Hidupkan Sunnah HANCURKAN BID'AH

Meniti Jalan Sunnah Rasulullah, Menepis Bid'ah

Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Barru, Al-Karim, Al-Jawwad, Ar-Ra`uf, dan Al-Wahhab.

new1a

Penulis : Al-Ustadz Qomar ZA, Lc

Al-Akram (اْلأَكْرَمُ) adalah salah satu Al-Asma`ul Husna. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ
“Bacalah, dan Rabbmulah Al-Akram (Yang Maha Pemurah).” (Al-’Alaq: 3)
Dalam atsar Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa keduanya mengucapkan doa dalam sa’i antara Shafa dan Marwah:
رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمْ إِنَّكَ أَنْتَ اْلأَعَزُّ اْلأَكْرَمُ
“Wahai Rabb kami ampunilah dan rahmatilah, serta maafkanlah dari kesalahan yang Engkau ketahui, karena sesungguhnya Engkaulah Al-A’az (Yang Maha Mulia dan Perkasa) dan Al-Akram.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam As-Sunan, 5/95 dan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: Riwayat Ibnu Abi Syaibah (yakni dalam Al-Mushannaf) dengan sanad yang shahih dari keduanya. Lihat Manasik Al-Haj wal ‘Umrah hal. 28)
Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain adalah Al-Karim (الْكَرِيْمُ), sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا اْلإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِ
“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Al-Karim?” (Al-Infithar: 6)

Masing-masing dari Al-Akram dan Al-Karim berasal dari akar kata Al-Karam yang memiliki beberapa makna dalam penggunaannya.
Abu Hilal Hasan bin Abdullah Al-‘Askari mengatakan: “…Dan kata Al-Karam berkembang dalam beberapa bentuk, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala disebut Al-Karim dan maknanya adalah Al-’Aziz (Perkasa), dan itu termasuk shifat dzatiyyah (sifat yang senantiasa melekat pada-Nya). Di antara yang bermakna demikian adalah firman-Nya:
يَا أَيُّهَا اْلإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِ
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Al-Karim?” (Al-Infithar: 6)
yakni Yang Maha Perkasa yang tidak bisa dikalahkan.
Dan Al-Karim juga bisa bermakna Al-Jawwad yakni Yang Maha Memberi tanpa diminta. Bila demikian, maka itu termasuk shifat fi’liyyah (sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berkaitan dengan kehendak-Nya, kapan Ia berkehendak Ia akan melakukannya)….” (Al-Furuq hal. 143)
Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ
“Bacalah, dan Rabbmulah Al-Akram (Yang Maha Pemurah).” (Al-’Alaq: 3)
nama Al-Akram menurut Al-Qurthubi rahimahullahu sama dengan Al-Karim (Yang Maha Memberi). Adapun Al-Kalbi mengatakan: “Yakni Yang Maha Pemaaf atas kebodohan hamba-hamba-Nya, sehingga tidak segera menghukum mereka.”
Al-Qurthubi rahimahullahu mengatakan, makna yang pertama lebih tepat (di sini) karena ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan pada ayat sebelumnya tentang nikmat-nikmat-Nya, dengan itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kedermawanan-Nya. (Tafsir Al-Qurthubi, 20/119-120. Lihat pula 19/245)
Ibnu Manzhur dalam kamus Lisanul ‘Arab mengatakan: “Al-Karim termasuk sifat dan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, artinya Yang banyak kebaikan-Nya, Yang Maha Memberi (tanpa diminta), yang tidak akan habis pemberian-Nya, Dialah Yang Maha Memberi secara mutlak.”
Az-Zajjaji mengatakan dalam buku Isytiqaq Asma`illah (hal. 174):
“Al-Karim berarti Al-Jawwad (Yang Maha Memberi tanpa diminta). Al-Karim juga berarti Al-‘Aziz (Yang Maha Perkasa) dan Ash-Shafuh (Yang Maha Pemaaf). Inilah tiga sisi makna kata Al-Karim dalam bahasa Arab. Boleh untuk menyifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan semuanya. Di mana bila yang dimaksudkan dengan kata Al-Karim adalah Pemberi dan Pemaaf maka ini berkaitan dengan maf’ul bihi (obyek), karena harus ada yang ada yang diberi dan dimaafkan. Dan bila yang dimaksudkan adalah Perkasa maka tidak mesti membutuhkan maf’ul.”
As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Barru, Al-Karim, Al-Jawwad, Ar-Ra`uf, dan Al-Wahhab. Nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala ini makna-maknanya saling berdekatan, semuanya menunjukkan bahwa Ar-Rabb (Allah Subhanahu wa Ta’ala) bersifat kasih sayang, baik, dermawan dan memberi, dan menunjukkan keluasan rahmat serta pemberian-Nya yang menyeluruh kepada semua yang ada, sesuai dengan hikmah Allah, dan Ia khususkan kaum mukminin dengan bagian yang lebih sempurna.” (Taisir Al-Karimir Rahman hal. 946)
Berkaitan dengan nama Al-Akram, Ibnu Taimiyyah rahimahullahu menjelaskan ketika menafsirkan surat Al-’Alaq ayat 3-5:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala menamai dan menyifati diri-Nya dengan sifat Al-Karam dan bahwa dia adalah Al-Akram, setelah Ia beritakan bahwa Ia menciptakan. Hal ini untuk menerangkan bahwa Ia memberikan nikmat kepada para makhluk serta menyampaikan mereka kepada tujuan yang mulia….”
Penciptaan menunjukkan awal mulanya dan pemberian-Nya menunjukkan akhirnya, seperti dalam surat Al-Fatihah:
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
“Segala puji Rabb (Pencipta) sekalian alam.” Lalu mengatakan:
الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
“Yang Maha Pengasih lagi Penyayang.”
Lafadz Al-Karam mencakup segala sesuatu yang baik dan terpuji, bukan dimaksudkan dengannya semata pemberian. Bahkan makna pemberian itu adalah pelengkap maknanya, karena berbuat yang baik kepada yang lain itu adalah merupakan kesempurnaan dan kebaikan. Sedangkan kedermawanan (Al-Karam) artinya adalah kebaikan yang banyak dan mudah… Dan Allah beritakan bahwa diri-Nya adalah Al-Akram (kata) dengan bentuk (isim) tafdhil (akram/أَكْرَمُ yang berarti lebih dermawan) yang juga diberi alif dan lam ta’rif (al/ال, sehingga menjadi Al-Akram). Yang seperti ini menunjukkan bahwa Dialah satu-satu-Nya yang Paling Dermawan. Beda halnya bila dikatakan (وَرَبُّكَ أَكْرَمُ) (tanpa alif dan lam ta’rif pada kata Akram), bentuk kata yang seperti itu tidak menunjukkan pembatasan (sifat tersebut hanya pada Allah Subhanahu wa Ta’ala).
Dan kata Al-Akram memberi faedah pembatasan (sifat sempurna tersebut hanya pada Allah Subhanahu wa Ta’ala).
Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan “(Ia) lebih dermawan daripada ini….” Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkannya secara mutlak (paling dermawan/lebih dermawan, tanpa perbandingan, pent.) untuk menerangkan bahwa Dialah yang paling dermawan secara mutlak tanpa dibandingkan dengan sesuatu (tertentu). Itu menunjukkan bahwa Dia memiliki sifat kedermawanan yang sampai pada puncaknya yang tiada lagi di atas-Nya dan tiada kekurangan pada-Nya.” (Al-Fatawa, 16/293-296, dengan diringkas)

Sumber Bacaan:
– Shifatullah Subhanahu wa Ta’ala Al-Waridah fil Kitabi Was Sunnah, hal. 211
– Syarh Asma`ullah Al-Husna karya Sa’id Al-Qahthani, hal. 149
– Tafsir As-Sa’di, hal. 946
– Majmu’ Al-Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
– Al-Furuq Al-Lughawiyyah karya Abu Hilal Al-‘Askari
– Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an (Tafsir Al-Qurthubi)

Sumber Penukilan:
http://www.majalahsyariah.com/

Catatan:
ANA BANGGA DISEBUT WAHHABY

03/02/2009 - Posted by | abu-salafy-01, AGAMA, al-Quran, tafsir, takhrij | , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s