari ruku’ pertama, kemudian mengucap “SAMI ALLAHULIMAN HAMIDAH RABBANA LAKAL HAMDU”, kemudian beliau sujud, kemudian beliau berbuat seperti itu pula pada raka’at kedua, hingga sempurna empat ruku’ dan empat sujud, dan gerhana mataharipun selesai sebelum beliau selesai (dari shalat tersebut)”(Muttafaq ‘alaih, Fathul Bari’ II: 533 no:1046, Muslim II: 619 no:3 dan an-Nasa’i III:130, A’unul Ma’budIV: 46 no: 1168)

Khutbah shalat gerhana

Disunnahkan khutbah setelah shalat gerhana:

Dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah shalat pada waktu gerhana matahari, kemudian beliau menceritakan tentang shifat shalat Nabi صلى الله عليه وسلم sampai salam’ sedang matahari sudah jalan (gerhana sudah selesai), kemudian beliau berkhutbah dihadapan para sahabat, lalu beliau bersabda perihal gerhana matahari dan bulan, “Sesungguhnya keduanya termasuk tanda-tanda (kebesaran Allah), keduanya bukanlah karena kematian atau hidupnya seseorang. Oleh karena itu, kalau kamu melihat gerhana itu, maka segeralah mengerjakan shalat.” (Muttafaq ‘alaih, Fathul Bari’ II: 533 no:1046, Muslim II: 619 no:3 dan an-Nasa’i III:130, A’unul Ma’budIV: 46 no: 1168)

Memerdekakan budak

Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وسلم telah menyuruh para sahabat memerdekakan budak pada waktu terjadi gerhana matahari” (Shahih Mukhtasar Bukhary no:118 dan Fathul Bari’ II: 543 no:1045)

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anh, telah terjadi gerhana matahari,
lalu Nabi صلى الله عليه وسلم berdiri, khawatir terjadi kiamat, terus berangkat kemasjid, lantas Nabi صلى الله عليه وسلم berdiri, ruku’ dan sujud yang lama, tidak pernah sebelumnya aku melihat seperti itu, Dan Rasulullah bersabda,Tanda-tanda kebesaran Allah dan yang Dia kirimkan ini bukanlah karena kematian atau hidupnya seseorang, namun dengannya Allah hendak menakuti hamba-hamba-NYa. Oleh karena itu jika kamu melhat gerhana itu, maka segeralah kamu menyebut nama-Nya, berdo’a kepada-Nya, dan mohon ampun kepada-Nya.”
(Muttafaq ‘alaih, Fathul Bari’ II: 545 no:1059, Muslim II: 628 no:912 dan an-Nasa’i III:153)

Dalam Fathul Bari’ II: 527 al-Hafidz Ibnu Hajar menegaskan, “Jumhur ulama berpendapat bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah.”
والله أعـلــم

Sumber:

http://aththaifah.wordpress.com/

21/01/2009 - Posted by | abu-salafy-01, AGAMA, doa dan dzikir, fiqh, hadits, hukum, nashihat | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s